Ada Apa denganmu, Palm?


Hidup itu kadang diatas kadang dibawah. Ini berlaku juga buat perusahaan. Kadang mereka besar dan menguasai pasar, selang beberapa tahun kemudian bisa amblis dan tidak terdengar gaungnya lagi. Kenapa bisa begitu? Kuncinya satu, selalu perhatikan sekelilingmu dan inovasi tiada henti.” Em En Rizal

 

Ada Apa denganmu, Palm?

oleh : Daniel Hadinata Saputra

 

Setelah Japan Airlines, dunia bisnis dikejutkan lagi dengan berita kejatuhan perusahaan legendaris. Palm Inc, sang perintis PDA, akan segera dijual. Ironis. Sebab, Palm pernah menguasai 83% pasar PDA, 72% pangsa pasar sistem operasi, dan sukses di 35 negara! Lantas, mengapa dijual?

 

Palm yang bermarkas di Sunnyvale-Kalifornia, AS, didirikan oleh Jeff Hawkins dan Donna Dubinsky tahun 1992. Awalnya, Palm membuat software dan aplikasi PDA seperti handwriting recognition dan file transfer untuk perusahaan lain (Tandy dll.). Setelah diakuisisi U.S. Robotics Corp tahun 1995, Palm lalu dijadikan anak usaha yang memproduksi PDA. Tahun 1997 pendapatannya menembus US$ 114 juta. Setelah bergabung dengan 3Com, pendapatannya melonjak hinga US$ 272 juta pada 1998. Tak mengherankan, banyak pujian mengalir ke Palm, di antaranya dari Business Week dan Newsweek. Bahkan pada tahun 2000, Palm masuk S&P 500, yang menunjukkan ia adalah perusahaan publik yang berpengaruh besar di AS. Mengapa sang raksasa bisa terkapar?

 

Enam Faktor.

19 Maret 2010, saham Palm merosot menjadi hanya US$ 6,53. Celakanya, banyak analis yang memperkirakan saham ini bisa melorot lagi menjadi seharga kertas toilet. Hal ini tidaklah mengherankan karena Palm sudah menderita kerugian yang cukup parah sejak 2008. Dengan uang tunai US$ 500 juta “ sangat kecil dibanding Apple, Nokia, Google, dan lainnya “ kecil harapan bagi Palm untuk bisa selamat. Apa penyebabnya? Berdasarkan gejala, pengamatan penulis dan didukung riset mahaguru manajemen (Jagdis Sheth, Jim Collins dan Paul B. Carroll), kemerosotan Palm patut diduga disebabkan oleh 6 faktor:

 

Pertama, terlalu percaya pada kompetensi inti sehingga product-oriented. Memang banyak yang mengatakan sistem operasi WebOS-nya Palm paling canggih untuk peranti bergerak. Dan konon lebih baik dari iPhone, BlackBerry atau Android. Namun, kecanggihan tidak selalu menjamin tingkat penerimaan di pasar, karena konsumen punya keputusan pembelian yang unik. Lihat saja produk gagal, mulai dari IBM OS / 2, Sega Dreamcast, Commodore Amiga sampai ponsel Siemens. Semua produk ini begitu canggih, tetapi dilupakan konsumen. Mereka lupa bahwa konsumen membeli “solusi” dan bukannya sekadar canggih. iPad-nya Apple, Windows 7-nya Microsoft dan Chrome-nya Google boleh saja berinvestasi besar untuk mencoba memberikan “solusi”. Namun, wasit yang memutuskan adalah tetap konsumen. Hal yang sama nyaris terjadi pada Teh Botol yang penjualannya menurun tiga tahun belakangan (lihat SWA 07/2010). Perusahaan ini sempat terlalu percaya terhadap kompetensi inti dan terpaku pada product-oriented. Jadinya, terlambat merespons perubahan selera konsumen yang mulai tertarik pada kemasan cup yang lebih praktis dibawa.

 

Kedua, rabun jauh persaingan. Melihat manisnya pasar PDA, sejak 1996 pemain besar seperti Microsoft (Windows CE) ikut masuk. Seharusnya Palm sudah bersiap-siap dari awal untuk membendung penetrasi Microsoft. Karena terlambat bereaksi, pangsa pasarnya tergerus dari 76% (April 2000) menjadi 63% (April 2001). Palm mulai merumahkan sebagian karyawannya. Akhirnya, menyerah. Pada 4 Januari 2006 Palm Treo “terpaksa” menggandeng Windows Mobile. Di Indonesia, Indomie sempat jua mengalami masalah ini. Terlena dan akhirnya dikejar Mie Sedap. Teh Botol juga rada rabun jauh, ketika mereka menganggap remeh penjual teh franchise yang perlahan menggerogoti pasar.

 

Ketiga, menyangkal realitas baru. Saat BlackBerry memperkokoh posisinya dan mencuri pasar Palm, tidak ada reaksi keras dari Palm untuk bergerak dan membendung agresivitas RIM. Apakah Palm mengganggap ini hanya tren sesaat? Penulis jadi ingat saat netbook mulai merajalela. Awalnya, Toshiba dengan angkuhnya mengatakan tidak tertarik masuk ke pasar ini. Walau agak terlambat, akhirnya Toshiba masuk juga. Sayangnya, pangsa pasar mereka sudah tergerus lumayan banyak oleh Acer, Asus dan HP. Memang perubahan selera konsumen harus disikapi secara bijaksana. Teh Botol untungnya bersikap bijaksana. Munculnya teh hijau kemasan plastik dan tren antidiabetes disikapi dengan meluncurkan Joy Tea dan Teh Botol Less Sugar. Harus diakui kedua varian ini memang pas di lidah masyarakat Indonesia dan sesuai dengan realitas baru di mana konsumen lebih peduli kesehatan.

 

Keempat, masuk ke pasar yang dipaksakan, bukan dipicu kesempatan. Awalnya menggunakan Palm OS, lalu Windows Mobile. Tahun 2009 Palm meluncurkan sistem operasi baru WebOS berbasis Linux. Ini tentunya membingungkan para pembuat aplikasi untuk Palm, padahal salah satu alasan konsumen membeli adalah ketersediaan program aplikasi. Melisensikan WebOS ke pembuat smartphone juga sulit, karena ada Android dan Symbian. Keduanya bisa didapat gratis. Jadi, mengapa harus beli WebOS? Di Indonesia, Bir Bintang Zero adalah contoh masuk ke pasar yang dipaksakan.

 

Kelima, sombong karena kesuksesan terdahulu. CEO Palm Jon Rubinstein memang dikenal hebat. Kariernya dimulai dari HP, mendarat di Stardent, lalu mampir di NeXT-nya Steve Jobs sebelum berlabuh di Apple sebagai VP senior. Kontribusinya sangat besar di Apple. Mac dan iPod diyakini mendapat sentuhannya. Sampai 2008, iPod telah terjual 119 juta unit, terbesar sepanjang sejarah. Pada 2009 Majalah Fast Company mendapuknya sebagai salah satu dari100 Most Creative People in Business. Nah, di sinilah mulai timbul masalah. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa begitu seorang CEO masuk ke sampul depan majalah, saat itu pula kariernya di dunia bisnis menurun. Sukses di iPod tidak berarti sukses juga di Palm. Dia memang orang teknik dan visioner yang hebat, tetapi tidak cukup membuatnya menjadi CEO yang hebat. Apakah kesuksesan sebelumnya telah membuat Rubinstein lupa daratan? Hanya dia sendiri yang mampu menjawabnya. Hal yang sama juga bisa terjadi pada Anda dan penulis. Solusinya? Stay hungry, stay foolish.

 

Keenam, pemimpinnya menyalahkan faktor eksternal daripada menerima tanggung jawab. Rubinstein menyalahkan Verizon dan Sprint atas kegagalan smartphone Pre yang dirancang untuk menghantam iPhone. Memang paling gampang menyalahkan pihak lain jika kita mengalami masalah. Jarang ditemukan pemimpin yang mau menertawakan kebodohannya sendiri. Diperlukan jiwa besar dan kesadaran diri yang tinggi agar mau mengakui kesalahan.

 

Setitik Cahaya.

 

Dengan pendapatan yang rendah di 2009, forecast dan pangsa pasar yang juga menurun di 2010, Palm mungkin sudah terkena technology sunset seperti Printer Dot Matriks, layar CRT dan Floppy Disk Drives. Namun, sebenarnya Palm masih punya kesempatan untuk bangkit. Dengan 400 paten yang dimiliki, Palm masih terlihat “cantik” walaupun tidak sesegar dulu. Lagipula, Palm masih memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 937 juta. Tentunya, ini masih bisa menarik investor seperti Dell (muncul di awal lalu batal), HTC dan Lenovo. Menilik HTC yang sudah puas dengan Android-nya, kemungkinan besar HTC tidak menggunakan WebOS.

 

Lalu, pelajaran apa yang bisa ditarik dari Palm? Tak ada yang abadi, tetapi sikap selalu waspada terhadap perubahan pasar dan tetap rendah hati dapat membantu pebisnis untuk selamat.

(Penulis adalah Executive Advisor Business Buddy International dan pengajar Managing the Marketdi S-2 London School of Public Relations.)

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: