Lelaki Yang Dikirim Tuhan


 

Lelaki Yang Dikirim Tuhan

 

Haris membereskan berkas-berkas yang masih tersisa di meja.  Ia mengedarkan pandangannya menyapu ruangan, memastikan semua beres, Haris pun meninggalkan ruang kerjanya.

“Mau pulang, Ris?” tanya David, rekan sekantornya. Haris mengangguk. Haris meneruskan langkahnya menuju lift yang terletak di sudut ruangan kantor.

Haris merasa jenuh dengan semua ini. Pagi-pagi buta berangkat menuju kantornya untuk mengerjakan tugas yang tidak pernah habis. Belum lagi omelan yang datang tiap hari dari atasannya yang perfeksionis. Dan ini semakin bertambah berat ketika ia pulang, ia dapati istri dan anaknya mengomel tiada henti minta ini itu.

Haris pernah berfikir untuk bunuh diri dan meninggalkan dunia ini. Dia ingin pulang ke tempat yang benar-benar damai, abadi, tidak ada pertengkaran, yang ada hanya kedamaian, ketentraman, dan semua orang selalu senang dan bahagia, tidak ada rasa sedih.

Lift membawanya turun ke lantai satu. Dengan langkah cepat Haris menuju ke mobil Land Cruiser, mobil inilah yang membuat beban hidupnya bertambah. Haris terkadang heran kenapa akhir-akhi ini dia begitu benci dengan semua ini. Dulu dia begitu berambisi untuk memiliki isteri yang cantik, rumah yang bagus, mobil gagah, dan penghasilan yang besar dan konstan. Semua itu telah Haris dapatkan dalam usianya yang baru 34 tahun. Usia yang masih sangat muda.

Tapi semua itu berbalik menyerangnya sekarang. Haris merasa hidupnya tidak berarti. Haris merasa seolah-olah dirinya hanya robot, yang bekerja menurut program tertentu dan monoton. Yang melakukan sesuatu sesuai dengan prosedur. Bahkan untuk mengerjakan sesuatu yang ia sukai sulitnya bukan main.

Dengan kecepatan sedang Haris melewati jalan protokol. Hari ini Haris ingin sekali bersenang-senang, dia ingin ke pub, mabuk sepuas-puasnya dan tidak peduli yang terjadi kemudian. Dia hanya ingin jadi dirinya malam ini. Melepaskan penat yang menghimpitnya selama ini. Hanya malam ini saja.

Mendadak seorang laki-laki tua sudah berada 10 meter di depan mobil Haris. Dengan cepat Haris membanting setirnya kearah kiri dan menghentikan mobilnya sekuat tenaga. Mobilpun berhenti di atas trotoar.

Haris segera turun dari mobil. Dia ingin melihat apakah dia menabrak orang itu. Ternyata dia belum menabraknya. Kesigapannya membanting setir, membuat nyawa orang itu selamat dari maut.

“Bapak tidak apa-apa?” Harris mendekat ke orang tua tersebut. Orang itu diam mematung, tak merespon Harris.

“Bapak tahu, Bapak hampir saja membunuh kita berdua. Apa sih yang Bapak lakukan malam-malam begini. Mendingan di rumah saja, pak.”

“Kenapa kamu tidak menabrakku? Kenapa kamu membelokkan mobilmu? Seharusnya kau tabrak aku!!” jawab lelaki itu setengah berteriak dan semenit kemudian menangis terisak. Haris memegang bahunya untuk menenangkannya. Dengan pelan dia menggiring orang tua itu ke pinggir jalan, dibelakang mobilnya.

“Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Isteriku kawin dengan sahabatku sendiri. Anakku menghamili anak gadis orang. Perusahaanku memecatku dan aku..aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Aku tidak ingin hidup lagi.”

“Sabar, Pak. Semua pasti ada jalan keluarnya. Mungkin Bapak bisa menceritakan apa yang terjadi dengan Bapak dan keluarga Bapak.” Haris mencoba menjadi “sampah” orang yang mau mati. Ya syukur-syukur lelaki itu batal mati.

“Aku dulu adalah seorang yang bahagia. Isteriku baik dan pengertian, penghasilanku besar sehingga bisa membeli apa saja, harta pribadiku melimpah dan aku dikarunia anak lelaki yang sehat dan tampan seperti aku di  masa muda.” Lelaki itu tersenyum kecut.

Seperti diriku sekarang, batin Haris.

“Tapi semua itu mulai hilang satu persatu karena kesalahan yang aku perbuat. Aku memang sering berbuat salah tapi kesalahan ini benar-benar fatal sehingga menghanguskan semuanya.”

“Kesalahan fatal? Apa itu, Pak?”

“Suatu hari karena aku kesal kepada isteriku, karena ia lupa memasakan makanan kesukaanku, aku melampiaskan dengan keluar rumah untuk bersenang-senang di bar. Waktu itu aku tidak sadar, bahwa setan sudah menungguku berbuat salah. Dan dengan kedatanganku ke tempat maksiat itu, aku benar-benar melakukan kesalahan.”

“Saat  itu aku minum banyak sekali sampai aku pingsan. Keesokan harinya aku sudah berada di kamar dengan wanita yang tidak aku kenal. Wanita murahan itu tahu siapa aku dan ia mengancam akan membeberkan hal tersebut ke isteri dan media massa. Karena aku tidak mau media massa dan istriku tahu, kupenuhi tuntutanya.”

“Wanita itu menghianatiku walau sudah kupenuhi tuntutannya. Ia membocorkan hal itu pada istriku. Istriku berang dan minta cerai. Belakangan kuketahui kalau ia memanfaatkan momen yang pas itu untuk melepaskan dariku karena ia sudah punya pasangan lain, sahabatku sendiri. Aku stres dengan semua ini dan mengakibatkan pekerjaanku kacau dan aku dipecat. Belum cukup sampai di situ, anakku menghamili anak orang. Aku harus menguras harta benda yang aku punya dan aku tidak punya apa-apa lagi sekarang.” Lelaki itu mengakhiri ceritanya. Haris diam terpaku mendengar kisah tragis lelaki itu. Sekilas mirip sinetron sih tapi Haris menjumpainya sekarang, didepan matanya.

“Semua itu hanya karena bapak minum di bar? Bukankah itu hal biasa, Pak? Aku juga akan melakukannya sekarang.”

“Itu bukan hal biasa bagiku. Aku tidak pernah minum dan ke bar sebelumnya. Dan kalau boleh kusarankan lebih baik kamu jangan minum sejak sekarang dan jangan pernah sekalipun.”

Haris tersenyum kecut. Huh, orang mau mati berani-beraninya menasehatiku.

“Pak, aku minum tidak akan mabuk dan itu biasa kulakukan. Tidak akan seperti cerita bapak yang mirip telenovela. Aku juga segera pulang kalau aku sudah selesai, nggak pingsan di bar.”

“Kamu boleh menghina ceritaku yang sepertinya mengada-ngada. Tapi satu hal, kamu minum untuk kabur dari sesuatu. Aku tahu kamu orang sukses, tentu kamu banyak menghadapi masalah. Dan minum adalah alternatif pelarian yang salah.”

“Kamu punya istri dan anak?” tanya lelaki itu. Haris mengangguk perlahan.

”Kamu harus sayangi mereka. Jaga mereka dengan baik, jangan kecewakan mereka, mungkin suatu saat kamu akan mengalami masalah dengan mereka, itu normal dan manusiawi, tapi bila kamu tidak memiliki mereka, hidup terasa hampa dan tak berarti, Dan aku tahu kenapa aku masih hidup. Aku diberi tugas oleh Tuhan untuk orang-orang seperti kamu.”

Tiba-tiba Haris merasa semuanya jadi gelap. Haris berteriak memanggil laki-laki tersebut. Dan seberkas sinar muncul dan menabrak kepalanya. Haris pingsan.

*************

Haris membuka matanya. Dia segera menyadari kalau dia sekarang berada di dalam mobilnya. Yang dia tidak habis pikir, mobilnya sudah berada di garasi! Haris diam di mobil untuk beberapa saat untuk memahami apa yang terjadi dengan dirinya. Dan dia mulai paham apa maksud semua ini. Haris melangkah keluar menuju ke rumahnya.

Di ruang tamu Haris mendapati istrinya sedang tidur nyenyak. Tidur di ruang tamu sering dilakukan istrinya dengan tujuan menunggu kedatangan Haris. Namun Haris sering mengabaikan perhatian kecil ini.

Dengan langkah perlahan, supaya tidak membangunkan istrinya, Haris menuju sofa dimana istrinya berada. Haris lalu jongkok sehingga posisinya tepat berada di depan wajah isterinya. Ia membelai rambut isterinya berulang-ulang dan entah darimana perasaan itu muncul, perasaan sayang dan cinta yang telah lama hilang itu muncul bersamaan keluarnya air mata dari sudut mata Haris.

Istri Haris terbangun ketika dia merasa ada sesuatu disampingnya. Ketika dia melihat suaminya sedang menangis di hadapannya dan tangannya sedang membelai rambutnya, pahamlah istri Haris. Kemudian ia  memeluk Haris dengan penuh sayang.

“Maafin aku, Ma. Maafin semua kesalahanku. Aku berjanji akan lebih perhatian sama keluarga, aku sayang kamu, Ma.” ucap Haris diiringi isak tangis. Istrinya mengangguk walau dia belum mengerti apa yang sedang terjadi pada suaminya

“Pa, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan papa. Tapi papa perlu tahu kalau mama sayang papa sampai kapanpun. Dan mama akan menemani papa baik suka maupun duka.”

“Aku tahu dan karena itu aku sayang padamu, Ma. Maafin aku selama ini kalau aku terlalu egois dan mengabaikanmu.”

Keduanya berpelukan. Mereka menikmati kemesraan malam ini. Kemesraan yang sudah lama hilang dan itu telah kembali. Kembali berkat lelaki yang dikirim Tuhan untuk mereka.

 

 

 

Januari, 16 Januari  2006 (Emen Rizal)

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: