Rui…Pos Sembilan : Puncak itu (selalu) indah


Pos Sembilan

Puncak itu (selalu) indah

 


 

Aku masuk tenda. Kulihat Runi tergolek tak berdaya. Dia menderita demam. Aku sedih melihatnya. Tapi aku harus mengakhir konflik malam ini juga. Sementara ini Runi aman karena Listy berada di sampingnya, menjaganya kalau-kalau Runi butuh apa-apa. Yang jelas, obat penurun panas dan obat-obat yang lainnya sudah diberikan Listy sejak magrib tadi.

Aku keluar dan berjalan menuju belakang tenda. Menemui Jeff yang tegap berdiri memandang langit. Aku sedikit ragu saat mendekatinya namun aku harus menguatkan tekadku. Siapa menaman dialah yang memanen. Aku sudah membuatnya sakit hati jadi aku pun harus siap menerima jika dia marah.

“Kamu benar-benar sahabat yang tak tahu malu. Kamu mengkhianati kepercayaanku.”

Aku diam saja. Aku membiarkan Jeff melampiaskan kekesalan dan kemarahannya padaku. Aku sudah siap menerimanya.

“Kamu sudah lama melakukan ini padaku? Kamu sudah lama mengkhianatiku?”

“Aku nggak pernah mengkhianatimu, Jeff. Aku benar-benar menjaganya seperti yang pernah kamu bilang.”

“Menjaganya? Dengan cara memeluk dan mencumbunya?”

“Aku tidak pernah keluar tanpa seizinmu. Aku tidak pernah memeluknya. Tadi diluar kendali. Untuk itu aku mohon maaf. Tapi sebelum-sebelumnya, Aku tidak pernah melakukannya.”

“Aku nggak tahu apa kata-katamu bisa kupercaya sekarang tapi melihat kelakuan kalian,. Aku meragukanya. Dari kata-katamu barusan sepertinya Runi yang gatel. Atau dia memang merayumu. Aku kenal kamu. Kamu orangnya setia kawan. Jadi ini pasti karena Runi.”

“Cukup, Jeff!! Kamu boleh hina aku tapi jangan kamu hina Rui??”

“Kenapa?”

“Rui adalah cewek setia yang pernah kukenal. Dia sangat mencintaimu. Dia melakukan apapun demi kamu. Dia keluar denganku dengan seizinmu dan aku menjaganya tanpa pernah menyentuhnya. Rui seorang cewek setia jadi jangan pernah kamu bilang kalau dia adalah wanita murahan. Dia wanita suci.”

“Kenapa kamu membelanya? Kenapa kamu marah, Joe. Oh ada apa ini? Atau jangan-jangan kamu..”

Aku diam. Aku tahu apa yang dimaksud Jeff.

“Jadi benar. Kamu mencintainya. Kamu mencintai cewek sahabatmu sendiri?”

Aku mengangguk pelan. Jeff berteriak kesal. Dia menghentakkan kakinya ke tanah berulang-ulang. Aku tahu hatinya terluka.

Jeff menampar pipi kananku. Aku kaget. Namun aku tak membalasnya. Kuanggap ini resiko yang harus kutanggung.

“Sudah berapa lama kamu menyukainya?”

“Sudah dua tahunan. Sebelum kamu mengenalnya’

Plak!

Lagi-lagi Jeff menampar pipiku. Kali ini yang kiri.

“Kamu mencintainya sejak dua tahun lalu dan kamu tidak pernah memberitahukannya padaku. Joe….Joe…aku orang mementingkan persahabatan diatas segalanya. Kalau kamu bilang sejak awal, akan kuserahkan Rui padamu.”

Plak! Plak! Aku membalas menampar Jeff dua kali langsung. Biar efisien, pikirku.

“Jeff…Rui bukan barang. Dia adalah manusia. Tidak bisa seenaknya kamu berikan padaku. Dia punya hati, dia punya cinta. Dan dia memilihmu saat itu. Aku rela dia jadi milikmu asal dia bahagia. Aku rela kamu suruh-suruh asal itu demi Rui. Aku rela tidak pacaran selama dua tahun ini asal bisa selalu berada di dekat Rui. Berada di dekatnya dan melindunginya. Sesuatu yang selama ini tidak kamu lakukan padanya. Rui itu malaikat, bukan barang. Ingat itu Jeff.” amarahku meletup-letup.

Jeff mengusap pipinya. Tampaknya tamparanku terlalu keras. Tapi aku benar-benar marah. Aku tidak terima dengan apa yang dia ucapkan tentang kekasih  hatiku.

“Joe..aku tahu aku tak bisa mencintai Runi sedalam cintamu padanya. Aku juga mohon maaf jika aku selalu merepotkanmu. Tapi apakah yang kita pertengkarkan ini baik untuk Rui. Apakah Rui setuju dengan yang kita lakukan ini?”

“Yang pasti kamu sudah tahu kalau aku menyukai Rui. Aku akan merebutnya darimu sekarang. Aku sudah tidak tahan selama dua tahun memendam cintaku padanya. Aku akan merebutnya darimu?”

“Tak usah kawan. Aku tak ingin kita berkompetisi di medan yang berat dan melelahkan ini. Kita harus tanya langsung keputusan Rui. Jika dia masih memilihku, maka sebaiknya kamu menjauh darinya. Ini demi kebaikanmu dan persahabatan kita. Tapi jika dia memilihmu, aku pun akan melakukan sebaliknya. Tapi satu hal, persahabatan kita diatas segalanya dan kita tetap harus kompak.”

Aku diam memikirkan tawaran Jeff. Memang persahabatan yang sudah empat tahun lebih terjalin, sia-sia rasanya jika hancur lebur. Aku mengangguk setuju dan menyalami jeff. Perjanjian sudah terjadi. Dan aku harus mengatakanya malam ini.

“Jeff…Joe..kesini cepat. Rui..Rui…”

Aku langsung berlari ke tenda begitu mendengar teriakan Listy. Aku membuka pintu tenda dengan tergesa. Aku segera masuk dan duduk di samping Rui. Sedangkan Jeff berdiri di depan pintu tenda.

“Joe..Joe…kamu dimana?” Rui menggingau.

“Aku disini. Rui,.,.aku nggak akan kemana-mana?’

“Sepertinya Rui demam akut. Kamu coba hangatkan badannya. Dan malam ini lebih baik dia bersamamu.” ucap Jeff dari depan pintu. Jeff memanggil Listy keluar. Listy segera berdiri dan mengikuti Jeff meninggalkanku dan Rui sendiri di dalam tenda.

Aku menutup pintu tenda dan mencoba mencari jaketku. Aku menaruh jaket itu membungkus tubuh Rui. Aku ingin membuatnya hangat.

Aku menyentuh wajah Rui. Dingin sekali. Aku kasihan sekali melihatnya sakit begini. Aku berbaring di sampingnya. Kupeluk tubuhnya. Aku ingin menggantikan posisinya. AKu tak tega melihatnya begini.

“Joe…kamukah ini yang memelukku?” tanya Rui lemah. Kulihat matanya masih terpejam.

“Iya, Rui, Ini aku. Joe. Aku berada di sisimu dan tak akan pernah meninggalkanmu.”

“Kamu janji, Joe?”

“Iya, aku janji. “

“Kenapa kamu melakukan ini semua, Joe?’

“Karena aku mencintaimu, Rui. Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu.”

Aku mengecup keningnya. Kulihat ia membuka matanya. Rui tersenyum. Aku tak akan pernah melupakan senyumnya malam ini. Senyum yang sangat cantik sekali.

Rui mengeluarkan tangannya dan mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke arahku. Dia memelukku dan merapatkan wajahnya ke wajahku.

“Coba ulangi apa yang barusan kamu katakan?”

“Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.”

Rui tertawa kecil.

“Joe…tahukah kau bahwa aku juga sayang padamu. Maukah kamu kuberi hadah karena menjagaku sampai setinggi ini?”

Aku tersenyum padanya. Rui tahu itu artinya setuju. Rui menghadiahiku dengan sebuah ciuman….dibibir.

**********

Aku terbangun ketika kurasakan sebuah ciuman menyentuh bibirku. Ketika mataku tebuka dengan sempurna, kulihat Rui memandangi dan membelai wajahku. Wajahnya masih tetap berada lima centi dari wajahku.

“Kamu baru menciumku?”

“Iya. Kenapa. Nggak boleh?”

“Sepertinya nggak sekali. Hayo berapa kali ?”

“Seribu kali. Aku bahkan tidak tidur hanya untuk menciummu. Aku takut tadi malam itu mimpi jadi aku ingin tetap terjaga dan memastikan itu bukan mimpi.”

“Jadi sekarang kamu yakin kalau kamu tidak bermimpi kan. Nah biar kamu makin yakin, ini kutambahkan satu ciuman untukmu. Ciuman balasan buat kekasih hatiku.”

Kudaratkan bibirku diatas bibir Rui. Hangat dan kenyal.

“Kamu sudah tidak demam lagi. Obatnya sepertinya manjur.”

“Obat dari dokter sih aku tak tahu manjur atau nggak,.Tapi kalau obat darimu..sangat sangat manjur.”

“Obat? Obat yang mana?” tanyaku bingung.

“Obat yang berupa ungkapan kasih. Ungkapan cinta yang sudah lama aku tunggu.”

Aku hendak menanyakan maksud Runi. Namun suara Jeff menghentikan pembicaraanku. Jeff memintaku bangun dan menyiapkan tenaga untuk mendaki puncak Argopuro. Aku segera berbenah, Aku membawa barang seperlunya. Tak lupa bendera merah dari Indra kumasukan tas ransel kecil.

“Runi, kamu ikut?’ tanya listy.

“Aku ikut. Aku sudah baikan. Berkat dia.” ucap Rui tanpa malu-malu. Seolah dia mengatakan itu pada teman curhatnya. Seolah dia baru mandapatkan apa yang dia cita-citakan.

“Kalau gitu, mari kita daki puncak Argopuro.” ajak Jeff penuh semangat. Tujuan utama sepertinya akan tercapai sebentar lagi. Rengganis, aku datang.

**************

Nafasku keluar masuk lebih cepat. Oksigen yang makin sedikit dan kerja jantung yang makin cepat, membuat mulut dan hidungku bekerja ekstra. Kedua organ ini berusaha dengan keras menarik oksigen yang sedikit itu untuk mengganti karbondioksida yang sudah “ngendon” di paru-paru.

Untung sebelum pendakian ini aku melakukan latihan fisik dengan keras. Aku tahu Argopuro merupakan gunung dengan trek terpanjang di Jawa. Oleh karena itu porsi latihan fisik aku genjot lebih keras.

Kulihat tiga orang di depanku berjalan pelan menembus gelapnya hutan. Kulihat jam tanganku. Sudah pukul lima pagi. Sebentar lagi matahari akan muncul. Aku berharap aku bisa melihat sunrise di atas.

“Lis, masih lama nggak?” tanya Runi.

“Bentar lagi. Setelah tanjakan ini kita akan menemukan puncak Rengganis. Tanjakan ini tanjakan terakhir. Aku janji.”

Aku percaya. Soalnya tanjakannya sangat terjal. 75 derajat. Di kanan kiri terdapat pohon berdaun kecil. Tingginya juga tak terlalu. Dan anehnya aku melihat jalur yang kami lewati berbentuk undak-undakan. Jalurnya sengaja dibuat berstep agar mudah dilalui. Memudahkan pendaki menuju ke atas. Kelihatan kalau tempat ini memang sering dikunjungi orang.

Akhirnya kami menemukan sebuah tempat luas berpasir putih. Listy mengajak kami langsung menuju keatas. Menuju puncak Rengganis. Aku dengan semangat berlari kesana. Sudah lama aku hendak melihat puncak Rengganis yang katanya penuh mistis ini.

Sambil berlari aku gandeng Runi. Aku sudah tak malu lagi mengungkapkan cintaku. Aku tidak peduli dengan reaksi Jeff dan Listy. Aku hanya ingin melampiaskan cintaku pada Runi.

Sebuah tanah seluas lapangan badminton dengan sebuah punden kujumpai di puncak Rengganis. Aku dan Runi, masih dengan tangan berpegangan, mendekati punden tersebut. Ada berbagai makanan berada disana.

“Ini sesajen mereka untuk Ratu Rengganis. Masyarakat Probolinggo, Sitobondo dan sekitarnya percaya Ratu Rengganis selalu menjaga mereka dari mara bahaya. Dan sebagai bentuk rasa terima kasih mereka memberi sesajen untuk Ratu Rengganis.” cuap listy panjang lebar. Aku manggut-manggut mengerti. Runi melepaskan pegangan tanganku.

Kuliihat dia berjalan menuju tanah yang berada di depan punden. Aku mengikutinya. Kulihat dia berhenti. Aku penasaran dengan apa yang dilihatnya. Subhanallah. Diterangi sinar matahari pagi yang mulai beranjak naik, kulihat sebuah kubangan kawah yag cukup besar. Kawah yang sudah tidak aktif. Berbeda dengan kawah Semeru yang selalu menyemburkan batu dan uap panas, kawah Argopuro hanya diam membisu. Namun dalam bisunya itu masih kudapati indahnya kubangan itu.

“Joe..” panggil Jeff. ”Sepertinya disinilah kita harus selesaikan masalah kita”

Aku menoleh ke belakang. Memandang Jeff yang dengan tegap memandangku dan Runi bergantian. Aku menghela nafas berat. Ya, semua harus dijernihkan. Aku tidak mau ada yang tersinggung dengan masalah ini. Aku harus menyelesaikan hal ini.

“Joe…kita sudah bicarakan hal ini tadi malam. Aku masih belum tahu hasilnya. Aku ingin kamu meluruskannya.” Jeff memandangku tajam. Dia serius ingin menyelesaikan masalah ini agar persahabatan kami tak rusak oleh wanita.

Aku menarik Runi menjauhi kawah. Bukan takut dia melompat kesana, tapi takut dia menangis dan tergelincir jatuh ke kawah. Kulihat Listy mengeluarkan handy camp yang selalu dibawanya. Sepertinya dia hobby merekam momen-momen khusus termasuk kali ini. Aku baru tahu alasannya di DTH.

“Jeff, Listy. dan Rui. Aku mohon maaf semuanya. Aku sudah membuat kalian dalam kebingungan. Jeff, aku mohon maaf dari hatiku yang paling dalam. Aku memohon maaf bukan karena aku mengakui selingkuh dengan Rui tapi karena aku membohongimu. Jeff, hari ini, di puncak Rennganis ini aku akan mengakui segalanya seperti yang kamu minta semalam.”

“Pertama kali aku melihat Rui aku sudah jatuh cinta padanya. Sejak itu, setiap malam, aku selalu membayangkannya hingga tebawa dalam mimpi. Setiap malam.” Aku menghentikan sebentar kalimatku. Ada sedikit kesedihan yang menyeruak mengingat ketololan yang kulakukan setiap malam. Kupandangi wajah manis Rui.

“Aku berusaha mencari tahu keberadaanmu sampai aku menemukanmu di ruang kuliah. Sejak itu aku gencar melakukan berbagai hal agar bisa mendekatimu tapi sayang Jeff lebih dulu mengambilmu. Dan ketika kulihat kamu begitu antusias dan bahagia menceritakan Jeff dan Jeff, aku tahu kalau kamu begitu mencintainya.”

“Sejak itu aku berjanji untuk melupakanmu. Tapi sayang janji itu sangat susah kulakukan., Aku memilih untuk menjadi penjagamu, memastikanmu selalu tersenyum dan baik-baik saja. Aku tidak ingin kamu bersedih. Oleh Karena itu, walau setiap menit, setiap jam, setiap hari bahkan setiap minggu aku harus tersayat-sayat oleh kemesraan kalian di hadapanku, aku tetap bertahan untuk membuktikan janjiku.”

Kulihat air mata Rui mulai menggenang, memenuhi sudut matanya. Menunggu saat yang tepat untuk jatuh.

“Jangan..jangan menangis, Rui. Aku belum selesai. Aku tidak tahu dengan pasti motifasimu melakukan pendakian ini. Tapi aku sudah melihat tekadmu dan aku sudah janji pada diriku untuk menjagamu. Jadi aku sekuat tenaga akan menjagamu sampai kamu balik ke Surabaya. Semua ini kulakukan karena aku sayang padamu. Karena aku……mencitaimu.”

“Kenapa kamu tidak penah katakan hal ini padaku, Joe. Aku tak tahu betapa dalam cintamu pada Runi dan aku juga tak tahu kalau kamu menderita selama ini. Kenapa kamu tidak katakan hal ini padaku ,Joe” Jeff menggeleng tidak mengerti. Sepertinya dia sangat terpukul dengan pengakuanku barusan. Dia merasa bersalah telah menyakiti sahabatnya.

“Aku mementingkan kebahagian kekasih hatiku diatas segalanya. Aku hanya ingin dia bahagaia.”

“Rui..” kataku. ”Aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi. Aku sudah tidak kuat menahan gejolak ini. Aku hanya ingin mengatakan apa yang kurasakan. Semua terserah padamu.”

Jeff mendekati Runi. Dia memeluknya dan membisikan sesuatu. Runi terisak dan memeluk Jeff. Kualihkan pandanganku. Aku tidak kuat melihat adegan ini. Sebelum pendakian ini aku bisa menahan diri dan berusaha tersenyum walau pahit tapi sekarang aku tidak bisa. Aku sudah tidak kuat lagi.

“Joe..” aku menoleh.” Kenapa kamu sejahat itu padaku. Kenapa kamu tidak pernah mengatakan ini sejak pertama kali kamu melihatku. Kenapa kamu tidak berusaha merebutku dari Jeff. Kamu jahat!” Rui makin tak terkendali. Isakannya makin keras terdengar. Jeff dan Listy sudah menjaga jarak dengan kami. Jeff tampaknya menyerahkan semua keputusan ini pada Rui.

“Joe..satu hal yang perlu kamu tahu. Aku juga menderita seperti kamu. Aku tiap hari menunggumu mengatakan hal ini. Aku juga sayang kamu. “ Rui menghambur ke arahku. Aku memeluknya dengat erat seolah tidak mau melepaskannya lagi. Aku tidak ingin melepaskannya lagi.

Tepuk tangan terdengar di belakang kami. Kuangkat kepalaku dan kulihat Jeff dan Listy bertepuk tangan dengan raut gembira. Aku tak menyangka Jeff tidak menghajarku dan murka karena kurebut ceweknya dari tangannya. Apakah dia tidak mencintai Rui.

“Jeff, kamu tidak marah Rui memilihku.”

“Marah?? Aku bahagia karena Rui sudah..” Jeff tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena mulutnya dibekap Listy. Listy membisikan sesuatu ke telinga Jeff dan Jeff kelihatan manggut-manggut.

“Sudahlah, Joe. Semua sudah berakhir bahagia. Sekarang kita nikmati kepuasan menaklukan puncak Rengganis.”

Aku mengangguk setuju. Nanti saja dibahas kenapa Jeff mengurungkan niatnya memberitahuku tentang sesuatu. Aku mengeluarkan bendera merah yang diamanatkan Indra padaku. Aku memasangkanya di sebuah batang pohon yang telah gugur daunnya di tengah-tengah punden. Di bawah bendera inilah kami menghabiska banyak pose untuk kenang-kenangan kami.

 

 

 

 

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: