Senyuman Terindah Bagiku


“Bulan september, bulan yang sama kukeluarkan sebagai bentuk kekesalanku atas penghianatan cinta orang yang kucintai. Ternyata memaintaince cinta itu butuh pengorbanan yang luar biasa. Jadi bisakah kita membuat pasangan kita tidak berpaling? Itu tergantung anda dan sifat pasangan anda. Kalo tipe peselingkuh, buat apa anda pertahankan. Tendang saja mereka jauh-jauh dari kehidupan anda.” Em En Rizal.


Senyuman Terindah Bagiku


 

“Hai, say…baru selesai kuliahnya? Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?“ tanya Imong ketika Mita baru saja keluar dari kampusnya.

“Aku lagi bete, lebih baik kita pulang saja. Aku mau tidur!” jawab Mita singkat.

“Oke deh..” kata Imong sambil tersenyum. Mereka berdua segera menuju parkiran  dan langsung meninggalkan kampus Mita.

Sepanjang perjalanan, Imong selalu menceritakan cerita-cerita lucu. Awalnya sih Mita diam saja namun lama kelamaan dia tertawa juga melihat gurauan-gurauan yang dikeluarkan Imong. Imong senang bisa membuat Mita tersenyum dan tertawa lagi.

“Gitu dong say..kan tambah cantik kalau tersenyum.” puji Imong.

“Tau ah..” ucap Mita pura-pura gondok. Imong hanya tersenyum saja melihat sikap Mita. Imong dan Mita sudah enam bulan ini jadian. Berbagai rintangan datang silih berganti dan sampai sekarang mereka masih bisa bertahan.

Mita merupakan cewek cantik idaman Imong selama ini. Namun sayang, Mita sering jutek di hadapan Imong. Tak jarang Imong di jadikan sasaran pelampiasan kekesalan-kekesalan Mita. Namun Imong tetap sabar. Imong tahu saat dulu Mita menerimanya jadi pacar, Mita belum suka 100% bahkan mungkin hanya 40% saja.

Imong berfikir, batu saja bisa habis terkikis air yang mengalir secara terus menerus apalagi hati yang jelas-jelas lebih lembek dari batu. Pemikiran inilah-yang belum jelas siapa yang buat-membuat Imong bertahan dengan Mita sampai sekarang.

“Nanti malam kita keluar yuk? Ke kafe atau kemana gitu, biar kamu nggak sumpek? Gimana?” tanya Imong ketika Mita mau keluar dari mobil.

“Ehm…aku nggak bisa. Besok aku ada ujian jadi aku mau belajar malam ini.” tolak  Mita halus. Imong pun menghela nafas pelan. Mita tak peduli dengan perubahan wajah Imong. Dengan cuek Mita segera keluar dari mobil Imong tanpa menoleh sedikitpun bahkan untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Imong maklum karena memang seperti itu kelakuan Mita, tidak pernah mengucapkan terima kasih dan hanya menganggap Imong seperti seorang supir.

“Kapankah kamu bisa menerimaku Mit? Kapankah kamu bisa mencintaiku? Kapan?” kata Imong pelan. Pertanyaan yang hanya Mita yang bisa menjawabnya. Imong pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Mita.

****************

Tyo memandang sahabatnya yang sedang suntuk dengan perasaan sedih. Sejak jadian sama Mita, Imong menjadi suka marah, melamun, dan kadang-kadang bicara tidak jelas. Berbeda dengan Imong yang dikenalnya dahulu. Tapi setiap Imong dihadapan Mita, Imong berubah menjadi baik, ramah, humoris dan perhatian. Tyo tahu sebab perubahan itu. Dan Tyo sudah menasihati Imong berkali-kali agar menjadi diri sendiri, namun nasehat-nasehat Tyo seperti angin lalu bagi Imong.

“Mong, ini sudah keterlaluan. Ini sudah kelewat batas. Aku hanya kasihan sama kamu yang selalu direndahkan sama Mita. Kalau cewek sudah menunjukkan sikap seperti itu, tandanya dia minta putus! PUTUS!! “ ucap Tyo kehabisan kesabaran. Dia sudah jengkel dengan sikap lembek Imong serta perlakuan Mita yang makin kelewatan.

“Aku tahu, tapi aku tidak ingin putus dengannya, aku mencintainya.”

“Tapi apa dia mencintaimu? Kalau iya, dari dulu kamu sudah bahagia. Tidak seperti sekarang!!. Kamu cuma jadi supir dan alas kakinya. Aku sebagai sahabatmu tidak ingin kamu seperti itu. Masih banyak cewek yang masih mau sam kamu, bukan dia saja.”

“Cukup Yo!! Jangan berkata aneh lagi, aku kesini mau mendinginkan kepala bukan untuk dikuliahi.” ucap Imong marah.

“Terserah, aku lebih baik mengkuliahimu daripada kamu tidak sadar-sadar juga kalau kamu diperalat. Kalau kamu nggak percaya kamu datang malam ini ke rumahnya. Dia pasti sedang bersenang-senang dengan cowok lain. Aku dengar dia pacaran dengan cowok lain dibelakangmu alias selingkuh!!” kata Tyo bernada tinggi.

“APA!! Kamu sekarang malah memfitnahnya. Sekali lagi kamu menjelek-jelekkannya akan kuhajar kamu” ancam Imong.

“Putusin aja dia Mong. Aku tidak ingin sahabatku jadi hancur gara-gara pelacur laknat itu…” ujar Tyo tanpa memperdulikan ancaman Imong.

PLAK!!! sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Tyo. Tyo jadi kalap. Dia balas tamparan Imong dengan sebuah pukulan dan dorongnya Imong ke dinding kamarnya.

“PERGI DARI KAMARKU!! buktikan kata-kataku.” usir Tyo. Imong bergegas keluar sambil membanting pintu kamar Tyo.

********************

Imong memarkir mobilnya agak jauh dari rumah Mita, tapi masih tetap bisa mengamati setiap pergerakan Mita. Setelah menunggu hampir satu jam Imong melihat sebuah sepeda motor Kawasaki Ninja berwarna hijau memasuki halaman rumah Mita. Jantung Imong berdegup kencang. Seorang cowok berambut gondrong bergaya Jerry Yan, salah satu personel F4, turun dari sepeda motor tersebut. Imong menajamkan penglihatannya agar lebih jelas melihat cowok tersebut.

“Ya amplop.. Abi !! ngapaian dia ke rumah Mita. Oh iya, dia kan sobatnya Mita, dan besok mereka mau ujian. Pasti mereka janjian untuk belajar bersama-sama. Dasar Tyo!! Gara-gara omongannya aku jadi berfikiran yang tidak-tidak tentang Mita.” ucap Imong pelan. Imong pun tersenyum senang karena bayangan buruk tentang Mita selingkuh tidak terjadi. Imong pun bersiap-siap hendak menghidupkan mobilnya.

Namun pemandangan yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat Imong terkejut. Mita keluar dengan baju seksi, suatu hal yang belum pernah dilihatnya walaupun sudah berkali-kali mengajaknya keluar. Mita mencium kedua pipi Abi dan memeluknya dengan mesra. Imong benar-benar kaget. Mita memeluk mesra Abi, aku saja sebagai cowoknya belum pernah dipeluk semesra itu tapi Abi yang cuma sahabatnya bisa dipeluk semesra itu. Gila!! Batin Imong.

Dan oh…Imong tidak bisa melihat adegan selanjutnya. Imong memalingkan mukanya karena saat itu gantian Mita yang  dicium Abi!! DICIUM DI BIBIR!! Hati Imong seperti api yang membakar lahan kering di musim kemarau. Cepat dan besar.

Abi dan Mita pun segara pergi meninggalkan rumah Mita. Imong dengan hati penuh amarah mengikutinya dari belakang. Untung saja imong sudah menukar mobilnya dengan mobil Rizki untuk pengintaian malam ini, sehingga Mita atau Abi tidak akan curiga kalau sedang dibuntuti.

Sepanjang perjalanan Mita memeluk erat Abi dan kelihatan sekali kalau Mita sangat menikmati perjalanan itu. Sungguh kontradiksi saat Mita jalan bareng dengan Imong.  Dan juga sepanjang jalan Imong menahan dirinya agar tidak menabrak pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.

Setelah setengah jam mengikuti  pasangan itu, akhirnya mereka berhenti di sebuah kafe. Kafe Cirle. Abi dan Mita turun dan menyapa orang-orang disana. Kemudian mereka masuk ke dalam.

Imong segera memarkir mobilnya. Imong sudah tidak sabar ingin segera menghajar Abi dan menampar pipi Mita berkali-kali.

“Maaf pak. Dua teman saya, yang tadi naik Kawasaki, apa sudah masuk kedalam?” tanya Imong pada tukang parkir disitu.

“Maksudnya Mas Abi dan Mbak Mita? Mereka baru saja masuk. Mas ini temannya ya? Kok nggak pernah lihat?” tanya tukang parkir itu.

“Iya, teman jauh. Aku dari Surabaya pak. Mereka sering main kesini ya pak? Kok sepertinya bapak sudah kenal baik sama mereka?”

“Oh iya Mas. Hampir tiap hari mereka kesini. Mereka berdua pasangan yang sangat romantis. Banyak lo anak-anak yang mengidolakan mereka. Seperti Rama dan Sinta katanya hehe” ucap tukang parkir itu sambil tertawa. Imong benar-benar ingin menampar mulut tukang parkir tersebut. Tapi Imong masih berusaha bersabar. Dia ingin menumpahkannya di hadapan pasangan mesum itu eh pasangan yang menurut tukang parkir itu sangat romantis.

“Oke pak. Aku mau masuk dulu.” Imong pun bergegas masuk untuk menemui Mita. Imong mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari Mita dan Abi. Dan Imong menemukan target sedang bermesraan di sudut ruangan. Rasanya Imong ingin cepat-cepat melayangkan tinjunya kepada dua orang paling dibencinya saat ini.

Namun tiba-tiba muncul semacam kekuatan yang menahannya. Terlintas di pikirannya saat-saat Mita dan dirinya berduaan, saat dia menghiburnya, dan saat-saat dia dimarahi Mita. Mita memang tertawa bersamanya. Namun wajah ceria Mita berbeda jauh dengan wajah ?Mita sekarang. Wajah Mita sekarang begitu senang, begitu cantik, dan wajah inilah yang membuat Imong jatuh cinta kepada Mita. Imong merenungkan hubungannya dengan Mita selama ini dan dia baru tersadar bahwa saat Mita tersenyum dan tertawa bersamanya saat itu Abi berada diantara mereka.

“Oh My God…kenapa aku baru sadar sekarang. Mita sebenarnya sayang Abi dari dulu. Justru akulah penghalang mereka bukan Abi.” ucap Imong bergetar. Imong melihat sekali lagi wajah Mita yang tertawa ceria sekali. Wajah yang selama ini diimpikan Imong. Wajah yang selalu membuat Imong bertekuk lutuk. Dan setelah enam bulan berpacaran, malam ini Imong baru melihat keceriaan itu lagi. Dan ironisnya Imong melihatnya saat Mita bersama dengan cowok lain, bukan dirinya.

*********************

“Sayang…nih aku suapin.” kata Mita penuh perhatian. Abi pun memakannya dengan lahap. Mata mereka saling berpandangan cukup lama. Mereka memang pasangan yang romantis seperti kata tukang parkir. Tiba-tiba Mita mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk karena dari tadi dia merasakan ada sesorang yang mengamatinya. Dan oh…Mita terhenyak. Mita tiba-tiba merasakan tenggorokannya kering, paru-parunya sesak dan aliran arahnya serasa berhenti.

“Kenapa Say? Kamu tersedak? Minum dulu nih” kata Abi sambil memberikan gelas minuman ke Mita. Namun Mita tidak menerima gelas itu melainkan segera berdiri dan berlari menuju pintu keluar. Ditabraknya pelayan yang sedang membawa nampan berisi minuman. Minuman itu jatuh, pecah dan berserakan di lantai Namun Mita tidak peduli lagi, dia tetap berlari secepat mungkin untuk mengejar sesuatu.

“Pak…pak..” ucap Mita ngos-ngosan.” Tadi ada cowok baju hitam bertuliskan NY keluar kafe pak?”

“Iya Mbak Mita, katanya itu temannya mbak Mita dari Surabaya. Barusan aja orangnya pulang Mbak. Dan dia menitipkan ini pada Mbak.” tukang parkir itu memberikan sebuah gantungan kunci dan sebuah surat.

Mita mengamati gantungan kunci itu. Oh Tuhan, ini gantungan kunci yang kuberikan darinya dan tidak pernah dia tinggal sembarangan. Apa artinya semua ini. Batin Mita. Mita pun segera membuka kertas yang diberikan tukang parkir dan membaca tulisan didalamnya. Mita terdiam terpaku.

Abi datang tergopoh-gopoh dari belakang. Dia khawatir kalau terjadi apa-apa dengan Mita.

“Ada apa Say? Ada seseorang yang mengganggumu?” tanya Abi. Mita diam saja sambil tetap memegangi dua benda itu. Abi paham bahwa dua benda inilah yang menyebabkan Mita lari penuh kepanikan keluar dari kafe. Abi pun mengambil kertas itu dari tangan Mita kemudian membacanya.

 

Tuk : bidadariku

Aku senang sekali melihat wajahmu malam ini. Aku senang karena sudah sekian lama aku tidak melihatmu sebahagia malam ini. Aku rela melakukan apa saja untuk membuatmu sebahagia malam ini. Kebahagiaan yang selalu ada di wajahmu seperti malam inilah yang membuatku jatuh  cinta saat pertama kali aku melihatmu. Dan demi wajah bahagiamu ini aku rela melakukan apa saja termasuk merelakanmu dimiliki orang lain. Aku rela…demi kegembiraanmu untuk malam-malam seterusnya sepanjang hidupmu.

Mantan pacarmu yang akan tetap selalu memujamu dari jauh.

 

Surabaya,14 September 2006

MN.Rizal

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: