Bordir Solder Yoenarti Soewarno


Kartini kita yang berikutnya adalah Yoenarti Soewarno. Beliau adalah seorang wanita yang menghidupi dirinya dengan bordir. Usaha keras dan tak kenal lelah untuk memasarkan kerajinan tangannya ini membuat salah satu perusahaan yang konsisten mendukung UKM-UKM di sekitarnya meliriknya. Mereka pun membantu dan membina Yoenarti dalam hal manajemen pemasaran dan permodalan. Hasilnya? Bordirnya tidak saja digemari di Indonesia tapi juga luar negeri seperti arab Saudi, Malaysia, dan Brunie. Ehmm hebat sekali kartini satu ini. Yuk segera kita baca artikel dari kompas ini. (Em En Rizal)


JAKARTA, KOMPAS.com – Usaha bordir solder memang terbilang cukup banyak, namun tidak semuanya meraih kesuksesan seperti halnya usaha Norrisa Miliarta dari Pasuruan.

“Sebenarnya sudah memulai usaha dari akhir 1997, tapi baru efektif tahun 2000. Kalau kendala waktu itu adalah kesulitan modal, tapi kita dibantu oleh PT Pelabuhan Indonesia III, dari tahun 2000. Jadi lebih maju sekarang,” sahut pemilik usaha Norrisa Miliarta Yoenarti Soewarno kepada Kompas.com, di Jakarta, Minggu (20/3/2011).

Yoenarti menjelaskan, ada tiga metode dalam bordir, yaitu dengan komputer, manual, dan dengan soldier.  “Kemudian dengan perkembangan teknologi kita lebih cepat pakai solder. Bisa selesai dua hari, lebih cepat dibandingkan manual,” jelasnya.

Namun, teknik solder ini tidak bisa diterapkan ke semua jenis kain. Seperti, kain katun, tidak bisa menggunakan soldier. Teknik ini biasanya digunakan pada kain polyester.

Usaha bordir Norrisa ini merupakan mitra binaan dari PT Pelindo III. “Awal mulanya saya jual produk di salah satu hotel, kemudian didatangi bagian PKBL PT Pelindo III, menawari pemberian kredit lunak 6 persen per tahun. Kemudian disuruh membuat proposal, lalu langsung disurvei oleh Pelindo,” jelasnya.

Selain dari segi modal, Yoenarti merasakan manfaat lain Mitra Binaan BUMN, yakni bisa menembus dan mengikuti berbagai even pameran untuk memasarkan produkanya. “Pelindo melihat event-event yang cocok buat kami, seperti di Dahran (Arab Saudi) tahun 2000, di Malaysia (2004), dan di Brunei Darussalam (2010). Alhamdullilah yang di Brunei (order) masih jalan terus,” ujar dia.

Selain itu, lanjutnya, Pelindo juga mengadakan pelatihan, seperti manajemen pemasaran, manajemen permodalan.

Seiring dengan itu, volume penjualan Norrisa meningkat pesat hingga 50-60 kali lipat dibanding awal berdiri. Selain volume penjualan yang kian meningkat, pasarnya pun kini merambah hingga luar negeri.

“(Produk) yang spesifik taplak-taplak, kebaya biasanya untuk ke Gorontalo dan Makassar, baju kurung dan mukena ke Malaysia, kain payet ke Brunei,” jelasnya, yang kini memiliki 35 pekerja tetap, dan 80 pekerja temporer.

Dalam ajang PKBL BUMN 2011 yang berlangsung di JCC, Senayan, tanggal 16-20 Maret 2011, Norrisa mendapat 2 penghargaan sebagai UKM Teladan diantara 72 UKM yang mendaftar.  “Kita didaftarkan oleh pembina. Mereka betul-betul aktif. Jadi bukan hanya UKM yang usaha, pembinanya juga,” jelasnya.

Dari hasil itu, Yoenarti pun bisa membantu lingkungan sosial seperti, menyekolahkan anak yang tidak mampu dan pelatihan bordir gratis menjelang liburan sekolah

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: