Arti Cinta di Sempu


067_Em En Rizal dan Team Sempu

Oleh: Emen Rizal

 

Angin Segoro Anak yang berhembus kencang memaksaku keluar dari tenda DOM. Aku Berdiri sambil mengamati air laut Segoro Anak yang beriak kecil melambai-lambai seolah mengundangku untuk turun kesana. Namun Hawa dingin yang berhembus menahanku untuk masuk ke Segoro Anak. Daripada beku pikirku.

Aku memilih memperhatikan batu gua yang rajin mengalirkan air laut Samudera Hindia ke Segoro Anak. Gua itu sebagai pintu masuk air laut menuju Segoro Anak namun sekaligus sebagai benteng taguh ata derasnya ombak laut selatan.

Angin laut Segoro Anak terus mengalir dan menggedor tenda DOM lainnya yang dihuni teman-temanku. Ada Virma, Mario, Dhenti, Lulu dan Mbak Yani. Setelah berkali-kali dipanggil dengan gedoran yang makin kencang, akhirnya mereka keluar juga. Menyerah dan menerima tawaran si angin laut yang nakal.

Aku tersenyum melihat teman-temanku yang terpaksa keluar. Dengan langkah mantap kuhampiri mereka.

“Sebaiknya kita melakukan sesuatu. Masa malam seindah ini mau kita lewatkan hanya dengan tidur-tiduran. Kalau mau tidur-tiduran ya di rumah saja” ucapku sambil memandang ke pantai Segoro Anak. Sinar bulan Purnama yang kebetulan menyinari Pulau Sempu khususnya Segoro Anak membuat air laut berkilau amat indah. Pemandangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Serempak kami sepakat untuk menghabiskan mala mini dengan kegiatan yang bermutu.

“Bagaimana kalau kita berenang?” kata Lulu antusias. Memang anak ini paling nggak bisa lihat air. Lihat air selalu pengen renang. Bahkan liat air comberan aja pengen renang.

“Renang malam hari? Kamu sudah gIla! Nanti kalau ada binatang atau ikan buas menyerang kita secara tiba-tiba gimana? Kamu nggak mikir ya?” Dhenti kelihatan tidak senang dengan usul itu. Lulu tidak patah semangat. Dia melirik yang lain, meminta persetujuan.

“Betul. Lagipula airnya pasti dingin banget. Terus gelap pula. Jadi kita tak tahu apa yang sedang berenang di sekitar kita.” Virma dengan semangat 45 mendukung kata-kata Dhenti. Lulu masih tidak menyerah. Dia memandang Mario.

“Sudahlah, Lu. Percuma mengajak renang mereka. Mereka kan tidak suka berenang atau lebih tepatnya tidak bisa. Tapi alasan yang dikemukakan mereka benar adanya. Kita cari acara lain saja.” ucap Mario bijak sambil mengelus kumisnya yang mulai tumbuh memanjang, tak teratur. AKhirnya Lulu menyerah. Pasrah.

“Bagaimana kalau main kartu saja. Kita main Seven, setuju?” usul Mbak Yani. Kali ini dia mengusulkan dengan suara datar saja, takut idenya tidak diterima yang lainnnya.

Namun Aku langsung lemas. Maklum aku masih trauma dengan kekalahanku pada perjalanan sebelumnya. Aku kalah telak dengan para jagoan kartu macam Mbak  Evi dan Mbak Siti.

“Aduh, yang lain dong. Penerangannya kurang.” Elakku cepat.

Namun Virma bergerak cepat mengeluarkan headlamp dengan senyum kemenangan. Semua bersorak gembira karena hanya aku yang keberatan. Aku pun melangkah dengan lemas sambil menyiapkan matras dan cemilan.

***********

“Yah, kalah lagi. Main yang lain yuk?” usulku dengan muka bete. Dari awal aku sudah yakin akan kalah terus. Dan sekarang semua itu terbukti. Aku kalah sebanyak lima kali dari tujuh kali permainan.

“Sudahlah, terima saja kekalahanmu. Kita sedang dalam kondisi puncak. Puncak kesenangan karena melihatmu kalah.” ucap Dhenti yang disambut tawa yang lain.

Aku memaki mereka semua. Sialan, aku harus membuat suatu cara agar mereka tidak konsen pada permainan ini.  Apa ya? Aku mencoba berfikir keras.

“Mas, aku mau tanya. Kalau ada cewek yang Mas sukai, tapi dia tidak menyukai Mas, apa yang akan Mas lakukan?” tanya Lulu tiba-tiba.

Aku menoleh ke arahnya sebentar. Aku terhenyak dan melihat sebuah lampu Philip menyala terang di otakku yang sedang gelap gulita. Yap, aku menemukan sebuah ide cemerlang. Aku tidak akan kalah lagi.

“Sebentar, Lu. Kayaknya seru kalau main sambil mendiskusikan suatu masalah. Baik semuanya, aku mau menantang kalian dengan sebuah tema yang cukup akrab di telinga kita tapi nggak semua menjalani dan mengalaminya. Cinta.”

“Maksudmu apa? aku nggak mau debat tentang hal nggak penting itu?” ucap Virma dengan sedikit emosi. Aku tersenyum. Targetku memakan umpan yang telah kusiapkan. Tinggal satu langkah lagi maka semua akan berjalan sesuai rencanaku.

“Ini hal yang sangat penting. Kita harus membahasnya. Setiap orang pasti akan menjumpai hal ini cepat atau lambat. Ini tema yang universal dan sangat subyektif. Oleh karena itu sangat mungkin untuk dijadikan pokok masalah.”

“Tapi, masih banyak hal yang lebih layak dibicarakan. Tentang perang Israel Palestina, atau mungkin dampak Gunung Semeru ketika meletus. Pokoknya jangan tentang cinta.” Virma masih protes sambil melihatku dengan muka bengisnya.

“Santai saja, Vir. Ini cuma diskusi ringan kok. Untuk menghidupkan suasana. Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Oke?” Mario tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan kedipan terima kasih.

Akhirnya semua setuju. Yap, satu satu deh akhirnya.

“Lu, aku jawab pertanyaanmu sekarang. Kalau aku cinta dia, aku akan menunggu sampai dia menyadari betapa aku mencintainya. Namun aku akan melepaskannya kalau saja dia bahagia dengan orang lain. Karena aku cinta dia. So, temanku semua. Setujukah kalian?” Kataku sambil membagikan kartu satu persatu. Aku membuat pernyataan yang tidak terlalu kontroversial dulu. Masih belum panas soalnya.

“Aku kurang setuju. Cinta itu bullshit!!” Virma bersuara dengan nada alto.

“Kenapa begitu? Alasanmu apa?” Aku terus memancing.

“Cinta itu hanya sebuah kata yang diagung-agungkan demi sebuah ego. Ego untuk memliki orang lain. Cinta hanya sebuah alat untuk menyetir orang lain. Dalam hal ini pasangannya.”

“Kok kelihatan sinis begitu?” Dhenti melirik aneh pada Virma.

“Aku punya bukti. Orang yang jatuh cinta itu biasanya melakukan apapun demi pasangannya. Dia rela menempuh perjalanan sejauh apapun demi menemuai pasangannya. Dia pun bisa menjual apapun demi memenuhi keinginan pasangannya.”

“Itu namanya cinta. Jadi wajar dong. Nggak ada cowok yang protes waktu melakukan itu semua. Justru mereka berlomba-lomba untuk bisa melakukan itu untuk kekasihnya.” Lulu mulai menyambut genderang perang yang ditabuh Virma. Aku tersenyum senang.

“Jangan dipotong dulu dong. Nah ketika dia meraih impiannya, bersama dengan orang yang ia cintai, maka berakhirlah era “hanya untukmu” itu. Dimulailah fase transaksi dimana masing-masing mulai memahami ego dan keinginan masing-masing dan biasanya mulai saling berbenturan. Dan ketika fase itu memuncak tanpa ada penyelesaian maka datanglah kata yang pahit itu. Putus. Jadi menurutku semua itu hanya sebuah fase yang bisa dijalani berulang-ulang. Cinta abadi? Bullshit!” Virma mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan menghentakkannya cepat ke bawah sambil mengeluarkan kartunya. As Wajik Hitam!!

“Tutup atas!” ucapnya bahagia. Semua berteriak kesal karena banyak yang belum membuang kartu. Sialan!! Dia masih menang juga. Namun memang semua masih belum ada yang kalah sebanyak aku. Tapi tunggulah sebentar lagi. Kali ini giliran Luluk yang dapat jatah. Dia mengocoknya dengan asal karena dia kelihatan berfikir tentang sesuatu yang lain. Aku tersenyum melihatnya. Suara ombak kecil mengiringi gerakan tangan Lulu yang terasa berat melakukan pekerjaan wajibnya itu.

“Nggak gitu, Mas. Kalau kita saling memahami dan mau mengerti pasangan semua itu akan terasa indah. Perasaan yang bagi Mas sebuah transaksi itu akan menjadi lebih romantis dan berwarna. Itu tinggal bagaimana kita memandangnya.” ucapnya sambil membagikan kartu pada peserta “Lomba Debat Semalam di Pantai Segoro Anak”.

“Bagaimana menurutmu, Dhen?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Inilah tugasku agar acara semakin ramai. Tugas pembuat acara.

“Kalau aku sih setuju dengan Virma. Aku di pihaknya. Cuma aku punya penjelasan yang lebih manusiawi. Kalau dari sudut pandangku, Cinta itu hanya rekaan para pemimpi. Kita dibui oleh kata-kata yang menggambarkan betapa indahnya cinta. Betapa beruntungnya jika kita didatangi sang dewi cinta. Padahal ada banyak kesedihan yang menyertainya.”

“Yah pengalaman pribadi nih!” tanyaku sambil melemparkan 10 waru merah.

“Enak saja. Di kedokteran sudah dijelaskan tentang hormon yang terpicu ketika hati sedang senang dan berbunga-bunga dan itulah yang biasa kita sebut cinta. Namun itu relatif. Tak semua perasaan itu disebut cinta. Kadang kalau kita sedang gembira berlebihan itu juga memunculkan hormon yang sama. Tapi ada sesuatu yang lebih penting. Cinta itu hanya kedok untuk mencari kepuasan bagi para lelaki. Mereka tertantang untuk menggampai apa yang mereka inginkan. Seperti kamu bilang tadi.” Ucap Dhenti sambil memandangku sinis. Aku menelan ludah sambil pura-pura sibuk melihat kartuku.

“Kalau kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, sudah tidak ada lagi yang perlu dicari. Maka kalian dengan seenaknya meninggalkan kita para cewek dengan berbagai alasan. Seolah kami adalah sesuatu yang sudah tidak indah lagi di mata kalian, para lelaki brengsek.”

Aku terkejut. Aku tak menyangka kalau Dhenti bisa sejauh ini menganalisa kehidupan cintanya. Aku tahu semua akan terpancing dan mengatakan apa yang ada di hatinya malam ini. Aku mengela nafas dengan berat. Akan banyak lagi kejutan nih.

Aku mendongakkan kepalaku. Dari balik ranting pohon kulihat Bulan mengamati apa yang sedang kami lakukan. Dia tersenyum dan senang dengan  apa yang sedang kami lakukan. Buktinya, dia senantiasa menyingkirkan awan putih yang mencoba menutupi sinarnya yang hangat malam ini.

“Jadi menurutmu apa itu cinta?” tanyaku setelah merasakan keheningan yang makin mencekam.

“Aku tidak bisa mendefiniskan. Cinta itu sesuatu yang menyakitkan bagiku. Aku tidak percaya ada yang disebut cinta.”

“Mbak, mungkin kamu belum menemukannya. Jangan menghukumnya dengan pengalaman Mbak dimasa lalu?” Lulu mencoba menasehati. Dia tidak sadar sedang membangunkan tawon yang sedang mabuk. Benar-benar berbahaya!

“Kamu memang bisa berkata demikian tapi siapkah kamu ketika menghadapi situasi yang pernah kuhadapi. Kamu akan tahu rasanya nanti. Sangat sakit.” ucap Dhenti dengan mata nanar. Terlihat dia sedang berusaha meredakan badai yang bergolak di hatinya karena ingatan masa lalu.

“Dhen..” panggilku pelan.

“Apa!” jawabnya dengan marah.

“Sekarang giliranmu mengocok kartu.” Ucapku dengan suara pelan.

Dhenti meraup kartunya dengan marah. Dia mengocoknya dengan asal. Dia kelihatan emosi sekali. Tapi aku tidak mau berhenti disini. Aku sudah jalan setengah dan akan terus maju.

Kuluhat Mario. Mario dari tadi kelihatan tenang. Apakah dia tidak punya masalah dengan kehidupan cintanya.

“Rio, bagaimana denganmu. Aku lihat kamu merasa nyaman dengan si cinta?”

“Hahahaha” Mario tertawa keras sambil mengelus kumisnya (lagi).” Cinta itu ketergantungan. Ketergantungan yang sangat fatal dan parah. Kita akan menjadi seperti seorang pecandu narkoba kronis bila sudah terkena virus bernama cinta. Dia datang dengan segala keindahan dan keramahannya hingga membuat syaraf kita merekamnya dengan keindahan yang teramat sangat dan dengan kecepatan dan kekuatannya, otak menyuruh seluruh tubuh kita untuk mencari dan memanjakannya ketika ia berkunjung lagi.”

“Gila keren banget kata-katamu,” kataku sambil berdecak kagum.

“Kita memang tak sadar, seperti layakanya pecandu, terpapar olehnya. Kita akan melakukan apapun demi dia. Termasuk menjemput pasangan kita yang jauhnya berkilo-kilo meter atau menempuh perjalanan sejauh atau setinggi apapun demi mencari sesuatu yang berharga demi menyenangkan pasangan yang kita cintai. Semua itu karena kita telah tergantung dengan kehadirannya, tergantung dengan senyum manis dan kata-kata manjanya dan tak ingin dia pergi dari kita. Dan semua yang orang lakukan termasuk perbuatan gila dan tak masuk akal bisa menjadi masuk akal dan normal demi dia. Cinta.”

Semua berhenti dengan pergerakan kartunya. Kami terkejut dengan definisi yang Mario beberkan. Dalam dan mengena. Lulu yang protes sejak tadi hanya diam membisu, speakless! Dia hanya bisa memandang ombak yang datang tiada henti dari mulut gua.

“Bagus banget, Rio. Tapi nggak lengkap kalau belum dengar dari Mbak Yani. Kalau menurut Mbak gimana?” tanyaku pada Mbak Yani yang sedari tadi serius mengamati kartu-kartunya yang terus jelek sejak acara ini dibuka.

“Hemm apa ya?” dia kelihatan bingung.” Sampai sekarang aku masih belum bisa menemukan apa itu Cinta. Aku percaya dengan adanya cinta namun menurutku warnanya tergantung bagaimana definisi kita masing-masing. Aku tidak antipati dengannya tapi aku punya dua spesifikasi tentang lelaki.”

“Apa??” potongku cepat.

“Lelaki ada dua tipe. Tipe pertama adalah Gay. Yang kedua adalah brengsek.”

“Kalau aku, Mbak?” ucapku serius sambil menunjuk mukaku.

“Kalau kamu……bukan dua-duanya.” Aku menarik nafas lega.

“Kamu itu….” aku menunggu dengan dada berdebar-debar. ”Gay yang brengsek!!”  Semua langsung tertawa keras. Virma sampai memegang perutnya karena sakit. Lulu yang sedari tadi cemberut juga tertawa ngakak.

Aku tersenyum kecut. Mbak Yani tersenyum dengan wajah puas. Sialan!! Aku berusaha menetralisir suasana dengan mengembalikan ke topik masalah utama.

“Memang setiap orang punya persepsi berbeda. Dan karena itulah malam ini kita berbicara dan berbagi situasi. Nah kalau Mbak Yani memandang Cinta itu bagaimana? Apakah itu sesuatu yang menyakitkan seperti yang Mario, Virma dan Dhenti ungkapkan? Ataukah Mbak Yani mendukung aku dan Lulu yang sangat menghargai dan menjujung tinggi Cinta?”

“Kalau masalah dukung mendukung, aku lebih condong ke Dhenti dan kawan-kawan. Aku juga punya definisi yang mendukung keberpihakanku. Menurutku cinta layaknya kue Tar. Begitu indah dan menggiurkan hingga kita bisa berebut, bertengkar dan berkelahi hanya untuk jadi yang pertama memakannya. Dan ketika hasrat itu telah tercapai. Belum juga setengah, kita sudah bosan dan menolaknya karena sudah tak menarik.”

“Nggak sebegitunya, Mbak. Kalau memang Cinta, sampai tua pun akan terus berusaha saling memahami dan mencari sesuatu untuk merawat cinta. Banyak kan pasangan yang bertahan lama sampai puluhan tahun dan terus saling mengasihi.”

“Nah itulah yang tak kupahami. Apakah mereka bertahan karena memang betul-betul sayang ataukah karena keterpaksaan karena ada pengikat yang lain. Anak-anak. Hanya keterbukaan yang bisa membuka semua ini.”

“Dan malam ini kita semua sudah saling terbuka dan jujur dengan hati kita masing-masing. Mungkin kalau kita teruskan masalah ini bisa dua malam kita membahasnya. Jadi kita akhiri saja. Bagaimana?”

Semua diam. Aku menganggap ini tanda setuju. Aku tersenyum puas. Tapi..

“Aku setuju diskusi ini selesai tapi yang giliran mengocok tetap harus mengocok. Satu permainan lagi baru selesai.” ucap Virma sambil memandangku. Aku melihat yang lain, menikmati muka siapa yang sedang kalah. Semua membuka kartunya termasuk aku.

“Yap. Sekarang giliranmu. Silahkan sang moderator!’

Sekali lagi mereka semua tertawa sambil mengacak-ngacak kartu yang berserakan diatas matras.  Sialan! Aku kalah lagi, Damn!!!

Pulau Sempu, 20 Oktober 2007

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: