Ning atau Tyas ??


“Gilani…sih, ceritanya. Tapi gimana lagi, kadang yang nggilani bagiku tapi bagi orang lain …..semakin nggilani hahaha. Ya sudah, monggo dibaca saja.” Em En Rizal

 

Ning atau Tyas ??

By Em En Rizal

 

 

Aku lemas. Aku merasakan tubuhku tak bertulang. Tak bertenaga. Aku tak tahu kenapa bisa begini. Aku merasa malas, tak enak dan tak suka pada semua hal. Menjadi malas makan, mandi dan melakukan kegiatan rutin harian lainnya. Namun satu hal yang tidak malas kukerjakan, masuk kantor!!!

Aku menderita semua ini semenjak bertemu Ning. Wanita manis yang menggemaskan nan misteri. Aku nggak tahu kenapa aku menjadi berdebar-debar setiap bertemu dengannya. Uniknya aku baru menyadarinya setelah beberapa kali bersua dengannya.

“Pagi, Pak.” Sapanya, dengan senyum manis yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak ketika aku memasuki ruang kerjaku. Hanya sekilas dan seolah formalitas saja. Si manis ini pun kembali ke pekerjaanya. Menyapu lantai kantor. Tak ada kalimat berikutnya. Aku tersenyum dan satu sapaan kecil ini cukup membuatku bersemangat hari itu.

Tanti merupakan suatu anomali yang terjadi pada sebagian wanita masa kini. Ia seorang lulusan S1. IPK 3,5. Seharusnya ia bisa  mendapatkan pekerjaan yang didambakannya. Seketaris, customer service, atau paling tidak administrasi. Ia layak dengan pekerjaan itu. Ia juga mempunyai wajah yang lumayan. Namun ia malah memilih untuk menjadi OB. Sampai sekarang aku masih heran dan tak tahu kenapa ia menerima pekerjaan OB.

Pukul 10 pagi serangan kantuk menyergapku tanpa ampun. Aku melihat ke arah dapur. Kulihat Tanti sibuk dengan pekerjaannya. Aku berdiri dan menuju ke sana. Aku merasakan dadaku berdebar kencang ketika jarakku semakin dekat.

“Ning, bisa buatkan segelas kopi untukku? ”

Ning menoleh dan mengangguk hormat. Dengan cepat ia sibuk dengan gelas dan bubuk kopi. Aku mengamati wajahnya manis dan menggemaskan. Aku tak kuat berlama-lama disana. Aku segera menuju meja kerjaku, menunggunya.

Tak berapa lama, Ning datang dengan kopi di nampan.

“Makasih.” kataku. Ning hendak berlalu dari kantorku namun kucegah. Mungkin inilah kesempatan terbaik yang kupunyai.

“Ning aku mau tanya padamu, Sejak kamu disini, kulihat kamu bekerja dengan keras. Hasilnya memang memuaskan namun aku merasakan ada tujuan lain yang hendak kamu capai. Apakah kamu mempunyai tujuan tertentu? Apa kamu butuh uang atau keluargamu lagi butuh sesuatu?” tanyaku penasaran

Ning menunduk diam.

“Ning, jawab dong. Masa orang tanya didiemin. Nggak sopan lo..”

“Aku hanya ingin bekerja dengan baik, Pak. Tujuan ada tapi sudah kupendam dalam-dalam.”

“Seharusnya kamu perjuangkan. Walau tinggi dan susah namun harus terus dikejar. Okelah itu urusan pribadimu. Yang menjadi urusanku adalah hubungan sosialmu. Aku mendapat laporan kalau kamu terlalu pendiam.Yah mungkin itu sudah sifatmu namun alangkah baiknya kalau kamu lebih terbuka. Bisa?”

“Bisa, Pak.”

“Ya sudah silahkah kerja lagi. Eh tunggu, mulai sekarang kamu yang melayani keperluanku menggantikan Irul. Asalmu darimana?”

“Magetan, Pak.”

“Wah kita dekat dong. Aku dari Madiun. Kita tetanggaan. Sesama orang perantauan itu saling menjaga. Jadi mulai sekarang kalau ada apa-apa kamu langsung bilang padaku.”. Ning mengangguk aneh dan pergi meninggalkan aku sendiri.

Sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bisa berbicara dengannya. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Aku juga merasakan perasaan damai begitu melihatnya. Jantung berdetak lebih kencang, nafas menjadi tak teratur dan mata yang tidak bisa lepas dari wajahnya membuatku selalu bertanya. Apakah aku jatuh cinta padanya?

Selama berhari-hari aku terus bertanya pada diriku tentang hal ini namun aku masih ragu untuk mengakuinya karena aku malu. Aku seorang manajer pemasaran disini, aku juga punya wajah yang tampan sehingga bisa tunjuk siapapun gadis yang kumaui. Tapi aku punya criteria untuk calon istriku nantinya.

Menurutku calon istriku harus cantik, pintar, seksi, bisa masak, mandiri dan sayang padaku. Semua syarat itu hampir terpenuhi oleh Ning kecuali rasa sayang karena aku belum pernah bertanya padanya. Tapi ada sebuah syarat utama yang membuatnya terlempar dari kualifikasi yaitu ia harus punya pekerjaan bagus! Dan aku tak pernah bermimpi satu kalipun untuk kawin sama OB. Jadi aku harus segera menyingkirkan perasaan hina ini dari jiwaku.

 

*********

 

“Ning, kesini sebentar.” kataku di line telpon kantor.

“Baik, Pak.”

Aku meletakkan gagang telpon dan menunggu dengan cemas kedatangan Ning. Setelah perbicangan ringan itu, aku dan Ning makin dekat. Maksudku ia makin sering berkunjung dan bertemu denganku karena ia menggantikan OB yang khusus melayaniku, Irul.  Dan setiap ia datang aku sempatkan ngobrol beberapa kalimat untuk memenuhi hausku akan suaranya yang membuat tidurku tidak tenang.

“Ada apa, Pak?”

“Duduklah dulu. Aku mau bicara sebentar.”

Ning menarik kursi di depanku dan duduk sambil menunduk. Dia tidak berani memandangku.

“Aku melihat beberapa hari ini sikapmu padaku agak kaku. Ada apa?”

“Nggak, Pak. Aku nggak enak saja sama Bapak. “

“Nggak enak bagaimana?”

“Teman-teman bilang kalau aku terlalu dimanja sama Bapak gara-gara kita berasal dari tempat yang sama walau sudah kujelaskan kalau Madiun dan Magetan itu jauh.”

“Terus..”

“Aku juga bilang aku nggak bermaksud untuk mengambil muka di hadapan Bapak. Tapi mereka tidak percaya. Padahal aku menjalankan kewajibanku sesuai dengan prosedur kantor.”

“Kamu merasa risih dengan semua itu. Kalau iya, nanti biar OB lain yang kusuruh  melayaniku.”

“Nggak,…nggak begitu, Pak. Aku nggak masalah kok dengan omongan mereka. Aku senang melayani Bapak karena aku merasa seperti di rumah.”

“Ya sudah biarain saja teman-temanmu bicara apa saja. Yang penting kamu nggak terganggu. Kalau kamu terganggu, kamu bisa bicara padaku. Oke?”

Ning mengangguk setuju dan segera keluar ruangan. Aku menghela nafas panjang. Memang ada beberapa selentingan yang masuk ke telingaku. Ada yang bilang aku ada KKN dengan Ning. Ada yang bilang aku terlalu lembek pada bawahan namun yang kutakutkan adalah bila ada yang tahu kalau aku suka Ning. Bisa berabe tuh.

**********

Aku sudah tak kuat lagi. Aku sudah tidak kuasa menahan letupan hatiku. Sudah saatnya aku bicara padanya. Aku sudah tak mampu menutupinya lagi. Aku sudah tak peduli lagi dengan resiko yang akan menimpaku di kantor. Aku sudah tak peduli lagi dengan kriteria istri yang kubuat. Aku hanya peduli pada Ning.

“Mampir dulu, Mas? Aku punya brem, baru dikirim orang rumah.” Ning menawariku. Oh iya, di luar kantor, dia kusuruh memanggilku Mas. Dan sekarang aku sudah berani mengantarkannya pulang walau diam-diam.

Aku mengangguk dan memarkir mobilku di depan kosnya. Aku kadang nggak sadar dengan tindakan konyol ini. Entah apa yang orang kantor akan bilang kalau seorang OB diantar manajernya pulang dan sempat mampir lagi. Huh!!

“Ini Mas Bremnya. Monggo dicoba.”

Aku menerima sebuah kotak panjang dan mengambil isinya yang berupa lempengan panjang berwarna kuning krem.. Dengan pelan kunikmati makanan khas Madiun itu. Hemm lezat.

“Bagaimana, Mas. Enak?”

“Enak banget. Sepertinya aku pernah merasakan Brem ini ya? Maksudku aku sering merasakan Brem namun yang ini spesial. Mak nyuss!!” ucapku menirukan gaya Pak Bondan, presenter wisata kuliner. Namun itu tak membuat Ning tertawa. Ia justru terdiam sambil melemparkan pandangannya ke halaman.

“Kok diam? Aku salah ngomong ya?”

“Nggak, Mas. Aku suka Mas menyenangi brem buatan ibuku.”

“Ibumu yang buat? Enak sekali. Mungkin kapan-kapan aku minta dikirimin juga.”

Ning tersenyum kecil. Manis sekali bila dia tersenyum. Aku merasa kenal sekali dengan senyuman itu tapi dimana? Oh ya dia kan anak buahku jadi mungkin di kantor.

“Ning, ada yang mau kubicarakan denganmu.” aku memberanikan diriku untuk mengatakan segalanya. Mungkin memang sudah saatnya aku berterus terang. Aku pun sudah siap dengan resikonya.

“Aku mohon maaf sebelumnya. Ini mungkin kedengaran gila atau meniru omongan orang lain tapi aku tahu kalau aku benar tentang ini. Aku ingin mengatakan kepadamu dengan sebenar-benarnya kalau aku menyukaimu. Aku tak bisa melupakan wajahmu sedetik pun semenjak melihatmu. Aku juga tak bisa tidak memikirkanmu sedetk saja. Aku jatuh cinta padamu, Ning.”

Ning menoleh ke arah lain. Aku menjadi ragu apakah ini bukti penolakan dirinya atas cintaku. Oh, Tuhan jangan beri aku cobaan ini. Seorang manajer pemasaran ditolak seorang OB. Kasihan banget diriku.

“Ning…..aku tahu mungkin ini terlalu cepat buatmu tapi menurutku ini terlalu lama. Aku malah ingin mengatakannya sejak melihatmu pertama kali. Aku merasakan ada sesuatu yang sangat hebat yang menarikku kepadamu. Aku merasa kamu orang yang sangat familiar denganku.”

“Mas….” Ning menatapku sendu. Kulihat air mata berlinang disana. Kenapa dia menangis? “Kamu tidak ingat sama sekali denganku? Kamu lupa dengan wajahku?”

Aku menatap Ning tak mengerti. Kenapa ia bertanya begitu?

“Tentu..tentu kamu sudah lupa dengan semua yang pernah kita jalani.”

Aku makin tak mengerti.

“Kita? Aku pernah jalan sama kamu? Kapan?” aku mencoba berfikir keras. Apakah ia teman kuliahku? Ataukah aku pernah mabuk dan ML dengannya?

“Tidak ingatkah kamu dengan seorang wanita kecil yang menemanimu bermain saat kamu masih tinggal di Magetan? Tak ingatkah bunga mawar putih yang kau selipkan dengan lembut di kuping kanannya? Apakah kamu tidak ingat sama sekali?”

Ingatanku serasa terbang kembali ke masa 15 tahun yang lalu. Saat aku masih tinggal di Magetan, sebelum pindah ke Madiun. Aku selalu bermain dengan seorang gadis kecil yang lucu dan manis. Dia membuatku jatuh hati, Itu mungkin cinta pertamaku pada seorang wanita. Namun sejak orang tuaku pindah dan menetap di Madiun, aku mulai melupakan semua yang pernah terjadi di Magetan.

“Kamu…kamu Tyas? Tyasningsih. Oh, Tuhan!!!”

“Iya, Mas. Aku Tyas.”

Aku berdiri dan menuju ke arahnya. Aku memegangi wajahnya. Lalu dengan mata terpejam kukecup pipinya. Tiba-tiba bayangan seorang gadis mungil dari masa laluku muncul. Gadis kecil dengan rambut dikuncir dua yang tersenyum nakal. Kubuka mataku dan kudapati wajah itu berubah jadi Ning eh Tyas.

“Kamu melakukan ini demi aku atau memang kita kebetulan ketemu?”

“Aku mencarimu ke Surabaya atas informasi keluarga dekatmu karena aku tidak mau menikah selain denganmu. Aku berhasil dan diterima kerja di kantormu sebagai OG. Karena hanya inilah peluang yang kosong di departemenmu. Aku terpaksa melepaskan pekerjaanku sebagai manajer di salah satu perusahaan di Jakarta demi mencarimu.”

Mataku mulai berkaca-kaca. Aku tak menyangka dia begitu rela berkorban demi diriku. Aku goblok tak mengenalinya sejak dulu.

“Kenapa kamu tidak mengatakanya sejak dulu? Aku kan bisa langsung menerimamu. Tak tahukah perasaanku padamu setiap melihatmu. Aku sangat mencintaimu sebagai Tyas maupun Ning.”

“Aku tahu, aku tahu Mas memperhatikanku terus. Dan aku tahu Mas tak segera mendekatiku karena Mas takut pada omongan orang-orang kantor. Mas takut dibilang goblok karena jalan sama OB. Tapi aku tahu juga Mas nggak akan bisa melepaskanku. Buktinya Mas berani terus mendekatiku walau tahu resiko yang terjadi. Karena aku wanita satu-satunya yang Mas cintai.” ucapnya mantap sambil mencubit pipiku.

“Ih, yakin benar sih kamu. Jangan ge-er. Aku nggak suka sama kamu!!”

“Masa sih, kalau gitu aku besok nggak mau buatin kamu minum lagi. Aku akan melayani Pak Heri saja. Nggak akan menyapa Mas lagi.”

“Eh, jangan dong. Pak Heri kan gendut dan galak. Aku nggak mau kamu dibentak-bentak olehnya.”

Ning tersenyum kecil begitupun aku. Aku gembira sekali dan akan menempuh resiko apapun untuk mempertahankan hal ini. Termasuk cemoohan dari orang kantor.

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: