Cewek Berambut Jagung


Cewek Berambut Jagung

Sinar matahari pagi menyeruak menembus sela-sela pepohonan. Burung-burung kecil beterbangan memanaskan tubuhnya yang semalaman dibekap erat sang embun. Mereka terbang sambil berteriak nyaring mengintari danau besar yang ada di bawahnya. Sebuah danau besar berwarna hijau yang berkelap-kelip keputihan karena pantulan sinar sang surya.

Aku mengamati burung-burung yang tampak kecil itu mencari mangsa. Sungguh suatu pemandangan di pagi hari yang sulit kutemui di kota besar. Pamandangan yang harusnya bisa dinikmati dengan mudah seandainya manusia lebih peduli dengan alam.

Kuseruput susu hangat yang berada di mug kecil berwarna biru. Hemmm segar sekali. Aku seolah menjadi seorang yang sangat merdeka disini. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara. Yang tidak bisa diucapkan namun sangat terasa.

Perlahan namun pasti kesibukan mulai melanda shelter Ranu Kumbolo. Shelter Ranu Kumbolo adalah sebuah gubuk kecil yang terletak ditepi danau hijau tadi. Aku yang berkemah di tepi danau sebelah barat, melihat kesibukan di shelter tersebut. Aku mengamati mereka satu persatu. Ada yang sibuk memasak untuk makan pagi, ada yang sibuk berkemas untuk segera menaklukan Mahameru, ada pula yang bersiap-siap pulang dan oh, ada yang baru datang. Jam berapakah mereka berangkat dari Ranu Pane jika sepagi ini sudah ada di Kumbolo?

Kuperhatikan rombongan yang baru datang itu dengan seksama. Kulihat salah seorang dari mereka berjalan terpincang-pincang. Aku segera berdiri dan menghampiri mereka.

“Kenapa dia, Mas?” tanyaku pada salah seorang diantara mereka. Menilik penampilannya, dialah pemimpin rombongan kecil itu.

“Dia terpleset saat mau ambil arbei di tepi danau.”

Aku terpana. Terpleset untuk sebuah arbei gunung? Aku mau tertawa tapi kutahan sekuat tenaga. Takut melukai perasaan si empunya. Aku segera membantu mereka menuntun pendaki yang keseleo tadi ke dalam shelter Ranu Kumbolo. Tanpa minta ijin, aku segera mengecek kaki pendaki itu

“Bagaimana? Sudah baikan?” aku memijit dan mengoleskan beberapa obat oles ke kakinya.

“Lumayan, Mas. Maaf merepotkan.” Kata pendaki, yang alhamdulillah adalah cewek manis.

“Tidak apa-apa. Kita kan bersaudara. Tapi lain kali kalau mau ambil arbei harus lebih hati-hati ya?”

Dia menggangguk malu sambil tersenyum. Aku meninggalkan mereka untuk kembali menyibukan diriku memandangi danau yang tiada henti memancarkan ketenangan. Aku memilih tempat yang agak jauh dari shelter karena aku menginginkan ketenangan dan kesendirian dalam menikmati ciptaan Tuhan yang sangat indah ini.

*********

“Boleh mampir, Mas?” seorang perempuan berdiri di depan tendaku. Aku terkejut dan buru-buru melongok keluar. Oh cewek yang keseleo tadi. Tampaknya dia sudah sedikit baikan.

“Boleh, silahkan. Nggak ikut naik?” tanyaku heran melihat ia masih di Kumbolo.

“Enggak, aku nggak fit. Takutnya malah merepotkan. Aku menyimpan tenaga untuk turun saja. Aku tidak mau menjadi beban bagi yang lain jadi aku memilih tetap disini ditemani sepupuku.” Dia duduk di depan tenda, disampingku. Kuperhatikan rambutnya yang berwarna putih kekuningan. Tapi hanya di sisi kanannya. Unik dan lucu.

“Ivana.” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

“Meyer,” Aku menerima uluran tangannya yang ternyata halus untuk ukuran seorang pendaki. Kami pun menghabiskan waktu dengan bercanda dan mengobrol. Banyak hal kita bahas. Dari pendakian yang pernah aku lakukan sampai pandangan-pandangan idealis tentang hidup. Dan dari cerita itu aku tahu kalau dia juga seorang pendaki yang hobi menaklukan gunung. Triple S, Merapi, Merbabu dan Arjuno pernah ia taklukan. Dan sekarang Semeru. Sayang karena kurang terlalu berlebihan dengan arbei, dia tidak bisa menimati indahnya puncak. Tujuan utama setiap pendaki.

********

Waktu semakin cepat berjalan. Sekarang aku sudah melangkahkan kakiku menelusuri jalan setapak menuju Ranu Pane. Dan semakin dekat Ranu Pane semakin dekat perpisahanku dengan Ivana. Selama dua hari bersamanya, banyak cerita kami torehkan di Ranu Kumbolo.

Tawanya yang renyah, candanya yang segar dan kenakalan-kenakalan yang ia perbuat membekas di hatiku. Aku sering bertemu dengan wanita pendaki yang lebih cantik dan lebih tangguh darinya tapi baru kali ini aku berdebar-debar saat melihatnya. Ada rambatan aneh setiap ia menatap dan menyentuhku.

Dan anehnya aku merasa kesedihan yang luar biasa saat meninggalkan Ranu Kumbolo, padahal sudah berkali-kali aku kesana. Terlintas kilatan-kilatan bayangan yang terukir selama dua hari di Kumbolo. Rekaman tentang dua anak manusia yang menikmati kebersamaan dalam kesunyian danau.

Mungkin terlalu berlebihan karena aku tidak tahu yang dirasakan Ivana. Aku hanya mendiskripsikan dari sudut pandanganku sendiri. Aku harus tahu isi hati Ivana dan waktuku semakin sempit karena sekarang aku berjalan menyusuri jalan pulang. Menyusuri kesempatan terakhir bersama pujaan hati. Setelah di Ranu pane, kami akan berpisah. Entah kapan  kami akan bertemu. Ataukah tidak sama sekali. Aku harus menemukan jawabannya secepatnya.

Pohon-pohon milik perhutani mulai kelihatan. Ini berarti sebentar lagi aku akan memasuki Ranu Pane. Dan aku belum mengucapkan sepatah kata yang mengungkapkan isi hatiku. Padahal jarak  kami hanya dipisahkan ruang kosong berukuran 30 centimeter.

Ivana berada tepat di depanku. Entah kenapa, Ivana juga diam seribu bahasa. Entah apa yang dipikirkannya. Dan aku hanya bisa berbicara dengan rambutnya yang mirip warna rambut jagung itu. Aku bahkan memanggilnya wanita berambut jagung saat diatas.

Dan sampaialh kami di Pane. Aku meletakkan carierku yang berat menggantung di punggung. Aku melirik Ivana yang sibuk memberesi perlengkapannya. Dia menatapku sambil tersenyum lembut. Pandangan yang akan selalu kurindukan. Haruskah kukatakan sekarang? Hatiku maju mundur di hadapannya.

Ivana meninggakanku untuk membasuh badan. Aku menunggui tasnya sambil memikirkan apa yang harus kulakukan. Ya, apa yang seharusnya kulakukan? Kulihat di sebelah barat rombongan Ivana sudah bersiap-siap hendak pulang ke Yogya. Aku sendiri akan pulang ke Malang naik sepeda GL PRO kesayanganku,

“Kamu nggak mandi, Yer?” tanya Ivana setelah tubuhnya berbau wangi sabun.

“Ivana, aku mau ngomong sebentar.” Akhirnya…..

“Kamu mau mengatakan tentang sesuatu yang pernah kita jalanin di atas?”

Deg!

Hatiku serasa berhenti sesaat. Dia tahu apa yang ingin kuucapkan. Dia tahu apa yang kurasakan. Ini pertanda baik. Dia pasti sudah menyiapkan jawabannya.

Namun mendadak lidahku jadi beku, tak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Kami hanya terdiam dan saling berpandangan.

“Ivana, aku tahu mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku senang semua yang terjadi saat kita diatas. Aku senang melihat tawamu yang lepas, takjub melihatmu begitu terpesona dengan riak Kumbolo dan tak bisa tidur memikirkan kenakalan-kenakalan yang kamu lakukan padaku. Dan aku sadar satu hal, bahwa aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin mengingat semua momen itu berdua denganmu. Aku ingin kita selalu bersama.”

Ivana diam tak bereaksi. Dia memandangku penuh selidik. Dia seolah menantang kesungguhanku.

“Hanya ini yang bisa kuberikan padamu. Aku harus pergi.” Ivana menyerahkan sebuah amplop yang cukup tebal. Dan tanpa menoleh-noleh lagi ia pergi meninggalkanku. Meninggalkan Semeru yang penuh kenangan indah.

Aku menatap kepergiannya dengan pilu. Dengan hati hancur.

Dengan lemas kubuka amplop itu. Aku menemukan sebuah coklat disana. Kugeledah lagi dan sebuah surat mungil berada disana. Cukup pendek namun menjawab semua.

 

Aku suka kamu tapi aku butuh kebulatan tekadmu.

Datangi aku di jogya dan buktikan kamu mmencintaiku.

Pagung Dalangan SiC.XVII Rt.10 No 21 Sleman Yogyakarta.

 

Aku membaca berkali-kali surat itu dan menatap nanar truk yang makin kelihatan kecil dan akhirnya hilang di telan rimbunanya hutan. Truk itu telah meninggalkan Ranu Pane.

“Aku akan datang Ivana. Aku akan datang, kasihku.”

 

 

 

Cat:

Cerita ini setengah benar setengah rekaan, jadi nikmatilah dan pahami setiap katanya. Dan cerpen ini kupersembahkan untuk kedua sahabatku yang menemukan kisah cintanya di Ranu Kumbolo. Cinta itu memang tidak bisa ditebak datangnya, mengalir dan tiba-tiba saja sudah memeluk kita. Jadi baik-baiklah memeliharnya karena kalau dia pergi, hati kita sakit luar biasa.

 

Surabaya, 11 September 2007

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Trackbacks

  • By Kylee Busby on Desember 11, 2011 at 7:20 am

    Kylee Busby…

    I cannot thank you enough for the blog article.Really thank you! Awesome….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: