Aku Bersedia, Mas……..


 

Aku Bersedia, Mas……..

 

“Mas, kita nonton yuk? Lagi bete nih di rumah.” pintaku manja.

“Nonton? Ke bioskop?”

“YA IYALAH…… Masa ke pasar. Memangnya mau nonton layar tancap! Aku lagi pengen banget nonton nih, Mas.”

“Kamu lagi PMS?”

Aku meneggeleng.

“Lagi M?”

Aku menggeleng lagi.

“Kalau dua hal itu tidak, kita nggak perlu nonton. Bukan kebutuhan mendadak.”

“Maksudnya apa nih? Aku mau nonton tititk. Kalau nggak Mas pulang saja.”

“Adeeek…” Mas Aryo mulai mengeluarkan jurus gombalnya. ”Mas lagi kanker nih. Tahu sendiri kan ini tanggal berapa? Tanggal 23. Baru 2 hari lagi gajian. Tunggulah sebentar. Mas benar-benar nggak punya uang.”

“Mas sudah berubah. Mas sudah beda sama yang dulu kukenal. Mas sudah tidak cinta aku lagi ya?”

“Cinta tak harus sering diucapkan. Cinta dari hati, kekasihku. Nanti setelah gajian kita nonton deh.”

“Tauk ah…” kutinggalkan Mas Aryo di ruang tamu sendirian. Bukan sekali ini dia mengecewakanku. Aku sudah menahan diri untuk tidak terlalu cerewet dengan minta perhatian lebih darinya.

Tapi sayangnya, Mas Aryo seperti kehilangan cintanya padaku. Kehilangan? Apakah mungkin? Mungkin saja. Mungkin dia sudah bosan denganku. Mungkin juga ia sudah menemukan wanita lain yang lebih cantik, lebih seksi dan lebih muda. Wanita lain? Oh tidak!! Aku harus bagaimana?

Aku terus bergelut dengan berbagai kemungkinan yang membuat Mas Aryo berpaling denganku. Aku memulai dari caranya Mas Aryo berbicara padaku. Dulu dia selalu menatapku penuh cinta. Sekarang, dia bicara tanpa melihatku. Kalau kutegur, dia segera menatapku dan berbicara penuh sayang, tapi beberapa detik kemudian dia oleng lagi.

Bukti lain ketika kami jalan-jalan. Dulu Mas Aryo menggandengku dengan mesra, tapi sekarang? Boro-boro deh menggandeng, jalan-jalan saja jarang. Kalaupun iya, dia jalan seolah dia lagi sendirian. Sebel nggak sih ?!?

Tapi yang paling parah saat makan siang. Aku dan dia sering makan siang bersama di rumah makan terdekat dengan kantornya maupun tempat kuliahku. Dulu dia dengan jantan mengantri makanan dan melayaniku sehingga aku merasa dicintai banget. Sekarang dia mengambil makanan sendiri dan makan tanpa menungguku. Dan dia tidak membayar makananku seperti dulu. Aarrrrrrrrrgg!

Aku harus membahas ini dengannya!! Aku harus mempertimbangkan masa depanku dengannya. Kalau memang sudah mentok, mending aku cari lelaki lainnya saja. Dengan kata lain, kami harus putus!!

***********

“Mau kemana sih, Mas?” tanyaku ketika Mas Aryo datang dengan pakaian agak resmi. Blazer hitam dengan dalaman kemeja biru muda. Kemeja pemberianku saat ulang tahunnya.

“Sudahlah. Ayo ikut aku.” Aku segera berganti baju dengan baju yang paling bagus tapi tak terlalu mencolok. Yang penting mengimbangi penampilan resmi Mas Aryo. Sepertinya ia mau mengajakku mendatangi acara resmi. Mungkin acara kantor atau bertemu relasinya.

“Mau kemana sih?”

“Sudahlah, ikut saja. Kan sudah lama kita tidak jalan bareng.”

Mobil sedan Timor merah yang kami tumpangi memasuk parkiran mall. Aku bingung dengan apa yang ingin dilakukan Mas Aryo. Ternyata dia membawaku ke gedung bioskop. Dia mengajakku nonton film Harry Potter. Film yang kutunggu sejak lama dan ini pemutaran perdananya. Dan hebatnya lagi, Mas Aryo mendapatkan tiketnya. Tentu bukan usaha yang mudah bukan? Aku sedikit terharu.

“Bagus banget filmnya. Kamu kok bisa dapatin tiketnya sih?”

“Demi kamu, apa sih yang nggak.” rayunya.

Aku mencubitnya gemas. Dia hanya nyengir sambil tertawa geli. Ternyata kejutan belum usai. Dia segera menarikku menuju lokasi yang lain. Aku bertanya terus hendak kemana tapi Mas Aryo menjawabnya dengan senyuman.

Walau aku sering jalan ke mall, tapi belum semua tempat aku masuki. Salah satunya restoran mahal ini. Alasannya jelas, terlalu mahal buatku. Lihat saja, dari luar restoran ini sudah kelihatan lux dan berkelas. Ketika kami masuk ke dalam, kudapati orang-orang berpenampilan elit di sana.

“Kok kesini? Mau ketemu klien di dalam?”

“Nggak, kita makan disini.”

“Kan mahal. Sayang uangnya.”

“Demi kamu, uang tak masalah.”

Wajahku bersemu merah.

“Tapi kan lebih enak ditabung. “

“Sudahlah, kan nggak setiap hari kesini.”

Aku diam pasrah. Apa salahnya memanjakan diri. Mas Aryo memesan makanan favorit di tempat itu. Sikap aneh Mas Aryo ternyata tidak berhenti disitu saja. Dia memaksaku untuk menyuapinya begitu juga sebaliknya. Aku sempat kikuk karena dilihat orang-orang namun Mas Aryo cuek saja. Aku juga akhirnya ikut cuek. Aku mulai menikmati momen indah ini. Hemmm…benar-benar romantis deh. Aku janji tidak akan melupakan momen ini.

“Kemana lagi nih, Masku yang ganteng.” ucapku manja.

“Pulang. Atau kamu mau jalan-jalan.”

“Jalan-jalan dulu deh. Tapi aku nggak belanja kok. Hanya jalan-jalan berdua. Sudah lama kan kita tidak jalan-jalan.” Iya, hanya jalan-jalan saja. Mumpung Mas Aryo lagi baik jadi sekalian dimanfaatkan.

Ternyata dugaanku benar. Mas Aryo berjalan sambil  menggandeng tanganku. Aku menggelayut manja di lengannya yang kekar. Kami kelilingi mall yang besar itu. Tapi semua keindahan itu segera berakhir karena waktu semakin malam.

“Ayo balik.” pintaku. Mas Aryo mengangguk sambil tersenyum manis padaku. Aku benar-benar heran pada sikapnya hari ini. Sejak jadian sampai sekarang, baru kali ini dia bersikap semanis ini padaku. Aku jadi penasaran padanya.

“Mas Aryo selingkuh ya?” tanyaku ketika mobil melaju sedang di jalan tol kota.

“Adeek…Kenapa kamu kok bisa berfikiran seperti itu sih?”

“Orang bilang, kalau kekasih kita mulai bersikap baik dan manis pada kita, tandanya dia sedang berusaha menutupi perselingkuhannya. Dia ingin menghilangkan perasaan bersalahnya. Seharian ini Mas begitu memanjakanku jadi jangan-jangan…..” aku tak sanggup meneruskan kalimatku. Mas Aryo hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menarik nafas panjang. Mungkin dia kesal atau mungkin dia mulai panik karena aku sudah mengetahui niat buruknya?

Suasana hening. Mobil melaju makin kencang menuju kawasan perumahan yang terkenal asri dan aman. Mobil Timor memasuki gerbang perumahan. Aku heran namun aku diam saja. Setelah berputar-putar, akhirnya Mas Aryo memarkir mobilnya di salah satu halaman rumah di sana. Aku mulai berfikir negatif.

“Ayo masuk?”

Dengan ragu aku mengikuti langkah Mas Aryo. Dia mengeluarkan sebuah kunci dan memasukkannya ke anak kunci pintu rumah tersebut. Dan sambil tersenyum dia menggandeng tanganku masuk  ke dalam rumah.

Dia membawaku ke dalam ruang tengah yang berisi satu set sofa merah plus meja antik. Di atas meja antik itu terdapat berbagai makanan dan buah-buahan yang masih segar. Dua gelas plus sebotol soft drink berada di tengah-tengahnya.

“Ini rumah siapa?”

“Inilah alasan yang membuatmu benci padaku. Kamu pasti marah padaku beberapa bulan ini. Aku sudah mulai jarang ngajak kamu nonton, belanja atau makan bareng di restoran tertentu seperti saat awal pacaran dulu. Semua ini karena satu hal. Uangku aku tabung untuk beli rumah ini. Dan sekarang aku berhasil walau masih kredit tapi gajiku bisa membayarnya. Yah sedikit mengencangkan ikat pinggang.”

Aku menatap Mas Aryo tak percaya. Aku tak menyangka pikirannya jauh ke depan. Dia lelaki yang bertanggung jawab. Aku beruntung mendapatkannya. Tapi aku kan belum istrinya. Bisa saja suatu saat aku putus dengannya dan ia menemukan wanita yang lain. Jadi kecil  kemungkinannya aku jadi penghuni rumah ini.

Tiba-tiba Mas Aryo berlutut di depanku. Dia mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam saku celananya.

“Mutia Tresnowati, maukah kamu menjadi istriku? Maukah kamu menjadi nyonya Aryo Syarifudin?”

Aku terperanjat. Aku tak menyangka akan mendapat lamaran disini dan dalam kondisi seperti ini. Seandainya aku tahu aku dilamar, aku akan berpenampilan lebih cantik, lebih wangi, lebih…ah sudahlah. Di depanku sekarang ada seorang cowok yang sedang memintaku menjadi istrinya. Jawaban apa yang akan kuberikan?

Mas Aryo mengulang kalimatnya. Dengan cepat aku memegang tangannya.

“Aku bersedia, Mas…..” ucapku dengan mata berkaca-kaca.

Aku yakin sepenuh hati dengan jawabanku karena sekarang aku sadar kalau Mas Aryo sayang banget denganku. Dan aku tidak mau dia menunggu terlalu lama. Karena sepenuh hati aku mencintainya lebih dari apapun atau siapapun.

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: