Pangeran Angkot


“Angkot…kendaraan tercintaku saat aku menuju kampus C unair, berebutan supaya tidak kena pinalti. Dan cerita ini lahir dari angkot lyne T2. Benar-benar lahir dari sana. Liat bahasanya, masih jaman jadul kan hehehe” Em En Riza

Pangeran Angkot

By Em En Rizal

 

 

Rabu, 5 juli 2006, 06.30 WIB di halte bus.

Aku mengigit jempol jariku. Walau rasanya tidak enak tapi ini cukup menenangkanku untuk sementara waktu. Kebiasaan ini sering kulakukan bila aku sedang cemas. Yup, sekarang aku memang lagi cemas menunggu seseorang. Seseorang yang benar-benar spesial dalam hatiku.

Kulihat gang  di ujung jalan sekali lagi untuk memastikan bahwa dia benar-benar belum keluar dari gang tersebut. Kuhembuskan nafasku. Ada dua perasaan sekaligus yang sedang berkecamuk dalam diriku. Pertama, perasaan kesal karena dia belum muncul-muncul juga. Memang benar kata pepatah, menunggu adalah pekerjaan yang paling menjemukan. Kedua, perasaan lega karena dia belum muncul juga sehingga penyakit gagal jantung tidak menyerangku saat ini.

Senin, 19 juni 2006, 06.45 WIB di halte bus.

“Pak..pak tunggu!! Hoiii, aku ikuut. TUNGGU, PAK!” teriakku pada  sebuah angkot biru yang selalu mengantarku berangkat sekolah. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Angkot yang sudah mau berangkat itu langsung berhenti.

“Tumben telat? Nonton bola ya?” tanya kernet angkot ketika aku naik.

“Enak aja. Aku kan cewek feminim nan cantik, mana mungkin  nonton bola. Gitu Loh!!” sahutku. Si kernet tertawa cekikikan karena sudah berhasil menggodaku. Supir dan kernet angkot ini sangat akrab denganku karena setiap hari aku pasti naik angkot mereka. Kuusap dahiku yang penuh dengan peluh keringat setelah “berolahraga pagi”.

“Mau tisu?“ tawar seseorang disebelahku. Aku menoleh untuk melihat siapakah orang yang masih peduli dengan kesengsaraanku. Dia  adalah seorang cowok bertubuh sedang, berambut ikal, dan bertampang yang menurutku cukup manis.

Dia menyodorkan tisu kepadaku disertai senyuman yang amat manis juga. Pokoknya semuanya manis-manis saja tentang dia. Aku sampai terhipnotis karenanya. Dengan malu-malu aku menerima tisu tersebut sembari mnegucapkan terima kasih. Tulus.

“SMU 6 ya?”

“Kok tahu?” jawabku heran namun tetap mengangguk. Lalu dia menunjuk bed sekolah SMU 6 yang nangkring di bahu kananku. Aku tersenyum malu. Ya jelas dia tahu dong. Dia melihat bedku karena dia ada disebelah kananku. Dasar bego!.

Dan lima menit kemudian kami sudah asyik mengobrol tentang sekolahku. Dia sangat tahu banyak tentang sekolahku. Ternyata di asyik juga. Perjalanan yang biasanya aku isi dengan SEMEDI alias senyum sendiri, kini lebih bermakna karena ada teman ngobrol yang asyik sekaligus…. manis. Namun obrolan itu harus berakhir kerana aku harus turun karena angkot sudah berada di depan halaman sekolahku.

“Aku turun dulu ya.” ucapku singkat karena angkot yang kutumpangi termasuk angkot ekpres yang berhentinya cuma 5 detik jadi aku harus turun dengan cepat. Kulambaikan tanganku kepadanya sambil memberikan senyum paling manis yang kupunya.

“Aduh…aku lupa nanyain nama,sekolah dan alamatnya. sayang sekali.” gumamku sedih sambil memandangi angkot itu berlalu dari hadapanku.

Senin, 19  juni 2006, 10.30 WIB di sekolah

“Keren banget nggak orangnya?” tanya Asti, sahabatku, dengan (sangat) antusias setelah kuceritakan kejadian tadi pagi.

“Keren banget, nggak kalah kalau dibandingin Brad Pitt, ya sekelaslah dengan Tom Cruise.”

“Hiperbolis banget sih!! Masa ada cowok Melayu bisa disejajarkan dengan Tom Cruise atau Brad Pitt. Mimpi kali ye…”  ucap Asti tidak terima.

“Pokoknya keren dan cuaakep banget. Sayangnya aku tidak menanyakan nama dan sekolahnya. Mungkin nggak ya aku ketemu lagi?” kataku sedih.

“Kalau jodoh apapun bisa terjadi.” ucap Asti menghiburku.

“Apa masih berlaku pepatah basi seperti itu”

“Berdoa saja semoga Tuhan masih memberlakukannya” ucap Asti asal. Aku pun berdoa dalam hati supaya Tuhan masih ingat dengan pepatah itu. Amien.

Selasa, 20 Juni 2006, 06.15 WIB Menuju halte

Aku melangkah lebih cepat karena aku melihat cowok ganteng itu disana. Ya ampun, kalau tahu dia ada disitu aku akan berdandan lebih lama, Pakai parfum lebih banyak, dan make up wajah secantik mungkin. Iseng-iseng aku melirik penampilanku pada kaca jendela salah satu rumah yang kulewati. Ehm sudah lumayan kok, tidak ancur-ancur banget. Aku harus yakin pada diriku sendiri. Bukankah hal yang paling baik di dunia ini bila menjadi diri sendiri.

Semakin dekat jarakku dengannya, semakin berdebar-debar jantungku. Cowok manis itu kelihatan asyik membaca sesuatu. Kubuat langkahku senormal mungkin. Tapi yang terjadi malah seperti maling kelas teri yang sedang beraksi.

“Hai, nunggu angkot juga?” aduh kenapa pertanyaan bodoh ini yang keluar, memalukan!! Jelas-jelas di halte mana mungkin dia mau olahraga.

“Hai juga..Iya. Kamu tinggal di daerah sini? Kalau iya, kita tetanggaan dong.”

“Oh, iya?? Memang kamu tinggal dimana??” tanpa sadar aku sudah melupakan sisi kewanitaanku, melupakan yang namanya harga diri.

“Aku tinggal di gang sana” ucapnya ambil menunjukkan gang yang dimaksud. Aku mengikuti telunjuknya dan benar juga aku tetanggaan dengannya, cuma bedanya aku disebelah kiri jalan raya, sedangkan rumahnya disebelah kanan jalan raya.

“Oh Iya, namaku Dani, kamu masih menggunakan nama Tika kan?”

“Kok tahu.”

“Kemarin kernetnya manggil kamu gitu.” Aku cuma bisa mengangguk pelan sambil menjabat tangannya untuk kenalan. Duh sebagai cowok, kulitnya termasuk halus juga. Dia termasuk cowok yang merawat tubuhnya kali ya. Istilah kerennya cowok metroseksual.

Kami mengobrol sambil menunggu angkot yang membawa kami ke sekolah. Ternyata dia anak SMU 4. Kebetulan sekali aku punya teman disana jadi bisa minta info dari temenku tersebut. Asyiik.

Selasa, 4 juli 2006. 10.37 WIB di kantin sekolah

Aku makan dengan rakus rawon di hadapanku. Asti dengan setia menemaniku sambil minum lemon tea. Dia jarang makan di kantin. Katanya dia diet untuk membuat penampilannya tetap oke, maklum cowoknya yang ganteng selalu membuatnya was-was. Asti takut cowoknya itu lari kepelukan cewek yang lebih cantik, lebih langsing dan tentu saja lebih kaya darinya.

“Gimana kabarnya si pangeran angkotmu itu?” tanya Asti

“Ih, kalau muji ya muji aja.  Jangan tanggung-tanggung dong. Masa pangeran di kasih embel-embel angkot.!! Kesannya norak tau.” protesku.

“Kan ini cuma memberi kesan pertemuan pertama kalian dan kencan-kencan kalian yang selalu di angkot hehehe.” ejek Asti.

“Memang sih, kita cuma ketemuan di angkot terus. Tapi walau cuma di angkot tapi sangat berkesan dan romantis. Kita serasa berkencan diatas kereta kuda istana. Inovatif, unik dan tidak membosankan. Terus, dia juga sangat asyik buat ngobrol alias nyambung terus. Dia selalu punya bahan untuk membuatku tertawa. Asyik banget pokoknya.”

“Emh kalau gitu nggak ada rencana buat jadiin dia pacar nih?”

“Ada sih tapi aku takut. Aku kan cewek. Malu dong kalau aku yang agresif. Cowok kan suka cewek yang kalem bukannya agresif.”

“Ya terserah kamu juga sih, tapi sepertinya kamu naksir banget sama dia. Selama dua  tahun aku jadi temanmu baru kali ini aku melihatmu begitu antusias menceritakan seorang cowok.“ aku membenarkan kata-kata Asti. Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan inilah yang membuatku tidak konsentrasi belajar sampai jam pulang sekolah.

Selasa, 4 Juli 2006. 20.30 WIB di Rumah

Aku benar-benar bingung. Apa yang harus kulakuan. Ah tulis surat aja. Aku mengambil pulpen dan kertas untuk menulis ungkapan hatiku. Ah, tidak. Zaman sudah maju, sms sudah jadi alat paling memasyarakat kenapa masih pake surat? Kuletakkan kertas dan pulpen di atas meja.

Aku berdiri dan berjalan mondar mandir memikirkan apa yang harus kulakukan. Bayangan wajah Dani semakin kuat dalam pikiranku. Damn!! Kenapa dia harus hadir dalam kehidupanku, kenapa? pertanyaan ini pun tidak bisa kujawab. Semakin membuatku bingung saja.

“Aduh,  apa aku langsung ngomong saja ya. Kan lebih baik to the point aja. Zaman sekarang tidak ada namanya malu-malu. Sekarang kan zamannya emansipasi wanita, jadi tidak masalah kalau cewek yang mengungkapkan cintanya. Kalau aku tidak ngomong nanti dia disambar cewek lain. Ingat, cinta tidak bisa menunggu.” batinku. Aku pun melatih kata-kata yang akan kuucapkan di depannya. Pertama-tama aku tertawa malu karena baru kali ini aku mengucapkannya. Lama-lama aku jadi berani sampai aku tidak sadar kalau suaraku terlalu keras dan sampai keluar kamar.

“Tik, kamu ngapain? Kok bilang i love you segala?” tanya ibu dari luar kamar. Curiga.

“Nggak, Bu. Lagi latihan drama untuk perpisahan kakak kelas.” elakku. Uh, aku membayangkan kalau itu kuucapkan di tempat biasa aku dan Dani ketemuan. Bisa-bisa semua orang ngeliatin aku. Tapi nggak apa-apa sih kan cinta bisa membutakan orang dan menghilangkan rasa malu termasuk malu-malauin.

TIDAK!! Aku tidak sebuta itu untuk melihat diriku menjadi obyek tontonan gratis orang. Lebih baik pake surat saja, kadang teknologi jadul sangat berguna kalau teknologi modern sudah tidak bisa diandalakan. Lagian dari sisi ongkos dan kemaluan eh malu-maluinnya lebih sedikit hehe.

Aku mulai menulis di kertas. Namun sampai setengah jam aku masih belum bisa menulis apa-apa. Dan aku malah melamun tentang aku dan  Dani yang berlibur di London. Saling berpegangan, berpelukan dan bercii…eh kok malah melamun yang nggak-nggak. Lebih baik kukerjakan saja surat ini biar kenangan ini segera terwujud. Dan ini membuatku semangat. Dalam waktu dua jam aku sudah membuat surat yang sangat romantis dan indah. Kahlil Gibranpun akan mengakui kalau aku salah seorang manusia berbakat dalam hal menulis surat cinta di dunia modern ini.  Itupun seandainya dia masih hidup.

Rabu, 5 juli 2006, 06.40 di halte

Aku memandang sekali lagi ke ujung gang dimana Dani tinggal. Dia tidak muncul-muncul juga. Aku benar-benar cemas. Apakah dia sakit atau ada acara keluarga sehingga dia tidak masuk sekolah hari ini? Sia-sia dong aku begadang sampai aku ngantuk sekarang untuk menulis surat cinta terbaik sepanjang sejarah hidupku.

Dan angkotku sudah datang. Gimana nih sekarang??. Apa aku tinggal atau aku nyamperin ke sekolahnya saja ya?

“Tik, kamu naik nggak? Kalau enggak kita tinggal nih!” tanya kernet angkot tak sabar.

“Iya, aku ikut.“ kataku sewot. Dasar orang nggak tahu kalau aku lagi cemas menunggu Dani. Aku berjalan lemas menuju angkot, karena aku nggak ingin naik angkot selain angkot yang penuh kenangan ini.

Sepanjang jalan hatiku begitu sedih. Sedih tidak bisa bertemu dengan Dani dan sedih karena perjuanganku semalaman tidak ada hasilnya. Nggak mungkin tidak ada hasilnya. Tuhan selalu menunjukan hasil bagi hambanya yang berjuang sepenuh tenaga dan aku telah berjuang sepenuh tenaga untuk menulis kata-kata romantis dalam surat yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

Aku memperhatikan lalu lalang kendaraan di samping angkot yang kutumpangi. Sepasang kekasih yang berpelukan mesra diatas sepeda motor menarik perhatianku. Uh seandainya Dani dan aku seperti….tunggu dulu. BUKANKAH YANG COWOK ITU DANI !!. Aku pun menajamkan pandanganku untuk melihat lebih jelas.

Oh, Tuhan dia benar-benar Dani. Dan dia begitu mesra dengan cewek yang diboncengnya. Kucengkram pinggiran kursi angkot kuat-kuat. Aku tidak siap dengan ini. Ini benar-benar diluar perkiraanku. Aku benar-benar tidak memperhitungkan kalau dia punya cewek. Aku terlalu bersemangat sehingga aku tidak mencari tahu apa dia sudah punya cewek apa belum.

Damn!! Cinta pertamaku hadir diangkot kesayanganku ini dan juga berakhir disini. Sungguh ironis. Tapi tidak apa-apa, minimal Tuhan sudah menunjukan bahwa aku belum bekerja keras. Aku belum layak untuk mendapatkan yang terbaik untukku. Mungkin dia sempurna tapi dia terlalu baik untukku dan cewek cantik dibelakangnya cukup pantas mendapatkan limpahan kasih sayang dari Dani. Aku hanya bisa memandangi mereka dengan perasaan hancur lebur.ot terus. ot hehehe.”ggung-tanggung dong, masa pangeran di kasih embel-embel angkot.!! jadinya angsing dan tentu

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: