Cinta yang harus menunggu


By Emen Rizal

          Hari masih belum bisa mengatupkan mulutnya karena keajaiban  yang ada di depannya. Seorang cewek berwajah melayu juga tidak kalah bingung menghadapi cowok yang dari tadi tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.

“Mas, niat daftar nggak sih? Kalau nggak, lebih baik pergi saja. Kasihan yang lain. Antri tuh.” ujar cewek tersebut tak sabar.

“Eh…i..iya, aku..aku mau daftar.” ujar Hari terbata-bata. Dengan sedikit grogi, Hari menyampaikan data dirinya. Saat ini Hari berniat menjadi sukarelawan di daerah bantul, Yogyakarta, yang sedang terkena musibah bencana alam. Dan cewek itu adalah salah satu panitia yang melayani pendaftaran calon sukarelawan.

“Sudah Mas, silahkan tanda tangan disini.” Cewek itu menyodorkan kertas dan menunjukkan dimana Hari harus tanda tangan.

”Oke, sekarang Mas Hari resmi menjadi sukarelawan kami. Besok datang kesini jam tujuh pagi. Ingat jam tujuh pagi!!. Rombongan akan berangkat jam tujuh lebih seperempat. Semua perlengkapan untuk dua bulan mohon disiapkan sebaik mungkin. Oh iya, sekali lagi jangan telat!! kita nggak pakai jam karet.” ucap cewek tersebut galak. Hari mengangguk dengan wajah masih terpesona. Cewek tersebut menjadi nggak enak dipandangi Hari seperti itu.

“Kenapa, Mas? Masih ada yang kurang jelas?”

“Maaf, Mbak? Boleh tahu namanya? Apa mbak punya saudara perempuan di sini? Mbak nggak kuliah di Unair khan?” tanya Hari bertubi-tubi.

Cewek tersebut mengernyitkan kedua alisnya, kemudian tersenyum. Tahulah apa yang diinginkan lelaki di depannya. Sudah sering ia temui cowok iseng macam ini.

“Maruk banget kalau bertanya. Namaku Ima, aku nggak punya saudara perempuan karena saudaraku cowok semua. Dan aku nggak kuliah di Unair. Puas?”

“Anu..e..aku punya teman di Unair yang agak mirip sama kamu, tapi bukan satu fakultas. Aku tadi mengira kamu adalah dia tapi ternyata aku salah. Ya sudah, makasih ya, sory kalau aku banyak tanya.” ucap Hari sambil berlalu dari hadapan Ima.

********************

“Masa?? Kamu nggak bohong kan, Har? Wah kalau benar, ini benar-benar keajaiban Allah.” kata Prasetyo setelah mendengarkan cerita Hari tentang Ima. Hari menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menyakinkan Pras.

“Selama ini aku pikir aku akan setia kepada Bunga…”

“Tunggu..tunggu dulu” potong Prasetyo buru-buru. ”Emang kamu sudah jadian sama Bunga? Kok pakai setia-setiaan?”

“Enggak sih, aku ralat deh. Selama ini aku membayangkan akan selalu setia melamunkan Bunga di pikiranku. Bunga yang cantik, pintar, keibuan dan sangat baik kepada setiap orang. Sungguh wanita yang sangat ideal untuk menjadi isteriku.”

“Iya, sangat ideal untuk menjadi isterimu tapi bagi dia sangat ironis bersuamikan kamu he..he…” ejek Pras.

“Kamu kenapa sih? Nggak suka ya temennya senang ?”

“Bukannya gitu, Har. Gimana kamu akan menjadikannya isteri, bertemu saja kamu sudah berkeringat dingin, lemas dan jantungan. Aku kasihan kalau kamu pacaran sama dia, bisa-bisa kamu akan mati muda lo..”

“Memang sih. Aku selalu kacau bila berhadapan dengannya. Jantungku berdegup kencang, keluar keringat dingin, nafas tidak teratur. Tapi sebagian orang bilang itu tanda-tanda cinta ya, falling in love, bener nggak sih?”

“Har, sudah berkali-kali kukatakan, kamu ini perlu diperiksa ke rumah sakit. Kalau kamu terus–terusan begini di depannya, seandainya, ini cuma seandainya, kamu jadian sama dia, bisa-bisa belum satu jam duduk berduaan, kamu sudah mati duluan. Sudahlah Har, kalau kamu suka Bunga, kamu harus mulai mendekatinya. Sampaikan kata Hatimu, jangan menunda-nunda, nanti disambar orang baru tahu rasa! Namun kalau Ima, cewek manis yang mirip Bunga seperti katamu. Mungkin itu merupakan jawaban Allah atas doamu untuk dekat sama Bunga. Aku lebih mendukungnya. Aku merasakan kamu lebih rileks sama Ima. Mungkin dia dikirim untukmu. Mungkin….untuk penyakit-penyakit kronis yang melandamu saat berhadapan  dengan Bunga. Intinya dia obat penyakitmu.”

“Gitu ya..”

“Iyaaaa!!”

*****************

“Kasihan ya mereka, sudah susah payah membangun rumah dengan modal nol, eh hancur dalam hitungan menit…” ucap Ima saat duduk berduaan bersama Hari. Di Yogyakarta.

“Hei!! diajak ngomong kok diam saja sih?” tanya Ima sambil menoleh ke samping. Ima terkejut karena melihat keadaan Hari yang berkeringat dingin dengan wajah pucat dan nafas tidak teratur.

“Har, kamu kenapa? Kamu sakit ya? aku bawa ke kesehatan ya?”

“Ti..tidak usah, aku..aku nggak apa-apa kok. Aku cuma harus tenang dan menarik nafas panjang.” ucap Hari yang langsung menarik  nafas panjang banget. Dan ternyata cara ini berhasil. Perlahan tapi pasti, wajah dan nafas Hari normal kembali.

“Kenapa sih Har setiap kamu bertemu aku atau aku mendekatimu, kamu kelihatan takut banget? Seperti melihat setan. Emang wajahku jelek banget ya?” ucap Ima dengan wajah cemberut..

“Eh enggak kok…nggak gitu” ujar Hari nggak enak. “Aku hanya grogi. Aku grogi setiap bertemu denganmu, dekat denganmu.. itu saja.”

“Kok bisa gitu?” tanya Ima bingung. Hari pun menceritakan tentang Bunga, cewek yang mirip dengan Ima. Tentu saja Hari tidak bilang kalau Hari menyukai Bunga.

“Apakah aku benar-benar mirip dengannya?” Hari tidak menjawab pertanyaan Ima, melainkan mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.

“Nih fotonya. Kamu bisa jawab sendiri pertanyaanmu.” ucap Hari sambil menyerahkan foto Bunga kepada Ima.

“Benar-benar mirip denganku….Padahal aku tidak punya saudara kembar, juga saudara perempuan. Semua saudaraku laki-laki. “ gumam Ima. “Har, kamu kok punya fotonya dia. Kamu pasti suka dia ya?” tanya Ima tiba-tiba.

“Eh.. nggak kok. Kebetulan setelah pertemuan pertama kita itu. Aku langsung mencari foto Bunga untuk jaga-jaga kalau kamu nanti meragukanku. Dan ternyata berguna kan.” elak Hari.

“Ah, jangan bohong. Ayo ngaku?” ucap Ima sambil mencubit Hari. Hari tetap bersikukuh. Dan Ima semakin liar menghujani tubuh Hari dengan cubita-cubitan kecil namun mengenakan. Hari tidak sadar bahwa dia sudah tidak gagap lagi dan semakin dekat dengan Ima.

********************

Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Itu suatu hal yang pasti terjadi dalam keadaan apapun di dunia ini. Hari yang biasanya ngotot, tidak mengenal kata menyerah, toh tidak bisa melawan pepatah itu.

Dan tibalah saat itu. Hari tidak kuat menghadapi perpisahan dengan Ima, cewek yang mengisi hari-harinya ketika menjadi sukarelawan di Bantul. Program pemulihan pasca bencana sudah berjalan dua bulan. Hari dan timnya sudah bisa meninggalkan Bantul karena masyarakat sudah mampu malanjutkan kegiatannya seperti sebelum gempa terjadi.

Namun bagi Hari, meninggalkan Bantul sangatlah berat. Di kota inilah berbagai kenangan terukir di hatinya, terutama kenangan tentang Ima. Kenangan indah yang mungkin tidak bisa dia lupakan seumur hidupnya.

“Aku harus mengatakannya. Aku tidak ingin terlambat. Lebih baik kukatakan sekarang. Ima tidak akan pernah tahu kalau aku tidak mengatakannya. Aku harus mencari Ima malam ini.” ucap Hari mantap. Hari pun berjalan menuju posko dimana Ima menginap.

Setelah bertanya kepada teman-teman Ima, Hari menuju belakang posko. Disana Hari menemukan Ima sedang duduk sendiri sambil memandang ke atas langit. Hari pun berjalan mendekati Ima.

“Indah sekali bulan malam ini, sayang ini terakhir kalinya kita melihat bulan seindah ini dari tempat ini.”

“Iya.” jawab Ima singkat tanpa menoleh ke Hari. Suasana menjadi hening. Suara jangkrik yang mengerik terdengar sangat merdu mengisi keheningan yang ditimbulkan kedua anak manusia itu.

“Ma, aku mau mengatakan sesuatu yang selama ini mengganjal hatiku.”

Ima mengalihkan pandangannya kearah Hari. Hari menjadi tegang luar biasa. Lebih tegang daripada menghadapi dosen paling killer sekalipun.

“Aku..aku ingin persahabatan kita tidak hanya sampai disini. Aku ingin lebih dekat lagi denganmu, kehadiranmu benar-benar membuat hidupku lebih berwarna.” ucap Hari. Ima diam tidak bereaksi.

“Aku ingin kamu menjadi bagian dari diriku. Kamu menjadi teman sekaligus sahabatku yang menemani di saat suka dan mendampingiku disaat sedih. Aku ingin kamu bersamaku selalu.. karena aku sayang kamu, Ma.”

“Har…” Ima membuka suara.” Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Denganmu disini aku merasakan kehangatan dan keteduhan. Aku juga merasakan sesuatu yang pernah kurasakan dahulu saat aku jatuh cinta pertama kali. Perasaan berdebar-debar saat melihatmu.”

“Tapi..aku mulai menyadari bahwa kamu dekat denganku karena aku merupakan perwujudan dari Bunga, orang yang kamu cintai. Dan aku merasakan kalau semua kedekatanmu denganku karena kamu menganggapku Bunga bukan Ima.”

“Bukan Ma…bukan begitu”

“Dengarkan dulu Har,” lanjut Ima. ”Aku senang kamu perlakukan aku dengan baik selama ini. Aku yakin wanita manapun akan takluk dengan perhatian dan kesabaranmu. Tapi sayang, aku merasa sedih karena aku tahu bahwa kamu menganggapku sebagai Bunga, bukan Ima. Aku merasa kamu membayangkan orang lain saat bersamaku. Hatimu bukan untukku tapi Bunga. “ Ima tidak kuat lagi meneruskan kalimatnya. Ima menangis sesenggukan. Hari hanya bisa diam mendengar kata-kata Ima.

“Apa yang harus kulakuan agar kamu percaya aku menyayangimu bukan Bunga!”

“Har..jujur, selama ini kamu sudah mengukir kenangan indah di hatiku. Dan wanita jarang melupakan kenangan indah dalam hatinya. Aku lebih baik pergi dengan kenangan indah itu daripada pergi dengan kenangan yang berubah buruk. ”

“Ma, haruskah ku teriak pada semua orang disini kalau aku sayang kamu. Kalau aku cinta kamu? Atau kamu ingin aku  melakukan apa agar kamu percaya pada cintaku.”

Ima memandang Hari dengan pandangan teduh. Dia seolah ingin menelanjangi kesungguhan cinta Hari.

“Har…aku tidak bisa mengetahui apakah kamu mencintaiku atau Bunga. Yang tahu hanya kamu. Semua tergantung kamu. Kembalilah dan temui bunga. Yakinkan hatimu. Kamu mencintai Bunga atau aku?”

Hari terdiam membisu.

“Kelak kamu akan tahu jawabannya. Aku akan menerima apapun jawabanmu. Kalau kamu memang mencintaiku, kutunggu kamu di Circle kafe akhir mei. Tepatnya tanggal 31 mei. Dan aku menunggumu sampai saat itu tiba, tapi jika kamu tidak datang, aku tidak akan benci kepadamu. Karena aku tidak akan bisa benci denganmu.”

Ima bergegas meninggalkan Hari dengan air mata berlinang penuh kesedihan. Hari hanya diam terpaku, tidak tahu harus berbuat apa.

Surabaya, di sudut kos Kedung Sroko beberapa tahun yang lalu

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Qisthi  On September 18, 2011 at 10:09 am

    dan apa yg terjadi?

    • emenrizal  On September 21, 2011 at 7:08 am

      Tidak ada yg tahu apa yang terjadi kemudian, krn aku msh blum tahu jawabannya🙂

  • whiteseito  On Oktober 30, 2014 at 9:02 am

    wkwkw… dan kasihanilah pembaca yang jadi penasaran menunggu tanggal 31 mei..

    teruskan bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: