Hari Sial (an) !!


Hari Sial (an) !!


Zul segera membereskan berkas-berkas di mejanya setelah melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 18.45. Setelah yakin semuanya sudah disimpan rapi, Zul segera bergegas menuju parkiran. Dengan cepat dia segera menstarter sepeda motor made in Chinanya yang telah setia menemaninya  mencari nafkah selama dua tahun.

Zul menghidupkan sepeda motornya. Sekali, dua kali, tiga kali namun sepeda motornya bersikukuh tidak hidup juga. Berkali-kali dia menstarter, namun sepeda motornya tidak hidup juga. Pak Tohir, satpam perusahaan dimana Zul bekerja, mendekati Zul.

“Kenapa Mas Zul?  Ngadat ya?”

“Iya kali pak. Kenapa ya? Padahal aku lagi tergesa-gesa. Tolong bantu aku dong, Pak “. Tiba-tiba Pak Tohir tersenyum.

“Gimana Pak? Apanya yang rusak atau nggak bener?”

“Mas Zul terlalu tegang . Bagaimana mau hidup, kuncinya saja belum Mas Zul masukin.” kata Pak Tohir sambil tersenyum geli. Zul baru sadar kalau dia belum memasukan kuncinya dalam stop kontak  motornya. Zul hanya bisa menepuk kepalanya dengan keras, berharap otaknya bisa bekerja dengan normal. Zul meninggalkan tempat parkir setelah terlebih dahulu berterima kasih kepada Pak Tohir.

Zul memacu  sepeda motornya dengan kecepatan maksimal. Namun secepat-cepatnya motor Chinanya, Zul tetap tidak bisa menghindari kemacetan di jalan utama Surabaya. Sambil menggerutu Zul membunyikan bel sepeda motornya terus-menerus. Orang-orang melihatnya sinis seolah Zul orang kampung yang baru masuk ke kota besar, yang tidak pernah melihat kemacetan jalan sebelumnya.

Namun Zul tidak perduli , Dia tetap harus melaju cepat dengan sepeda motornya itu dikarenakan dia sudah telat. Hari ini dia janjian nonton dengan Intan, cewek yang sudah dipacarinya sangat lama, selama umur jagung. Itu pun sudah termasuk rekor tersendiri buat  Zul  karena sebelum-sebelumnya tidak ada yang mau pacaran dengan Zul.

Zul akhirnya sampai di depan gedung bioskop Mitra 21 tepat pukul 19.30 WIB, tepat film yang ingin dia dan Intan tonton diputar. Zul dengan sigap mencari sosok ceweknya di ruang tunggu, di kantin, bahkan di toilet cewek, namun Intan tidak dia temukan.

“Aduh, jangan-jangan dia sudah masuk lebih dulu. Lebih baik aku telpon dia aja.” Zul segera mengeluarkan handphone buntutnya yang bisa dibilang sudah bukan handphone lagi tetapi barang untuk melempar anjing. Tapi Zul dengan santai memelihara, menyayangi, dan memandikannya tiap bulan purnama. Ini adalah barang keramat pemberian dukun sakti dari Banyuwangi, jawab Zul setiap ada yang protes.

“Hallo, sayang dimana? Aku sudah di Mitra nih.” tanya Zul setelah handphonenya  tersambung dengan handphone Intan. Tak berdosa.

“Emang kenapa?”

“Emang kenapa??Katanya mau nonton dan aku sudah datang nih. Ayolah sayang, jangan main-main?”

“JANJIANNYA JAM BERAPA!! Aku sudah masuk dan duduk manis di dalam Bioskop.” kata Intan dengan suara ketus lalu Zul mendengar bunyi tut tut di seberang sana. Zul memaki-maki dalam hatinya. Namun Zul tidak ingin ketinggalan filmya. Zul segera membeli tiket dan masuk ke studio 4. Zul pun mencari Intan, namun karena gelap dia kesulitan mengenali orang. Dia keluarkan lagi handphonenya.

“Hallo sayang, kamu dimana?”

“Ehm, aku di deret F no 17” Zul kali ini yang mematikan handphonenya karena memang dia berniat dua detikan biar irit. Zul pun memeriksa kursi yang disebutkan Intan. Namun disana malah ada dua cowok yang sedang bermesraan. Zul bingung apakah Intan salah sebutkan nomornya. Zul tidak menyerah. Dia mencari Intan disekitar  tempat itu sampai penonton yang lain protes. Protesnya dari yang ringan sampai yang berat. Yang ringan berupa maki- makian sedangkan yang terberat berupa lemparan sandal ke muka Zul. Namun itu semua tidak dihiraukannya, Zul tetap mencari kekasih hatinya. Namun kekerasan dan tekad Zul tamapaknya mulai luntur setelah tidak ditemukannya Intan di gedung tersebut. Zul pun menelpon Intan lagi.

Zul segera belari keluar gedung bioskop setelah menelpon Intan. Zul berlari ke tempat parkiran dan segera menaiki sepeda motor Chinanya. Zul menuju bioskop Delta, yang berjarak lumayan sekitar 500 meter dari bioskop Mitra. Ini dilakukan Zul karena Intan mengatakan dia sedang menonton di salah satu gedung bioskop di Surabaya. Ketika didesak, Intan menutup telponnya. Zul sadar Intan lagi marah karena dia telat datangnya.

Zul yakin Intan tidak jauh-jauh dari tujuan semula. Namun setelah menyatroni Delta 21, Galaksi 21, TP 21 bahkan Studio 21 yang terletak di Surabaya barat, Intan belum juga dia temukan. Zul hampir menyerah dan ingin menyewa tim SAR untuk mencari Intan, namun dia tidak jadi melakukannnya karena handphonenya bunyi. Dan disana tertera nama Intan Imoet. Walau pun nama itu tidak tertera jelas karena layar handphonenya pecah tepat di tengah-tengah.

“Kamu dimana?”

“AKU DI TANDES. HEH MAUMU APA SIH!! Aku sudah capek nih, kalau kamu marah ini sudah keterlaluan!” ucap Zul marah.

“Tandes !! Sory sayang, aku memang sebel banget sama kamu. Janjian jam tujuh ya datang jam segitu dong. Aku tadi langsung pulang. Aku sebelumnya telpon kamu, tapi nggak kamu angkat. Sori banget ya.” Intan mencoba mendinginkan kepala dan hati Zul yang telah panas. Zul hanya bisa menghela nafasnya. Dasar perempuan.

Zul melanjutkan perjalanan, perjalanan ke kamar kosnya. Sepanjang jalan dia merenungkan kejadian hari ini.  Zul mulai mereka ulang kejadian hari ini. Dimulai dari pagi hari, ketika dia telat bangun. Lalu ketika mandi, dia terjatuh di kamar mandi, ketika lagi ngebut dia melewati lampu merah lalu ditilang oleh polisi yang siap siaga menunggu mangsa seperti Zul. Setelah berdamai Zul pun masih harus menghadapi bos kantornya karena dia telat masuk kantor, Alhasil dia harus lembur untuk menebus kesalahannya sampai jam setengah tujuh malam. Padahal dia harus nonton dengan Intan jam tujuh, dan akhirnya nontonnya pun berantakan. Benar-benar sial Zul hari ini.

Tiba-tiba motornya terbatuk-batuk dan mendadak berhenti tanpa malu-malu di tengah jalan. Zul kaget dan buru-buru menepikan sepeda buntutnya itu. Zul berdoa semoga kali ini bukan businya yang rusak. Doa Zul terkabul. Yang rusak memang bukan businya tapi bensinnya. Zul heran padahal kemarin dia barusan mengisi penuh tangki sepeda motornya namun kenapa sudah habis. Padahal biasanya satu kali isi bisa untuk 3-4 hari. Zul benar-benar kesal. Karena hatinya benar-benar ingin pelampiasan, motor yang sudah remuk dalam arti sebenarnya, ditendangnya kuat-kuat. Lepaslah beberapa bagian motornya.

Telpon Zul berbunyi. Dia segera mengangkat telpon tersebut.

“Zul kamu dimana?” tanya suara yang ternyata milik seorang cowok.

“Aku lagi di Darmo. Kenapa Har?” kata Zul datar setelah mengenali pemilik suara, Hari, mantan teman kuliahnya yang menginap di kosnya.

“Anu Zul eh gimana ya… ehm Zul.. sabar ya.”

“Apaan sih ah eh ah eh kayak orang ML aja, cepetan ngomong!” kata Zul sewot.

“Sabar Zul. Begini , kontrakanmu barusan dimasuki maling. Ada beberapa yang hilang sih tapi aku yakin itu tidak terlalu penting bagimu. Cuma tivi, radio kompo, beberapa makanan dalam kulkas dan sebuah kamera. Itu kan tidak terlalu berarti …”

“APAA!!” Zul berteriak keras sekali. Ingin sekali dia memaki Hari namun keburu telponnya ditutup oleh Hari. Zul membanting telponnya tanpa ragu-ragu. Dia sudah tidak ingat bahwa itu telpon keramat. Zul benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

Setelah mereda amarahnya Zul duduk di trotoar jalan dengan hape dan sepeda motornya disebelahnya. Hanya merekalah yang setia menemaninya walaupun telah disakiti Zul. Zul berpikir keras kenapa semua kesialan ini menimpanya. Oh iya, ini semua gara-gara Hari, ya benar ini semua gara-gara Hari, kata Zul.

“Hari datang malam-malam dan membawa 5 botol minuman. Lalu aku diminta menemaninya mabuk. Paginya aku telat karena mabuk. Aku telat masuk kantor dan didiemin sama Intan, Kemudian motorku mogok kehabisan bensin. Oh iya, motorku sebelumnya dipinjam Hari untuk beli minuman dimana yah.. Oh iya di Banyu Urip. Bila ke Banyu Urip berarti..berarti ini semua karena Hari. Hari kamu benar-benar membuat hariku menjadi sial. Kamu benar-benar sialan Har. Tunggu aku, akan kuhajar nanti!.” Kata Zul dengan amarah yang teramat besar, bahkan iblis pun akan terbakar dengan amarah dalam diri Zul.

 

Surabaya, 12 Februari 2006

Emen Rizal

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: