Rui….Pos Lima: Welcome to Argopuro


Pos Lima

Welcome to Argopuro

 

 

Satu tahun kemudian…

Aku berjalan dengan tergesa menuju ke kantin kampus. Berkali-kali kulihat jamku. Aku telat. Sangat telat. Tepatnya telat satu jam lebih. Hehehe bukan telat tapi menelatkan diri. Maklum aku baru saja bangun bahkan hanya untuk mandi saja aku tidak sempat. Yang penting aku ke kampus dulu untuk bertemu dengan teman-teman dari Indobackpacker Surabaya (IBP).

DI kantin kutemukan Jeff, Indra dan..Runi. Ngapain dia disini?. Aku memandangnya dengan wajah bingung dan juga heran. Setahuku dia sangat tidak suka dengan kegiatan ini. Atau dia lagi..tentu saja. Dia pasti nemenin Jeff. Goblok!! kenapa aku lupa hal itu.

“Sorry, aku telat. Maklum baru bangun.”

Aku langsung duduk di sebelah Indra. Suasana kantin sepi. Maklum lagi liburan semester. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang sedang sibuk mengambil SP.

“Joe..kenalin ini Mario dan Listy. Mereka yang akan nemenin kita ke Argopuro.” ucap Jeff sambil mengenalkan dua orang baru. Aku mengulurkan tangan kananku pada mereka.

Oh iya, liburan semester ini aku akan naik ke Argopuro. Ini biasa kulakuan setiap ada liburan terutama libur semester. Liburan sebelumnya kudaki Semeru. Sebelumnya lagi Raung. Arjuno dan Welirang dan beberapa gunung kutaklukan beberapa tahun yang lalu. Tentu saja Semeru paling banyak kudaki. Namun Argopuro…Aku belum pernah mendakinya sama sekali. Oleh karena itu Jeff mengundang temannya yang pernah kesana. Sebagai guide kami.

“Sudah kesana berapa kali, Mas Mario?” tanyaku memastikan.

“Mario saja. Aku sudah tiga kali kesana. Terakhir sebulan yang lalu. Kalau Listy baru dua kali.”

“Apakah benar butuh waktu lama untuk menaklukannya?” tanya Indra masih heran dengan lamanya waktu pendakian. Empat hari.

“Empat hari adalah standar normal. Tiga hari kalau kita penuh perhitungan dan berjalan laksana pendaki-pendaki profesional atau porter. Empat hari ukuran normal dan lima hari kalau mau menimati keindahan Argopuro yang tiada duanya. Argopuro merupakan gunung dengan trek terpanjang di Jawa.” Listy menerangkan dengan wajahnya yang penuh semangat.

Aku nggak peduli semangatnya. Aku suka senyumnya. Tulus dan penuh karakter. Sekilas kulihat, Listy merupakan cewek yang berkharater kuat, pantang menyerah, dan seksi. Bukti kalau alam sudah menempanya. Sedangkan Mario layaknya cowok pendaki lainnya. Berambut gondrong, kulit hitam karena terlalu sering bercengkrama dengan sinar matahari dan badan kurus namun berotot.

“Oke, Joe. Tadi kita sudah membahas semua perlengkapan yang akan kita bawa. Ada sedikit penambahan dan sudah kucatat. Mungkin itu saja.”

“Itu saja?? Aku nggak tahu apa-apa nih.” protesku

“Salah siapa datang telat. “ omel Indra. Aku mendengus kesal.

“Joe..semua sesuai rencana yang kalian buat. Kita ikut saja cuma ya seperti Jeff bilang barusan, ada beberapa yang harus kalian tambahkan karena ada seorang dari kalian yang belum pernah mendaki jadi aku tambahakan beberapa barang untuk jaga-jaga.”

“Baru? Siapa sih maksudnya?” tanyaku bingung sambil memandang Jeff dan Indra bergantian.

Indra melihat ke arah Runi. Begitu pula Jeff. Aku terperanjat tak percaya. Runi ikut mendakil. Untuk apa?

“Kamu..kamu ikut? Kamu..ya..kin..?”

“Jangan meremehkanku. Aku sangat ingin sekali naik gunung. Aku tak tahan mendengar kalian bercerita tentang keindahan dan kecantikan gunung yang pernah kalian daki. Aku tak tahan melihat foto-foto indah yang kalian sodorkan padaku dan bau rumput dari bekas ransel kalian. Aku mau melihat sendiri. Aku mau menikmatinya sendiri. Aku mau melakukannya sendiri tanpa mendengarnya, menikmatinya dan menghirupnya dari kalian.” Runi memuntahkan segalanya. Aku melongo mendengar kata-katanya. Takjub. Niscaya kalau ada lomba baca narasi, dia pasti juara.

Jeff mengangkat bahunya. Pasrah. Sedangkan Listy tertawa gembira. Da sangat senang mendengar semangat membara dari kaumnya. Semangat untuk mengalahkan dominasi kaum pria.

*******

“Kenapa sih kamu mau naik? Kamu membuktikan apa?” tanyaku pada Runi, saat kami sedang berbelanja kebutuhan pendakian di Carefurr. Saat itu Indra dan Jeff sedang mencari barang di bagian lain.

“Kamu nggak dengar alasanku saat dikantin ya? Aku..”

“Cukup!!” potongku cepat. ”Aku butuh alasan sebenarnya. Aku nggak percaya dengan alasanmu. Aku tahu kamu dan bullshit dengan semua yang kamu omongkan. Jadi apa alasanmu? Jawab jujur.”

“Aku..aku…” Rui menunduk bingung. Dia seperti kesulitan menjawab pertanyaanku.

Aku masih menunggu. Tapi…

“Say…sini sebentar. Barang yang kamu cari ada disini nih.” Panggilan Jeff membuat Rui membatalkan niatnya untuk mengungkapkan alasan sebenarnya kenapa dia ikut pendakian.

*******

Aku mengecek lagi barang-barangku. Mungkin ini barang terbanyak yang pernah kubawa. Aku benar-benar teliti mengecek seluruh barang yang kubawa. Aku tidak mau ceroboh dalam pendakian ini karena ada Runi.

Kulihat tas carrierku. Hemm kelihatan besar menjulang. Maklum ukuran 120 liter. Dan semuanya full. Untunglah aku sudah mempersiapkan fisikku selama dua minggu penuh. Ini semua kulakukan karena firasatku mengatakan aku harus melakukan ini. Hanya itu saja. Nggak ada alasan lain.

“Semua sudah lengkap?” tanya Ikhsan saat melihatku duduk melamun memandangi carierku.

Aku mengangguk pelan.

“Aku merasakan sesuatu yang akan terjadi diatas sana. Kamu sudah izin orang tuamu kan?”

Aku mengangguk mantap. Aku nggak mungkin naik tanpa restu mereka.

“Tapi..Joe. Aku benar-benar merasakan feeling yang lain. Aku berdoa ini salah tapi aku berdoa agar kalian semua baik-baik saja. Oh iya, kudengar Runi juga ikut ya? Pesananku tambah satu dan sangat spesial. Tolong jaga Runi baik-baik. Bawa balik dia dengan selamat. Bisa?”

Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali. Menertawakan kekhawatiran Ikhsan. Namun kulihat Ikhsan sedang tidak bercanda.

“Bisa??” tangan kanannya dijulurkan padaku. Meminta jaminan.

“Aku janji.” Kuraih tangan Ikhsan. Aku sudah berjanji. Dan aku adalah lelaki yang memenuhi janjiku. Jadi akan kubawa kembali Runi dengan selamat. Itu mudah bagiku.

*********

Gila! Panas banget. Musim kemarau ini benar-benar menjengkelkanku. Hawa panas di dalam bus yang penuh dengan penumpang membuat aliran udara sejuk tak bisa mencapai kami yang duduk berdempetan di kursi tengah. Kulihat Runi sibuk mengusap keringatnya yang mengalir tiada henti. Jeff tersenyum melihat kekasihnya itu mencoba beradaptasi.

Setelah diguncang-guncang selama hampir empat jam. Akhirnya kami sampai di terminal kecil Besuki. Terminal ini adalah terminal satelit, yang menghubungkan Sitobondo dengan daerah-daerah kecil sekitarnya. kata Mario, kita akan naik lewat jalur Baderan. Jalur yang mudah bagi pemula atau orang yang belum pernah mengunjungi Argopuro seperti kami. Lebih “bersahabat” katanya.

Sore menjelang magrib kami sampai di Baderan. Kami memutuskan untuk menginap di Baderan sambil mengumpulkan tenaga yang terbuang di perjalanan darat hari ini. Kami mendirikan tenda di depan pos PHPA.

*************

“Masih jauh nggak,  Joe?” tanya Runi ketika kami berdua istirahat.

“Lumayan..paling sebentar lagi.” hiburku. Ini sebuah kalimat retoris namun sanggup menenangkan hati para pendaki yang sedang putus asa.

“Ternyata berat ya. Tapi aku sangat menikmati ini semua.”

“Menikmati apa?”

“Ya menikmati ini semua dong, Joe. Menikmati semilir angin dingin yang menerpa wajahku. Menikmati kesunyian yang mengiringi langkahku dan kicau burung dan suara binatang yang seakan menyambut kedatangan kita.”

“Kamu sepertinya cocok jadi pujangga deh. Kata-katamu puitis dan berdaya khayal tinggi.”

“Tepatnya immajinatif dan romantis. Ya harap maklum. Bintangku kan pisces. Katanya orang Pisces itu romantis abis.”

Aku tertawa kecil mendengarkan Rui beragumen.

“Ayo jalan lagi. Yang lain sudah jauh di depan tuh.” ajakku.

Kami berdua tertinggal cukup jauh dengan Jeff cs. Ini semua karena aku mengambil posisi sebagai sapu besih. Aku memang sering memegang posisi ini sejak pertama mendaki sampai sekarang. Sedangkan Jeff selalu di depan.

Sebenarnya Mario hendak mengambil posisi sapu bersih ini namun setelah berdebat cukup lama dengan kusampaikan berbagai alasan logis, yang sengaja kupersiapan dengan bantuan Ikhsan sebelum berangkat, Mario akhirnya menyerah dan berjalan bersama Jeff di depan.

“Bagaimana, Runi? Masih kuat?” tanya Listy ketika Rui dan aku sampai di Mata Air Dua. Semua menunggu kami sambil istirahat.

“Lumayanlah. Sedikit pegal-pegal tapi itu biasa bukan?” jawab Runi enteng. Dia duduk berselonjor di bawah pohon. Aku menghampirinya dan duduk di dekatnya.

“Nggak nyesel kakimu yang indah itu, yang rutin kamu rawat seminggu sekali di salon, rusak?” Indra mulai mengejek.

“Nggak. Biarin lecet-lecet sedikit yang penting aku bisa menikmati keindahan alam yang diciptakan Tuhan untuk kita. Kalau perawatan kan bisa kapan saja. Tapi kalau naik gunung tidak bisa seminggu sekali.”

“Tapi, Run. Kenapa sih kamu milih ikut naik gunung ini? Kenapa nggak ikut pendakian ke Welirang atau Penanggungan yang medannya lebih ringan?” tanya Listy. Aku tersenyum senang ada yang mengingatkanku akan tujuan awal Rui.

“Kan sudah kubilang tadi. Aku pengennya sekarang dan di gunung Argopuro. Lagipula aku dan teman-temanku yang ganteng-ganteng ini punya start yang sama. Sama-sama nggak tahu medannya. “

Semua tertawa mendengar kata-kata yang diucapkan Runi. Kami pun makan siang di Mata Air Dua. Sebuah lokasi persinggahan sebelum menjalani perjalanan lebih berat. Medan yang panas dan berliku-liku, jalur menuju Cikasur.

*********

Jalanan makin terjal. Batu-batu gunung bekas longsoran sering kali menghambat langkah kami. Aku berjalan hati-hati. Kali ini kami tidak berpisah cukup jauh. Jarak kami hanya dua langkah.

Aku diam dalam lamunanku sendiri. Tapi lama kelamaan aku sadar semua sedang diam, memikirkan sesuatu yang penting dalam pikirannya masing-masing. Namun keheningan itu pecah oleh suara benda jatuh.

SROOT……BUUKKK…BUUUKKK

Aku melihat sesosok tubuh terjatuh dan terus jatuh berguling ke kanan. Ke jurang! Aku berlari untuk mencegah tubuh itu terus melaju jatuh .

Tangangku berhasil menyelamatkan tubuh itu. Dan saat kulihat tubuh siapakah itu? Ternyata itu Indra. Dengan bantuan Jeff dan Mario kami mengangkatnya naik. Kami memeriksa keadaanya.

Kakinya penuh luka gores begitu pula tangan dan wajahnya. Indra berusaha berdiri namun dia langsung terduduk kembali sambil mengerang kesakitan.

“Kamu nggak apa-apa, Dra? Kakimu terkilir?”

“Sepertinnya iya, Joe. Jeff, bagaimana nih?”

Jeff dan Mario memeriksa dengan teliti apa yang terjadi dengan kaki Indra.

“Dra, sepertinya kamu harus turun. Jangan paksakan naik. Kita batalkan pendakian ini.” ucap Jeff dengan suara berat. Ya, ini pilihan yang realistis. Pilihan yang harus diambil pemimpin rombongan. Lebih baik membatalkan pendakian daripada ada apa-apa.

Semua diam. Pasti kecewa. Semua yang disiapkan hancur pada satu hari pertama. Indra menatapku seolah berkata minta maaf. Aku tersenyum menjawab kalau ini bukan salahnya.

“Aku punya usul.” ujar Mario.

“Aku saja yang menemani Indra turun. Sedangkan kalian berempat tetap naik. Kita pindah dan set ulang perbekalan kalian sehingga cukup untuk terus ke atas.”

“Tapi ini nggak adil buat Indra. Lebih baik turun satu turun semua?” aku mencoba menghalangi solusi Mario.

“Tapi aku rasa sangat rugi kalau kalian semua turun. Aku sih nggak masalah tapi kalian? Sunguh rugi jika kalian sampai disini saja. Aku rasa Indra bisa berjalan dengan bantuanku. Bagaimana, Dra?”

Indra langsung mengangguk setuju. Dia merasa lebih baik dia saja yang turun. Nggak semua. Jadi dia tidak merasa bersalah.

Jeff dan aku tidak bisa menolak permintaa Indra. Kami memindah beberapa logisitik dan peralatan penting ke tasku dan tas Jeff. Kami berkerja cepat menata kembali logistik dan barang tambahan untuk membantu perjalanan kami. Kami tidak ingin menjadi pendaki yang kehabisan bekal di atas sana.

“Joe..” panggil Indra saat mau turun. “ Aku mau kamu berjanji untukku. Tolong kibarkan bendera ini dan fotokan untukku. Bisa kan?”

Aku menatap Indra dengan pandangan haru biru. Namun ini permintaan yang tulus dari seorang sahabatku. Aku meraih bendera merah yang bertuliskan Lusi Kurniawati. Aku menggenggam erat tangannya. Mencoba mengkuatkan hatinya.

Aku melambai pada Indra. Aku bisa merasakan kesedihan yang sedang melandanya. Seperti seorang yang baru kehilangan pacar atau benda kesayangan. Hampa dan dipenuhi sesal yang tiada tara. Aku berdoa agar dia selamat sampai tujuan. Dan aku berjanji akan meneruskan pesannya. Mengibarkan bendera merah miliknya.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: