Rui…. Pos Dua


Rui….

By: Emen Rizal

 


Pos Dua

Cewek judes yang tidak mengucapkan terima kasih


 

Namanya Seruni Sastranita. Orang-orang memanggilnya Runi. Dia berasal dari Sulawesi Selatan, tepatnya Makasar. Kok namanya nggak ada Makasar-Makasarnya? Apa dia bukan berasal dari sana?. Benar, Runi adalah orang keturunan Jawa asli. Kakek neneknya masih di Jawa begitu pula sanak saudara orang tuanya. Mereka pindah karena orang tuanya berdinas di Makasar. Ayahnya seorang Hakim.

Dia adik kelasku di FKG Unair. Dua tingkat di bawahku. Saat berjumpa dengannya aku semester lima dia semester satu. Sekarang aku semester sembilan.

Runi mempunyai wajah cantik rupawan. Tingginya 165 cm. Sebuah tinggi yang ideal untuk seorang cewek keturunan Melayu. Rambutnya panjang hitam terurai. Hidungnya mancung dan bibirnya kecil berwarna merah. Basah dan menggairahkan. Setiap dia lewat, semua mata laki-laki langsung mengarah pada bodinya yang aduhai seksinya. Mereka sepakat untuk memanggilnya Revalina S Runi.

Aku pertama kali bertemu dia saat aku diajak Reni, temanku yang aktif berorganisasi di luar kampus, menghadiri pernikahan salah satu seniornya di organisasi.

“Kamu bisa makan sepuas-puasnya disana. Seniorku ini jadi mantunya salah satu pejabat di kota ini. Jadi pastinya makanannya banyak dan enak.” janji Reni saat membujukku untuk menemaninya.

Aku langsung mengangguk setuju. Soalnya ini tawaran yang sangat menggiurkan bagi anak kos sepertiku. Makan enak, gratis pula. Anak kos manapun pasti langsung mengangguk jika ditawari sesuatu berlabel RATU alias Ora Tuku atau gratis. Dan konsekuensi yang kutanggung tidak berat-berat amat, hanya mengantarkan Reni kesana, menunggunya sambil makan dan mengantarkannya pulang. Sudah itu saja.

Pesta pernikahnya memang luar biasa meriah. Undangannya saja 3000 lebih. Itu hampir 10 kali penduduk kampungku. Aku bahkan sempat pusing saking banyaknya orang disana. Untung orang-orang yang datang orang-orang terhormat, yang malu jika makan banyak-banyak sehingga membuatku dengan leluasa mengambil makanan sebanyak-banyaknya.

Aku sudah tidak tahu dimana Reni berada. Aku juga tak mau ambil pusing. Nanti kalau dia mau pulang dia tentu akan telpon atau sms aku. Aku yakin dia sedang sibuk dengan teman-teman organisasinya, membahas kenapa Gayus bisa plesiran ke luar negeri, bagaimana menurunkan harga cabai yang melambung seenaknya sendiri atau mungkin membahas kenapa presidennya tidak Si Butet Yogya saja dengan wakilnya Jarwo Kuat, sehingga seluruh rakyat Indonesia ini akan terus tertawa, melupakan sejenak kesedihan yang menggoyang sendi-sendi mereka sepanjang waktu.

“Permisi, Mas. Bisa minta tolong ambilkan tisu.”

Aku mendengar seseorang dibelakangku meminta tolong. Aku masih cuek, menikmati makanku. Dia mengulangi permintaannya, lagi.

“Mbak, ambil sen…” kalimatku tidak bisa kuselesaikan begitu aku menoleh untuk melabrak seseorang yang mengganggu makanku. Kalian perlu tahu, aku sangat tidak suka diganggu sangat makan. Sangat tidak suka.

Namun kali ini tidak. Bahkan aku rela diganggu berkali-kali hanya untuk mendengar suaranya menggema memenuhi kohlea kupingku, melihat wajahnya menggantung berat di pelupuk mataku, atau mencium harum parfumnya sampai sesak paru-paruku.

Kalian percaya cinta pada pandangan pertama. Aku tidak. Menurutku itu hanya pepatah kosong, tak berbobot sama sekali. Cinta pada padangan pertama menurutku adalah omong kosong. Itu hanya nafsu yang mengatasnamakan cinta, ego manusia yang ingin ditampilkan, sifat buas manusia bilamana menemukan sasaran yang sangat lezat.

Tapi sekarang aku mengalaminya. Nafsu untuk memiliki, ego untuk menguasai, dan sifat buas untuk menerkam mangsa yang ada di hadapanku. Seorang cewek yang sangat sempurna menurutku. Cewek ideal masa sekarang bahkan lima sampai sepuluh tahun mendatang.

“Ya..udah! geser dikit dong, Mas. Biar aku ambil sendiri.” ucapnya judes. Uh kalau dia marah malah tambah cantik. Hasil survey membuktikan kalau cewek marah, keseksian dan kecantikannya muncul. Aku setuju sekali survey ini.

“Maaf maaf, biar kuambilkan.” cegahku sambil segera berbalik untuk mengambil tissu buatnya. Dengan cepat segera kuberikan tissu itu padanya. Entah saking semangatnya atau saking gobloknya, aku memberikan setumpuk tissu seolah ia butuh itu untuk membersihakn piring-piring kotor di dapur.

Cewek itu memandangku aneh, seolah dia menyelidiki apakah aku waras atau tidak. Sedikit grogi campur malu kuambil lagi tissu yang hampir setumpuk itu dari tangannya sampai tnggal satu, buatnya.

Cewek itu pergi tanpa mengucapkan terima kasih padaku. Bukannya aku minta pamrih namun aku sangat ingin mendengar lagi suaranya. Tapi aku diam mematung, menatap kepergiannya.

“Joe…Joe…kamu baik-baik saja. Joe…Joe….” kata Reni sambil mengoyang lenganku panik.

*************

Aku tidak bisa melupakan gadis itu. Aku benar-benar sudah kena virus cinta eh nafsu. Tauk ah apalah namanya itu. Yang penting aku benar-benar tidak bisa melupakan dia. Setiap pagi setelah bangun pagi, wajahnya langsung menyapaku di atas langit-langit kamar. Begitu pula saat aku mau tidur, bayangan wajah juteknya membuatku tidur dengan senyum tersungging di bibirku.

“Kamu cari tahu saja lewat Reni. Siapa tahu dia kenal” saran Ikhsan yang sedih melihatku bermurung durga.

“Tapi kemungkinannya 5%.”

“Dalam cinta, kemungkinan 1%  tetap saja adalah peluang emas. Coba saja dulu.”

Aku mengikuti saran Ikhsan, dengan terlebih dahulu menyuruhnya tutup mulut. Reni tidak tahu gadis yang kumaksud tapi dia mau membantuku. Reni mengajakku ke seniornya yang habis bulan madu. Begitu mendengar ceritaku, Mas Bambang, sang pengantin, benar benar takjub.

“Gila..zaman sekarang masih ada cinta pada pandangan pertama. Aku saja harus memandang istriku ini berkali-kali untuk membuatnya mencintaiku.” Mas Bambang memandang lembut sambil tersenyum manis pada istrinya.

“Masa sih, Pa? Sepertinya aku langsung cinta padamu saat kamu memandangku.” keduanya asyik saling berpandangan mesra, lupa kalau dua orang dihadapannya sedang menunggu cemas jawaban mereka.

“Ehem..ehem..” Aku pura-pura batuk untuk mengembalikan  fokus Mas Bambang pada kami.

“Sorry..sorry..harap maklum..masih pengantin baru..” ujarnya sambil tersenyum malu.

Mas Bambang dengan sigap mengeluarkan album foto, memutar video pernikahan mereka bahkan membantu mengecek satu persatu nama undangan yang hadir ke pernikahan mereka. Anehnya tak satupun kutemukan bidadari cantik itu disana.

“Mungkin dia datang di awal dan bareng teman-teman kami. Kalau di awal petugas shooting belum melakukan tugasnya.”

Aku mencoba menerima alasan yang diajuan Mas Bambang. Aku mohon diri kepada mereka berdua sambil mengucapkan terima kasih. Aku meninggalkan mereka dengan hati penuh mendung. Mendadak aku menghentikan langkahku karena kunciku tertinggal di meja. Aku suruh Reni menunggu di teras rumah.

Begitu aku masuk aku menemukan pemandangan yang sangat “indah”. Sepasang manusia sedang asyik “berperang’ di ruang tamu mereka.

“Maaf…kunciku tertinggal….” ucapku yang segera mengambil kunci sepeda motorku dan berlari keluar. Shit!!

*************

“Kamu benar-benar seperti orang gila, Joe. Tiap hari kerjaanmu melamun saja. Sudahlah lupakan saja gadis itu. Mungkin kamu belum berjodoh dengannya.” ucap Ihksan yang berusaha menyadarkanku untuk menjejakkan kakiku ke bumi lagi.

“Tapi kata pepatah, setiap perjumpaan pasti ada maknanya. Dan setiap cinta sejati pasti dapat balasannya, walaupun belum tentu bersama. Dan aku hanya ingin tahu namanya, itu sudah cukup bagiku.”

Ikhsan mendekatiku dan memegang pundakku.

“Memang, setiap perjumpaan pasti ada maknanya. Allah tahu setiap yang terjadi pada mahluknya bahkan sehelai daun jatuhpun Dia tahu. Jadi percayakanlah semua pada Allah. Kalau dia jodohmu, pasti ketemu lagi. Sekarang fokus pada klinikmu. Kamu harus lebih keras mencari pasien.” Ikhsan mengubur impianku yang sempat melambung tinggi. Aku menyerah.

***********

“Joe…ikut aku ke ruang kuliah A.” Ajak Indra suatu hari. Saat itu aku lagi malas-malasan di DPR singkatan dari Dibawah Pohon Rindang. Sendirian.

“Ngapain? Malas aku masuk ruang kuliah. Lagipula aku nggak ada jadwal kuliah.”

“Katanya ceweknya cakep-cakep dan manis-masin lo. Rugi kalau kamu nggak ikut.”

Aku diam saja. Indra dan teman-temanku yang lain sangat tahu kalau merayuku. Senjata mereka hanya dua. Makan gratis dan cewek cantik. Dua hal ini yang tidak bisa kuhindari. Namun sejak perjumpaan “indahku” dengan cewek itu, cewek yang judes yang tidak mau mengucapkan terima kasih, membuatku melupakan cewek-cewek cantik yang bertebaran di sekitarku.

“Apa sih ruginya buat kamu. Hanya satu jam. Cuma nemenin aku dan dapat hiburan melihat cewek-cewek cantik..” Indra menunggu reaksiku. Namun aku masih diam memandang sepeda motor yang hilir mudik di depanku.

“Dan…aku akan traktir kamu makan siang…”

Aku langsung berdiri dan berjalan menuju ruang kuliah. Aku menjadi semangat begitu mendengar kata traktir. Kata ini masih lumayan bisa menghipnotisku.

“katanya mau kuliah? Ayo buruan!” ucapku memandang Indra yang bengong menatapku.

“Brengsek..dasar anak kos miskin!!” omel Indra yang akhirnya berjalan mengekor dibelakangku.

***********

Aku memandang lesu penjelasan dosen mengenai susunan pembentuk gigi. Aku menguap, bosan. Dosen sekarang tidak ada yang menjelaskan sesuatu secara atraktif. Kulihat adik-adik kelasku yang berada di depanku. Tak ada tatapan semangat di mata mereka. Sepertinya hanya suatu formalitas mereka ikut kuliah. Alasannya simple sih. Nggak ada jaminan yang rajin mengikuti kuliah akan dapat nilai A, dan yang tidak pernah hadir, akan dapat D.

“Dosen ini kalau menerangkan tidak pernah melihat mahasiswa.” bisik Indra pelan. Takut yang lain dengar.

“Dia bukannya takut tapi krisis percaya diri.”

Indra manggut-manggut setuju. Dia kembali menekuni handout di hadapannya sambil sesekali melihat ke depan, melihat ke dosennya yang menjelaskan tanpa melihat ke mahasiswa.

Aku merasakan seseorang mengamatiku dari tadi. Aku menoleh kearahnya. Astagfirullah!! Jantungku serasa berhenti. Bahkan bukan hanya jantungku, waktu serasa melambat ketika mataku bertemu dengan sesuatu yang sangat sangat istimewa. Sesuatu yang kucari selama ini. Sesuatu yang hampir kulupakan karena saran Ikhsan. Sesuatu itu…cewek judes yang tidak mengucapkan terima kasih padaku.

Aku berusaha setenang mungkin. Aku mengatur nafasku. Hirup-tahan-lepaskan. Kualangi lagi. Hirup panjang….tahaaan…lepaas. Mirip Jarwo Kuat saat menahan amarah. Puf!!

Indra jadi heran dan melihat penuh tanya yang sedang kulakukan. Aku menjelaskan dengan bahasa isyarat bahwa aku tidak apa-apa. Dia pun kembali mengamati dosen yang tidak pernah melihat mahasiswanya itu.

Aku menoleh lagi untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Ya Allah, dia benar-benar ada. Seseorang yang selama ini aku cari ternyata ada di sekitarku, ada di kampusku. Dia satu ruangan denganku sekarang. Hanya beda dua baris. Dia di pojok kanan, aku di pojok kiri.

“Baik, kuliah selesai, sampai jumpa lagi minggu depan.” Dosen yang tidak pernah melihat mahasiwa waktu menerangkan itu mengakhiri kuliah, yang membuat lega mahasiswa yang sedari tadi menahan siksaan dengan kata-kata tidak jelas dari sang dosen.

Aku melihat dengan seksama cewek itu, takut dia lenyap lagi. Dia tersenyum padaku dan langsung berdiri. Aku berdiri dengan cepat dan hendak menuju ke tempatnya. Aku ingin tahu namanya. Itu saja. Namun banyaknya mahasiswa yang berebut keluar membuatku sedikti tertahan.

“Dik..misi bentar…” Aku berusaha menembus kerumunan adik kelas.

“Memangnya aku adikmu…Sabar Po’o” ujar cewek gemuk berwajah mengerikan dengan dialek medok jawa timuran.

“Ini penting banget..tolong geser dikit..” pintaku menahan emosi.

“Yang depan belum mau maju tuh. Ini bukan salahku. Antrilah.”

“Arrggghhh!!” ingin kujitak kepalanya.

Aku mengatupkan mulutku gemas. Seandainya masih ospek, dan dia maba baru, niscaya akan kusuruh dia lari keliling kampus dengan berbagai asesoris. Mulai apel sampai berbagai macam bumbu dapur kugantungkan di lehernya. Dan sambil lari, ia harus berteriak meminta maaf pada seluruh senior atau panitia ospek. Tapi itu seandainya.

Sesampainya di depan kelas, cewek itu sudah pergi. Aku lemas. Seluruh tulangku serasa tak mampu menahan tubuhku lagi.

“Ada apa sih, Joe? Kamu sepertinya semangat banget. Memang ada cewek yang bikin kamu jatuh hati? Siapa? Cantik nggak?” tanya Indra ketika melihatku terduduk lesu di bangku depan.

“Nggak….hanya teman masa kecilku.”

“O…ya sudah nanti dicari lagi. Jam dua nanti angkatan ini ada kuliah lagi.”

Mataku hampir copot mendengar informasi yang sangat menggembirakan sekaligus mengecewakan. Menggembirakan karena aku bisa ikut ke kelas dan bertemu gadisku lagi. Mengecewakan karena aku harus ikut mata kuliah yang sangat menyebalkan karena tidak pernah bisa kudapatkan nilai baik. Bahasa Inggris!!

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: