Rui…Post Tujuh:Cikasur, landasan penuh keindahan


Pos Tujuh

Cikasur, landasan penuh keindahan

 

Aku menyeruput kopi instan yang dibuatkan Rui. Manis seperti yang membuatnya, hangat seperti saat bersamanya, namun pahit saat jauh bersamanya. Aku memandang langit hitam diatasku. Hitam penuh bintang yang seolah ditaburkan untuk memberi warna sehingga langit tidak hambar oleh satu warna.

Aku menyingkirkan piring bekas makanku ke pinggir tenda. Nanti kalau mau tidur aku singkirkan lebih jauh karena menghindari tikus hutan mendekati tenda.

Aku dan Jeff mendirikan tenda dekat dengan sebuah bangunan mirip pos kampling yang ada di tepi sebuah sabana yang cukup luas. Shelter Cikasur.

Tenda kami tepat berada di depan Shelter. Dan saat ini aku sedang duduk di antara dua tenda, di depan api unggun kecil. Menikmati malam dengan….Runi. Yang sedari tadi diam melamun. Jeff dan Listy sudah masuk ke tenda masing-masing. Tidur.

“Rui…” pangggilku.

“Hemm….”

“Nglamunin apa? Jangan sering-sering nglamun di gunung. Nanti dimasukin ruh halus loh.”

“Masak sih?” Runi dengan panik menoleh ke arahku. Runi memang sangat takut dengan yang namanya makhluk halus dan sejenisnya. Mendengar saja dia sudah frustasi apalagi melihatnya. Jadi tidak akan pernah mungkin menjumpai dia sedang asyik menonton film horor di bioskop. Atau jangan pernah membayangakan dia akan memelukmu karena ketakutan melihat boneka jaelangkung. Sebelum itu terjadi  percayalah dia sudah pingsan dengan sukses.

“Kalau kamu nglamun terus bisa jadi. Makanya jangan nglamun. Ngobrol atau tidur saja.”

Runi menggeser posisinya sehingga sekarang dia berada di sampingku. Aku memandangnya kagum. Kagum dengan kecantikannya yang sama dimanapun berada. Dibawah sana dia sangat cantik dengan balutan pakaian bidadarinya. Sekarang diatas dia bagaikan peri salju dengan balutan pakaian tebalnya.

Mengenakan sweeter tebal berwana biru tua dengan balutan syal berwarna biru muda di lehernya dipadu dengan celana kargo berwana biru dongker membuatnya sungguh elok. Kulihat dua kakinya ditutup dengan kaos kaki tebal begitu juga kedua tangannya.

“Dingin banget?”

“Yah..seperti AC kamarku yang di set pada suhu -3”

Aku tertawa kecil.

“Bagaimana dengan selada air buatanku? Enak?”

“Oh iya, jadi inget.”

“Apaan?”

“Kamu bilang selada air aku jadi ingat janjimu. Selada air dan mie goreng spesial sudah kamu buatin. Makasiiih. Enak banget. Tapi masih ada satu janji yang belum kamu penuhi?”

“Apa?” Aku berusaha mengingat-ingat. Runi tersenyum genit.

“Kamu belum pijitin aku. Jadi sekarang pijitin aku. Kakiku saja deh. Pegel banget. “ Rui menyodorkan kedua kakinya. Mau tak mau harus kulakukan daripada harus mendengar omelannya yang bisa bikin telingaku sakit.

“Joe..katanya ada cerita tentang tempat ini.” tanya Rui.

Aku menoleh ke arahnya. Aku menghentikan sebentar pijitanku.

“Kamu yakin kamu tidak akan takut.”

“Kan ada kamu. Nanti kalau ada apa-apa aku bisa berlari ke arahmu.”

“Ya sudah. Jadi dulu begini. Lembah yang luas ini dulu masih belum serata sekarang. Ini terjadi pada zaman penjajahan Belanda. Waktu itu pasukan kita bergerilya di gunung ini. Mereka turun untuk menghancurkan pos-pos Belanda yang terletak di Probolinggo dan sekitarnya. Setelah selesai menghancurkan pos-pos tersebut mereka langsung berlari ke hutan. Menghilang.”

“Hal ini berlangsung terus menerus sehingga membuat Belanda marah. Mereka langsung mencari pejuang dan menekannya serta mengurungnya dengan menghentikan suplai makanan. Namun hal ini sudah diantisipasi para pejuang. Belanda tak kurang akal, mereka membangun pangkalan udara di Cikasur ini dengan tujuan memecah kekuatan pejuang. Pembangunan segera dilaksanakan dengan mengerahkan orang-orang kita juga.”

“Namun mendadak proyek itu dihentikan tanpa alasan yang jelas. Kemudian para pekerja disuruh membuat parit sepanjang 100 meter, sedalam 2 meter.”

“Untuk apa?”

“Mereka belum tahu untuk apa itu. Namun Sebagian pasukan Belanda sudah meninggalkan  lokasi. Hanya beberapa pasukan saja yang masih tinggal dengan persenjataan lengkap. Mereka lalu menyuruh para pekerja untuk berjajar di pinggir parit. Dan dengan bengisnya menembaki para pekerja kita. Mereka mati dalam parit buatan sendiri. Mereka akhirnya tahu kalau mereka bekerja untuk membuat lubang kuburnya sendiri.”

Aku menoleh untuk melihat ekpresi Runi. Kulihat wajah sedih di sana. Aku tahu dia sangat peka. Saat ini aku yakin dia sedih luar biasa.

“Rui…mau tahu cerita lainya.” kataku. Aku sudah mengenalnya bertahun tahun walapun dalam posisi sebagai temannya. Dan aku tahu kalau dia sedang sedih aku harus segera menghiburnya dengan cerita-cerita lucu atau gembira lainnya. Namun malam ini aku ingin memberitahukan sesuatu yang lain.

“Kamu pernah mendengar cerita tentang orang mati yang berubah menjadi bintang.” kataku sambil melihat ke atas. Melihat bintang-bintang kecil yang indah berkelap-kelip diatas sana.

“Aku tahu. Kalau nggak salah, orang yang baik, orang yang kita cintai, yang telah meninggal akan naik keatas menjadi bintang. Dan dia akan bersinar menerangi kita sehingga kita tidak pernah merasa kehilangan dia.”

“Ya. Tapi aku tidak percaya. Orang meninggal ya langsung menuju alam kubur. Tidak menuju ke tempat lain termasuk menjadi bintang.”

“Itu kan mitos. Bisa benar bisa tidak. Nggak usah dibuat serius.”

“Tapi aku punya mitos sendiri. Bintang itu bukan dari arwah orang mati tapi dari cinta. Di dunia ini banyak sekali cinta yang tidak terbalaskan. Cinta-cinta itu akan menguap ke atas menjadi butiran-butiran bintang. Mereka akan terus menerangi orang yang dicintai hingga suatu saat cinta sang kekasih juga melayang untuk bertemu cinta yang begitu tulus menantinya.”

Runi menatap langit penuh takjub. Seolah dia baru mendengar cerita ini. Kami terdiam dalam hening. Melamun dalam dunia masing masing. Aku menghentikan pijitanku untuk mengambil kopi. Kuseruput isinya. Hemm sudah dingin.

“Aku masuk dulu. Sudah malam. Aku nggak ingin besok kecapekan. Selamat malam Joe.” ucap Runi yang masuk meninggalkan diriku di luar sendirian.

Aku menatap sebuah bintang kecil yang terletak di barat. Bintang itu menyala terang dan dikelilingi oleh bintang-bintang kecil membentuk semacam lingkaran.

Itulah bintangku. Bintang Joe, Dan kugantungan cintaku disana. Menunggu bintang Rui datang dan memeluknya. Kuharap itu segera terjadi secepatnya.

*********

Suara kicau burung ramai terdengar menemani makan pagi kami. Aku dengan lahap menghabiskan nasi pecel yang berisi kombinasi bayam, selada air dan bumbu pecel tentunya. Tempe goreng dan telor dadar menemaninya.

“Lezat sekali pecelnya. Aku lain kali akan cari selada air lagi. Enak banget.” ucap Runi semangat sambil memasukan satu sendok nasi bercampur pecel ke  mulutnya yang kecil.

“Kalau gitu, nanti sebelum kita berangkat aku akan ambil lagi selada air. Soalnya seladanya hanya ada di Cikasur ini.” Jeff menawarkan diri.

“Kalau begitu ambil yang banyak. Biar kusimpan di tasku saja.”

“Semangat banget sih. Ini kalau di bawah, kamu paling nggak suka soalnya ini satu-satunya makanan yang ada dan kita lapar. Jadinya lezat banget.” jelasku.

“Tapi enak kan? Betul nggak, Lis?”

“Iya. Ini enak. Nanti kalu Joe nggak mau, kita nggak usah buatin, Run.” ancam Listi.

“Iya…iya. enak kok. Jangan kau bunuh diriku dengan tidak memberiku makan. Please.” ucapku sambil mengatupkan kedua tanganku dan membuat pose setengah bersujud.

Runi dan Listi tertawa geli. Jeff tersenyum melihat kelakuanku. Dia memang jarang bicara. Aku nggak tahu kenapa. Apa dia sedang ada masalah ya? Aku nggak tahu tapi kurasakan sesuatu yang lain padanya. Aku nggak tahu itu apa.

Setelah makan kami bergegas memberesi perlengkapan. Kami harus berangkat pukul delapan dan sampai Rawa Embik kurang lebih pukul tiga dengan istirahat sebentar di Cisentor.

Setelah semua beres dan packing lengkap kami berkumpul di depan shelter. Aku memandang sekelilingku. Hamparan sabana yang cukup luas dan bukit-bukit penuh pohon hijau berwana warni membuatku sulit untuk meninggalkan Cikasur. Aku ingin camping disini dua atau tiga hari lagi. Aku betah disini. Tapi Listy bilang DTH atau Danau Taman Hidup tak kalah indahnya.

“Sebelum kita berangkat marilah kita berdoa dulu sehingga kita bisa sampai di Rawa Embik dengan selamat. Aku dan Listy berajalan di depan baru Runi dan terakhir kamu Joe.” Jeff memberi instruksi.

Aku setuju saja semua instruksi Jeff. Dia yang memimpin kali ini. Sebelum Indra dan Mario turun, Mariolah yang memegang kendali. Karena Mario tidak ada, kami memilih Jeff untuk memimpin.

Perlahan kami meninggalkan Cikasur. Suatu tempat yang sangat indah harus kutinggalkan. Aku berhenti sebentar ketika aku berada di punggung bukit di depan Cikasur. Memandang ke bawah, ke arah Cikasur. Hamparan hiaju nan luas dan datar dengan sebuah landasan pesawat terbang setengah jadi dan oh may God! Ada sekumpulan kijang yang sedang asyik bercanda di dekat landasan. Dengan cepat kukeluarkan kameraku dan mengabadikannya. Kijang-kijang yang sangat cantik.

*********

“”Aduh..aduh..” teriak Runi. Aku menghampirinya. Kulihat ada goresan merah di tangan Rui.

“Kenapa Rui?”

“Aku tergigit eh terkena sesuatu?”

“Sakit atau gatal?”

“Waktu pertama kali kena sakit. Namun kemudian hilang seperti sekarang. Daun apa ini?” tanya Rui sambil berjongkok mengamati daun hijau mirip daun tomat itu.

Aku ikut mengamati daun-daun itu. Seluruh tepi daun dihiasi duri-duri tajam begitu juga permukaannya. Jadi kalau ada serangga yang hinggap niscaya dia akan terjebak dalam wilayah penuh duri tajam yang menyengat.

“Kalau nggak salah ini yang namanya daun teptengat. Atau orang bilang tumbuhan listrik. Kalau kita menyentuhnya kita akan merasa terkena sengatan listrik berdaya kecil.”

Teptengat. Aneh juga namanya. Sebaiknya aku pakai sarung tangan. “

Aku menunggu Runi mengenakan sarung tangan. Kubuka botol minumanku dan kuteguk isinya. Hemm segar. Kuusap sisa air yang membasahi bibirku.

“Air berasa lagi?” Rui memperhatikan botolku.

“Iya..tapi beda produk?”

“Minta dong? Haus nih?”

“Jangan banyak-banyak.”

“Pelit.”

Kami melanjutkan perjalanan karena siang makin mendekat. Kalau menuju Cikasur kita di suguhi hutan dan sabana yang berselang seling dengan jalan setapak yang jelas seolah memang dibuat untuk memudahkan perjalanan. Tapi di jalur Cisentor beda. Kita hanya disuguhi hutan dan hutan saja. Tak ada sabana satupun. Jalurnya juga tidak seenak sebelumnya. Banyak sekali percabangan dan tak ada tanda-tanda dilewati manusia. Ini kadang menyulitkanku dan Runi. Aku berkali-kali memeriksa untuk memastikan jalur yang kami lalu benar.

Runi bersenandung kecil untuk melawan suasana hening hutan. Aku menimpali kadang-kadang namun segera dimarahin Runi karena suaraku membuat kosentrasinya pecah. Katanya suaraku kaya kaleng pecah. Huh!! Dia tidak memahami seni, batinku.

********

 

 

 

 

 


Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: