Citra, aku takut…!


“Kisah ini kutulis bulan september 2006, saat melihat beberapa rekan kerjaku melakukan pekerjaan sampingan yang “hot”. Setelah lebih dari empat tahun, aku menemukan aktivitas  yang membuat kepalaku bergeleng-geleng itu, ternyata sekarang makin buaaanyaaak aku menemukan aktivitas hot itu makin membudaya. Jadi siapkah anda menerima budaya baru itu?”Em En Rizal.


Citra, aku takut…!


 

Leksa berdiri dengan cemas di gerbang sekolah. Berkali-kali Leksa menengok ke dalam gedung sekolahannya. Namun sesuatu yang ditunggunya belum muncul juga. Sepertinya sesuatu yang sangat penting sekali sehingga Leksa menunda kepulangannya.

Dari dalam kelas II-3 muncul seorang cewek cantik bahkan bisa dibilang seksi walaupun hanya dengan seragam SMU yang dimodifikasi “apik” sekali. Roknya benar-benar menggoda iman laki-laki sehingga mereka mengamini kalau pemandangan di dalamnya jauh lebih indah lagi. Cewek itu berjalan bak seorang putri yang sedang pamer kecantikan di depan para pangeran. Makin lama makin dekatlah Leksa dengan cewek cantik itu.

“Hai, leks. sudah lama ? ada apa kamu mau menemuiku?” tanya cewek cantik tersebut ketika sampai di depan Leksa.

“Emm…ini tentang tawaranmu minggu lalu. Apakah masih berlaku Cit?” Tanya Leksa ragu-ragu.

“Ehm, masih kok. Tapi kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran. Dulu kamu seolah mendengar halilintar saat kutawarkan hal itu padamu, tetapi kenapa sekarang tidak? Apa ada sesuatu yang menimpa dirimu?” tanya Citra, nama cewek cantik itu.

“Aku butuh uang untuk mengganti laptop milik Tessa yang kurusakkan kemarin. Aku harus menggantinya dalam minggu ini, sedangkan aku tidak mempunyai uang sama sekali. Aku butuh sekali bantuanmu, Cit?”

“Leks, kita bicara di mobil saja. Aku tidak ingin hal ini didengarkan orang lain. Ayo!” ajak Citra yang langsung berjalan menuju mobil VW kodok warna kuning yang terparkir di bawah pohon mangga. Leksa mengikutinya dari belakang sambil menengok ke  kanan kiri.

Citra membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam untuk meletakkan tas sekolahnya. Leksa masuk lewat pintu satunya. Begitu masuk Leksa disuguhi pemandangan yang hebat. Interior Mobil yang feminim, bersih, dan banyak aksesoris lucu. Leksa terkagum-kagum dengan aksesoris itu. Benar-benar mobil yang sangat ia idam-idamkan.

“Ini semua kamu beli sendiri?”

“Iya, bahkan mobil ini. Aku mendapatkan semua yang kuinginkan dengan uang hasil jerih payahku. Aku sudah tidak perlu orang tua untuk membiayai hidupku.” ucap Citra dingin. Leksa menangkap sebuah kegetiran dalam nada bicara Citra.

“Leks, kamu sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Citra.

“Eh…aduh gimana ya? Iya aku yakin. Tapi cuma menemani kan? tidak lebih?” kata Leksa gugup.

“Iya, tidak lebih. Tapi ini tidak segampang yang kamu kira. Pekerjaan ini juga ada resiko tak terduga dan juga butuh mental yang kuat. Kalau motivasimu hanya demi uang, lebih baik jangan! Karena aku yakin kamu akan menyesal nantinya.”

“Kamu ini bagaimana sih Cit? Dulu kamu yang mengiming-imingku dengan uang, sekarang, kamu malah melarangku demi uang!”

“Bukan begitu Leks, aku dulu menganggapmu hanya cewek biasa yang akan berubah setelah melihat uang. Waktu itu aku belum terlalu mengenalmu. Namun setelah lebih dalam mengenalmu, dan mengetahui kamu berbeda dengan cewek-cewek yang lainnya. Aku merubah penilaianku terhadapmu. Kamu satu-satunya cewek yang menerimaku sebagai teman tanpa memperdulikan latar belakangku.”

“Leks…” lanjut Citra “Aku menyukai dirimu. Aku suka karena kamu baik. Aku sangat menghargai temanku. Aku tidak ingin kamu merasakan kepahitan yang kurasakan.”

“Kepahitan? Kepahitan bagaimana?” Leksa menangkap ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sinta.

“Kepahitan karena harus melayani orang yang tidak kita kenal, tidak kita cintai namun kita harus mengenal dan melayani mereka sebaik-baiknya.”

“Oh itu tidak masalah bagiku. Toh aku cuma menemani mereka aja. Bagiku tidak apa-apa asal aku dapat uang.”

“Iya, itu juga tergantung sikap kamu. Dulu aku juga bersikeras tidak akan melakukan perbuatan hina itu, namun itu hanya tekad di bibir saja. Aku telah lama melupakannya.”

“Maksudmu, kamu juga melayani mereka dengan tubuhmu?” tanya Leksa terkejut. Inilah yang dia takutkan. Dan ternyata Citra melakukannya sepeti gosip yang beredar di sekolahannya. Ini merupakan fakta yang berat bagi Leksa. Hatinya kembali goyah.

“Cit, Aku mau bertanya satu hal. Apakah ini terjadi karena memang kamu yang melayani mereka atau ada hal lain?” tanya Leksa mencoba mencari pembenaran untuk dirinya. Citra terdiam, ada semacam kenangan pahit melintas di otaknya. Kenangan tentang kehilangan keperawanannya.

“Aku saat itu kehilangan kendali. Orang itu sangat tampan, lucu dan membuatku terpikat. Ini baru pertama kalinya aku terpikat oleh klienku. Aku menuruti apapun yang diinginkannya sampai akhirnya kurelakan keperawananku untuknya. Namun itu ternyata membuatku kecanduan, selain itu memang ada faktor kesenangan dan kemewahan di belakangnya.”

“Kenapa kamu tidak berhenti saja. Toh uang tidak terlalu penting buatmu sekarang. Kamu sekarang sudah punya segalanya. Untuk apa kamu masih menjalani bisnis tubuh ini, Cit?”

“Ha ha ha aku melakukan ini karena aku suka kesenangan dan kemewahan yang datang bersamanya. Dan aku tidak mau meniinggalkannya dalam waktu dekat ini, dan ke depannya aku tidak tahu lagi.” Citra menghembuskan nafasnya dengan pelan. Pandangan matanya jauh menatap ke depan namun pandangan hatinya telah jauh terbang ke awan

“Nah Leks” lanjut Citra “Setelah kamu mengetahui resikonya, apakah kamu tetap ingin menerima pekerjaan ini ?” tanya Citra serius.

“Aku tidak mau melakukannya. Aku yakin bisa menahan hatiku namun aku tidak yakin bisa menahan hasrat laki-laki hidung belang yang mengencaniku.  Aku tidak berani mengambil resiko yang besar itu, sorry Cit!” ucap Leksa dengan nada sedih.

“Tidak berani? Justru aku yakin kamu akan kuat bahkan menjadi paling kuat diantara rekan-rekan seprofesiku. Aku melihat keteguhan hati di matamu. Dan aku yakin kamu akan menjalani prosedur pelayanan yang benar. Bagaimana?” Citra malah mencoba menyakinkan Leksa untuk terus maju.

“Tapi aku takut tidak bisa menahan nafsuku, dan aku juga takut tidak bisa berhenti.”

“Kenapa berhenti? Ini mengasyikan. Kita bisa mendapatkan banyak uang hanya dengan menemani orang-orang yang kelebihan duit. Kita menggantikan fungsi istrinya untuk menjadi sampah keseharian mereka, dan itu suatu pekerjaan yang mudah kan?” Lagi-lagi kata-kata Citra membuat Leksa bimbang. Leksa tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi dia ingin mendapatkan cara memperoleh uang dengan cepat untuk mengganti laptop Tessa yang dia rusakkan. Di sisi lain dia juga tidak berani menjamin dia akan kuat menghadapi rayuan setan.

“Kamu masih takut akan hinaan dan cacian orang? Itu resiko Leks. Biarkan mereka bicara apapun tentang kita yang penting kita enjoy. Mereka  iri dengan kita yang dengan mudah mendapatkan uang. Mereka tidak tahu betapa susahnya kita mengumpulkan uang ini. Dalam kota metropolis ini, uang adalah nomor satu, pendapat orang lain itu nomor sekian.”

Leksa masih terdiam. Pikirannya sedang ruwet sedangkan hatinya saling bertengkar. Citra benar-benar kejam dengan memberikannya pilihan yang sulit. Padahal dia tadi sudah yakin 999% untuk menjalani profesi baru ini. Leksa memandang bingung kearah Citra. Citra memahami kegaluhan hati Leksa. Dia menarik nafas panjang.

“Leks, Aku tadi hanya memberikan fakta sebenarnya tentang kejamnya duniaku. Dan aku yakin 100% kamu tidak akan bisa kuat bertahan di duniaku. Aku senang sudah kamu anggap sebagai teman. Dan aku ingin kita tetap berteman karena aku juga mahluk sosial yang juga butuh teman. Dan sebagai temanmu, akan kubelikan laptop baru untuk mengganti punya Tessa. Jangan sungkan atau mengucapkan terima kasih. Ini semua kulakukan karena kita teman. Sudah yuk kita pulang aja. Sudah sore nih. Aku juga harus siap-siap kerja.” Citra tersenyum manis sekali. Leksa tisak menyangka ternyata temannya ini mempunyai hati malaikat, yah walau pun itu hanya untuk dirinya. Tapi dia beruntung mempunyai teman seperti Citra.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: