Rui….Pos Sepuluh :Turunan Hipertensi


Pos Sepuluh

Turunan Hipertensi

 

Aku membantu Runi memasak nasi instans. Kami hanya berdua di Rawa Embik. Jeff dan Listy belum turun. Mereka katanya mau mendaki puncak Argopuro, di sisi kanan Rennganis.

Argopura mempunyai dua puncak. Puncak Rengganis, dan puncak Argopuro sendiri. Puncak Rengganis konon adalah lokasi dimana Ratu Rengganis muksa, hilang tanpa siapapun tahu. Istilah meninggal untuk orang suci. Di sekitar puncak Rengganis, banyak makam bertebaran. Ini merupakan makam kerabat dan pejabat kerajaan Ratu Rengganis.

Sedangan puncak Argopuro sendiri terletak disebelah puncak Rengganis. Puncak ini hanya ditancapi pokok triangulasi, pertanda disitulah puncak tertinggi Argopuro. Puncaknya puncak bukit-bukit di Argopuro. Dan kata Rui, kesanalah Jeff dan Listy menuju. Mereka mendahului kami turun dan menuju ke puncak Argopuro.

“Jangan lupa, ketika kami turun ke Rawa Embik. Makanan sudah siap, yah sebagai bentuk traktiran jadiannya kalian.” goda Listy. Runi sampai tersipu malu mendenganya.

Dan disinilah kami berada. Berdua di Rawa Embik sambil memasak nasi instan dan tempe goreng. Bagi kami, nasi adalah kebutuhan paling penting setiap kami memulai hari untuk menempuh perjalanan. Mie instan hanya kami konsumsi saat malam hari, saat kami membutuhkan makanan yang tidak terlalu berat. Buah-buahan, coklat dan multivitamin adalah menu tambahan saat akan melakukan treking. Intinya kami butuh makanan berkalori tinggi untuk menimbun tenaga yang akan digunakan sepanjang hari.

“Joe..ceritain dong bagaimana kamu dulu mencari tahu tentangku. Sebelum kita bertemu di ruang kuliah itu.”

Aku tersenyum sambil mencubit lesung pipitnya. Demi kamu akan kuceritan berulang-ulang kekasihku. Aku memperbaiki posisi dudukku seolah aku hendak memulai monolog di depan para penikmat seni.

“Aku saat itu langsung menemui Mas Bambang. Dialah pengantin prianya. Dengan segenap kekuatan kujelaskan betapa aku langsung jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Aku sempat ditertawakan. Namun melihat keseriusanku mereka dengan senang hati membantuku. Dari buku tamu, rekaman video bahkan sampai foto para undangan kami cek untuk mencarimu tapi hasilnya nihil. “

“Kenapa kamu begitu semangat mencariku?”

“Karena aku langsung jatuh hati padamu saat aku melihatmu. Aku merasakan kamu adalah sebuah harta yang tidak boleh hilang dariku. Aku merasakan…” aku berhenti sebentar. “Kaulah jodohku.”

Runi tersenyum bahagia. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku. Kubelai rambutnya yang panjang terurai. Aku benar-benar bahagia saat ini. Aku ingin lebih lama disini. Karena kesendirian ini sangat membahagiankanku. Namun sayang harapan itu tak  terkabul. Dari jauh kudengar teriakan dan jeritan. Jeff dan Listy terlihat lari berkejar-kejaran. Aku makin curiga dengan kedua anak manusia ini. Jangan-jangan Jeff…

**********

Perjalanan pulang sungguh nikmat sekali. Jalan yang kulalui sebagian besar turunan. Memang tak jarang naik, tapi labih banyak turunnya. Kami melewati Cisentor sekali lagi. Disana kami berhenti satu jam karena Jeff dan aku sudah tidak kuat menahan boker.

Jalur yang kami lalui berbeda dari jalur naik.  Jika kami naik melalui Baderan maka turunnya kami akan melalui Bremi. Urutan-urutan sebagai berkut. Kami naik melalui Baderan kemudian melewati pos pertama, yaitu Mata Air Satu. Pos keduanya adalah Mata Air Dua. Dari mata Air Dua kami menuju Cikasur sebagai pos ketiga. Dari Cikasur, kami menuju Cisentor. Disinilah percabangan itu terjadi. Dari Cisentor kami naik menuju ke Rawa Embik dan akhirnya sampilah kami di puncak.

Kalau mengambil jalur Bremi, jalurnya di mulai dari DTH atau Danau Taman Hidup lalu menjumpai Aengkenik dan akhirnya Cisentor. Memang kelihatnya lebih sedikit posnya namun jalannya benar-benar terjal dan sulit. Saranku, sebagai pendaki pemula, lebih baik lewat Baderan.

Dan kami akan melalui jalur Bremi. Kami tak khawatir karena kami turun jadi jalan kami akan semakin cepat. Dan setelah selesai menunaikan hajat, kami pun melanjutkan perjalanan kami.

*******

Waktu sudah menunjukan pukul dua belas. Kami saat ini sedang berada di Aengkenik. Suatu pos yang ditandai dengan sebuah sungai kecil yang airnya jernih.

“Kenapa ini disebut Aengkenik?” tanya Runi pada Listy. Listy bukan hanya teman pendakian kami melainkan juga sebagai guide kali ini. Segala pertanyaan kami tentang Argopuro dengan lugas dijawabnya. Dan jawaban yang ia berikan sungguh memuaskan.

“Aengkenik biasa disebut kaliputih. Nama ini diberikan karena airnya mengandung balerang. Jadi walaupun rindang dan teduh tempat ini bukan suatu pilihan bagus untuk ngecamp. Namun kalau terpaksa ya bagaimana lagi asal jangan coba-coba mengambil airnya. Karena mengandung belerang dan beracun tentunya.”

Runi mengangguk-angguk puas. Kulihat sekelilingku. Banyak sekali tumbuhan perdu dan juga tumbuhan Teptengat. Memang daerah ini sangat sejuk dan membuat hati kita ingin tinggal. Namun karena target waktu untuk sampai DTH malam ini juga, mau tidak mau kami harus melanjutkan perjalanan.

Perjalanan selanjutnya semakin menarik. Mungkin ini saran untuk para pendaki selanjutnya. Lebih baik memilih jalur berbeda antara naik dan turun. Jalur Bremi dan Baderan sangatlah bertolak belakang. Saat ini kami memasuki kawasan hutan yang sangat berbeda dengan hutan di jalur Baderan. Di sini hutannya besar-besar dan sepertinya berumur ratusan tahun.

Satu hal lagi yang membuat aku bahagia, aku mendapat senyuman yang indah terus menerus dari Runi. Runi juga makin sering menyanyi. Membuat perjalanan pulang kali ini semakin berwarna.

Jalur menuju Danau Taman Hidup ini juga bukan main beratnya. Sunguh medan yang sangat sulit dtaklukan walaupun kita sedang menuruninya. Jalur yang licin dan jurang yang mengintip kami di samping, membuat hatiku cemas. Apalagi kawanan kera yang sedari tadi berteriak-teriak seolah mengusir kami dari wilayahnya.

Runi panik. Dia berjalan lebih cepat, ingin secepatnya meninggalkan tempat itu. Dan akhirnya kami memasuki Cemoro Kandang. Pohon-pohonnya tidak serapat tadi dan lebih penting lagi, kawanan monyet sudah tidak mengikuti kami.

Tapi setelah itu, jalurnya malah tidak bersahabat lagi. Turunan dan tanjakan silih berganti menemui kami. Jalurnya sempit dan mudah longsor. Aku dan Rui harus lebih wasapada. Bahkan ada saat turun dimana aku dan Runi berlomba menjadi anak TK baru. “Berseluncur” di atas tanah.

Yang paling kutakutkan adalah saat puncak kelelahan dan emosi bertemu jadi satu. Dan hal ini akhirnya terjadi pada Runi. Saat kami sampai di hutan konservasi, cahaya matahari yang menyinari kami mulai menghilang. Padahal baru pukul setengah lima sore. Waktu yang belum tepat untuk menghilang.

Mungkin karena rimbunnya dedaunan dan rapatnya jarak antar pohon membuat sinar matahari sulit masuk. Runi mulai memperlambat langkahnya. Aku heran. Tenyata inilah saat emosi dan kelelahannya menyatu. Bagi sebagian orang, pertemuan dua hal ini akan mengakibatkan mereka berteriak emosional atau membentak seenak sendiri. Tapi Runi beda. Puncak semuanya itu dia lampiaskan dengan menjadi lebih sensitif pada keadaan sekitarnya. Dia menjadi paranoid dengan kegelapan.

Aku berjalan sejajar dengannya. Dia memegang erat tanganku. Tangannya gemetar dan berkeringat. Sepertinya dia benar-benar ketakutan. Aku berusaha tenang karena disinilah aku diperlukan.

Cobaan sepertinya belum berhenti. Saat kami makin dalam memasuki hutan lindung ini, suasana hening menyerang kami dari segala penjuru. Tak ada suara binatang hutan. Yang ada hanya langkah kaki kami dan hempusan nafas berat yang keluar dari mulut kami.

Aku menyalakan senter yang sedari tadi menggantung di tas pinggangku. Aku mengarahkan senter itu ke kanan dan kiri untuk membantu penglihatanku. Rui makin erat memegang tanganku. Jalanku makin lambat. Aku seolah mendapat beban tambahan selain carierku yang memang sudah berat.

SREK…BUUKK..AAAAAAKH!!

Runi memelukku. Aku terkejut mendengar suara itu. Seperti suara benda jatuh. Aku mempercepat langkahku dengan harapan segera meninggalkan tempat itu. Namun suara kresek-kresek, mirip ranting yang terinjak, dari arah samping makin keras terdengar. Aku menghentikan langkahku untuk mengambil pisau yang  terselip di pinggangku.

Runi mengerti apa yang akan kulakukan. Dia bergeser ke belakangku. Aku menunggu dengan cemas makhluk apakah yang akan keluar dari balik rerimbunan tumbuh-tumbuhan di depanku. Suara kresek-kresek itu makin dekat dan…

Sesosok bayangan melompat cepat kearahku. Itu adalah seekor monyet. Dia berusaha merebut senterku. Dia mencakar dan menggigit lengaku untuk membuatku melepaskan senter yang dengan erat kupegang. Aku memukul kepalnya berulang-ulang sambil mengkibas-kibaskan tanganku. Runi berteriak panik ketakutan.

Aku harus segera menghabisi monyet busuk ini. Dengan berteriak sekuat tenaga aku melemparkan monyet itu ke depan. Aku mengambil batu yang kulihat tergeletak di samping kananku dan segera melemparkannya ke arah mahluk jelek itu. Dan alhamdulillah monyet itu lari menuju pepohonan di belakangnya. Keringat mengucur deras membasahi wajahku.

“Kamu tidak apa-apa, Joe?” tanya Runi gemetar. Dia memeriksa wajah dan kedua tanganku. Setelah memastikan semua baik-baik saja, Runi terseyum lega. Dia memelukku dan sedetik kemudian dia menangis sesenggukan.

“Sudah-sudah..jangan menangis. Apa kata dunia jika kamu menangis nanti. Mereka akan mengutukku karena aku membuatmu menangis.”

“Biarkan apa kata dunia! Aku nggak mau kamu terluka sedikitpun. Aku nggak mau kehilangan saat aku baru merasakan kebahagian yang selama ini kuimpikan. Aku mau menikmati waktuku dulu.”

Aku memeluknya dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya. Yah aku harus lebih waspada menjaga Runi. In hutan lindung dimana kudengar masih banyak hewan buas berkeliaran dengan bebas. Salah satunya harimau Jawa. Aku segera melepaskan pelukan Runi dan memaksanya untuk meninggalan tempat ini dengan segera. Aku tidak ingin sesuatu yang lebih mengerikan menyerang kami.

*********

Aku kehilangan jejak Jeff dan listy. Aku heran kenapa mereka selalu berdua terus dan meniggalkan kami berdua di belakang. Aku ingin memaki mereka berdua karena meninggalkan kami berdua dalam gelapnya hutan nan mengerikan ini. Aku merasakan kedua tangan Rui sedingin es. Dia makin parno. Dia memaksakan diri membuka matanya karena kuminta. Aku tidak ingin kami berdua makin lama di berada dalam hutan ini.

Setelah berjalan cukup lama, tak ada tanda tanda DTH. Kami mulai putus asa. Aku memutuskan untuk mendirikan tenda. Kebetulan aku menemukan tempat datar dan sebuah sungai bening di sebelahnya.

“Rui, malam ini kita ngecamp disini. Sudah terlalu malam untuk terus berjalan. “

“Aku terserah kamu saja. Asal berdua denganmu aku bersedia.” Aku tersanjung mendengar kata-kata Rui. Ini bukan kata-kata rayuan atau romantis dari dirinya. Ini kata-kata percaya karena aku tahu aku bisa ia andalkan.

Ketika aku hendak memulai membongkar carierku untuk mengeluarkan tenda, kudengar lirih-liih suara. Aku menajamkan pendengaranku. Oh..ternyata itu suara Jeff dan Listy yang memanggil nama kami. Aku spontan menjawab dengan suara sekencang mungkin panggilan mereka. Rui yang sedari tadi melamun juga mengikuti tindakanku.

Tak lama kemudian Jeff dan Listy muncul. Mereka tampak cemas. Runi langsung menangis dan memeluk Listy. Dia begitu tertekan dari tadi. Aku meminta Jeff membawakan tas Runi. Kami pun meninggalan tempat angker tersebut.

Dan ternyata jarak antara tempat yang akan kutempati dengan DTH tidak jauh. Hanya sepuluh menit. Dan disana Jeff sudah mendirikan satu tenda dengan kokoh.

Malam ini aku bersyukur. Sangat bersyukur karena Allah menolong kami berdua. Menghindarkan kami dari ganasnya alam. Aku tidak tahu apa jadinya kalau yang menyerang tadi adalah seekor harimau. Aku sangat beruntung.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: