Rui…Pos Empat: Rawon “pengorbanan”


Pos Empat

Rawon “pengorbanan”

 

 

Dua Bulan kemudian…

“Joe….mau pisang?” Runi menyodorkan piring berisi pisang ambon  yang sudah terkelupas mulus kepadaku.

Aku menggeleng pelan sambil tersenyum seadanya. Sejak Runi tahu aku sobat Jeff, dia terkejut. Ada sedikit perasaan bersalah di matanya. Namun aku berusaha cuek. Menganggap tidak mengenalnya dan baru saja kenal setelah dikenalkan Jeff. Dia juga memanggilku Joe. Tanpa mas tapi masih dengan e di belakangnya.

“Aku benar-benar tak tahu kenapa dokter Adi begitu kejam padaku. Aku sudah mengerjakan preparasi seperti yang diinstruksikan namun tetap saja ditolak.” keluh Jeff.

Saat ini aku, Ikhsan, Indra, jeff dan tentu saja Runi sedang makan siang di Food court TP. Tentu saja yang bayarin Jeff. Dialah big boss dan sponsor utama kami.

“Kamu yakin sudah melakukan sesuai yang diinstruksikan dokter Adi?“ tanya Ikhsan ragu. Topik kuliah benar-benar membuatnya bersemangat.

“Sudah..bahkan senior-senior juga bilang sudah. Tapi dokter Adi seolah tidak mau tahu. Dia tetap menyuruhku mencari pasien lain.”

“Dasar dosen! Semaunya sendiri. Seolah tidak pernah jadi mahasiswa. Kalau ngomong pasti dimulai kata dulu. Dia lupa kalau dulu belum ada hape. “ Indra mendengus kesal.

“Emang apa hubungannya hape sama zaman dahulu” tanya Runi bingung.

“Kalau dulu ada hape, tentu saja sekarang dia bilang dulu tuh hape..” jawab Indra sekenanya. Aku memaksakan tersenyum. Kadang Indra ini memang suka melucu namun ya itu, garing. Nggak lucu sama sekali seperti barusan.

Tiba-tiba hape Jeff bunyi. Dia berbicara pelan.

“Ada apa, say?” tanya Runi sambil memeluk Jeff.

Aku menelan ludah. Cemburu.

“Sorry, Sayang. Aku harus menjemput mamaku sekarang. Kamu bisa pulang sendiri nggak?”

“Lo kok gitu. Aku nggak bisa ikut?”

“Ini nggak bisa. Benar-benar nggak bisa.”

“Kita antar kamu pulang. Bagaimana Jeff? ” Ikhsan menatap Runi dan Jeff, meminta jawaban. Runi mau tak mau mengangguk dengan muka cemberut. Jeff tertawa senang karena teman-temannya mau mengerti kesusahannya.

“Makasih ya. Aku pergi dulu. Daaa.”

Jeff dengan tergesa meninggalkan kami. Ini sudah kesekian kalinya ia lakukan. Dan setiap Jeff melakukan tindakan tak satria ini, akulah yang menjadi korbannya.

Yap. Akulah yang mengantar Runi pulang. Ikhsan boncengan dengan Indra karena Indra dilarang keras oleh Lusi membonceng cewek selain dirinya.

“Maaf ya merepotkanmu  lagi..” kata Runi sungkan.

Dan seperti sebelum-sebelumnya aku menjawab.

“Nggak apa-apa kok. Ini sudah kewajibanku pada Jeff sebagai sahabatnya.”

Datar tanpa ekpresi.

*********

Bukan itu saja “kewajiban” tidak tertulisku pada Jeff. Bahkan seolah –olah akulah kacungnya. Tiap Jeff tidak bisa mengantarkan Runi pergi, akulah jawabannya.

“Joe..tolong antarkan Nita pergi. Aku lagi ada acara keluar kota nih.” pinta Jeff suatu saat.

“Joe…..tolong jemput Nita di kos. Aku lagi ada urusan.”

“Joe…..tolong antar Nita.”

“Joe…..tolong antar.”

“Joe….tolong.”

“Joe….”

Akhhhh….

Bahkan bukan Jeff lagi yang menelpon untuk minta tolong. Kadang Runi sendiri yang menelponku dengan alasan jeff sudah mengizinkannya. Aku hanya pasrah menerima “kewajibanku’ ini tanpa mengeluh.

Setiap menggonceng Runi. Aku selalu menjaga jarak. Pertama-tama sih Runi juga menjaga jarak dengan berpegangan pada jok. Namun lama kelamaan dia berpegangan pada perutku. Aku pun mewaspadai timbulnya letusan asmaraku yang kusimpan sekuat tenaga di hatiku yang paling dalam. Yang hanya kukeluarkan di malam hari.

Dan aku punya solusinya. Aku memakai tas sedikit besar untuk menghalangi gerilya tanganya. Aku menyuruhnya untuk berpegangan pada tas punggungku. Jadi amanlah aku sekarang. Aku tidak menghianati sahabatku, begitu pula Runi. Dia tidak menghianti cintanya pada Jeff.

*********

“Hallo…Joe…Joe!!” ucap seseorang di seberang sana, mengganggu tidurku. Dengan sedikit memicingkan mata, kulihat jam dinding. Uh jam 2 pagi. Siapa sih ini? Pikirku kesal. Harus ada alasan jelas kenapa orang ini menelponku, kalau tidak siap-siap saja kulabrak.

“Siapa sih ini?”

“Ini Runi!!” terdengar suara cewek yang berintonasi jelas. Jelas-jelas panik.

“JOE..JOE..KESINI.SEKARANG!!..PENTING..CEPATAN…” ucapnya di iringi  tangis ketakutan.

Demi mendengar kata Runi dan dalam kondisi menangsi pula. Aku lupa memikirkan hal yang lain. Secepat kilat kusambar kunci motor dan melaju cepat menuju kosnya Runi.

Sesampainya disana, Runi menyambutnya dengan histeris. Dia segera membawaku naik ke kamar temannya. Walau sudah sering mengantar Runi namun baru kali ini aku masuk kamar kosnya Runi walaupun bukan langsung ke kamarnya melainkan ke kamar sebelahnya.

Aku dibawa masuk ke sebuah kamar mewah. Kamar yang sepertinnya mempunyai harga sewa dua kali lipat dari sewa kamarku. Disana sudah ada beberapa orang menjaga seorang gadis yang sedang over dosis.

“Ya Allah..Nita. Kenapa nggak ada yang panggil ambulan atau taksi atau apalah?” kataku panik. Ini sudah mendekati kritis. Busa keluar dari sudut mulut Nita.

“Aku..aku..panik dan hanya kamu yang kupikirkan. Aku hanya bisa memencet nomormu.”

Deg. Jantungku berhenti sesaat. Kata-kata Runi membangkitkan asmara yang tertidur rapi di dalam jiwaku. Namun aku harus melupakannya. Sekarang Runi sudah milik Jeff. Dan aku sudah berjanji pada Ikhsan untuk mengambil opsi kedua modifikasi dua.

Aku tanpa babibu mengangkat tubuh Nita dan menaruhnya diatas sepeda motor grandku. Dengan Runi berada di belakang, memegangi Nita supaya tidak jatuh, kami menuju rumah sakit.

**********

“Makasih sudah membantuku membawa Nita ke sini.” ujar Runi membuka percakapan. Dia duduk di sebelahku. Terlihat wajahnya sedikit pucat. Mungkin efek dari kecapekan dan kepanikannya barusan.

“Nggak apa-apa. Kamu dan seluruh teman kosmu yang menyelamatkannya. Aku hanya membantu saja. Mungkin orang lain akan melakukan seperti yang kulakukan tapi keberanianmu mendobrak kamar bersama yang lainlah yang menyelamatkannya.”

“Kamu berubah ya?”

Aku kaget mendengar Runi tiba-tiba berkata begitu.

“Maksudmu?” tanyaku bingung. Aku menatapnya tak mengerti. Aku benar-benar tidak tahu kenapa dia berkata aneh begitu. Tiba-tiba Runi tertawa.

“Kamu tuh jelek banget ya kalau bangun tidur. Jeleeek banget….”

“Dasar..cewek gila. Kamu nggak sadar kalau pakainmu itu bikin kamu memenangkan kontes.”

“Kontes apa?”

“Kontes miss nggak matching in the world.”

Aku tertawa. Runi mencubitku. Aku menghindar sekenanya sehingga aku terjatuh diikuti tubuh Runi yang dengan serta merta menimpaku. Kami bertindihan diatas lantai.

Mataku bertemu matanya yang bening. Mata yang setiap malam kuimpikan untuk kumiliki. Harum tubuhnya karena parfum buatan Itali yang sudah lama kuhapal di luar kepala dan hembusan ringan nafasnya menyentuh wajahku, masuk indra penciumanku dan membangkitkan memori indah masa lalu. Aku merasa waktu berhenti, memaksaku untuk menikmati kebersamaan yang tercipta tak terduga itu.

Tiba-tiba sebuah tulisan opsi kedua modifikai dua melintas di kepalaku. Tidak. Aku harus menjaga janjiku. Dia milik Jeff. Jeff sudah membuktikan komitmennya untuk serius dengan Runi dengan membuktikannya menjalin hubungan serius selama enam bulan. Melebihi rekor pacaran Jeff yang paling lama bertahan dua bulan. Aku harus kuat. Aku harus memenuhi janjiku.

Dengan cepat aku berdiri dan melepaskan tubuh Runi dari tubuhku. Aku meminta maaf berkali-kali. Dan duduk dengan menjaga jarak dengannya.

**********

Suatu sore aku ke kosnya Runi. Seperti biasa aku segera masuk ke teras dan memanggil sedikit keras namanya. Beberapa menit kemudian dia akan keluar.

“Hallo..Joe. Aku ada sedikit masalah nih.”

Menurutku kehadiranmu di duniaku sudah membuatku bermasalah.

“Apa?”

“Seminggu lagi papaku datang. Dia hendak merasakan rawon paling enak se-surabaya. Jadi dia menyuruhku untuk mencarinya.”

“Terus?”

“Terus…aku minta tolong dianterin.”

“Sudah izin Jeff?” begitulah setiap kali aku hendak pergi dengan Runi aku  harus yakin Jeff tahu. Runi tak menjawab melainkan menyerahkan hapenya yang sudah tersambung dengan Jeff. Aku berbicara sebentar dengan Jeff yang intinya Jeff mengizinkanku mengantarkan Runi mencari Rawon paling enak.

“Oke, malam ini kita coba ke rawon setan di Embong Malang lalu besok pagi ke rawon ngguling di Bratang.”

Sungguh ini pengorbanan yang cukup besar. Selesai makan aku yang bayar. Biasa kulakukan untuk menjaga gengsi walau itu berarti menguras duitku. Maklum penghasilanku hanya dari 2 sumber. Pertama dari orang tua, yang hanya pas-pasan dan kedua, pendapatanku dari ngajar les privat.

Sekali dua kali aku yang bayar namun lama kelamaan aku nggak kuat dan bilang secara terus terang pada Runi. Runi hanya tertawa geli dan bilang nggak usah gengsi padanya. Dia tahu bagaimana kehidupan anak kos.

Penderitaan tidak selesai sampai disitu. Masalahnya sampai h-2 rawon yang cocok belum ditemukan. Bermacam-macam referensi dari teman-teman sudah kucoba. Berbagai masukan dari majalah kuliner juga sudah kupetimbangkan bahkan langsung menanyakan pada dinas pariwisata, juga tak bisa menghasilkan rawon yang sesuai harapan Runi. Ya hanya Runilah yang tahu rawon yang cocok untuk orang tuanya. Karena dia mengasumsikan lidah orang tuanya dan dia hampir serupa.

“Bagaimana? Sudah dapat, Rui” oh iya, sekarang aku memanggilnya Rui. Itu karena dia memaksaku untuk memanggilnya begitu. Sebab orang rumahnya selalu memanggilnya seperti itu. Aku tak tahu kenapa ia memaksaku dan anehnya aku menurutinya.

“Kata Mas Toni kita disuruh ke alamat ini?”

Aku membaca alamat dan nama warungnya.

RAWON SEDAP MALAM

TAMAN BUNGKUL SEBELAH MAKAM

Aku langsung meluncur kesana. Menuju harapan satu-satunya.

*********

Aku menghirup aroma sedap rawon. Hemmm sungguh-sungguh berasa bau daging sapinya. Aku mencicipi satu sendok. Runi memandangku penuh  harap. Dia hanya bisa menunggu karena rawonnya hanya satu mangkok. Kami memesan satu saja soalnya demi alasan hemat.

Aku diam berfikir untuk memutuskan ini enak atau nggak. Aku belum bisa memutuskan. Aku mengambil satu sendok lagi. Tetap belum bisa. Aku mengambil lagi dan lagi.

“JOE!!” teriak Runi.

“Apa?”

“Bagaimana?”

Aku tak menjawab melainkan mengambil satu sendok dan menyuapkannya pada Runi. Runi sempat kaget akan tindakanku namun dengan cepat dia menerima suapanku. Setelah itu aku baru tersadar akan apa yang barusan kulaukan. Aku pura-pura menyibukan diriku lagi dengan mengambil satu sendok buatku snediri.

“Gila…ini benar-benar cocok untukku. Ini benar-benar lezat.” ucap Runi dengan mata berbinar gembira. Dengan senyum yang merekah diapit dua lesung pipit di pipinya, membuatnya sangat cantik. Itu semua menghapus semua kelelahanku mencari rawon terenak se-Surabaya. Dan semuanya berakhir disini.

“Kamu tahu ciri khas rawon ini selain rasanya?” kataku

Rui menggelengkan kepala.

“Perhatikan niih. Mas, sudah. Tolong total.”

Seorang pelayan mendatangi kami.

“Ya, Mas. Apa saja?”

Aku menyebutkan semua yang kami makan.

“Rawon dua empat belas ribu, es teh dua tiga ribu, kerupuk dua dua ribu totalnya sembilan belas ribu. Sudah mas?” ucap pelayan itu tanpa koma. Cepat dan benar.

“Sudah, Mas.” Aku menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan pada pelayan tersebut. Aku menoleh ke arah Runi.

“Karena penghitungannya diluar kepala tanpa pakai alat hitung apapun, rawon ini sering disebut rawon kalkulator. Karena saking cepatnya pelayan menghitung harga. Seperti barusan.”

*********

Dan hari ketika orang tua Runi datang pun tiba. Ditemani Jeff, sang calon menatu yang baik mereka menikmati rawon terenak se-Surabaya. Sedangkan aku, tertidur lesu membayangkan masa-masa indah saat bersama Runi dan saat menyuapkan sesendok nasi rawon ke mulutnya…yang tentu saja tugas itu digantikan dengan senang hati oleh si keparat Jeff.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: