Rui…Pos Tiga: Opsi kedua modifikasi dua


Pos Tiga

Opsi kedua modifikasi dua

Akhirnya aku bisa mengenalnya. Aku cukup puas. Itu sudah lebih dari cukup. Namun apa sih definisi cukup buat manusia. Manusia tidak mengenal kata cukup. Hanya lebih atau kurang. Just it.

Dan aku mulai bergerak. Aku mulai berusaha lebih dekat dengannya. Berusaha untuk lebih sering ketemu dengannya dengan berbagai alasan.

“Runi..kamu punya catatan Faal nggak?”

“Duh dipinjam mbak Stevani.”

Sialan!! Kenapa pula Stevani pinjam ke Runi. Memangnya nggak ada orang lain yang punya.

“Kalau Anatomi ada? Mau kupinjam untuk diskusi bedah mulut.”

“Aduh, Mas. Sudah dipinjam Ririn.”

Ririn, Siapa pula dia? Siapapun dia, aku benci dia!! aku tak boleh menyerah dan meninggalkan kesempatan berbincang dengannya.

“Kalau catatan pedodontia?” hemm pasti ada.

“Pedodontia? Mas..mas..aku kan masih semester awal, ya belum dapat ilmu apa tadi pedo..pedofilia??” ucap Runi sambil garuk-garuk kepala. Bingung.

Aku langsung pergi karena malu. Goblok. Goblok. Ngapain aku tanya Pedodontia, mata kuliah yang baru diberikan pada semester lima.

Di lain hari, aku berusaha datang ke kosnya untuk menunjukan kepintaranku dan keahlianku mendiagnosa penyakit gigi walaupun aku masih bau kencur. Yang penting pede. Kan mereka, Runi dan teman-teman kosnya, tidak terlalu mengerti tentang penyakit-penyakit yang menyerang gigi dan mulut. Jadi aku ke kosnya Runi demi misi mendapatkan pasien juga bertemu Runi. Satu alasan yang masuk akal tanpa dicurigai sebagai sebuah usaha pendekatan.

“Duduk dulu, Mas Joe. Aku panggilin Nita. Dia yang ada masalah dengan gigi.”

Aku menunggu sambil mengeluarkan alat diagnosa yang kubungkus kain putih bersih. Alat ini sudah kusterilkan di aotoclave dan alkohol 70 %. Jadi tak akan ada penularan penyakit.

Seorang gadis muda, kira-kira berumur 22 tahun mendatangiku. Rambutnya pendek, wajahnya putih pucat karena sepertinya dia warga keturunan, dan tubuhnya padat berisi. Sunguh menggairahkan bahkan saat ini dia hanya mengenakan piyama bercorak bunga-bunga matahari yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.

“Nita..” ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya.

“Joe. Jo dengan e.” jawabku sambil nyengir.

Nita dan Runi tertawa geli. Aku tersenyum kecil sambil memperlihatkan kedua gigiku yang tersusun rapi. Orang bilang disinilah daya tarikku.

Aku dengan gaya dokter gigi profesional mulai melakukan pemeriksaan. Sepuluh menit kemudian aku selesai. Kuusap dengan tangan keringat sebesar biji nasi yang mengalir satu persatu memenuhi wajahku.

“Nit…sepertinya kamu mempunyai dua lobang gigi di kanan bawah. Tepatnya di gigi geraham. Kalau menurutku lebih baik dicabut saja.”

“Dicabut?” Nita menunjukkan ekpresi ketakutan begitu aku menyebut kata cabut. Ekpresi yang tidak kuperkirakan. Aku pikir dia hanya kaget dan melupakannya. Ternyata tidak.

“Tapi…,Joe. Kata dokter gigi perusahaanku, ini nggak perlu dicabut. Katanya hanya perlu dirawat saluran akar atau perawatan endodontik kalau nggak salah. Bahkan bisa dilakukan pembuatan crown. Benar nggak? Aku nggak mau dicabut!”

Kata-kata Nita membuat kepalaku puyeng. Misi membuat Runi bangga mempunyai kakak kelas yang pintar dan punya keahlian skill tinggi, hilang sudah. Semua itu gara-gara kata endodontik dan Crown. Kata-kata yang baru kuperoleh satu semester kemudian.

*********

“Kamu yakin ingin menyatakan cintamu malam ini?” tanya Ikhsan mencoba menghalangi niatku untuk mengungkapkan cintaku  pada Runi. Namun sia-sia saja usahanya karena hatiku sudah mantap.

“Kalau gitu siapkan hatimu. Kamu harus siap ditolak dan juga….diterima. Keduanya merupakan kejutan bagi hatimu. Jangan pernah menyalahkan keadaan dan masa lalu.” kata-kata Ikhsan benar-benar bagai oase dipadang pasir. Sayang aku tak tahu maksud kata-katanya. Tapi aku tetap tersenyum untuk menyenangkan hatinya.

Ikhsanlah yang tahu semua kisahku dengan Runi. Sejak pertama kali ketemu Runi sampai tindakan-tindakan konyol lainya. Baik, San. Aku akan tuntaskan malam ini. Aku akan menyatakan cintaku malam ini. Hati ini sudah tak tertahankan untuk mengatakan sesuatu yang ingin menyembul keluar dari dalam hati.

Dengan sepeda motor honda grand tahun  ‘97 aku menuju kos Runi. Bau parfumku menyebar di setiap jalan yang kulalui. Bahkan saking kuatnya seorang laki-laki lari terbirit-birit setelah berpapasan denganku. Dia menyangka baru saja dilewati kuntilanak karena mencium bau melati, bau parfum milik Ikhsan yang dengan sedikit rayuan kuminta.

Ketika aku memasuki gang kosnya Runi, aku melihat mobil Jeff disana. Mobil mercedes warna perak. Aku menghentikan sepedaku dua rumah sebelum kosnya Runi. Aku mengamati mobil Jeff sambil mengingat-ingat siapakah cewek yang diajak senang-senang Jeff. Aku menunggu agak jauh karena aku malu kalau ketahuan Jeff.

Jeff keluar. Aku langsung menutup kaca helmku. Dan pura-pura melihat kearah lain. Aku yakin Jeff tidak akan melihatku karena tempatku berhenti gelap karena tidak terkena lampu penerang jalan. Suasana tiba-tiba hening. Nyaris tak kudengar suara apapun di sekitar situ. Hanya suara jantungku yang berdetak normal yang terdengar merdu di telingaku.

Tapi cewek yang keluar dari kos-kosan itulah yang justru membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Cewek yang melangkah anggun dan masuk bak seorang putri itu adalah……Runi!! Nafasku sesak, aliran darahku mengalir lebih cepat untuk membantu nafasku supaya lancar, dan denyut jantungku berpacu lebih kencang uuntuk memompa darahku sebanyak mungkin.

Runi benar-benar anggun malam ini. Dia mengenakan gaun yang sangat indah berwarna merah. Itu warna kesukaanku. Sayang dia mengenakannya saat dia mau pergi dengan si bangsat Jeff. Playboy cap kecoa, cap tikus cap…cap….aku menggeram kesal. Aku benar-benar marah sekarang. Gila. Kenapa harus Jeff. Mungkin hatiku tidak sesakit ini jika laki-laki itu bukan Jeff. Sahabatku sendiri!!

********

“KURANG AJAR!! KUCING GARONG!!! ANJING KURAP!! SETAN KUTU…!!!”Aku memaki Jeff saat aku tiba di kos. Ikhsan yang duduk di depanku hanya diam memandangku. Dia sudah  mendengar ceritaku yang penuh emosi.

“Kenapa harus Runi? Kenapa pula Jeff? Apa sudah tidak ada cewek goblok yang bisa dobohongi selain Runi. Kenapa tidak ia sisakan satu untukku.  Satuuu saja buat temannya ini. Saat aku benar-benar jatuh cinta, dia dengan seenaknya mengambil milkku.”

“Milikmu? Memangnya kamu pernah ngomong ke dia bahwa kamu menyukai Runi?”

Aku memandang Ikhsan. Speckless.

“Jangan-jangan hanya aku yang tahu tentang Runi ini? Bahkan Indra pun tidak tahu….astaga, Joe!!” Ikhsan menghembuskan nafas  berat sambil menggelengkan kepala.

Aku tertunduk lesu.

“Kamu yang seharusnya kuhajar sekarang. Kamu sudah menjelek-jelekan sahabatku padahal dia murni melakukan keinginannya karena Runi belum milik siapapun. Kamu punya hak apa? Ngomong saja kamu tidak.”

“Tapi..”

“Tapi apa?” potong Ikhsan cepat. ”Kamu dan seribu cowok yang lain bisa mengumpat Jeff tapi memang dialah yang pantas menang. Dialah yang berhasil membuat Runi memilihnya. Sedangkan kamu dan seribu cowok lain hanya mengagumi tanpa kepastian bahkan mengatakannya pada sahabatmu saja kamu tidak?”

“Aku malu akan ditertawakan Jeff. Aku malu ketahuan melanggar janjiku untuk tidak pacaran. Untuk tidak menjalin komitmen. aku malu..” aku mulai menangis terisak. Tangisan seorang laki-laki. Benar-benar tangisan lelaki, bukan tangisan cengeng wanita. Ikhsan mendekat  dan duduk di sebelahku.

“Aku tahu saat ini hatimu sakit luar biasa. Namun kita harus realistis. Cinta memang taupan dahsyat yang bisa membumi hanguskan kepercayaan, keyakinan, dan tekad untuk melawannya. Dan kamu sudah membuktikannya dengan melanggar komitmenmu.”

“Sekarang pilihannya ada padamu. Kamu memilih mengejar cintamu atau mundur perlahan demi menyelamatkan persahabatanmu.”

“Maksudmu..”ujarku bingung.

“Kalau kamu mengejar cintamu, Sekarang kamu cari tahu kemana mereka pergi dan tanpa memperdulikan Jeff, kamu katakan perasaanmu pada Runi. Ditolak atau diterima itu bukan suatu masalah. Intinya kamu sudah mengatakannya. Itu sudah cukup adil.”

“Kedua, kamu memilih diam. Membiarkan Jeff menemukan cintanya dengan Runi dan kamu kembali fokus dengan komitmen yang kamu buat bersama kita. Komitmen untuk tidak jatuh cinta dan menjalin hubungan. Dan ini menyelamatkan persahabatan kita semua.”

Aku diam termangu memikirkan kata-kata Ikhsan. Dia memang benar-benar sahabatku. Dia bagai orang tuaku. Memberikan nasihat, dukungan, motivasi dengan pilihan-pilihan yang sangat rasional. Aku menoleh ke arahnya untuk mengucapkan terima kasih. Sayang, dia sudah tidak ada di tempat. Membiarkanku sendiri untuk memutuskan yang terbaik buatku.

*********

“Ayo Gerrad..tembak..tembak…” Indra berteriak penuh semangat di depan televisi ukuran 14 inci milik Ikhsan. Ini hal yang rutin kami lakukan. Menonton liga EPL sambil bertaruh. Taruhannya nggak mahal-mahal kok, cuma saling pijit saja. Indra penggemar berat Liverpool, sedangkan aku fans berat Setan Merah, Manchester United. Ikhsan? Dia tidak menjagokan siapa-siapa karena baginya sepak bola tak ubahnya suatu industri kapitalisme. Dia memilih menyingkir ke ruang tamu. Belajar.

“Hahahaha..mana mungkin gol? Van Der Sar gitu loh. Kiper nomor satu Belanda.” ejekku pada Indra. Indra menjulurkan lidahnya.

Sudah satu minggu ini aku memutuskan untuk memilih opsi kedua dengan modifikasi. Aku tetap menjaga baik hubunganku dengan Runi dan Jeff dan mengancam Ikhsan untuk tutup mulut tentang perasann cintaku pada Jeff maupun Indra. Suatu tindakan yang sangat kusesali di kemudian hari.

“Halloo…my love..” tiba-tiba Jeff masuk ke kamarku sambil memelukku dan Indra.

“Ada apa nih? Biasanya kalau main peluk-peluk seperti ini menandakan kamu lagi seneng?” kata Indra sambil melepaskan tangan Jeff dari pundaknya.

“Jelas dong. Aku baru saja jadian.”

Aku langsung menoleh ke Ikhsan yang berdiri tegak di pintu kamar. Dia mengangguk lemas. Aku jadi tahu apa yang akan diucapkan Jeff. Aku menarik nafas panjang dan menyiapkan mentalku.

“Aku baru saja jadian dengan Runi. Adik kelas kita yang sangat cantik”

Indra langsung mengucapkan selamat. Sedangkan aku, dengan perasaan campur aduk menyalami tangan Jeff. Menguacapkan selamat.

“Tapi apakah kamu yakin dengan dia kali ini? Kamu kan play boy cap kecoa, paling lama bertahan dua bulan.” Indra menyangsikan niat Jeff.

“Nggak..kali ini aku serius. Aku benar-benar jatuh cinta dengannya. Aku benar-benar mencintainya.” ucap Jeff dengan mata berapi-api. Kalimat yang sudah sering kami dengar setiap kali dia memulai hubungan dengan seorang wanita.

Sepertinya janjiku pada Ikhsan tentang pilihanku akan kumodifikasi lagi. Opsi nomor dua modifikasi dua. Aku akan tetap menjaga baik hubunganku dengan Runi dan Jeff serta menjaga Runi dari srigala bermulut buaya, Jeff. Aku makin menguatkan tekadku untuk menjaga Runi karena tahu sifat angin-anginan Jeff.

*********

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: