Jangan Menghindari Cinta


Jangan Menghindari Cinta

By : Emen Rizal

“Egaa!! Cepetan makan? Asti udah nungguin tuh” teriak Ibu dari ruang makan. Ega semakin sewot aja. Dilemparkan pakaian tidurnya ke keranjang pakaian di pojok kamar. Setelah merapikan seragam sekolahnya untuk terakhir kali, Ega pun menuju ruang makan.

“Lama banget sih dandannya? Kaya cewek aja!” protes Asti ketika Ega baru saja meletakkan pantatnya di kursi makan.

“Suka-suka aku dong! Sekali lagi protes, kamu berangkat saja  sendiri” ancam Ega. Asti langsung terdiam, tidak berani ngoceh lagi, daripada dia berangkat naik angkot. Sudah panas, berjubel lagi.

“Sudah- sudah, cepetan makan Ga, udah jam setengah tujuh tuh, nanti telat.” kata Ibu menengahi. Kedua orang kakak beradik itu akhirnya mengalah demi menghindari amukan yang lebih besar dari sang ibu jika tidak dipenuhi perintahnya.

****************************

“Ga, entar malem aku ke rumahmu ya? Kita main PS 2 lagi. Aku masih penasaran saat kamu mengalahkanku di saat-saat akhir. Aku pikir kamu menang karena kebetulan saja” ejek Doni saat mereka berjalan menuju parkiran ketika pulang sekolah.

“Kalah ya kalah, nggak usah pake alasan di saat-saat akhir. Bah!! Lagi pula apa kamu nggak ngerjain tugas matematika?” tanya Ega

“Udah beres, Bos!! Tadi udah aku kerjain waktu pelajarannya Bu Hani.”

“Kalo gitu aku salin dulu baru setelah itu kita bertanding. Deal??”

“Deal. Oke, aku cabut duluan yaa bro!” ucap Doni sambil melambaikan tangan. Ega membalasnya dengan senyuman kecil. Ega melanjutkan langkahnya menuju parkiran dimana mobilnya dengan setia menunggunya. Ketika sampai disana, Ega melihat dua orang cewek cantik sedang ngobrol akrab di sebelah mobil Cevrolet merah miliknya

“Hai, Ran, kok belum pulang?” tanya Ega ketika sudah dekat dengan dua gadis cantik tersebut.

“Kak, dia mau ikut kita. Mobil jemputannya telat” sahut Asti sebelum Rani sempat menjawabnya.

“Oh gitu, ya udah ayo kita berangkat” kata Ega

“Makasih Ga, maaf ngrepotin nih.”  kata Rani  sungkan.

“Nggak apa-apa kok. Kakakku ini akan pusing kalau tidak ada yang ngrepotin. Makanya aku ada di dunia ini.” canda Asti. Ega jadi dongkol, di jitaknya kepala Asti yang langsung lari menghidanri jitakan yang lebih parah.

******************************

“Kak, kenapa sih kakak nggak pacaran? Lagi pula ibu kan nggak melarang asal tahu batas-batasnya” tanya Asti saat mereka makan siang di rumah bersama Ibu.

“Mau tau aja sih!! Terserah aku dong.” jawab Ega sewot.

“Memang Ibu membolehkan kalian mengenal lawan jenis kalian, tapi kalian tetap kosentrasi belajar lo. Memang selama ini Ega tidak pernah deket dengan cewek ya As?” tanya Ibu ingin tahu.

“Iya Bu. Dia ini selalu nempel kaya perangko sama Doni. Bahkan ada gosip kalau mereka berdua ini homo hiii” jawab Asti sambil bergidik. Ega langsung mendelik ke arah Asti.

“Masa sampai begitunya, Ga? Wah Ibu harus mendekatkan kamu ke anak teman Ibu nih. Ibu nggak ingin anak Ibu jadi kelainan orientasi sexnya” kata Ibu sambil memperlihatkan mimik ketakutan.

“Itu cuma gosip aja. Lagian gosip gituan kok dipercaya. Asti tuh yang terlalu iseng mendengarkan gosip murahan seperti itu.” Ega mencoba membela diri.

“Tak ada asap kalau tidak ada api. Jadi tidak akan ada gosip kalau tidak ada yang melihat kalian lagi ehem-ehem..”

“Asti…jaga omonganmu!! Itu tidak benar Bu.  Akan kubuktikan kalau aku cowok yang normal.” Ega benar-benar dikerjain Asti kali ini.

“Bagaimana membuktikannya? Langsung gebet cewek tetangga sebelah.”  kata Asti meragukan tekad luhur kakaknya.

“Jangan melukai wanita Ga. Ibu nggak suka hal itu. Kamu kalau menyukai cewek ya kalau kamu memang suka dia. Jangan karena ejekan adikmu kamu langsung menggebu-gebu nyari cewek. Sudah jangan dibahas lagi. Asti, kamu jangan ganggu kakakmu dengan masalah ini lagi.” ucap Ibu mengakhiri perdebatan kedua anaknya yang sedang beranjak dewasa itu.

*******************************

Ega masih merenungkan kata-kata adiknya tadi. Dia membenarkan kata-kata adiknya tentang dirinya selama ini.

Aku memang tidak pernah memikirkan cewek sejak aku putus sama Nia, pacar SMPku dulu. Aku malas karena dengan berpacaran aku menjadi tidak bebas. Aku merasa selalu diikat kemanapun aku pergi. Aku merasa selalu diawasi setiap aku berjalan. Dan alasan inilah yang aku gunakan ketika aku putusin Nia. Batin Ega.

Tapi era sekarang berubah. Paradigma kelainan seksual sudah mulai ditonjolkan secara terang-terangan. Orang yang homo tidak lagi malu untuk mengungkapkan ke masyarakat. Wah ini semakin berat bagiku. Aku harus bagaimana nih. Hati Ega benar-benar bingung menghadapi masalah ini.

Ega menutup kepalanya dengan bantal, berharap agar dia cepat tidur dan mendapat pencerahan setelah bangun nanti dan memang doanya terkabul. Ega pun langsung tertidur begitu mencium aroma khas kasurnya.

**********************

Ega merasa ada seseorang disampingnya. Ega membalikkan tubuhnya  Dan dia melihat Doni sudah ada disampingnya. Ega kaget dan secepat kilat melompat dari kasur.

“Don, apa yang telah kamu lakukan padaku” tanya Ega sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya. Doni yang hanya mengenakan celana pendek warna hitam tersenyum genit. Dan Oh…Ega menjerit tertahan setelah melihat kondisi dirinya yang juga hanya mengenakan celana dalam. Padahal seingatnya dia tadi tidur dengan pakaian lengkap.

“Don..ka..kamu..apa yang terjadi…ohh???” Doni menjawab kebingungan Ega masih dengan tersenyum, seolah-olah telah mendapatkan kepuasan yang dia inginkan dari tubuh Ega. Ega tahu arti senyuman itu. Dia langsung berlari menerjang Doni. Namun itu bukan masalah bagi Doni yang telah mempunyai sabuk hitam karate. Dengan mudah Doni menghindari serangan Ega. Bahkan Ega yang justru terjerembab di atas kasur.

“Teganya kamu lakukan hal ini padaku. Aku normal Don. Aku benar-benar nggak menyangka kamu seperti ini.” Ega  benar-benar kalut menghadapi situasi yang selama ini dia hindari.

“Aku pikir kamu juga seperti cowok lainnya. Tidak mau mengakui kalau diri mereka mempunyai kelainan seksual sepertiku. Akui saja Ga. Kamu tidak memahami perhatianku selama ini. Aku sayang kamu Ga” kata Doni sambil mendekat kearah Ega. Ega mundur ke belakang sampai tembok kamar .

“Aku mulai yakin ketika kamu cuek aja ketika cewek-cewek cantik semacam Ita, Sari, Chelsi, dan cewek-cewek top lainnya tidak kamu gubris saat mereka berusaha mendekatimu. Dan Rani, cewek yang selama ini jatuh bangun untuk mendapatkan perhatianmu tidak kamu acuhkan juga. Aku yakin kamu seperti aku juga. Ayolah akui saja. Disini cuma ada kita berdua kok.”

“Tidak. Aku masih normal. Aku tidak merespon cewek-cewek itu karena aku memang tidak suka sama mereka. Mereka  Liar dan nakal…”

“Alaaah itu hanya alasanmu saja.” potong Doni ” Buktinya kamu datar-datar aja saat Rani mencoba mendekatimu. Dia kan kalem, masa kamu pakai alasan itu”

“Aku..aku… memperhatikan Rani juga. Cuma aku takut di tolak olehnya. Aku juga suka dia tapi aku takut dia membelengguku”

“Nah itu alasan yang kutunggu. Alasan yang sebenarnya dari kamu. Astiii…..keluar dong, aku tidak mau jadi beginian terus.” teriak Doni. Ega kalut. Dia tidak ingin adiknya tahu kalau Doni  homo, tapi terlambat, Asti sudah masuk kamarnya. Namun Asti malah cekikan. Ega benar-benar bingung.

“Asti, kenapa kamu tertawa. Jangan dekat-dekat Doni. Doni itu homo!!” Ega memperingatkan adiknya.

“Siapa bilang. Kita malah sudah jadian seminggu yang lalu.” kata Asti santai sambil memeluk Doni mesra. Ega benar-benar terkejut mendengar ucapan Asti dan lebih terkejut lagi dengan sikap mesra mereka.

“Maksudmu Doni ….terus tadi Doni ngapain…. heh kalian berdua harus menjelaskan hal ini !” Ega benar-benar syock mendengar penuturan Asti.

“Begini kakakku tersayang. Selama kamu tidak ada dan pas Doni kesini, aku yang menemui dan menemaninya. Doni selalu memanfaatkan itu untuk mendekatiku. Dan aku juga suka karena dia baik dan nyambung kalau ngobrol so jadilah hubungan ini. Simple toh” kata Asti sambil tersenyum ke arah Doni. Doni membalas senyuman itu dengan kerlingan sebelah matanya.

“Terus setelah perbincangan di meja makan tadi siang, aku mempunyai ide gila ini untuk mengetahui alasan kakak tidak mau pacaran dan seperti yang terlihat tadi, ternyata,..”

“Ternyata kamu suka Rani tapi kamu tidak berani mengungkapkannya. Ayo Ga, jangan jadi pengecut!” sambung Doni.

Ega hanya terdiam. Untung ini hanya kerjaan iseng dari adik  dan sohibnya. Coba kalau itu beneran, pasti Ibu akan terkirim dengan sukses ke rumah sakit. Asti pun mengajak Doni keluar, membiarkan Ega merenungi kata-katanya tentang Rani.

“Iya, aku harus berani mengungkapkan ini kepadanya. Aku harus berani mengambil resiko untuk cinta.” ucap Ega tegas. Tiba-tiba Doni masuk dan mengambil bajunya yang ketinggalan.

“Ga, malam ini kamu kosong nggak. Kita lakukan yuk.” kata Doni dengan muka nafsu. Dan Ega hanya melihat dengan muka bengong !!

 

 

 

 

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Springbedbagus  On Januari 20, 2011 at 1:52 am

    nice post! ceritanya bagus dan unik banget. terus posting gan!

    • emenrizal  On Januari 20, 2011 at 6:12 am

      Makasih sudah baca… ini masih amatiran, doakan tahun ini berkarya lebih baik lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: