Posesif itu….???


 

Posesif itu….???

 

“Kamu kemana aja hari ini?” tanya Mas Dodo. Aduh, mulai lagi deh penyakitnya. Penyakit absensi.

“Nggak kamana-mana. Aku hanya ke kantin kantor.”

“Kamu nggak keluar sama Yudha kan?”

“Nggak. Yudha kan sudah pindah kantor. Lagipula sudah berulang kali kukatakan dia hanya temanku saja, nggak lebih. “

“Teman kok segitu dekatnya. Aku tahu dia suka denganmu.”

“Mas!! Sudah deh.” Aku menutup telponku. Aku sudah mulai jengkel kalau Mas Dodo mulai membicarkan tentang laki-laki lain. Bukan hanya Yudha, kadang Riri, Dani, Tio, dan masih banyak lelaki lain yang dia cemburui. Aku heran kenapa dia mencemburui semua lelaki itu padahal jelas-jelas aku tidak menyukai mereka.

“Mereka itu menyukaimu. Mereka itu selalu mencari kesempatan untuk mendekatimu saat aku tak disampingmu. Aku takut kamu jatuh ke mereka yang berpura-pura baik padamu.”

“Mas, mereka nggak mendekatiku. Kalaupun iya, aku hanya sayang dan cinta padamu.”

Namun percuma, Mas Dodo tetap tak percaya dan selalu menginterogasi diriku sepulang kantor. Aku sebal tapi tak kuasa menolaknya. Lagipula mas Dodo berhak melakukanya karena dia pacarku tapi aku juga tak tahan dengan sikapnya ini. Aku bingung.

“Kamu katakan saja semua ini padanya. Kamu keberatan dengan sikapnya yang parno itu. Seharusnya dia sadar ini bukan zaman majapahit, ini zaman modern. Setiap orang pasti kontak dengan orang lain.” ucap Ushi memberiku masukan. Aku hanya berani ngobrol sama Ushi karena dialah sahabat yang bisa “dipercayai” Mas Dodo.

“Aku tak tahu bagaimana cara memberitahukan ini padanya.”

“Kamu undang saja laki-laki yang dia cemburui itu dan kamu suruh mereka bilang dihadapan Dodo bahwa mereka hanya temanmu dan selalu menjadi temanmu, tidak lebih.”

“Kamu gila?!? Aku punya hak apa menyuruh mereka.”

“Bukan menyuruh, tapi minta tolong. Sebelumnya kamu jelasin kondisimu. Aku yakin kalau mereka menghargaimu mereka akan membantumu. Lagipula mana bisa bekerja dengan tenang kalau kamu diteror terus sama Masmu itu.”

Aku mulai memikirkan saran dari Ushi. Nggak ada salahnya dicoba, pikirku.

*********

“Apa? Kamu mau aku menemui para laki-laki itu?” Mas Dodo menunjukan ketidaksenangannya saat aku mengatakan ideku lewat Telpon. Memang jarak yang lumayan jauh membuat kami berkomunikasi lewat telepon. Tapi kami juga sering bertemu di akhir pekan karena itu sudah komitmen kami.

“Mas, ini untuk kebaikan kita. Aku tidak ingin kita terus berada dalam bayang-bayang ketakutan orang ketiga. Aku ingin tunjukan bahwa semua laki-laki yang Mas cemburui itu adalah temanku saja. Mereka profesional dan untuk itu mereka berani untuk datang menemui Mas.”

“Ah, paling sudah kau atur. Ya kan?”

“Maaas..jangan parno deh. Mereka sudah beritikad baik untuk menemui Mas di akhir pekan hanya untuk mengclearkan masalah kita.”

“Kamu bilang apa sama mereka?”

“Aku bilang kalau aku ingin mentraktir mereka sebagai teman kerja yang membantuku. Disana Mas bisa menanyai mereka sesuka Mas. Bagaimana?”

Hening. Tak ada jawaban yang kudengar dari seberang. Kudengar hembusan nafas berat disana.

“Baiklah, kalau ini demi kebaikan hubungan kita. Aku mau.”

Yess. Aku berhasil. Aku merasakan sedikit kelegaan atas hubunganku yang sempat panas itu.

********

Pertemuan berjalan lancar. Yudha dan beberapa teman laki-laki yang dicemburui Mas Dodo tampil dengan baik. Bahkan mereka membawa pasangan masing-masing. Aku nggak tahu itu pasangan mereka atau hanya ‘pemanis” belaka, aku nggak peduli yang penting mereka tampil baik saat itu.

Untuk sementara sifat “banyak tanya” Mas  Dodo menjadi hilang dan berganti sifat romantis seperti saat kami baru jadian. Aku menikmati hal itu. Memang benar kata pepatah, setelah kemarau panjang maka datanglah hujan.

Sayang kedamaian itu mulai luntur ketika Mas Dodo secara “kebetulan’ mengecek emailku. Dia menemukan kata-kata mesra disana.

“Kamu tidak menjaga kepercayaan yang kuberikan. Kamu mengkhianatiku.”

“Ada apa lagi, Mas?” aku mulai mencium masalah baru.

“Siapa Tanto? Kenapa dia begitu mesra denganmu di emailmu? Yang kutahu dia bukan mantanmu.”

“Tanto?” aku mengumpulan segenap ingatanku tentang Tanto. Aku berfikir dan terus berfikir. Astaga, Tanto adalah lelaki yang menyukai tapi kutolak karena dia terlalu romantis. Aku tak tahan gayanya yang bak Chairil Anwar. Aku lupa menceritakan hal unik ini pada Mas Dodo.

“Tanto itu teman kuliahku dulu. Dia memang menyukaiku…’

“Nah, benar kan dugaanku. Aku tahu diantara pria-pria ini ada yang memang mendekatimu dan sekarang terbukti. Kamu tidak bisa mengelak sekarang.”

“Mas! Kasih kesempatan aku bicara dong.” Aku mulai jengkel.

“Apa lagi yang harus kamu jelasin. Jelas-jelas dia menyukaimu. Apalagi yang kurang jelas!”

Aku menghela nafas, bersabar. Aku tahu ini memang susah dijelasin tapi aku harus menjelaskan padanya.

“Mas, Tanto itu sudah lama hilang dari hidupku. Aku tak tahu lagi dimana dia sekarang dan aku tak pernah jadian sama dia. Aku hanya tahu dia menyukaiku, itu saja. Aku tak pernah mencari tahu tentang dia dan jadi apa dia sekarang. Dia nggak ada hubungannya dengan kita, Mas.”

“Tapi dia menyukaimu. Itu hal yang jelas-jelas membuatku cemburu.”

“Kalu Mas nggak suka. Mas bisa blacklist emailnya dan hapus pesannya.” kataku enteng.

“Memang sudah aku hapus. Awas ya kalau kamu berhubungan lagi dengannya atau dengan laki-laki manapun yang pernah dekat denganmu.”

Aku risih mendengar ancamannya. Aku mulai memikirkan tentang hubunganku dengan Mas Dodo. Dia memang baik, tampan dan tak pernah ada indikasi untuk selingkuh. Dia juga mapan dan mempunyai karier yang bagus. Wanita manapun pasti akan berlomba-lomba menjadi istrinya. Aku juga dulu seperti itu.

Tapi satu sifat itu membuatku menjadi berfikir ulang tentang hubunganku. Aku tak tahan dengan sifat posesifnya itu. Padahal pekerjaanku menuntutku bertemu banyak orang dalam satu hari. Aku risih selalu ditanya siapa orang yang bersamaku sepanjang hari.

Aku memikirkan untung ruginya berhubungan dengan Mas Dodo. Untungnya jelas terlihat oleh wanita manapun, tapi ruginya, hanya aku yang bisa “menikmatinya” karena aku sebagai pihak yang disalahkan. Aku harus mengambil keputusan sekarang.

Aku mengambil handphonku. Aku sudah mengambil keputusan. Dan aku harus menyampaikannya malam ini. Aku tak boleh menunda-nunda. Semakin cepat semakin baik.

“Hallo…” jawab seseorang disana. Suara wanita. Siapa dia?”

“Ini siapa? Mas Dodonya kemana?”

“Yayang lagi mandi. Ini siapa? Ada perlu apa? Nanti aku sampaikan.”

Deg! Yayang? Aku mau pingsan mendengarnya. Aku tak pernah berfikir kesana. Mas Dodo ternyata…

“Mbak yang yayangnya Mas Dodo, perlu Mbak tahu, aku kekasihnya Mas Dodo. Dan bilang ke cowok brengsek itu, aku mau putus. Terima kasih.” Aku mematikan hapeku dan mengakhiri hubunganku yang ternyata selama ini telah dikhianati.

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: