Profesi Sampingan


 

 


Sepasang mata indah kelihatan resah memandangi ujung lorong ruang kuliah. Sepasang mata indah, yang ternyata milik gadis manis bernama Rani, mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangannya yang putih dan berbulu halus. Rani ingin memastikan bahwa jam tangan Baby-G nya masih normal dan menunjukkan waktu dengan tepat.

Keresahan hatinya berganti kepanikan ketika dari ujung lorong muncul seorang cowok. Cowok itu berkaca mata bening, memakai kaos berkerah warna hitam dengan gaya rambut seperti James Bond, klimis! Rani segera merapikan rambut, pakaian dan sedikit make upnya. Dia tidak ingin dihadapan cowok itu kelihatan berantakan.

Cowok itulah yang sedang ditunggu Rani sejak tadi. Namun Rani bukannya senang dan segera menyapanya, melainkan segera membuka buku tebal karangan Bloom, dan pura-pura serius membacanya. Dia seolah tidak tahu kedatangan cowok itu. Hati Rani semakin deg-degan ketika cowok itu semakin dekat.

“Pagi, Ran. Kamu rajin sekali pagi-pagi sudah ada di kampus.” sapa Cowok itu. Hati Rani seperti disiram es. Begitu sejuk menyegarkan.

“Ah biasa saja. Aku mau belajar tentang teori perkembangan manusia. Dari tadi malam aku belum mengerti juga. Bodohnya aku.”

“Jangan merendah gitu dong! Hemm…aku sedikit menguasai tentang hal itu. Bagaimana kalau aku bantu sedikit?” cowok itu menawarkan, Rani dengan cepat menerima tawaran itu, karena memang itulah yang dia tunggu. Rani datang sepagi itu bukan hanya minta diajarin Antok  saja namun supaya lebih dekat dengan Antok.

*************************

Rani terlihat bingung dengan menu masakan khas Jawa Tengah. Maklum, baru kali ini Rani masuk ke RM MURIA yang menjual khusus masakan  Jawa Tengah. Rani datang ke tempat ini karena kata-kata Lidya, sahabatnya, yang membuatnya penasaran. Lidya mengatakan bahwa di rumah makan ini, Rani akan menemui kejutan, kejutan yang sangat besar!

Setelah berfikir lama, Rani kelihatan tertarik dengan salah satu menunya. Dia segera memanggil pelayan untuk memesan makanannya.

“Aku mau pesan nasi gandul Pati sama dawet Kudus, eh ini memang asli  Jawa Tengah atau….. “ Rani tidak menyelesaikan kalimatnya karena dia terkejut melihat pelayan dihadapannya. Bukannya pelayan itu segalak polisi bukan pula sekeren bintang film, tapi karena Rani mengenalnya.

Pelayan yang sedang menunggu pesanan Rani tersenyum manis sekali. Rani bukannya membalas senyuman itu tapi makin melongo karena tidak percaya dengan pandangan matanya. Dalam pandangannya pelayan itu adalah Antok, dan setelah mengucek matanya berkali-kali, pelayan  dihadapannya itu masih Antok.

“Kaget ya….yah inilah aku, seorang pelayan di rumah makan ini. Terima kasih, apa ada pesanan lain nona Rani?” tanya Antok dengan sopan. Rani hanya menggelengkan kepalanya, masih melongo.

“Ti..Tidak” jawab Rani menegaskan bahasa tubuhnya.  Antok pun segera meninggalkan Rani yang masih shock dengan kejadian barusan. Rani benar-benar terkejut dengan kenyataan ini.

Sebelumnya Rani sudah sering terkejut sejak bertemu dengan Antok. Rani merupakan cewek Most Wanted di kampus Psikologi dan terkenal sering gonta–ganti pacar serta cewek paling gaul dan modis sekampus. Pacar Rani selalu mempunyai kelebihan tertentu. Tapi rata-rata mereka adalah anak orang kaya, dan tentu saja tampan. Suatu pilihan yang normal bagi gadis yang normal pula.

Namun sebagai manusia biasa Rani juga dihinggapi kebosanan. Setelah putus dengan Feri, Rani ingin menyepi dahulu, tapi dia malah ketemu Antok, seniornya yang memang jarang kelihatan di kampusnya karena dia selalu langsung pulang setelah kuliah selesai.

Rani tertarik karena Antok kelihatan berbeda dengan cowok-cowok yang pernah Rani kenal. Rani terkejut ketika mengetahui kalau Antok mahasiswa teladan dan pemegang IP (Index Prestasi) tertinggi di angkatannya. Rani pantas terkejut karena di kampusnya biasanya seorang ceweklah  pemegang  IP terbaik dan cowok hanyalah pelapisnya. Namun Antok benar-benar membuatnya mulai meragukan tradisi itu.

Cowok-cowok yang mengenal Rani biasanya langsung tertarik dan mengejar-ngejar Rani, namun tidak dengan Antok, dia tetap kalem dan menganggap Rani hanya teman biasa. Justru Rani lah yang tergoda dengan sikap Antok. Antok cowok yang berpikiran dewasa dan sabar menghadapi Rani yang cerewet dan manja. Antok juga tidak sungkan bilang kalau dia hanya naik sepeda motor bahkan ngangkot ketika Rani menanyakan kendaraan yanag digunakan Antok.

Dan kejutan itu datang lagi ketika Rani tahu kalau Antok bekerja di rumah makan MURIA. Inikah yang dimaksud Lydia sebagai kejutan? pikir Rani. Namun belum selesai otak Rani mencernanya, makanan dan minuman pesanannya telah datang dan diantarkan oleh Antok dengan gaya yang sopan. Ketika Antok mau pergi, Rani menghentikannya.

“Mas Aan, bisa temenin aku makan nggak? Aku nggak nafsu makan kalau nggak ada yang nemenin nih!” ujar Rani merajuk

“Makanan itu enak kok, aku jamin kamu akan ketagihan. Lagi pula aku harus kerja.” Antok menolaknya dengan halus.

“Aku males kalau makan sendirian. Nanti biar aku ganti waktumu dan aku yang bilang ke bos mu. Atau sekarang juga…..”

“Oh tidak.. tidak usah. Biar aku sendiri yang melapor ke Bos. Aku ke belakang dulu mau bilang dan ambil minuman. Tunggu sebentar ya!” Antok segera meninggalkan Rani yang tersenyum senang karena permintaannya dipenuhi Antok. Sepuluh menit kemudian Antok datang dengan nampan berisi minuman yang sama dengan Rani.

“Kamu sudah lama bekerja disini, Mas?”

“Yah, kurang lebih tiga tahun. Kenapa?”

“Ehm lumayan lama ya. Berarti teman mas Aan banyak yang kesini dong? Kan lumayan bisa dapat diskon?”

“Iya sih, tapi mereka malas ke sini karena agak jauh dari pusat kota. Tapi sahabat-sahabatku banyak yang sering kesini. Sekedar nongkrong atau memang sedang ada acara khusus disini. Kamu sendiri tahu darimana?”

“Dari temanku juga.”

Lalu mereka ngobrol ngalor ngidul sampai tidak terasa Rani menghabiskan nasi gandul dua piring. Ini mah rakus namanya.

“Mas udah sore nih, aku pulang dulu ya.”

“Oke. Ran, setelah selesai bayar ke parkiran ya, ada sesuatu yang ingin kuberikan” ucap Antok yang segera meninggalkan Rani. Rani deg-degan mendengar kata “sesuatu”.

“Mbak, aku mau ketemu bos rumah makan untuk bayar makananku dan waktu salah satu pelayan disini.” kata Rani pada kasir. Kasir itu kelihatan bingung, Rani mengulangi pertanyaannya karena menganggap si kasir lemot.

“Maaf, Mbak. Mbak tidak usah bayar. Sudah dibayar.”

“Dibayar? Oleh siapa?“

“Lho, Mbak kan tadi makan dengan bos saya.“

“Maksudnya….”

“Yang makan dengan mbak barusan itu adalah bos kami, dialah pemilik rumah makan ini. Tadi bos bilang kalau makanan mbak dimasukan ke tagihan beliau.“  Rani kaget, dia baru paham dia dikerjain Antok sejak masuk ke rumah makan ini. Rani benar-benar gemas, ingin sekali dia memukul Antok dengan sesuatu yang besar. Kata sesuatu mengingatkannya pada Antok yang sedang menunggunya di parkiran.

“Kamu usil banget ya. Kenapa sih ngerjaian aku?” Rani langsung nerocos ketika sudah sampai di hadapan Antok. Antok bukannya menjawab tapi jongkok dan mengeluarkan sebuah benda yang ternyata sebuah cincin. Cincin perak.

“Ran, maafin aku yang telah melakukan semua sandiwara ini. Aku yang menyuruh Lidya untuk membuatmu datang kesini. Aku menyukaimu sejak pertama kali kamu masuk kuliah. Cuma karena kesibukanku dan kamu juga masih punya pacar, aku tidak berani mendekatimu. Aku benar-benar menyukaimu . Maukah kamu menjadi pacarku?” ucap Antok serius.

Rani terharu dan memegang tangan Antok. Rani tidak menjawab pernyataan cinta Antok melainkan langsung memeluk Antok. Dia sudah menunggu saat ini dan tentu saja dia menerimanya.

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: