Rui…..Pos Enam: The Next Journey


Pos Enam

The Next  Journey

 

 

 

Nasi goreng instan plus telur dadar menjadi menu siang kami. Aroma dan rasanya benar-benar selangit ataukah memang karena kami kelaparan ?

“Hemm enak banget. Tiada duanya deh sepertinya.” puji Runi.

“Ya jelas nggak ada duanya. Wong cuma kita yang ada disini.”

Aku tertawa geli mendengar komentar Jeff.

“Maksudku, ini benar-benar enak sekali. Bahkan di Surabaya nggak ada yang bisa mengalahkan rasanya. Aku jamin deh.”

“Tahu deh. Mentang –mentang masakan sendiri. Dipuji terus.”

“Bukannya gitu, Joe. Tapi ini memang enak. Betul nggak, Lis?” kata Runi sambil menoleh ke Listi yang sibuk menulis. Listi tersenyum sambil mengangguk setuju.

“Kamu menulis apa sih, Lis?” tanya Jeff sambil mengintip apa yang ditulis Listy.

“Ini catatan perjalanan. Sering kulakukan setiap pendakian. Sebagai bahan pertimbangan atau referensi untuk pendakian berikutnya. Estimasi waktu, tempat, lokasi dan vegetasinya merupakan informsi sangat penting pada sebuah pendakian.”

Aku kagum dengan Listy. Dia benar-benar seorang wanita mandiri. Mempunyai pandangan luas dan berkharakter. Aku memandangnya sambil terkagum-kagum. Tak sadar aku memandang Listy lama.

Aku kembali makan nasi goreng buatan Runi. Huh sudah habis. Aku berniat mengambil nasi goreng lagi namun tiba-tiba Runi mengambil nastingnya dan menjauhkannya dariku. Aku kaget dan tak mengerti apa yang dilakukannya.

“Kok dibawa kesana? Aku mau tambah nih?””

“Jeff belum tambah. Nunggu dia tambah dulu kemudian Listi dan  aku. Sisanya baru kamu. Kalau ada.”

Aku mendengus kesal. Aku merasakan Runi sedang marah padaku. Aku tak tahu kenapa tapi kuterima saja. Aku mengeluarkan kue dari tasku dan memilih mengunyah itu daripada bertengkar dengan Runi. Runi itu kalau marah susah dilawan. Bahkan Jeff. Namun kata anak-anak hanya aku yang bisa mendinginkannya kalau dia sedang marah. Padahal aku juga nggak bisa mengatasinya seperti sekarang.

“Joe… kamu ingat nggak perjalanan kita ke  Welirang dulu? Kita tersesat dan baru bertemu sehari kemudian.”

“Kalian tersesat? Kok bisa? Jalurnya kan jelas dan mudah.” ucap Listi keheranan.

“Iya, saat itu aku dan Jeff baru pertama kalinya naik gunung. Jadi belum bisa membedakan jalur pendaki dan penambang. Ya gitu deh. Masih baru.”

“Terus kalian kok bisa ketemu lagi?” Listi semakin tertarik ceritaku. Aku mendekat kearahnya. Ini kulakukan supaya lebih enak menjelaskannya. Saat itu tak kusadari kalau mata Runi mengamatiku tajam.

“Kami berdua melakukan perjalanan mengandalkan feeling dan keyakinan masing-masing. Setelah berjuang melawan hawa dingin dan mental yang terus drop, akhirnya kami bertemu kembali. Dan pendakian itu merupakan pendakian yang tak akan pernah kami lupakan.”

Suasana menjadi hening. Sayup-sayup angin gunung melewati kami. Meninggalan hawa dingin yang tetap menyelimuti tubuh kami. Aku membetulkan jaket tebalku. Aku menatap Jeff begitupula sebaliknya. Kami berpandangan lama seolah sedang berbicara dengan cara telepati. Aku segera berdiri begitu pula Jeff. Aku membongkar carierku begitupula Jeff.

“Kalian nggak berniat untuk berpisah kan?”

Tak ada yang menjawab pertanyaan Runi. Listi pun mengikuti apa yang kami lakukan. Kami membagi semua perlengkapan menjadi dua kelompok. Aku dan Jeff membawa tenda sendiri-sendiri. Kemudian trangia juga satu-satu sedangkan makanannya di kumpulkan untuk dibagi menjadi empat. Semua untuk menjaga jikalau kita berpisah. Suatu tindakan yang harusnya dilakukan di bawah, sebelum naik. Namun seiring tambahan barang dari Indra dan Mario. Kami pun mempacking ulang.

*************

Jalanan semakin naik. Pepohonan besar dan rimbun menemani di sepanjang jalan yang aku lalui. Kicauan burung dan kepakan serangga hutan bersahut-sahutan.

Keringat berbentuk butiran-butiran kristal mengalir membasahi wajahku. Angin yang melewatiku menguapkan keringatku yang terus mengucur, membuat wajahku terasa dingin.

Sudah lebih satu jam aku berjalan. Namun belum juga kutemui padang sabana terbesar yang dijanjikan Listy padaku. Hanya hamparan sabana kecil saja yang kulihat. Dan seratus meter di depanku, lagi-lagi terhampar sabana yang dipenuhi rumput berwarna kuning.

Aku mempercepat langkahku untuk segera mengistirahkan kaki-kaki yang sudah susah payah seharian kupakai berjalan. Saat ini hari semakin sore. Rencananya sih pukul tiga sampai Cikasur. Namun karena ada satu dua hal sampai jam empat lebih kami belum juga tiba di sana.

“Rui..di depan sana kita istirahat. Isi tenaga dulu.” ucapku setengah berteriak pada Runi yang berjalan seolah tanpa tujuan. Runi diam tak menjawab. Dia hanya mengangkat tangan kanannya dan terus berjalan.

Di bawah pohon besar nan rindang, di tengah-tengah sabana, sambil dikelilingi rumut gajah yang tinggi-tinggi, aku dan Runi memutuskan istirahat. Runi langsung melemparkan cariernya dan membanting tubuhnya di atas rerumputan.

Aku tersenyum melihat Runi. Dia wanita kuat. Ini pendakian pertamanya dan dia belum menyerah. Menyerah untuk turun.

“Masih kuat, Rui?”

“Masih dong…tapi istirahat dulu yah. Melemaskan kaki-kaki kecilku ini.”

“Bilang saja capek. Sok berpuitis. Tapi aku salut denganmu. Kamu bisa sampai sejauh ini dan tidak minta turun.”

“Ya nggak mungkinlah. Aku sudah bertekad untuk sampai puncak dan aku berusaha bagaimanapun caranya aku akan melakukannya.”

Aku salut dengan tekadnya. Semoga itu benar-benar dia buktikan. Aku mengeluarkan peta dan jadwal perjalanan.

“Masih lama? Dimana kedua orang itu ya?”

Aku menoleh pada Runi. Kuperhatikan dengan serius wajah Rui.

“Kenapa? Wajahku belepotan ya? ” tanyanya sambil mengusapkan sapu tangan pada wajahnya.

“Kamu cemburu ya? Aku melihat kamu sepertinya cemburu dengan Listy.”

‘”Ya jelaslah. Dia perempuan selain aku. Dan dia juga bareng Jeff.”

“Terus kenapa kamu membiarkannya berdua dengan Jeff. Kamu seharusnya bisa bersamanya?” desakku. Aku memang penasaran dengan sikap Runi yang dengan santai membiarkan Listy jalan bareng dengan Jeff, cowoknya.

“Ya…yaa…ya karena aku jalannya lambat jadinya aku bareng kamu.” Katanya ngeles.

Aku tersenyum geli. Alasan yang dikemukakannya ngawur. Namun biarlah. Itu urusan dia. Yang penting aku bisa menjaganya sekarang. Satu dari tiga janji bodoh yang kubuat.

“Ayo jalan lagi. Aku sudah siap nih.” ajak Runi. Kami meninggalkan alun-alun kecil itu, menuju Cikasur. Pos pertama yang sangat indah.

*********

Hamparan rumput membentang luas di depanku. Hanya rumput dan rumput. Di sebelah kanan sebuah bukit yang hanya ditumbuhi rumput-rumput setinggi lutut berdiri kokoh. Kontradiksi dengan di sebelah kiriku yang berdiri tidak kalah kokoh dengan bukit di sebelah kananku. Bedanya hanya pada vegetasinya. Bukit sebelah kiri ditumbuhi pohon-pohon dengan rata-rata tingginya 10 meter.

Kaki-kakiku berjalan mengikuti jalan setapak yang sempit dan berkelok-kelok, memutari bukit sabana dan beberapa kali harus menaikinya. Masalahnya aku tidak tahu berapa bukit sabana yang telah dan akan kulewati. Kulihat Runi berkali-kali mengusap peluh di wajahnya. Aku maklum karena perjalanan ini menguras keringat walau sinar matahari tidak terlalu menyengat karena sudah  berada di ujung cakrawala.

“JOOOE….MASIH LAMA NGGAK?” teriak Runi tanpa menoleh ke belakang.

“NGGAK TAHU…AKU KAN BELUM PERNAH KESINI. TAPI KATA LISTY TINGGAL DIKIT LAGI.”  balasku.

Runi mendadak berhenti dan menoleh ke arahku dengan pandangan jengkel. Dia sudah mendengar jawaban yang sama sebanyak sepuluh kali. Aku mengangkat bahu tanda benar-benar nggak tahu. Dia menghempaskan kakinya ke tanah dan berjalan lagi.

Kami berdua memasuki hutan lagi. Gelap dan teduh. Runi berhenti di bawah rindangnya sebuah pohon yang mempunyai ranting banyak dengan daunnya yang lebat. Aku menuju ke arahnya. Kami memutuskan untuk istirahat.

“Mau minum air berasa?” tawarku padanya.

“Air berasa? Maksudnya?”

“Coba deh..lumayan kok untuk membasahi sekaligus memberi rasa segar.” kusodorkan botol air mineral yang telah berisi air berwarna coklat.

Runi melihatnya dengan pandangan penasaran dengan isinya. Namun akhirnya diminumnya walau sedikit. Dia merasakananya dengan penuh penghayatan, mengetahui rasanya dan memastikannya aku tidak meracuninya. Namun beberapa detik kemudian dia meminumnya lagi dengan rakus.

“Rui..cukup. Cukup.” Aku mencoba menghentikannya.

“Kenapa? Nggak ikhlas!”

“Bukannya nggak ikhlas tapi jangan banyak-banyak minum air berasa seperti ini. Nanti kamu akan ketagihan. Kamu kombinasikan dengan air putih saja.”

“Memangnya itu air apa sih? Jangan-jangan kamu mau memeletku ya? Atau jangan-jangan kamu mau membiusku lalu…”

“Dasar Piktor! Kalau mau kuperkosa. Sekarang saja po’o. Nggak ada orang lain. Ini tuh campuran antara pop ice dan air putih dari Mata Air Dua.”

“Pop ice? Kok lain ya rasanya. Lebih segar.”

“Memang sih. Air di gunung kan segar-segar dan sehat. Karena langsung dari akar-akar pepohonan. Rui, kamu suka makan selada nggak?”

“Selada? Aku sih nggak nolak asal enak.”

“Dasar omnivora. Nanti di Cikasur ada yang namanya selada air. Nanti kita ambil dan memasaknya di Cikasur. Bisa dimasak seperti sayur bening atau mencampurnya seperti pecel. Mau?”

Runi mengangguk cepat seperi anak kecil yang dijanjikan dibelikan manisan yang akan lewat di depan rumah. Aku suka sekali melihat ekpresi Runi seperti itu. Mata membesar, lesung pipit yang muncul dari persembunyiannya dan bibir yang terkatup penuh daya sensual.  Cantik banget. Tapi aku hanya bisa memandanginya.

“Ngapain kamu lihatin aku terus? Yah aku sih nggak apa-apa. Maklum artis cantik gitu loh. Tapi yah harus bayar.”

Aku berpura-pura mau muntah. Aku berdiri dan melanjutkan perjalanan. Runi segera mengikutiku masih dengan godaannya.

“Nggak mahal-mahal kok. Pijitin aku saja. Nanti kamu boleh dapat tanda tanganku.”

“Nggak mau. Ge-er banget sih.”

“Ya sudah deh. Kamu buatin aku masakan yang enak deh disana. Mie instan campur telur dadar boleh juga.”

Aku masih terus jalan.

“Kalau masih nggak mau juga. Kamu buatin aku selada air.”

“Joe…”

Aku hanya tersenyum geli mendengarnya merajuk. Aku terus berjalan.

“Joe!!”

Buukk..Bukkk..

Aku menoleh ke belakang dan menemukan Runi sedang membanting cariernya ke tanah. Wajahnya cemberut. Aku menghela nafas. Ini pertanda dia marah. Aku menghampirinya.

“Kenapa lagi sih, Rui?”

Rui diam saja. Wah balas nih ceritanya. Tapi kalau nggak didinginkan sekarang bisa-bisa perang dingin selama dua tiga hari nih. Bisa kacau.

“Iya..nanti aku pijitin. Nanti kubuatin mie instan terenaaak buat kamu deh. Ayo jalan lagi.”

Rui menggeleng manja.

“Apa lagi?”

“Kamu harus janji buatin kau selada air juga. Ucapin dengan keras. Sekarang.” pintanya galak.

Aku memandang jengkel padanya. Dasar cewek cerewet, manja dan ngrepotin. Batinku.

“Kamu mengata-ngataiku ya?”

“Nggak..aku nggak bilang apa-apa.” kataku takut. Aku heran bagaimana dia tahu aku mengata-ngatainya. Aku segera mengucapkan janjiku keras-keras. Tiga kali.

“Dasar nenek sihir. Suka seenaknya sendiri. Perempuan bawel. Tukang perintah.”omelku setelah Rui berjalan di depanku agak jauh.

Tiba-tiba Runi menoleh dengan wajah bengis. Aku nyengir. Aneh, kok tahu ya?

**********

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: