Rui…Pos Delapan:Pertunjukan Hati


Pos Delapan

Pertunjukan Hati

 

“Jeff, ngapain kamu nggak nemenin Runi?” tanyaku penasaran. Pertanyaan ini sudah ingin kutanyakan sejak lama. Sejak dari Mata Air Dua. Namun baru bisa kutanyakan sekarang. Saat istirahat di depan shelter Cisentor.

Jeff kelihatan terkejut tapi buru-buru mengubah ekpresinya seolah tak mendengar apa-apa. Dia melirikku sebentar kemudian kembali memandang lurus ke depan. Memandang ke arah sungai dimana Runi dan Listy sedang asyik membersihkan piring dan gelas bekas makan siang.

“Aku nggak bisa nunggu dia. Aku terbiasa di depan. Kamu tahu sendiri hal itu. Kalau aku nemenin Runi terus, bisa capek aku.”

“Loh bukannya itu sudah resikomu sebagai cowoknya. Kan itu sudah kamu ucapkan dulu saat Rui memaksa ikut.”

“Iya, tapi sepertinya dia nyaman jalan sama kamu. Yang penting sekarang dia kuat dan tak mengeluh sedikit pun. Lagipula dia tidak jelek-jelek amat sebagai pemula. Jalannya cepat juga kok. “

Aku terhenyak. Aku benar-benar tak habis pikir dengan otak Jeff. Ceweknya dia biarain berdua dengan orang lain. Sedangkan dia asyik dengan cewek lain yang baru saja dikenalnya. Tapi aku juga heran dengan sikap Runi yang tak ambil peduli dengan hal ini.

Suara canda terdengar menuju ke arah kami. Listi dan Runi muncul dengan berbagai perabotan makan yang sudah bersih. Kulhat rambur Runi juga basah.

“Kamu mandi, Rui?” tanyaku.

“Nggak, hanya keramas. Maklum, gatal banget. Lumayanlah untuk menghilangkan kotoran yang menempel di rambutku.”

“Kita kan para cewek sangat memperhatikan kesehatan dan penampilan. Jadi maklum dong kalau kami dikit-dikit membasuh rambut, memoles wajah dan mengoleskan cream sun block ke kulit kami. Semua demi kalian, para cowok.” Imbuh Listy.

Aku dan Jeff berpandangan tak mengerti. Kemudian kami membantu mereka mempacking cariernya.

“Lis, Kira-kira berapa jam kita sampai ke Rawa Embik?” tanyaku.

“Kalau nggak ada aral melintang, kita bisa sampai di sana kurang lebih dua jam. Tapi aku perkirakan kita jalan tiga jam. Itu waktu santai bukan waktu standar. Nikmati pemandangan kanan kiri soalnya indah banget. Jadi sangat rugi kalau kalian hanya jalan dan jalan saja.”

*********

“Lihat, Joe. Edelwies ini sangat indah. Aku ambil ya?” Runi menuju salah satu pohon Edelwies yang mempunyai banyak bunga.

“Nanti saja kalau mau pulang. Ambilnya sedikit saja asal kamu pelihara. Kalau menurut informasi di internet, disini memang banyak tumbuh Edelwies. “

“Jadi aku nggak boleh ambil?”

“Nanti saja, kalau mau turun. Mereka nggak akan lari kemana-mana kok. Nanti aku ingetin deh.”

Runi mengangguk senang dan berjalan dengan tangannya menyentuh dahan edelweis. Dia begitu senang akhirnya bisa bertemu dengan pohon edelweis. Bukan dari cerita atau pun gambar. Dia seolah ingin merekam semuanya dalam labirin-labirin otaknya. Runi menyentuh dan menciumnya.

Runi mendadak berhenti. Seolah melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Buru-buru aku mendekatinya. Aku tercekat.

Di depan kami saat ini terbentang hamparan tanah yang cukup luas. Sayang, hamparan tanah luas itu merupakan saksi bisu terbakarnya kebun edelweis. Masih terlihat asap mengepul disana-sini. Sejauh mata memandang hanya abu dan hitam arang.

Kalau nggak salah, Listi bilang ada tiga sampai empat bukit edelwise terbakar tahun lalu. Namun aku tidak percaya sebegitu luasnya. Aku masih tidak percaya ini semua hanya dikarenakan oleh seputung rokok pendaki yang lalai. Aku jadi mengutuk pendaki yang mengaku mencintai alam itu. Kalau cinta, mengapa harus membakarnya?

“Inikah rasa terima kasih mereka dengan alam? Inikah rasa sayang mereka dengan alam? Dengan membakarnya.” Runi berkata sambil berjalan tertatih. Dia memandang dengan mata nanar tanah hangus berwana hitam di sekitarnya. Bau hangus menyeruap. Seolah baru saja terjadi kebakaran itu. Seolah baru kemarin.

Runi kelihatan begitu terpukul. Barusan saja ia melihat keindahan edelweis  namun tiba-tiba ia dihadapkan dengan pemadangan yang ironis. Dia sedih dan terpukul. Kulihat dia berjalan cepat sambil mengusap matanya berkali-kali.

“Rui, jangan cepat-cepat. Hati-hati..”

BUK!

Sepertinya peringatanku terlambat sepersekian detik. Rui terjatuh karena lengah dan tak memperhatikan akar pohon di depannya. Mungkin maksudnya agar tak berlama-lama melihat kesadisan manusia ini namun justru sepertinya ia akan menyaksikannya lebih lama.

“Makanya kubilang kamu harus hati-hati. Ini memang menyakitkan bagimu tapi kamu harus tahu ini sudah terjadi. Kamu harusnya…..” Aku tidak jadi melanjutkan omelanku karena kulihat air mata mengalir pelan di kedua pipinya.

“Rui….kamu nggak apa-apa?”

Kuusap air matanya. Dia memang wanita yag sangat peka. Aku tahu itu karena sudah mengenalnya sekian hari, sekian bulan dan sekian tahun. Dia orang yang sangat  sangat peka.

Aku mencoba menenangkannya. Setelah cukup lama aku berceramah, akhirnya aku berhenti karena capek. Aku duduk di sampingnya. Kulihat celana kainnya ada bercak merah.  Dengan cepat kunaikkan celananya untuk melihat separah apa lukanya.

Runi kaget dan menyeret tubuhnya ke belakang.

“Rui…Rui..jangan salah paham. Aku nggak berniat buruk apalagi mesum. Kamu sadar nggak kakimu berdarah? Sini kuperiksa!”

Runi melihat celananya. Dia menjerit tertahan. Aku segera mendekatinya dan menaikan celana yang membungkus kaki kirinya. Kali ini dia diam saja. Dengan pelan kubersihkan lukanya. Hal ini ternyata membuatnya bergidik ngeri. Setiap kuusap dia menjerit tertahan. Perih katanya.

“Sudah. Sekarang coba buat jalan.” Kataku sambil membantunya untuk berdiri.

Runi melangkah dengan kaki sedikit terpincang namun dia buru-buru menghentikan langkahnya karena dia merasakan sakit luar biasa di kaki kirinya.

“Sepertinya kamu perlu sedikit pemanasaan. Jadi untuk sementara  aku papah dulu. Tapi sementara ya.”

Rui manut saja. Aku memeluk pinggangnya dan memapah tubuhnya untuk melanjutkan perjalanan ini. Aku menyuruhnya tetap menggunakan kaki kirinya untuk membiasakan kakinya. Aku nggak tahu ini akan mempercepat kesembuhannya ataukah malah memperburuknya. Pengalamanku sih mengatakan tidak.

**********

Aku menset ulang carierku. Aku merasakan carrierku sedikit miring ke kanan. Rui sendiri sedang asyik makan coklat sambil menyandarkan tubuhnya di sebatang pohon besar berdiameter 70 cm.

Aku duduk di sebelahnya setelah selesai. Aku meminta sedikit coklat darinya. Hemm lezat. Aku melirik Runi yang sedang melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku tak peduli.

Aku mencuri-curi untuk mengamati wajahnya yang tampak berkeringat. Apakah itu menjadikannya jelek? Percayalah padaku, wanita saat berkeringat benar-benar seksi dan membuat kita, para lelaki, tidak tahan. Seperti saat ini. Aku yang berdua dengan Rui, sangat ingin mengusap keringat itu dengan kedua tangan kasarku ini.

“Kenapa orang-orang itu tega membakar kebun edelwies yang indah? Apa mereka tidak bahagia dan senang melihat edelwies tumbuh segar?”

Sepertinya dia masih sedih dengan kebakaran kebun edelweis di tempat tadi. Aku menghela nafas panjang. Sepertinya susah menenangkan hatinya. Tiba-tiba Runi terisak. Dia memelukku. Aku kaget bukan kepalang. Bukan karena Runi memelukku namun karena Rui menangis. Aku tak mau Rui menangis. Aku berjanji untuk selalu membuatnya gembira. Tidak boleh menangis. Aku harus menghentikannya.

“Rui, kamu kenapa?” tanyaku sambil mengelus rambutnya yang hitam panjang.

“Aku sangat marah dan tidak memaafkan orang-orang yang dengan seenaknya membakar apa yang Tuhan ciptakan. Membakar harapan orang-orang yang mencintai keindahan. Menghanguskan harapan akan bunga keabadian. Aku benci mereka.”

“Aku tahu. Mereka orang-orang brengsek. Tapi semua sudah terjadi. Tugas kita mencegah kejadian itu berulang. Kita jangan sampai menjadi orang brengsek baru.”

“Aku tak akan menjadi orang kedua setelah mereka. Aku akan menjaga keindahan dari Allah ini.”

“Jadi kamu harus berhenti menangis.”

“Memangnya kalau aku menangis kamu nggak suka?”

“Bukannya nggak suka, tapi aku lebih senang kalau kamu tersenyum karena kalau kamu tersenyum, seluruh alam akan tersenyum. Bunga-bunga edelwies akan cepat berbunga. ”

Runi mendongak ke arahku. Air mata yang belum jatuh menggenang di pelupuk matanya. Indah sekali. Aku ingin mengecup kedua mata indah itu.

“Kalau begitu bolehkah aku meminta sesuatu sehingga bisa membuat moodku menjadi bagus?”

“Apapun itu asal aku membuatmu senang dan tertawa lagi, akan kulakukan.”

“Aku ingin kamu peluk dan kamu usap rambutku seperti sekarang. Aku ingin seperti ini lebih lama.”

Aku kaget. Aku benar-benar berada dalam dilema. Disatu sisi aku harus membuatnya tertawa dengan menuruti permintaannya tapi disisi lain aku harus menjaga amanah untuk menjaga kepercayaan dari Jeff. Aku tidak akan menghianati Jeff.

Namun perasaan unuk melindungi Runi lebih besar. Aku pun menuruti keinginannya. Toh aku tidak melakukan apapun, aku hanya menenangkan Runi. Tak lebih.

Aku menikmati pelukan itu. Nyaman dan indah. Mungkin ini kesempatan yang jarang kudapatkan. Aku memeluk orang yang kucintai dalam suasana yang benar-benar seperti yang pernah kuimpikan. Di dalam hutan dengan suara kicau burung dan serangga hutan. Hanya kita berdua. Jeff, dari hatiku yang paling dalam maafin aku. Dan demi setan yang ada di neraka, makasiih ya, udah ngasih kesempatan ini.

*******

Perjalanan menuju Rawa Embik sepertinya penuh duri baik dalam arti sebenarnya ataupun kiasan. Di sepanjang jalan, banyak sekali kulalui pohon tumbang dan semak belukar yang sangat sulit disingkirkan dari jalur utama.

Aku juga harus merubah posisi berada di depan Runi. Aku harus terus menggandengnya dan menuntunnya melewati jalur-jalur yang susah. Kadang saat melewati pohon tumbang, aku harus dengan rela memeganginya, pun ketika tanjakan. Aku harus siap menjadi pohon hidup untuk memegangi dan menariknya.

Anehnya, aku tak merasakan ini sebagai suatu beban. Aku malah senang dan bersemangat. Aku tak merasakan lelah sekalipun. Kadang Runi menceritakan cerita-cerita lucu yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal atapun sebaliknya. Aku benar-benar merasakan kebahagian pada pendakian ini.

Namun kadang skenario alam itu tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saat aku terbang setinggi awan ke atas, aku dipaksa turun oleh orang yang bernama Jeff.

Saat melewati tanjakan yang lumayan terjal, seperti biasa aku membantu Runi melewatinya. Aku menariknya dengan kedua tanganku dan sesampainya diatas Runi langsung memelukku. Aku hanya tertawa saja. Maklum Runi sudah sering melakukannya sejak dari padang Edelwies tadi.

“Ehem..Jadi ini yang kalian lakukan sehingga membuat kalian menjadi lambat. Kalian membuatku kecewa.”

Aku dan Runi menoleh bebarengan. Kudapati wajah Jeff yang seperti udang rebus. Aku spontan melepaskan pelukanku. Begitu pula Runi. Kami tertunduk lemas.

“Jeff…aku..e…aku..tidak bermaksud apa-apa. Tadi..itu..hanya reflek karena..”

“Sudah, jangan banyak omong. Runi, ayo ikut aku.” Potong Jeff yang langsung menarik Rui secara kasar.

“Jeff!!kamu boleh marah padaku tapi jangan kamu limpahkan ke Rui. Dia baru saja jatuh. Kakinya masih keseleo. Jangan kau paksa dia berjalan dengan kecepatanmu.”

“Diam!! Dia milikku, Jadi terserah apa yang kulakukan padanya. Aku nggak ingin dia berada di dekatmu. Ayo Runi!”

Jeff meninggalkanku sendiri. Listi yang sedari tadi melihat kejadian ini, mendekatiku.

“Joe…kamu keterlaluan. Sangat keterlaluan.”

Aku menghempaskan badanku ke tanah, Aku terduduk lesu. Kuacak-acak rambutku kesal. Kenapa semua ini terjadi. Aku sudah berjanji untuk menjaga Runi. Tapi sekarang, karena nafsu ingin memilik Runi, semua jadi berantakan.

“Kamu harusnya tahu kalau Runi itu milik seseorang. Kamu harusnya tahu kalau itu cewek sahabatmu sendiri.”

Aku masih diam. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hari semakin sore. Sinar matahari mulai lemah memanasi kawasan Argopuro.

“Jadi apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan?”

“Aku mau tanya satu hal. Apakah kamu mencintai Runi?”

“Aku..aku..”

“Runi memang cantik. Jadi memang layak diperebutkan. Kalau aku cowok aku pun akan berusaha mati-matian untuk menarik perhatiannya. Tapi bukan seperti begini caranya. Kamu pengecut. Kamu memanfaatkan ketiadaan Jeff untuk merayu Runi.”

Aku sakit mendengar kata-kata Listy. Tapi memang benar apa yang dikatakannya. Aku memang seorang pengecut. Aku tak berani menunjukkan cintaku pada Rui. Bukan hanya saat mendaki gunung ini tapi sejak dua tahun lalu. Sejak aku bertemu dengannya di pesta perkawinan seniornya Reni.

“Aku..menyukainya sejak lama. Sudah dua tahun.” Itulah yang bisa keluar dari mulutku. Kulihat Listy tersenyum. Aku tak tahu mengapa dia tersenyum tapi yang jelas aku merasakan sedikit kelegaan saat aku berhasil mengucapkan itu. Ada sedikit beban keluar dari hatiku. Beban yang sudah lama menggumpal di hatiku.

“Kamu harus bersaing baik-baik dengan Jeff. Kalau perlu kamu minta baik-baik dengan Jeff. Dia masih milik Jeff. Masalah Runi menerimamu atau tidak itu urusan Runi. Jeff pun tak berhak untuk menghalangi keputusan Runi.”

Kutarik nafasku. Aku harus mengatakannya sekarang. Sudah cukup lama aku bertahan dan aku harus mengatakannya sekarang. Saat ini juga. Di gunung Argopuro ini. Di bawah naungan Ratu Rengganis.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: