Belajar dari Para Kreator


inovasi sangat penting dalam bisnis. Tidak percaya? Aple, IDEO, dan P&G, telah membuktikannya. Dengan kreatifitas yang tidak terbatas mereka menumbuhkan perusahaannya makin besar dan besar. Membuat pesaingnya malu dan terluka. Mau tau lebih lanjut? Simak saja artikel dibawah ini.”

 

 

Belajar dari Para Kreator

oleh : Teguh Sri Pambudi

 

Apple, Pixar, IDEO dan P&G adalah gudangnya kreativitas dan inovasi. Bagaimana mereka melakukannya? MacIntosh, iPod, iPhone, iTunes dan, yang teranyar, iPad. Tak salah bila dikatakan bahwa Apple membuat semua produk itu terlihat keren dan indah. Desainnya yang cantik hingga peranti lunaknya yang intuitif seakan-akan menjadi ciri khas produk-produk Apple. Bukan hanya itu, Apple juga secara konsisten meredefinisi pasar untuk produk-produknya itu sehingga membuat kompetitornya sering dibuat malu dan tampak ketinggalan zaman. Lantas, apa rahasianya sehingga perusahaan ini begitu kreatif dan inovatif?

 

Anda memerlukan product-oriented culture” kata Steve Jobs dalam satu wawancara dengan BusinessWeek beberapa waktu lalu. Menurutnya, banyak perusahaan yang memiliki teknisi hebat dan orang-orang cerdas. Namun pada akhirnya, harus ada kekuatan gravitasional yang akan menarik itu semua. Sebab, kalau kekuatan itu tidak ada, semua teknologi itu seakan melayang-layang di udara, tak ada yang membumi. Jadi, siapa yang jadi kekuatan gravitasional itu?

 

Para pemimpin, tentu saja. Namun, Jobs juga menekankan perlunya orang yang memahami apa yang diinginkan pasar sehingga teknologi bisa membumi. “The sales guy” katanya seraya menunjuk dirinya. Lalu, dia pun merujuk Microsoft di mana Steve Ballmer adalah orang yang menjadi kekuatan gravitasional di tubuh perusahaan itu. Ballmer diyakini menjadi motor perkembangan Microsoft di samping Bill Gates yang techie. Pengalaman Ballmer di duniat ritel membuat Microsoft bisa merajai produk peranti lunak massal.

 

Orang yang mampu menghimpun kekuatan-kekuatan kreatif adalah faktor penting di Apple. Akan tetapi, inovasi dan kreativitas di perusahaan ini berangkat dari filosofi yang dipegang Jobs. “Semakin saya beranjak dewasa dan tua, saya semakin yakin bahwa motif akan menciptakan perbedaan.” katanya. Dalam urusan personal computer (PC), misalnya. “Hewlett-Packard punya tujuan utama, make great products, Tujuan utama kami adalah to make the world’s best PC, bukan menjadi the biggest atau the richest,.” katanya menegaskan.

 

Karena ingin menciptakan yang terbaik, Jobs mengungkap bahwa dirinya selalu berupaya
menarik orang-orang terbaik. Orang-orang yang dikatakannya , ingin membuat the best things in the world
. Menurutnya, publik akan terkejut bila mengetahui bagaimana passion karyawan Apple dalam menciptakan produk bermutu. “Anda akan terkejut mengetahui betapa bekerja kerasnya orang-orang di Apple. Mereka bekerja di malam hari dan di akhir pekan. Kadang mereka tidak melihat keluarga untuk sementara waktu. Malah saat Natal masih ada yang kerja agar produk kami berkualitas,” ujarnya panjang lebar.

 

Sikap Jobs tak hanya dipraktikkan di Apple. Di Pixar pun demikian. Jobs mengundang Brad Bird bergabung ke Pixar di tahun 2000. Ketika itu Pixar tengah berjaya dengan film animasinya yang sukses besar: Toy Story, A Bug Life dan Toy Story 2. Khawatir akan terjadi sindrom berpuas diri (complacency), Jobs mengandalkan Bird yang sebelumnya malang- melintang di Walt Disney, Warner Brothers dan FOX dengan karyanya yang terkenal, The Iron Giant dan The Simpsons.

 

Satu-satunya yang kami khawatirkan adalah sikap berpuas diri. Kami meminta Anda menggoyang kondisi di sini,” kata Jobs yang didamping eksekutif Pixar lainnya, Ed Catmull dan John Lasseter. Kalimat itu mengesankan Bird sehingga dia bergabung dengan Pixar. Tugasnya jelas: menggoyang rasa puas awak Pixar yang tengah berada di langit ketujuh.

 

Proyek pertama Bird adalah The Incredibles. Awalnya, proyek ini dianggap tim teknis Pixar berbiaya kelewat mahal dan makan waktu lama. Bird pun bilang, “Oke, beri saya kambing hitam. Saya ingin seniman-seniman yang frustrasi. Saya ingin orang yang punya cara mewujudkan ini, punya cara yang mungkin tak didengar orang. Beri saya orang-orang yang mungkin sudah ingin keluar dari perusahaan.

 

Bird mendapat apa yang dimintanya. Mereka berkreasi, berkolaborasi mewujudkan The Incredibles yang tak kalah larisnya dibanding film Pixar sebelumnya, Finding Nemo. “Langkah pertama untuk meraih sesuatu yang dianggap tak mungkin adalah percaya bahwa sesuatu yang mustahil dapat kita raih,” katanya. Tak lama kemudian, Bird melahirkan Ratatouille yang sukses menyabet Oscar.

 

Seperti halnya di Apple, kultur kreatif amat ditumbuhkan di Pixar. Di area animasi, misalnya, orang-orang didorong menciptakan apa yang mereka inginkan ada di kantornya. Ada yang membuat suasana zaman koboi, ada yang mirip Hawaii. John Lasseter percaya bahwa atmosfer yang longgar, yang bebas, akan menolong kreativitas.

 

Jobs sendiri mendesain kantor Pixar dengan atmosfer seperti itu. Di tengah gedung, dia membuat atrium yang sepertinya membuang tempat. Namun, di sinilah tempat bertemu orang software, animasi dan desain. Jobs juga menyediakan ruang rapat, kafetaria, dan bahkan kamar mandi. Lantas, bagaimana Job melakukan sistematisasi terhadap kreativitas dan inovasi di perusahaannya, Apple dan Pixar?

 

The system is that there is no system.” katanya ringan. Maksudnya? “Apple adalah perusahaan yang sangat disiplin, dan kami punya proses yang hebat. Tapi intinya bukan hanya itu. Proses memang membuat Anda menjadi lebih efisien. Namun, inovasi datang dari orang yang bertemu di tengah gedung atau saling menelepon pada pukul 22.30 dengan melontarkan gagasan baru, atau ketika mereka menyadari sesuatu yang bisa menjadi solusi.” ujarnya menjelaskan. Jadi, dalam waktu 24 jam, orang-orang Apple dan Pixar didorong terus berkreasi dan berinovasi.

 

Di tempat lain, IDEO, gaya totalitas dalam berkreasi dan berinovasi juga diterapkan. Pernah dengar IDEO? IDEO adalah perusahaan yang sering dijuluki pabrik kreativitas. Sekitar 350 karyawannya bekerja dalam jaringan yang terentang dari San Francisco, London hingga Tokyo untuk menghasilkan lebih dari 100 desain produk baru setiap tahun. IDEO terkenal dengan desain produk yang berangkat dari visi yang brilian, yang kemudian diimplementasikan di beragam arena: mouse komputer, laptop, hingga tube pasta gigi. IDEO membantu mendesain kamera I-Zone Polaroid, Palm V organizer, sikat gigi Oral-B hingga robot ikan paus dalam film Free Willy. Dalam lima tahun terakhir, IDEO bahkan masuk ke sisi lain dalam perusahaan, misalnya membantu merampingkan sistem operasional McDonald’s yang disebut Made for You dengan memangkas sejumlah proses. Sejumlah perusahaan besar mengalihdayakan desain produknya ke IDEO dan menjadi kliennya seperti McDonald, Pepsi-Cola dan Steelcase International.

 

Bagaimana IDEO bisa melakukan itu? “Hingga inovasi mencapai pasar, maka tidak ada nilainya buat bisnis.” Presiden IDEO Tim Brown memaparkan filosofinya. Berangkat dari hal tersebut, dia menyebarkan keyakinan kepada awak organisasinya bahwa untuk bisa melakukan inovasi, “Anda harus berdiri di atas sepatu pelanggan”. Artinya? Berangkatlah dari observasi di lapangan, pelajarilah apa yang dilakukan pelanggan suatu produk atau jasa. Lihat kebiasaan mereka.

 

Itulah yang dilakukan IDEO ketika mereka menerima permintaan klien untuk dibuatkan sebuah desain produk yang akan dijual ke pelanggannya. Awak IDEO akan mengamati pelanggan sang klien untuk mempelajari kebiasaan dan aspirasi mereka. Dari sinilah kemudian muncul ide-ide dalam sesi brainstorming.

 

Brainstorming adalah “agama” di tubuh IDEO. Tom Kelley, GM IDEO, menyebut sesi ini sebagai “the idea engine of IDEO culture”. Mereka sepakat dengan pemenang Nobel, Linus Pauling, yang menyatakan, “The best way to get a good idea is to get a lot of ideas.” Dan di IDEO, justru aneh bila dalam 60 menit brainstorming hanya didapat 100 ide. Harus lebih dari itu. Biasanya mereka akan mencorat-coret ide di papan tulis.

 

Saking pentingnya brainstorming, di IDEO dibuatkan waktu khusus untuk itu, yakni Jumat sore yang disebut “show-and-tell sessions.” Di sini, peserta didorong mempraktikkan dua filosofi penting IDEO: “tak ada yang tak bisa dikembangkan” dan “build to learn”, jangan pernah berhenti mencipta dan mencari jawaban.

 

Setelah brainstorming, mereka masuk ke tahap membuat prototipe dari foam, plastik atau kayu. Di IDEO, ada keyakinan: gambar berharga lebih dari ribuan kata, dan prototipe yang bagus lebih berharga daripada ribuan foto. Setelah itu, barulah dikirim ke klien.

 

Apa yang dipraktikkan di IDEO juga diterapkan di P&G. Mereka menyebutnya integrating innovation. Salah satu perusahaan inovatif dunia ini memiliki product-launch model: dari ide, ke prototipe, pengembangan, kualifikasi dan akhirnya komersialisasi. P&G terus melakukan adjustment dan judgment untuk setiap tahap. Hal ini krusial karena sebagai perusahaan global, P&G harus memperhatikan kemungkinan direplikasi di banyak lokasi.

 

Selain inovasi internal, P&G piawai dalam urusan menciptakan kolaborasi kreativitas dengan publik global, yakni lewat program P&G Connect+Develop. “Together, we can create more value than we ever could alone. Whether you have a world-class innovation to share or a sizable business that is interested in accessing P&G’s innovation assets, we want to be your partner of choice.” Itulah yang ditawarkan manajemen P&G kepada seluruh penghuni bumi lewat program “Proctor & Gamble’s Connect + Develop.”

 

Program tersebut dimunculkan tahun 2000 oleh CEO P&G, A.G. Lafley. Ketika itu, Lafley mengungkapkan bahwa nantinya lebih dari 50% inovasi produk dan teknologi di tubuh P&G akan datang dari lingkungan eksternal. Pada saat itu, baru 15% inovasi datang dari pihak luar. Lewat program ini, P&G menawarkan kepada siapa saja untuk mengusulkan inovasi pada beberapa hal seperti kemasan, desain, distribusi, model bisnis, model pemasaran, metode riset konsumer, trademark licensing, bahkan riset teknologi. Ide yang datang akan diolah oleh tim P&G.

 

Sejatinya, P&G mampu melakukan hal-hal di atas. Maklum, ia memiliki fasilitas kuat dan lengkap. Di antaranya, 28 fasilitas riset & pengembangan di empat benua. Namun, karena menyadari tidak selalu mengetahui apa sesungguhnya yang dibutuhkan pelanggan, dibuatlah program itu. Hasilnya?

 

Sungguh memuaskan. Dengan prinsip “Be open to all kinds of partnerships even with competitors” lahir sejumlah inovasi. Di antaranya, teknologi Impress. Ini adalah teknologi plastic food wrap yang sangat bermanfaat untuk kemasan produk.

 

Tak terbatas pada gagasan pengembangan produk, P&G juga membuka pintu buat inovasi bersama di sisi pemasaran, misalnya gagasan bagaimana meningkatkan angka penjualan produk P&G. “No matter what your business category or function is, there may be an opportunity for us to work together.” Begitulah yang ditawarkan P&G. Dan terbukti, cara ini membantu perusahaan ini tumbuh mengesankan.

 

Apa yang bisa dipelajari dari perusahaan-perusahaan di atas? Inovasi dan kreativitas tumbuh di tempat yang menghargai budaya melahirkan gagasan dan solusi. Dan, peran pemimpin sebagai kekuatan gravitasional amat signifikan.

Riset: Rachmanto Aris D.

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: