Sepak Bola Indonesia , Bisnis modern atau politik modern?



Oleh: Emen RIzal

 

Kisruh PSSI tampaknya makin panjang dan jauh dari kata finish! Pihak status quo tidak mau turun dengan alasan demokrasi dan harga diri, sedangkan pihak lawan merasa sudah saatnya reformasi total demi kelanjutan PSSI ke arah lebih baik. Kedua kubu saling serang, saling unjuk gigi, saling pamer power yang semunya makin membingungkan kita semua, penikmat sepakbola.

PSSI didirikan, sebagaimana induk organisasi sepakbola negara lainnya, untuk menjadi wadah sepakbola indonesia, yang mengurusi, yang menata, yang mengatur sistem sepakbola indonesia sehingga sepakbola indonesia makin maju, makin top, dan menjadi nomor satu di manapun.

Sayangnya, untuk menjadi nomor satu tingkat asia saja kita ngos-ngosan, bahkan tingkat ASEAN saja kita sudah tidak sanggup. Ini makin diperparah 4 tahun terakhir. Manakala prestasi klub-klub asia macam korea utara, vietnam, myanmar, filipina, qatar dan negara-negara antah berantah untuk sejarah sepakbola mulai berkembang, Indonesia malah berjalan mundur.

Penduduk indonesia diatas 230 juta. Jika mau hitung-hitungan secara matematika, jika ada 30 % yang suka dan bisa main bola, maka indonesia akan punya 6,3 juta timnas. Oke, diturunkan jadi 20 % 10 % sampai 1 % saja. Jika 1 % saja penduduk indonesia suka dan bisa sepakbola maka Indonesia akan punya 200 ribu timnas atau setara dengan 2.300.000 orang punggawa timnas. Namun sepakbola bukan itung-itungan. Karena ternyata hal ini tidak hanya terjadi disepakbola namun di cabang olahraga lainnya. Namun di sepakbola, hal ini sangat tragis karena sepakbola adalah olahraga nomor satu di indonesia!

Pengurus PSSI tahu, jika kompetisi diputar dengan benar, maka personel timnas yang mumpuni dan ditakuti lawan akan muncul. Kompetisi tingkat dini, tingkat pelajar, tingkat mahasiswa, U15-U23, dan kompetisi –kompetisi yang membangun lainnya, maka mencari anggota punggawa timnas bukanlah perkara yang susah. Sayangnya, PSSI tidak melakukan atau lebih tepatnya tidak peduli untuk melakukan itu. Pimpinan PSSI lebih fokus pada urusan politik partainya daripada urusan masa depan indonesia.

Dibeberapa negara, ketua induk organisasi ini memang dipegang oleh orang yang berkecimpung di bola, olahraga yang membesarkan mereka. Apakah unsur politik akan hilang? Tentu saja akan ada karena politik lahir bersama kelahiran manusia.  Namun jika unsur politik terlalu kental hal ini akan membahayakan olahraga itu sendiri.

PSSI sekarang terlalu dibawa ke urusan politik. Peperangan memenangi jabatan ketua umum yang sah berlanjut tanpa akhir, kompetisi tidak berjalan dengan maksimal dan kompetisi penyokong timnas sedikit bahkan nyaris mati. Seharusnya memang kompetisi sepakbola harus mulai menjadi industri atau bisnis yang bagus. Bisnis jangan diartikan kapitalis. Setiap kita mengeluarkan uang untuk mendapat imbalan (tidak harus berupa uang) tertentu adalah bisnis.

Bisnis sepakbola disini bisa digambarkan sebagai berikut. Dengan mengelola kompetisi sebaik mungkin, maka akan banyak menarik penonton, banyak penonton tentu akan banyak perputaran uang disini, banyak sponsor juga akan masuk, media akan menanyangkan. Setiap pemain makin serius berlatih dan makin serius berkompetisi dengan fair. Hal ini bila dilakukan berulang-ulang dengan terobosan yang makin inovatif, bukan tidak mungkin pemain top luar negeri akan bergabung dengan liga diindonesia.  Atau paling tidak, bibit-bibit pemain berbakat kita, akan dilirik oleh mereka. Pemain brasil yang selalu mengekspor pemain berbakat mereka, karena iklim sepakbola mereka. Tentu ini hanya gambaran besarnya saja. Tak mudah tentunya mengelola bisnis ini tapi pasti bisa. Ingat, halangan atau rintangan ada untuk ditaklukan bukan dihindari. Jadi ayo kita benahi sepakbola indonesia. Aku cinta Indonesia, aku cinta garuda!!

Emen Rizal, 1 April 2011

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: