Nasi Pecel, Lezatnya bumbumu menggugah masa laluku


Masa lalu adalah sejarah. Besok adalah masa depan. Beberapa orang memilih masa depan sebagai prioritas. Namun tak jarang masa lalu dipakai sebagai pijakan untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Bicara masa lalu, sebuah nasi pecel membuatku teringat nostalgia masa lalu. Bukan masa lalu yang baik atau buruk namun sebuah masa lalu yang mengingatkanku akan kebaikan atau keburukan yang telah terjadi pada diriku di masa lalu. (Em En Rizal)

Nasi Pecel, Lezatnya bumbumu menggugah masa laluku

By: Emen Rizal

Karena menjalankan tugas untuk jaga di shift tiga, aku akhirnya menginap di Kantor. Karena lokasi yang agak di dalam, membuat kantorku agak jauh dari tempat makan. Alhasil, malam itu kuhabiskan dengan makan Indomie goreng, makanan kesukaanku saat masih kuliah.

Pagi pun menjelang. Aroma segar dan dingin bercampur menjadi satu. Namun perut yang keroncongan memaksaku untuk mencari makan. Dengan si Merah, aku pun mengelilingi Surabaya yang pagi dan dingin itu.

Motor pun kuarahkan ke kertajaya, biasanya disini banyak orang jualan. Namun alamaak, kok banyak yang tutup ya? Apa karena cuti bersama membuat banyak warung pun ikut cuti?? ehmm daripada pusing memikirkan jawaban ini, lebih baik aku melanjutkan ke daerah karang menjangan dan sekitar kampus Unair.

10 tahun lalu, aku datang ke surabaya. Dan kos-kosan pertamaku adalah di daerah kedung tarukan. Lokasinya dekat dengan karang menjangan. Nah pas lewat karang menjangan, aku melihat masih banyak yang belum berubah. Ada sih perubahan kecil, namun tak terlalu merubah secara garis besarnya. Aku pun memarkir kendaraanku di salah satu stand pecel langgananku dulu.

Standnya adalah sebuah lapak yang sudah tua tapi masih kokoh. Warung ini dulu favoritku. Letaknya di karang menjangan, dekat jalan, banyak dikunjungi orang, uenaak dan yang jelas muraaah. Maklum, mahasiswa, Duitnya sangat cekak banget.

Segera kupesan deh 1 porsi buatku. Satu buah nasi pecel dan satu teh hangat. Kunikmati sendok demi sendok nasi pecel ini. Ehmm langsung deh suasana masa lalu ikut masuk ke dalam ingatanku. Rasa yang sudah lama hilang kini kembali lagi. Rasa yang begitu menolongku dari kesulitan hidup. Rasa yang menemaniku dalam mengarungi kehidupan di surabaya.

Aku makan sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang di sekitar. Karena libur nasional, maka pasar ini menjadi ramai. Anak kos, ibu rumah tangga, dokter muda, perawat, tumplek blek disini. Aku memandangi rutinitas yang dulu kulihat ini sebagai sebuah keindahan pagi hari. Dulu aku sempat ngomel karena ini bikin macet…sekarang mungkin orang lain yang ngomel.

Selesai menyantap nasi pecel ini, aku lalu meneruskan perjalananku. Daripada balik ke kantor yang jelas-jelas belum ada orang, aku memutuskan menyusuri rute kehidupan (jiaaah rute kehidupan hehe).

Aku menggeber motor pulsarku ke kedung tarukan. Kulewati rumah kos pertamaku. Tetep tak ada perubahan, masih kecil dan kotor. Dulu aku sewa disini dengan harga 75 ribu perbulan untuk sekamar 2 orang. Disini privasi nggak ada. Laki cowok campur dan kunci kamar juga nggak ada. Namun disini bu kos menekankan kepercayaan. Namun aku tidak yakin dengn prinsip ini, karena terbukti ada aja yang kehilangan. Wal hasil aku bertahan cuma 1 bulan disini.

Trus aku pindah ke tarukan baru, di rumah pak haji. Disana aku lumayan lama lah. Pak haji orangnya sopan, disukai orang tuaku karena sopannya itu. Namun mendadak nggak sopan jika sudah akhir bulan, berhubungan dengan bayar kos. Langgananku disini adalah warung pojok, di depan jalan dharmahusada. Nasinya enak dan murah. Selalu murah it’s number one. Pilihan pertama dalam menentukan pilihan makan hehehe.

Kulihat jalan-jalan di kedung tarukan baru ini banyak berubah. Sudah lebih bersih dan rapi. Banyak tanaman hijau di pekarangan sempit rumah-rumah. Mungkin masih berharap menjadi 20 kampung terbersih di surabaya. Rumah-rumah yang dulu kecil-kecil dan jelek udah banyak yang tidak ada. Sudah berganti menjadi lebih besar dan bagus. Berubah dari rumah tangga menjadi rumah kos-kosan. Maklum sekarang kos didaerah sini lumayan muahaal. Minimal 300 ribu untuk seorang diri tanpa kipas, hanya ruangan kosong 3×3. Kalo yang udah ada kipas dan lemari minimal 350 ribu.

Kuarahkan laju sepeda motorku ke mojo dan jojoran. Nasi pecel langgananku, mbok lastri udah nggak jualan. Masih hidup kah? Soalnya pas jualan dulu udah tua banget. Ku lihat kos-kosan hijau milik pak RW masih tegak berdiri dan kotor. Maklum, pak kos dan bu kos kurang merawat kos-kosan ini. Pas lewat aku berpapasan dengan pak kos. Aku pun membunyikan klaksonku, namun karena aku pakai helm, beliau tak mengenaliku. Arah sepeda kini bergeser menuju jojoran. Tepatnya pasar jojoran. Aku menuju kesana karena ada kos-kosan terkakhirku, kos-kosan sebelum aku menikah. Disini banyak yang tidak berubah karena baru 2 tahun kutinggalkan.

Hemm ternyata lumayan menyenangkan “jalan-jalan” di pagi hari ini. Aku melihat dan menemukan lagi tempat makan favoritku di jaman dulu. Ada pecel di karang menjangan, pecel mbok lastri, warung lestari mojo, warung prasmanan bu titik jojoran, warung lastri jojoran pojok, warung Maak, warung WAPRO dan masih banyak lagi. Intinya warung ini murah meriah dan enak bagi lidah orang sepertiku saat itu.

Perjalanan ini pun harus kuakhiri, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 8, saatnya menuju kantor. Kadang berkah itu muncul disaat yang tidak kita duga. Karena mendapat jatah jaga malam dadakan, pagi hari aku malah menemukan kenangan indahku di wilayah unair, kampusku dulu, dan hasilnya??? pikiranku menjadi segar lagi dan semangatku memuncak, walo saat ini yang lain pada liburan, aku tetap semangat kerja teruuuus demi cita-cita yang pernah kuucapkan pada saat kuliah dulu. Semoga aku bisa segera mewujudkannya. Terima kasih Allah. Selamat pagi dan selamat beraktifitas. (Em En Rizal)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: