SANG PEMIMPIN BUKANLAH PRODUK INSTAN


Bukan sebuah tesis, bukan pula karya ilmiah. Ini hanya sebuah opini pribadi. Hanya sebuah keisengan menulis. Syukur-syukur keisenganku ini bisa disetujui beberapa orang, dan hanya sedikit saja yang tidak setuju hehehe. Dan kali ini keisengan tanganku ini adalah tentang menjadi seorang pemimpin!

SANG PEMIMPIN BUKANLAH PRODUK INSTAN

By: Emen Rizal

Saat ini Kepemimpinan SBY sedang dalam keadaan Siaga 1. Masyarakat mulai gerah dengan segala kelambatan dan ketidaktegasannya. Walau sukses di periode pertama, yang mengantarkannya menduduki jabatan presiden di periode kedua, kepemimpinannya di periode kedua jauh dari kata memuaskan. Banyak sekali kritik, kecaman bahkan hujatan dialamatkan kepada presiden kita ini. Hemm sebenarnya ada apa ya?

Sebelumnya, mari kita dengarkan keluh kesah rakyat di desa-desa nan jauuuuuh disana. Mereka saat ini mendengungkan sebuah kalimat yang bagi anak muda (kota dan berpendidikan) sekarang adalah kata-kata haram. “Lebih enak hidup di zaman Soeharto. Semua murah, semua gampang, orang susah lebih sedikit”. Well, jangan dibantah dulu, jangan didebat dahulu, jangan dikeluarin data statistik dulu, jangan ngoceh ngalor ngidul dahulu. Itu ocehan orang desa, yang tahunya adalah fakta dilapangan, yang tahunya hanya besok bisa makan apa.

Jadi begitu pentingnya peran pemimpin, sehingga beberapa pemimpin kita di cap gagal, tak terpilih lagi, tak disukai rakyat dan sebagainya. Jadi, menjadi pemimpin itu seharusnya bagaimana sih? Apakah semua orang bisa jadi pemimpin?

Kita runut dari Soekarno. Orang dengan kepribadian kharismatik ini, terlahir dalam kondisi kurang layak untuk kita saat ini, namun sudah lebih mendingan di zamannnya dahulu. Soekarno muda, bekerja keras untuk menjadi lebih pandai, bekerja keras untuk tetap kreatif, bekerja keras untuk bisa menjadi diri sendiri. Dia kuat menghadapi tekanan, kuat menghadapi kritikan. Dia tumbuh dan memang sudah takdirnya menjadi pemimpin besar bangsa ini. Bukan tiba-tiba saja dia menjadi seorang pemimpin. Alam dan hidup yang menjadikannya pemimpin kharismarik.

Soeharto, anak kere lainnya yang hidup berpindah-pindah karena menjadi anak angkat beberapa orang. Dengan keuletan dan jiwa pantang menyerah, dia menata hidupnya dari bawah setapak demi setapak. Masuk jalur angkatan bersenjata, dan menjadi orang yang disegani bawahnnya. Dia pernah sangat miskin, dan hal inilah yang memotivasinya. Bekerja dengan cerdas, mempunyai jiwa entrepeuner, mempunyai rasa kebersamaan yang tinggi (sosial), memperhatikan bawahan dan tegas! Dia menerapkan falsafah pemimpin yang bagus di kesatuannya sampai ketika dia menjadi presiden republik ini.

SBY atau susilo bambang yudoyono, presiden kita saat ini, juga mempunyai nasib kurang lebih sama. Bekerja dengan giat, belajar dengan tekun, dan melalui jalur kepemimpinan yang tepat. Dia selalu menjadi the best leader di komando-komando yang dia pimpin. Di hormati kala memimpin pasukan Indonesia ketika bertugas di luar negeri, disegani lawan saat perang strategi, dan dipuja bawahannya karena kharismanya.

Ketiga nya memang bermasalah diakhir jabatannya, termasuk SBY yang memasuki periode kepimpinnnya saat ini. Terlepas masalah yang membelit mereka di akhir jabatannya, mereka adalah pemimpin besar kita yang harus kita kenang untuk kedepannya. Presiden Gus Dur, Presiden BJ Habiebie, Presiden Megawati, juga melawati hal yang kurang lebih sama.

Intinya, menjadi pemimpin itu perlu proses. Perlu perjuangan. Bahkan oleh Allah, Tuhan Semesta ini, mereka disiapkan sejak masih kecil. Dihadapkan pada proses yang keras, yang tidak dihadapi anak kecil lainnya, remaja seusia mereka bahkan pemuda pintar lainnya. Mereka selalu lebih hebat dari lainnya, karena memang mereka ditakdirkan menjadi pemimpin besar bangsa yang besar ini.

Dan mereka tidak pernah berfikir untuk menjadi presiden sejak mereka kecil. Takdirlah yang mengantarkannya menjadi presiden. Siapa yang menyangka anak desa menjadi presiden? Namun proses inilah yang perlu digaris bawahi. Proses inilah yang menjadikan mereka semua pemimpin yang kharismatik. Dan proses ini bukanlah proses yang mudah. Jika mereka gagal dalam menjalani proses yang berat ini, dipastikan mereka tidak akan pernah menjadi pemimpin bangsa yang besar ini.

Kadang saya juga tertawa geli ketika mengingat beberapa kawan saya yang merasa pusing ketika menjabat pemimpin di posisi yang bagi orang lain dan saya ya harusnya tidak berat. Mereka mengeluh menghadapi anak buah yang tidak seberapa itu. Saya pun menasehatinya untuk belajar dari proses. Jangan pernah takut salah, karena masalah terbesar seorang pemimpin adalah takut mengambil keputusan. Saya pun sering dihadapkan situasi dimana saya harus memilih dan membuat keputusan. Bukan putusannya yang penting, namun proses memutuskan itulah yang penting. Keputusan bisa salah bisa benar, namun kepercayaan diri dalam memutuskan itulah yang membuat seorang pemimpin tumbuh dan tumbuh terus.

Jadi apabila seorang berumur 30 tahun dan menjadi CEO termuda dalam sebuah perusahaan besar, apakah dia pemimpin yang hebat? Bisa jadi!! Mungkin kita semua tidak tahu, bahwa sejak kecil dia sudah ditempa menjadi seorang pemimpin hebat diusia muda. Kita mungkin tidak tahu, bahwa porsi tekanan yang ia terima saat remaja lebih besar lima kali dari porsi kita. Dia sudah menjalani proses yang berat untuk menduduki posisi CEO tersebut. Tidak ada yang kebetulan, semua sudah terencana oleh ALLAH. Hanya kita, sebagai manusia biasa, kadang melihat orang dari hasil akhir atau tampilan luarnya sekarang, sehingga kita kadang dengan kejamnya menuduh dengan tudahan miring yang menjurus fitnah. Tanyakan dan pelajari kisah hidupnya, niscaya kita semua akan geleng-geleng, bagaimana sang pemimpin kita menjalani proses untuk menduduki posisi puncak.

Jadi menjadi pemimpin itu perlu proses, tidak ada yang instan. Semua orang sudah mempunyai jalur dan takdirnya sendiri. Namun bukan berarti kita tidak berusaha, karena takdir selalu mempunyai jalur-jalur dan jalur-jalur itulah yang membimbing kita memenuhi takdir kita. So, anda semua disiapkan jadi pemimpin, dan pemimpin paling kecil adalah pemimpin keluarga, jadi nikmatilah sekarang, proses menjadi pemimpin itu. Sukses Selalu. Emen Rizal

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Raden Aldi W  On Juli 9, 2011 at 5:39 am

    Saya setuju dengan pendapat yang ditulis ini dan saya akan menambahkan pendapat saya tentang kepemimpinan ini.

    Menurut saya,
    Menjadi pemimpin merupakan proses yang panjang. Membutuhkan pengalaman, ilmu dan seni dalan menerapkannya kepada yang dipimpinnya.
    Prinsip – prinsip kepemimpinan dan azasnya bisa kita baca dan akan lebih baik bila kita bisa laksanakan dalam kehidupan kita sehari – hari.
    Berbagai tipe kepemimpinan pun bisa kita lihat dan pelajari dari tokoh – tokoh terdahulu sehingga kita pun dapat mempraktekkannya atau menjadi panutan pribadi kita.

    Ada yang meraih suatu tingkatan dalam kepemimpinan karena dia telah melalui proses yang oanjang ada juga yang lahir dalam suatu tingkat dalam kepemimpinan karena nepotisme. Tentunya para pembaca sekalian akan mendapati kualitas yang berbeda dari para pemimpin tersebut dan apa yang dihasilkan oleh mereka pun akan berbeda.

    Seperti halnya dalam diri anda, bagaimana anda memimpin diri sendiri, apakah sudah dikatakan pantas untuk mengkritik orang lain? Padahal mungkin diri anda sendiri perlu dikritik terlebih dahulu.

    Kata bijak yang sederhana tetapi susah dilakukan, diantaranya :
    Pantaskan diri kemudian mengkritik orang lain.
    Pemimpin menjadi suri tauladan yang baik.
    Pemimpin berada di tengah – tengah anak buahnya.
    Dan sebagainya.

    Tentunya pasti kita semua setuju, bila pemimpin kita nanti merupakan seorang yang telah ditempa oleh-Nya melalui proses yang panjang serta berbudi pekerti yang luhur yang memegang kuat nilai – nilai Agama sehigga tindak tanduknya merupakan apa yang diikrarkannya kpd Tuhan YME.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: