Dedi dan Dony


Dedi dan Dony


 

Dedi menatap lekat-lekat wajah cantik Amel. Ingin sekali dia memegang dan mengusap wajah Amel yang sehalus sutra Cina. Bahkan Dedi sempat berfantasi untuk mencium bibir Amel yang merah menggemaskan. Namun semuanya hanya suatu harapan yang sulit terwujud. Bagaimana mungkin, Amel duduk jauuuuh di depan, sedangkan Dedi duduk jauuuh sekali di belakangnya.

Dedi menyukai dan mencintai Amel sejak lama. Dedi sudah berusaha keras untuk lebih dekat dengan Amel. Misalnya setiap kali berpapasan, Dedi berusaha menyapa Amel, namun tiba-tiba saja Dedi mendadak bisu. Baru setelah Amel lewat, Dedi baru bisa bersuara lagi.

Namun usaha Dedi untuk dekat dengan Amel tidak surut. Berkali-kali Dedi mencari informasi tentang Amel lewat teman-temannya, lewat pembantu Amel bahkan penjual bakso yang biasa mangkal di depan rumah Amel tidak luput dari interogasinya hanya sekedar untuk mengetahui Amel suka bakso yang halus atau kasar, pedas atau manis dan sebagainya.

Dalam melakukan misinya, Dedi tidak sendirian. Dua bulan yang lalu Dedi resmi menyewa jasa biro konsultasi cinta terkenal dan terhebat sekampusanya, Abe. Abe seorang playboy yang terkenal. Sudah tak terhitung berapa kali Abe gonta ganti cewek. Bagi Abe ganti cewek seperti ganti celana dalam. Kadang Dedi heran kenapa dia tidak bisa mendapatkan cewek sedangkan Abe dengan mudahnya gonta-ganti cewek.

“Cewek itu butuh perhatian dan rayuan gombal. Walaupun itu klise, namun itu sangat manjur. Aku buktinya.” nasehat Abe. Dedi hanya mengangguk–anggukan kepala mencoba mencerna kata-kata Abe. Perhatian dan sedikit rayuan gombal. Kalimat yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan oleh Dedi. Seperti sulitnya Bajuri membuat Oneng lebih pintar atau mencari sebuah jarum ditumpukan jerami pada malam hari. Sulit tapi masih ada kemungkinan.

Abe terus menyemangati Dedi. Ini dilakukan bukan sebagai solidaritas teman tapi semata-mata karena Dedi adalah kliennya yang sedang menghadapi masalah cinta, dan bila Dedi sukses maka Abe akan dapat balasan uang secukupnya. Cukup untuk beli hape nokia seri terbaru.

Jadilah teman yang baik, yang selalu ada disaat dibutuhkan, yang asyik untuk teman curhat, dan selalu nyambung kalau ngobrol. Itu salah satu tip yang diberikan oleh Abe. Dedi hanya cemberut saja. Dasar Abe! Aku bayar mahal-mahal hanya dikasih tip yang standar. Tip dari majalah. Sialan!! Batin Dedi kesal.

Dedi pun mencoba lebih agresif untuk mendekati Amel. Kalau dulu dia hanya berani duduk tiga baris dari Amel. Sekarang dia berani duduk sebaris dengan Amel tapi masih dipisahkan lima orang. Kalau dulu hanya berani menatap Amel dari jauh, sekarang dia sudah berani menyapa Amel. Kalau dulu dia hanya kenal teman-teman Amel sekarang dia sudah kenal sahabat dan keluarga Amel bahkan penjual sayur yang sering mangkal di depan rumah Amel pun dia kenal. Dan Amel memberi harapan untuk Dedi, dengan menanggapi kelakuan dan pedekate yang dilancarkan Dedi.

Dedi bersiul sambil menyisir rambutnya seperti model rambut Ariel. Dedi ingin tampil keren malam ini karena malam ini dia akan ke rumah  Amel. Parfum maskulinnya memenuhi kamar Dedi. Setelah yakin semuanya sudah sempurna Dedi pun berangkat ke rumah Amel.

Sesampainya Dedi di depan rumah Amel, Dedi tidak segera turun dari mobilnya. Dedi sedang berusaha menenangkan jantungnya yang berdegub kencang. Selama kuliah baru kali ini dia ke rumah cewek. Dan cewek itu adalah Amel. Keringat dingin pun keluar membasahi jidat Dedi.

“Ya Allah, ampuni dosa-dosaku eh salah berilah hamba kekuatan untuk mengajak Amel keluar” doa Dedi. Setelah berdoa dan menguatkan hati, Dedi pun turun dan memencet bel pintu rumah Amel. Tak lama kemudian tampak seorang laki-laki berumur lima puluh tahunan membuka pintu dan menyilahkan Dedi masuk ruang tamu. Sambil menunggu Amel keluar, Dedi membaca doa-doa untuk mengusir kecemasan dalam hatinya.

“Hai. Sudah lama menungggu?” tanya Amel

“Nggak, baru sebentar.” jawab Dedi sambil terpana melihat penampilan Amel. Amel tampil luar biasa cantik. Dedi sering mengagumi kecantikan Amel di kampus, tapi malam ini Amel berbeda dengan Amel di kampus. Malam ini, Amel benar-benar cantik luar biasa. Mereka pun keluar untuk kencan. Tentu saja setelah Dedi menaklukan Holder Amel yang paling galak yaitu papa Amel.

********************

Setelah beberapa minggu dekat dengan Amel. Dedi berniat mengatakan isi hatinya kepada Amel. Dedi tidak ingin acara sakral itu tidak ditempat yang spesial. Dedi membooking tempat di restauran yang terkenal romantis, Resto De Amor. Restoran ini terkenal karena keromantisannya sehingga cocok untuk menyatakan cinta atau bermesraan bagi pasangan yang sedang dilanda cinta.

Rencana Awal berjalan sesuai rencana. Dedi menjemput Amel tepat jam tujuh malam. Lalu membawa Amel jalan-jalan keliling menikmati kota Surabaya yang begitu indah di malam hari dan setelah 1 jam berputar-putar  akhirnya Dedi membawa Amel memasuki restauran De Amor. Ketika memasuki restoran tersebut, Amel tercengang. Dia tidak menyangka Dedi akan membawanya ke tempat seindah ini. Sebuah tempat makan yang dikelilingi lampu hias dan di depannya terdapat kolam ikan. Di sekeliling kolam tersebut terdapat tanaman hias yang mempercantik suasana tempat tersebut. Dan di ruangan tersebut hanya ada dia dan Dedi.

“Indah sekali tempat ini Ded.” puji Amel

“Memang indah. Seindah dirimu. Silahkan duduk dulu Mel.” Dedi menarik kursi dan menyilahkan Amel duduk. Amel tersenyum melihat sikap dan perlakuan romantis Dedi. Dedi sendiri duduk diseberang Amel.  Dedi lalu memegang kedua tangan Amel dan menatapnya lembut.

“Mel, Aku sangat mencintai dirimu. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu denganmu.” ucap Dedi langsung to the point.

“Mel, maukah kamu menjadi pacarku?” Dedi mengucapkan dengan hati-hati. Dia berharap Amel mengatakan iya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Bukannya kata yang keluar dari bibir manis Amel namun air mata yang mengucur deras dari kedua matanya yang indah. Tentu saja ini membuat bingung Dedi. Apakah cewek selalu menangis bila menerima pernyataan cinta? batin Dedi.

”Kenapa Mel? Apakah sudah ada cowok lain di hatimu?” tanya Dedi. Amel masih tetap menangis. Detak jantung Dedi makin tak menentu menunggu jawaban Amel

“Ded, aku benar-benar minta maaf karena selama ini membohongimu. Aku telah bersalah terhadapmu.”

“Bersalah? maksudmu apa, Mel?”

“Aku…aku sebenarnya sudah mencintai orang lain. Dan orang tersebut adalah Abe.” ucap Amel. Dedi tentu saja kaget mendengar hal itu.  Setahu Dedi, Abe adalah konsultan bukan saingannya. Dia memandang bingung ke Amel seolah minta penjelasan.

“Abe mau menerimaku dan menjadikan aku pacarnya dengan syarat aku mau jalan dan menemanimu. Waktu itu nggak ada masalah namun semua mulai berat setelah aku melihat betapa besar cintamu kepadaku. Aku tidak tahu kamu begitu mencintaiku. Maafkan aku…” Dedi terlihat lemas mendengar penjelasan Amel. Dia tidak menyangka Abe sekejam itu padanya. Pasti ada hal yang salah.

”Kenapa Abe berbuat ini padaku? Apa yang pernah kulakukan padanya sehingga dia begitu tega berbuat ini?”

”Memang kamu tidak menyakiti fisiknya tapi kamu menyakiti hatinya. Katanya sewaktu SMU dulu, kamu pernah menyakiti hati adiknya, Rani. Kamu membuat hati adiknya hancur lebur dan sampai sekarang Rani belum bisa melupakan perlakuannmu.” Kata Amel emosi.

“Rani? Rani siapa? SMU mana?”

“Rani Pramudya. SMU 27 Surabaya. Kelas 2-3.” Dedi mencoba berfikir keras tentang gadis yang dimaksud. Tiba-tiba Dedi menggebrak meja.

“Kurang ajar. Ini pasti kerjaan Doni, saudara kembarku.”

“Saudara kembarmu? Kamu punya saudara kembar?”

“Iya, dia bernama Doni. Dia sangat mirip denganku,maksudku bukan hanya fisiknya tapi semuanya kecuali satu hal, dia lebih agresif terhadap cewek. Doni dulu sekolah SMU di Surabaya, sedangkan aku di Semarang. Sekarang kami bertukar tempat, karena kita di terima kuliah ditempat berbeda. Ini kesalahpahaman, tapi nggak apa-apa. Aku tidak dendam denganmu. Aku terima semua perlakuanmu.” Amel terdiam. Dia masih belum percaya dengan semua yang dikatakan Dedi. Dedi menyadari hal tersebut. Dia keluarkan dompetnya dan menunjukan fotonya dan Doni kepada Amel. Baru setelah itu Amel percaya.

“Ded, apakah kamu marah padaku?”

”Oh, tidak. Aku tidak marah dengan kamu Aku juga berterima kasih kepada Abe yang telah membuat kepercayaan diriku pulih.. Nanti aku akan menjelaskan ini padanya sekalian melihat Rani. Oh, iya makan malam ini aku ubah menjadi acara makan-makan biasa. Nggak apa-apa kan” Amel menggeleng pelan. Kemudian Dedi mengangkat gelas dan mengajak Amel toast. Amel merasa tidak enak dengan Dedi

Dedi sudah tidak menggubris perasaannya terhadap Amel. Dia sudah membuang jauh-jauh perasaannya terhadap Amel. Kali ini dia lebih berfikir kepada Rani, korban playboy adik kembarnya.

Amel semakin resah dengan hatinya. Dia sedang menahan hatinya yang menyuruhnya mengatakan hal jujur kepada Dedi. Hal yang membuat tidurnya resah akhir-akhir ini.

Surabaya, 14 Desember 2005

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: