Rui… Pos Satu


Rui…

By: Emen Rizal


Pos Satu

Fantastic Four


 

Desir angin malam mengalun merdu mengetuk pintu kamarku.  Tangannya lembut mencoba menggodaku bermain. Namun aku tak bergeming. Aku masih asyik menjalani ritual malamku. Ritual yang selama ini aku lakukan setiap tengah malam. Memegang sebuah bingkai foto berukuran 4R.

Di dalam bingkai tersebut terpampang indah gambar seorang cewek yang cantik. Sangat cantik bahkan. Mungkin orang akan bilang aku terlalu melebih-lebihkan. Namun semua pasti setuju setelah melihat foto ini.

Aku, orang yang selama ini menghujat para pemuja cinta, menganggap mereka terbuai pikiran sempit akan dokma yang sudah menjangkiti otak mereka. Dokma yang mengatakan kalau cinta adalah sesuatu yang sangat sakral, personal dan suci. Juga, kenikmatannya, keindahannya dan addiktifnya mengalahkan apapun di dunia ini.

Makanan  termahal dan terenak di dunia, jabatan setinggi langit bahkan uang sebanyak apapun tidak akan bisa mengalahkan apa yang namanya cinta. Begitu mereka, para pemuja cinta, berkoar. Mereka bahkan berani menyebutkan korban keganasan cinta macam Julius Caesar, Hitler sampai Bill Clinton di era modern ini.

Aku tersenyum bahkan tertawa sampai sakit perutku mendengar ocehan mereka. Namun semua serasa membalik kearahku setelah chupid keparat itu dengan iseng menancapkan panah kecilnya tepat di hatiku. Aku terpaksa mengutuk semua kata cemoohanku tempo hari. Dan aku berani mengatakan bahwa cinta itu memang enak. Sangat-sangat enak.

Dan seperti inilah aku sekarang. Terpenjara rutinitas malam yang sangat menjengkelkan tapi tak bisa kutinggalkan karena tanpa melakukannya, aku akan mati terpana. Memandangi foto kekasih hati ditemani sahabatku, si angin malam, sampai sepertiga malam terakhir. Kadang kalau aku masih belum puas, ritual ini aku lanjutkan sampai menjelang subuh. Sungguh perbuatan konyol. Namun apa sih yang konyol buat cinta.

Kurebahkan tubuhku diatas kasur tipis yang bau oleh keringat dan air liurku. Tapi bagiku itu laksana parfum paling mahal di dunia. Wangi dan menenangkan. Itu semua karena aku akan selalu tidur dengan kekasihku dalam mimpiku. Aku akan terbang, melayang, menghambur cepat menuju awan. Tuk menemui kekasihku di atas sana. Berdua menjalin kasih dalam dekapan sang dewi mimpi.

*********

“Joe…sudah selesai klinik konservasimu? Ada lebih pasien, nggak? Aku minta dong kalau lebih.” ujar seorang cowok berpenampilan modis.

Namanya Indra. Salah satu sobatku. Dia orang yang sangat perfeksionis. Terutama soal penampilan, seperti saat ini. Rambutnya yang lurus dia sisir rapi ke belakang mirip Chow Yun Fat. Dia sangat mengagumi Chou Yun Fat. Seorang aktor Cina yang memerankan dewa Judi. Oleh karena itu dia selalu menyisir rambutnya ke belakang dengan rapi. Bahkan terlalu rapi.

“Semua orang punya auara dan auranya Chou Yun Fat itu adalah rambutnya yang rapi. Yang mengisyaratkan kharisma seorang raja. Kharisma penakluk. Semua orang akan bertekuk lutut hanya dari memandangnya. Dan aku ingin seperti dia.” ujar Indra berapi-api ketika aku dan teman-teman menanyakan kenapa dia ngefans banget sama rambut si Dewa Judi Cina itu.

Setelah rambut, perhatikan pakain yang ia kenakan. Pakaian yang “mewah” dan selalu up to date. Dia rela menghabiskan uang ratusan ribu rupiah untuk dibelanjakan ke counter-counter baju di mall atau distro-distro yang bertebaran bak jamur di Surabaya. Bahkan ia pernah berburu sampai ke Malang dan Bandung demi sebuah model pakaian terbaru. Baginya, model up to date lebih berarti dari apapun. Termasuk merek.

Kadang dia mengggunakan pakaian keluaran Larosso, Armani atau merek terkenal lain. Kadang juga dia beli pakaian yang diproduksi secara indipendent seperti produknya distro. Namun tak jarang dia beli pakaian yang dipajang dipinggir jalan tunjungan. Yang dijual oleh orang yang teriakannya bisa memekakan gendang telinga. Dan itu jelas-jelas tak punya merek. Tapi baginya tak masalah. Menurutnya yang penting asyik dan membuat trendcenter baru di kampus. Yah kuakui dia berhasil melakukannya.

“Aku nggak ada lagi pasien. Kalau kamu mau, kamu hubungi saja Yanto. Katanya ada pasien lebih.”

“Yanto ?? Ya udah, aku cari dia sekarang. Kamu tahu diimana dia saat ini?”

“Telpon saja. Biasanya dia lagi sibuk menghadap Tuhan…”

Indra langsung sibuk dengan handphone N70 nya untuk menghubungi Yanto guna mendapatkan pasien limpahan. Inilah rutinitas yang menjengkelkan, benar-benar menjengkelkan, yang menghantui para mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Kedokteran Gigi.

Aku kadang berfikir kalau aku salah jurusan. Aku orangya angin-anginan. Kadang kalau lagi pengen sesuatu maunya cepat dan akan melakukan apa saja asal tercapai. Kata orang ini bagus. Bersemangat!! Namun sayangnya aku gampang menyerah kalau menghadapi rintangan yang besar dan susah disingkirkan.

Dan setelah hampir empat tahun aku disini, aku baru sadar kalau jiwaku tdak disini. Sangat terlambat bukan? Aku tahu. Namun aku masih disini. Menjalani rutinitas yang membosankan ini demi selembar izajah dokter gigi.

*********

Oh, iya. Mungkin kalian belum kenal aku. Namaku Junaidi. Aku sering dipanggil Jun saat masih kecil sampai tamat SMU. Maklum SMU-ku di desa yang penduduknya harus jalan 2 kilometer hanya untuk menonton Aneka Ria Jenaka, progam terkenal di TVRI. Namun setelah aku kuliah di FKG, di kota nomor dua terbesar se-Indonesia, namaku pun berubah jadi kekota-kotaan. Mereka panggil aku JOE. Joe dengan e dibelakang.

Kata orang wajahku lumayan ganteng. Tahu kan maksudnya lumayan? Nggak ganteng-ganteng banget tapi juga nggak jelek-jelek amat. Kalau mau sedikit menyombong, ada yang bilang wajahku mirip Jonathan Frezee. Aku hanya tersenyum waktu mendengar pujian itu. Kadang aku mematut diriku dikaca, sayang….setelah berkali-kali kupandangi wajahku, tak ada secuilpun wajah Jonathan disana.

Aku orang yang menyukai kegiatan berbau laki-laki banget. Aku suka sepak bola, basket, badminton dan olahraga-olahraga cowok lainnya. Aku juga suka mendaki gunung, travelling dan rafting. Semua itu kulakukan semata-mata untuk menguji sejauh mana nyaliku.

Dari semua hobiku itu aku mengenal banyak teman-teman yang sehati dan seperjuangan. Ada Indra Tanoto atau sering dipanggil Indra. Seperi yang kuceritaan diawal, dia orang yang perfeksionist namun dia sangat menyukai olahraga layaknya aku. Sangat bertolak belakang dengan penampilannya kan? Siapa bilang sport itu kotor dan bau. Indra sudah mengalahkan mitos itu. Penampilannya dimanapun selalu membuatku iri dan baunya, hemm serasa main bola di counter minyak wangi.

Kemudian ada Jefri Rusadi atau Jeff. Keren banget ya namanya. Memang, dari namanya saja kita tahu dia bukan orang desa, bukan orang yang dilahirkan untuk mengangkat air sejauh satu kilometer untuk mandi. Dia anak orang kaya, anak salah satu direktur Bank Swasta Nasional. Sejak kecil seluruh kebutuhannya terpenuhi. Dan kuliah baginya hanya merupakan ajang pamer kekayaan pribadi. Mobilnya sering gonta-ganti layaknya ganti kartu CDMA. Dia orang yang menyenangkan. Walau kaya, namun dia tidak sombong seperti orang-orang sebangsanya. Yah mungkin itu penilaianku. Yang pasti dia adalah salah satu kawan baikku.

Yang terakhir adalah Ikhsan. Orangnya pendiam dan rajin beribadah. Dia satu kos denganku. Rumahnya jauh di Jawa tengah. Tepatnya di Klaten. Namun berbeda denganku yang berasal dari desanya desa. Dia tinggal di kota, yang mempunyai pendidikan dan kebudayaan lebih beradab dari tempatku. Dialah orang yang sering mendamaikan kami kalau sudah memulai “perang”. Dialah yang paling dewasa diantara kami. Namun dia juga yang paling butuh kami. Intinya, dia sangat beruntung punya teman-teman seperti kami.

********

“Malam ini kita dugem yuk? Aku lagi suntuk nih” ajak Jeff sambil memaksa keluar asap rokok dari paru-parunya.

“Dugem? Kemana? Malas kalau ke Colours lagi. Entar ketemu Cici dan kawan-kawannya.” tolakkku. Aku memang lagi menghindari satu geng cewek dengan Cici sebagai ketuanya. Di dalam kumpulan para pencari hiburan malam itu ada Shinta, seorang cewek cantik yang sedang naksir berat sama aku. Yah bukannya sombong, tapi memang banyak yang naksir aku namun aku dengan tegas menolaknya. Bukan apa-apa, semua itu karena….aku sudah  punya kekasih hati.

“Takut ketemu Sinta? Kamu tuh gila ya. Disukai cewek secantik Luna maya gitu nggak mau. Aku saja pasti langsung iya kalau dia mau sama aku. Sayangnya dia tidak pernah melirikku….” kali ini Indra yang mengejek kebodohanku.

“Aku nggak menolak, cuma aku nggak suka dengan gaya hidupnya. Aku nggak suka saja.”

“Memangnya kamu suka yang bagamana sih? Yang seksi, kaya, cantik atau apa?” tanya Jeff penasaran. Sudah berulang kali Jeff dan Indra menanyakan ini padaku. Namun aku hanya tersenyum untuk menghentikan keinginan mereka mengorek lebih jauh tentang cintaku, kasihku.

Hanya Ikhsan. Ya hanya dia yang tahu tentang kasihku. Hanya dia yang tahu penderitaanku setiap malam. Dialah yang tahu kepahitanku dan tangisanku demi seorang cewek yang bahkan tidak pernah tahu bahwa aku sangat mencintainya. Ironis.

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: