Rui… Pos Sebelas : Danau Taman Cinta


Pos Sebelas

Danau Taman Cinta

 

Suara kicau burung bersahut-sahutan menyambut datangnya hari baru. Mereka dengan riang bercanda dan beterbangan kesana kemari untuk menghibur isi hutan yang diam membisu. Mereka laksana penyanyi yang menyanyikan lagu kehidupan bagi alam sekitarnya. Suatu keindahan yang mempunyai ritme indah.

Di tengah tengah nyanyian burung-burung, berdesir angin gunung, membawa kabut-kabut turun menjumpai dinginnya air danau. Danau Taman Hidup. Sebuah Danau yang terletak di atas gunung, dikelilingi oleh hutan yang sangat lebat dan menyeramkan. Airnya tenang laksana cermin kaca yang memantulkan kembali pemandangan yang ada diatasnya. Langit biru, bukit hijau bahkan arakan awan terpantul balik dari badannya.

Sebuah jembatan kayu berujung gubuk kecil menjorok ke danau. Suara berderit muncul setiap kali kaki-kaki hitam dan kuat menginjaknya.  Riak kecil selalu menemui ujung jembatan, sekedar menyapa apa kabarnya hari ini.

Dan disanalah aku berdiri. Menatap semua keindahan yang tersaji indah di mataku. Pemandangan yang tak akan mungkin aku lupakan. Sebuah keagungan Tuhan yang harus kita kagumi. Yang tak akan bisa kita bandingkan dengan danau-danau buatan manusia dibawah sana. Kuhirup nafasku dalam-dalam, mencium aroma hutan bercampur aroma danau. Segar dan memabukkan.

Kabut turun dengan cepat laksananya elang yang menyergap mangsanya, menutupi permukaan danau yang dengan asyik memantulkan bayangan langit dan pohon-pohon diatasnya. Kabut itu menutupi seluruh permukaan danau sekaligus tempatku berdiri. Aku merasa seolah berada diatas awan dengan kakiku terendam di salah satu awannya. Semua berwarna putih. Sayang kabut itu menjumpaiku hanya sebentar. Sekedar mengucapkan salam kenal buatku.

“Indah sekali ya? Aku benar-benar beruntung ikut pendakian ini.” bisik seseorang dari belakang. Orang itu langsung memelukku dengan erat. Aku sudah tahu siapakah orang itu. Dia adalah Rui, kekasihku.

Aku membalas salamnya dengan mencium pipinya. Dia membalas ulang dengan mencium bibirku. Morning kiss. Begitu istilah yang pas untuk itu. Dan dia sudah berkali-kali melakukanya dan aku tak pernah bosan menerimanya. Mana ada orang yang bosan dicium.

“Rui..aku masih penasaran dengan tujuan awalmu ikut pendakian ini.” tanyaku.

“Memangnya kenapa? kamu pasti sangsi apa aku bisa melakukan  pendakian ini. Kamu sangsi  karena aku belum pernah mendaki kan?”

Aku mengagguk mantap. Saat Rui akan menjawab pertanyaanku, Jeff dan Listy bergabung. Mereka tampak mesra sekali bahkan kulihat kedua tangan mereka berpegangan erat. Aku makin yakin kalau Jeff….

“Jeff, Joe menanyakan tentang alasanku ikut pendakian ini. Aku mau kalian membantuku menjelaskan. Bisa?” pinta Runi. Jeff terseyum sambil mengacungkan jari jempolnya.

“Joe sayaaang..aku ikut pendakin ini karena aku ingin mengakhiri penderitaan. Penderitaan untuk kita semua.”

“Maksudmu?”

“Penderitan ini bukan hanya melibatkanmu tapi melibatkan kita semua. Aku, kamu, Jeff dan Listy?”

“Listy?”

“Iya, Listy. Sebenarnya Jeff sudah mengenal Lisity sejak lama. Sejak tiga bulan lalu. Dan Listy langsung jatuh cinta dengan Jeff dan Jeff meresponnya dengan cepat. Aku tahu kamu pasti berfikir kenapa aku tidak marah. Kenapa pula aku marah. Aku dan Jeff sudah putus lama. Aku sudah putus dengan Jeff sejak setahun yang lalu. Tepatnya tujuh bulan sebelum Jeff bertemu dengan Listy“

“Kalian sudah putus selama itu? Hampir setahun?? Dan aku tidak tahu?” Baru kali ini aku memahami definisi goblok dan tolol.

“Iya, semua itu karena rawon.” Jeff menimpali. “kamu ingat saat orang tuanya Runi datang. Dia kebingungan mencari rawon yang enak. Dan kamu dengan sabar dan setia menemaninya kemanapun Runi mau dan saat menghadap orang tuanya, akulah yang menikmati berbagai pujian. Saat itualah aku mengetahui hati Runi sakit saat kedua orang tuanya memujiku karena rawon pilihanmu. “

“Dan malam itu, setelah mengantar kedua orang tua Runi kembali ke hotel, aku dan Runi putus. Tentunya putus dengan baik-baik. Kami tidak bertengkar dan tidak pula bermusuhan. Aku malah mengangkat Runi sebagai adikku sejak saat itu.”

“Aku juga meminta Jeff menyembunyikan putusnya kita dari siapapun. Aku bahkan memintanya untuk bersumpah. Karena aku hendak menguji cinta seseorang. Cinta yang kurasakan namun tidak bisa kudapatkan. Dan setelah kujelaskan, Jeff setuju bahkan sangat mendukung saat tahu siapa lelaki itu. Lelaki itu adalah kamu, Joe.”

“Kamu sadar kan kalau setahun ini aku lebih manja padamu. Aku labih agresif padamu. Aku juga lebih sering membuatmu cemburu. Dan aku senang menikmati itu, menikmati saat–saat wajahmu cemberut. Saat wajahmu merah menahan marah dan saat kejengkelanmu memuncak karena kamu cemburu banget dengan Jeff. Namun kepastian itu baru kudapatkan saat Ikhsan menceritakan tentang besarnya cintamu  padaku.”

Ikhsan!! Awas ya kalau turun nanti. Kamu mengkhianatiku!

“Aku bingung bagaimana harus bertindak. Saat itulah Jeff mengenalkan Listy padaku. Jeff memberitahuku kalau Listy ceweknya dan dia mohon izin untuk memberitahu hubungan ini padamu. Aku tidak setuju karena aku masih belum siap memberitahumu. Aku menceritakan semua uneg-unegku pada Listy dan dari dialah ide naik gunung ini muncul.”

“Aku sangat kagum akan tekad dan kesabarannya untukmu, Joe. Aku makin takjub saat dia menceritakan perjuanganmu mendapatkannya.” timpal Listy.

“Joe..dengarlah setiap ucapanku ini. Aku melakukan fitnes, angkat beban dan berbagai persiapan fisik untuk mendapatkanmu.  Dan semua terbukti bukan? Aku kuat dan tidak mengecewakanmu sampai sejauh ini. Dan seharusnya aku mempunyai kejutan untukmu. Aku hendak mengibarkan ini di puncak jika aku belum mendapatkanmu sampai puncak. Sayang kamu sudah duluan mengungkapkan isi hatimu di Rawa Embik” kata Rui sambil mengeluarkan kain segi empat berwarna biru bertuliskan : JOE, AKU CINTA KAMU SEJAK DULU.

“Apakah kamu kecewa? Apakah perlu aku naik lagi untuk mengibarkan ini?” tanyaku semangat. Ini sunguh-sunguh di luar perkiraanku. Aku nggak tahu betapa besar cintanya padaku.

“Tak perlu Joe. Kita cukup mengibarkanya disini dan meninggalanya disini sebagai bukti cinta kita. Biarkan danau ini menjadi aksi cinta kita.”

“Tenang Joe, Runi. Aku dan Jeff sudah mengibarkan dan merekam bendera kalian ini saat kami mencapai puncak Argupuro. Kalau di Rengganis berkibar dengan gagah bendera merahnya Indra, di Argopuro bendera biru tak kalah gagah berdiri. Dan satu hal lagi. Aku merekam semua pembicaraan dan momem momen saat kamu menyatakan cinta pada Runi dan segala hal lucu tentang kalian. Untuk ini aku dan Jeff membawa banyak baterai dan kaset cadangan. Ini semua sebagai bentuk terima kasih Jeff dan juga aku secara tidak langsung padamu.”

“Tapi satu hal yang membuatku bingung. Apa kamu tidak  cemburu dengan sandiwara Rui, Lis?”

“Aku tidak cemburu karena Jeff benar-benar menganggap Runi sebagai adiknya dan aku juga sangat tahu kalau Rui sangat mencintaimu. Buat apa cemburu pada orang yang jelas-jelas mencintai orang lain. Bahkan sebagai cewek aku ingin sekali meniru Rui dan kamu Joe. Kalian mewakili kisah cinta. Kalau di Eropa ada Romeo dan Juliet maka di Argopuro ini ada Joe dan Runi.”

Jeff dan Listy tertawa. Mereka meninggalkan kami berdua, menikmati kebersamaan terakhir di gunung ini. Aku menatap Rui. Kami berpandangan lama. Seolah membiarkan hati yang kali ini berbicara.

“Kenapa kita tidak saling terus terang saat itu ? kalau kita berterus terang dan mengubur ego masing-masing tentu kita akan bersatu lebih cepat.” Kata Rui lirih.

“Semua yang terjadi adalah rahasia Tuhan. Tapi aku bersyukur dengan apa yang telah terjadi pada cinta kita. Kalau saat itu aku langsung menembakmu dan kamu menerimanya, tentu cinta kita tak akan seunik dan sedalam ini. Kata orang puncak gunung itu selalu indah saat di daki bukan dilihat dalam bingkai foto. Dan cinta kita lebih  indah dirasakan saat batu-batu terjal mendera kita bukan saat semua berjalan mulus tanpa hambatan.”

“Karena cinta itu bagai udara. Tak berasa, tak terdengar dan tak terlihat namun sangat vital kehadirannya. Sedetik saja kita tak menemukannya di paru-paru kita, maka matilah kita. Begitu pula cinta. Sedetik saja kita kehilangan dia, maka hampalah hidup ini. Dan aku sangat senang kamu sudah membuktikan apa itu cinta padaku. Dan aku menikmati definisi cinta darimu.”

Kupeluk Runi dengan erat. Memeluk cintanya yang begitu besar padaku. Pendakian Argopuro ini sangat bermakna dan berarti. Dan tak akan tergantikan oleh pendakian manapun. Danau yang tenang dan indah ini sebagai saksi cinta kami.

 

T A M A T

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: