Tanda dari Tuhan


“Cerita ini lumayan untuk membuang bosan dan waktu jenuh anda. Tapi kalau lagi nggak ada waktu, jangan sekali-kali baca ini. Kasihan waktumu qiqiqiq….” Em En Rizal

 

Tanda dari Tuhan

By Em En Rizal

Jack terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang kekar. Seolah dia baru saja melakukan lari keliling stadion sepakbola lima kali. Jack mencoba mengatur nafasnya yang keluar masuk dengan cepat.

“Ini hanya ilusi. Mimpi. ini bukan kenyataan. Mimpi hanyalah bunga tidur.” kata Jack menghibur diri. Jack sedang menenangkan diri karena dia baru saja didatangi mimpi buruk. Linda, cewek cantik yang selalu mengisi hari-harinya, meninggal.

“Tapi kalau hanya bunga tidur kenapa selalu berulang? Apakah tidak  terlalu berlebihan? Dulu Nabi Ibrahim mimpi menyembelih Ismail, anaknya, juga berulang kali. Apakah ini suatu pertanda tertentu?”

Jack ragu dengan dirinya sendiri. Dia mencoba mencerna segala kemungkinan yang bisa terjadi. Sudah hampir dua minggu ini dia dihantui oleh mimpi buruk tentang kematian Linda. Kematian wanita yang dicintainya.

Dalam mimpinya Jack sedang mengantarkan Linda shophing di  mall. Jack adalah mallphobia. Dia sangat malas pergi ke mall. Dia lebih suka nemenin Chika, keponakan Linda, main di rumah.

Jack mencoba menghilangkan kejenuhannya dengan melihat-lihat majalah di Gramedia lantai 3. Dia meninggalkan Linda yang sibuk dengan dunianya sendiri. Jack membuka-buka majalah F1, majalah favoritnya. Di majalah itu terpampang wajah Michel Schummacher menjadi pilot pesawat latih dengan Massa dan Reikonnen sebagai copilotnya. Ketika lagi asik melihat-lihat sekilas Jack melihat wajah Linda sedang melambai ke arahnya.

Dengan cepat dia meletakkan majalah F1 dan menuju kearah  Linda. Jack dengan mesra merangkul Linda dan mengajaknya meninggalkan pusat keramaian tersebut. Jack melirik Linda dengan pandangan penuh selidik. Jack seolah bertanya menapa Linda secepat ini selesai.

“Barang yang kucari banyak yang nggak ada.” jawab Linda

Jack tersenyum. Dia kemudian melirik belanjaan Linda. Ada baju, sepatu dan beberapa belanjaan khas wanita. Semua terkumpul dalam tiga kantong plastic besar. Jack tersenyum geli. Ini dinamakan sediki? Dasar cewek.

Tiba-tiba dari belakang ada yang mencolek Jack. Jack menoleh dan menemukan seorang wanita bertubuh seseksi Julia Lopez tersenyum kearahnya. Seandainya Tidak ada Linda, maka percayalah, cewek itu akan “dihabisinya”.

“Maaf mas, dompetnya terjatuh.” Ujar cewek seksi itu ramah. Jack meraba saku belakangnya. Astaga, dompetnya tidak ada. Dia heran kenapa dompetnya bisa di tangan cewek itu tanpa dia sadari. Jangan-jangan…

“Makasih, Mbak. Suami saya ini memang teledor. Makanya kalau bawa dompet itu hati-hati. Jatuh aja nggak kerasa.” omel Linda. Jack sedikit terkejut mendengar Linda menyebutnya suami. Mungkin untuk membentenginya dari serangan cewek seksi mirip Julia Lopez itu.

Ketika Jack akan melewati pintu keluar yang tersambung ke tempat parkir mobil, Jack bertabrakan dengan seorang laki-laki bertopi merah. Jack menatapnya sekilas. Laki-laki itu berperawakan sedang dan mengenakan jaket tebal bertuliskan skaterboy. Dia kelihatan sedang tergesa-gesa. Jack memakluminya.

Jack berjalan menjajari Linda menuju mobil kijang LGX hitam. Ketika hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba sekelompok orang menyergap mereka berdua, Jack langsung bereaksi. Jack yang sudah tertempa karate sejak kecil sadar akan situasi berbahaya ini. Dengan cepat dia merobohkan orang-orang yang menyergapnya. Ketika menoleh ke kanan, dia mendapati Linda sedang ditawan salah seorang dari mereka. Pisau tajam menempel erat di leher Linda.

“Serahkan semua barang yang kau punya, atau gadis ini aku gorok!!” ancam salah seorang diantara gerombolan tersebut. Jack melihat sekelilingnya. Benar-benar sepi. Jack memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.

“Cepat, jangan banyak pikir. Nyawa kekasihmu ini tergantung keputusanmu?”

“Sebentar bang, sabar dulu, aku akan serahkan semua yang abang minta tapi jangan sakiti pacarku.”

“Ha ha ha bagus kalau kamu tahu. No 2 kamu cepetan ambil barang yang dia punya.” perintah orang yang menyandera Linda. Orang yang dimaksud langsung menuju ke arah Jack. Tiba- tiba muncul satpam dari balik mobil. Satpam itu ternyata sedang menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Dia langsung memukul orang ketiga dibelakang orang yang menyandera Linda. Seketika juga orang itu roboh.

Jack tidak tinggal diam. Dia segera memukul perut orang yang mau mengambil barangnya. Orang itu langsung jatuh tersengkur. Jack tidak memberi kesempatan orang tersebut untuk bangkit. Dia menendang berkali-kali dan akhirnya orang tersebut pingsan.

Melihat kedua temannya pingsan dengan cepat, orang yang menyandera jadi panik. Tanpa pikir panjang dia menyeret Linda menuju pintu keluar. Linda menjerit kesakitan. Jack mencoba merayu orang tersebut agar menyerahkan Linda namun sebelum dia bertindak sebuah mobil Land Cruiser yang mau turun ke jalan raya dengan kecepatan lumayan menubruk perampok tadi sekaligus Linda.

Sial bagi Linda, ketika perampok tadi tertabrak, tangannya yang memegang pisau menyayat leher Linda. Jack berlari dan mencoba menolong Linda. Nafas Linda mulai pelan dan saat menuju ke rumah sakit, nyawa Linda melayang

Jack mencoba melupakan mimpi buruknya dengan menyibukkan diri di kantor. Hubungannya dengan Linda masih tetap biasa. Jack pacaran dengan Linda sudah hampir empat tahun. Dan rencananya tahun depan mereka menikah.

“Kapan ke Magelang, ke rumah orang tuamu?” tanya Linda suatu saat.

“Nanti saja. Kamu takut aku ingkar janji dan meninggalkanmu? Atau kamu takut kedua orang tuaku tidak menerimamu? Sayang, walaupun mereka orang desa. Tapi mereka menghargai pilihanku. Jadi sabar ya.”

Kalimat ini lebih dari cukup untuk membuat Linda diam. Jack tahu Linda mencemaskan dua hal tersebut.

Dan siang itu, Jack keluar kantor untuk makan siang. Dia memilih restoran cepat saji yang ada di mall pusat kota. Setelah perut kenyang terisi, Jack berputar-putar menuju toko buku. Dia mencari majalah sport kesukaannya.

Diputarinya sport magazine untuk mencari majalah kesukaannya, Majalah F1 terbaru bulan ini. Setelah capek mencari, Jack menyerah juga. Dengan langkah mirip seorang anak yang kehilangan ibunya, Jack mendatangi cewek yang berdiri sendiri di sebelah pojok ruangan majalah.

“Maaf, mbak. Majalah F1 terbaru edisi bulan ini sudah terbit belum?” tanya Jack sopan. Cewek itu tidak  menjawab namun malah kelihatan bingung dan melihat sekeliling. Jack heran dan mengulang pertanyaannya.

“Maaf, Mas. Saya bukan pelayan di toko buku ini. Mungkin mbak yang disana. Saya pembeli seperti mas.” mendengar jawaban cewek itu wajah Jack tersipu malu.

Dia bergegas menemui pelayan toko yang sedari tadi menebarkan senyum ramah pada pembeli. Setelah menunggu lama, pelayan tadi membawakan pesanan Jack. Wajah Jack langsung pucat dan membuat majalah ditangannya terjatuh.

“Kenapa, Mas? Mas sakit?” tanya pelayan panik. Jack mengggelang pelan. Dia mengambil majalahnya dan segera membawanya ke kasir. Setelah membayarnya, Jack segera meninggalkan toko buku tersebut. Jack memandang sekeliling namun dia tidak menemukan Linda disana.

“Ah, untunglah dia tidak ada disini sekarang. Ini hanya pikiranku saja yang lagi kacau, terpengaruh mimpi sialan itu. Lagi pula cuma sampul majalah yang sama. “ ternyata sampul majalah F1 itu bergambar Michel Schummacher naik pesawat sebagai pilot sedangkan Massa dan Reikonen sebagai kopilotnya. Mirip dengan mimpi yang mendatanginya setiap malam. Yah ini mungkin hanya kebetulan saja. Siapa tahu cover ini sudah pernah dimuat jauh-jauh hari sebelumnya. Pikir Jack membuang pikiran negatifnya.

“Mas yang ganteng, dompetnya jatuh nih?” tiba-tiba suara manis yang sudah sangat dikenalnya terdengar jelas dibelakangnya. Jack spontan menoleh dan menemukan seraut wajah manis sedang tersenyum kearahnya sambil menyodorkan dompet miliknya. Dia Linda!

Oh, tidak. Ini hampir mirip dengan mimpiku, walau pun sedikit meleset. Tapi dua kejadian beruntun seolah mengingatkanku. Kalau memang benar ini akhir hidup Linda maka dia harus menjaganya sekuat tenaga.

“Hai sayang, kamu tumben jalan-jalan ke Mall. ngapain? Jangan-jangan kamu selingkuh ya? Mana wanita brengsek yang merebutmu dariku.” Linda melihat sekelilingnya.

“Aku hanya jalan-jalan sehabis makan siang. Lagipula kamu kan kerja, Takut ganggu.”

“Yah kalau buat kamu, kerjaan itu nggak masalah. Tinggal kamu telpon, aku langsung melesat ke arahmu bagai peluru.”

“Hahaha. Oh iya Mumpung ketemu labih baik kita ngobrol-ngobrol di Sturback café yuk.” ajak Linda. Jack mengikuti langkah Linda sambil memeluknya mesra. Linda heran dengan sikap manis Jack hari ini namun Linda membiarkannya. Jarang-jarang Jack memperlakukannya semanis ini di depan umum.

“Yang, maafin aku kalau selama ini nyakitin kamu. Aku sekarang mau melakukan apa saja yang kamu minta dan mengabulkannya.”

“Kamu kenapa sih, say? Apa ada masalah dikantor.” Tanya Linda bingung sambil menyentuh dahi Jack. Tidak panas.

“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa selama empat tahun kita pacaran ini aku egois. Mau menang sendiri. Makanya aku mau memulai babak baru dengan lebih sayang banget sama kamu.”

“Sayaaang, aku sudah mengenalmu luar dalam. Aku menerima kelebihan dan kekuranganmu. Jadi apapun yang kamu lakukan aku tetap sayang kamu. Tetap cinta sama kamu. So, jangan bertingkah aneh-aneh deh. Kalau kamu lagi punya masalah kita bahas bersama dan kalau kamu lagi tidak ingin membahasnya aku juga tidak memaksa.” Jack hanya diam melihat reaksi Linda yang melihat Jack seperti terkena masalah. Jack ingin mangatakannya namun dia tidak kuasa.

“Oke deh, aku nyerah berdebat denganmu. Lebih baik sekarang kita lakukan kesenangan seperti kita baru jadian dulu. Habis ini kita naik kapal maut yuk di arena hiburan.” tawar Jack. Linda mengangguk sambil tersenyum.

Mereka naik ke lantai tujuh untuk menikmati aneka macam permainan. Linda benar-benar senang dengan acara dadakan dari Jack. Jack tertawa terbahak-bahak melihat Linda setengah mati ketakutan dalam kapal ayunan. Namun di hatinya ada semacam kesedihan mengingat ini adalah acara terakhirnya dengan Linda.

Saat menuju ke lantai tujuh dia melihat tanda-tanda lain yang muncul. Dan Jack semakin yakin akan hari kematian Linda. Dia makin erat memegang Linda seolah dia tidak rela melepaskannya. Akhirnya mereka pun selesai dan harus pulang. Jack tidak ingin pergi meninggalkan Linda namun karena diusir penjaga mau tidak mau dia harus pergi juga. Dalam perjalanan turun menuju parkiran, Jack berusaha mencari cara agar Linda tidak mati seperti dalam mimpinya.

“Yang, dari tadi kamu kok aneh banget. Kamu meluk aku seolah-olah tidak akan bertemu aku lagi? Terus pandangan matamu seolah kamu sedang sedih luar biasa”

“Tidak ada apa-apa kok. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini.”

“Iya aku percaya dan aku juga mencintaimu lebih dari siapapun juga. Kamu adalah pacarku pertama dan terakhirku. Dan aku sudah bisa membayangkan kita akan melihat keindahan alam dari serambi rumah kita, berdua saja saat kakek nenek.” mendengar kata-kata Linda, Jack hendak menjerit dan memeluk erat Linda namun karena masih di mall dia mencoba menahannya dan terlebih lagi Linda belum selamat dari maut. Nanti setelah dia keluar dari mall dia akan menceritakan semuanya. Jack segera mengalihkan langkanya menuju pintu keluar mall bukan pintu parkir.

“Lo, kok lewat depan. Memangnya kamu tidak bawa mobil?” Jack diam saja tidak menjawab pertanyaan Linda. Linda bingung dan semakin tambah bingung setelah melihat Jack mempercepat langkannya.

“Hei, pencuri. Jangan Lari. Angkat tangan.” Tiba-tiba suara teriakan disusul ledakan pistol menggema di sekitar Jack. Orang–orang langsung tiarap. Seorang laki-laki gondrong sedang dikejar oleh empat orang polisi. Gerakan lari lelaki itu menjadi lambat di mata Jack. Jack melihat Linda berteriak dan menyuruh Jack lari ketika laki-laki yang dikejar polisi berlari kearahnya. Dan dua langkah di depannya, pencuri tersebut terjatuh dan Oh, tidak sebuah peluru mengarah ke arah Linda. Oh, God, inilah akhir hidupnya. Pikir Jack. Namun gerakan peluru yang lambat menurut Jack membuatnya berlari dan menutupi tubuh Linda.

AKHH!!

Jack berteriak keras. Dia melihat peluru tersebut menembus dadanya dan Jack merasakan sakit yang luar biasa. Sedetik kemudian Jack melihat Linda dan polisi mengerubunginya. Dia mau mengucapkan sepatah kata namun berhenti di tenggorokannya. Jack merasa wajah Linda makin pudar dan tiba-tiba mulai hilang. Sebelum dia kehilangan wajah orang yang dikasihinya. Jack ingin tersenyum dan memegang tangan Linda. Sayang sebelum dia sempat memegang tangan Linda, semua gelap dan sekejap saja dia sudah berada diatas tubuh Linda dan orang-orang yang mengerumuninya.

“Lin, aku disini. Liiiiiiin..” teriak Jack, namun suaranya seolah angin lalu yang tidak bisa sampai di telinga Linda. Jadi ini arti mimipiku. Aku yang meninggal, bukan Linda. Seandainya aku tahu.. seandainya saja aku lebih sadar tanda dari Tuhan.

 

 

 

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: