Laptop Merah


Laptop Merah

By Em En Rizal

“Berapa, Mbak?” tanya Ekah sambil mengamati dengan teliti laptop yang ada di depannya.

“Yang ini enam juta. Sudah diskon dan garansi satu tahun.”

“Nggak bisa kurang? Empat setangah juta mbak ya?” Ekah mencoba menawar. Dia sudah kesemsem dengan laptop warna merah di depannya. Laptop ini mempunyai spesifikasi : core 2 duo, memori 2G, hardisk 320G, pokoknya canggih lah. Sebenarnya Ekah tidak terlalu peduli dengan spesifikasinya tapi dia jatuh cinta pada bodi sekaligus tampilannya yang lucu.

“Aduh, nggak bisa, Mbak. Ini limited edition, Mbak.”

Ekah memandang laptop di depannya dengan wajah sedih. Jeremi yang ada disampingnya mengelus pundaknya. Menenangkan.

“Mungkin lain kali saja. Kita kumpulin uang dulu ya.”

Ekah menunduk lesu meninggalkan toko elektronik itu.

*********

Ekah segera melupakan tentang kegagalannya memperoleh laptop incarannya. Dia berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk dan tiada habisnya itu.

Namun satu hal yang Ekah mulai sadar. Jeremi mulai jarang menemaninya dan mengunjunginya. Setiap ditanya, dia bilang lagi sibuk kerja. Ekah hanya mendengus kesal dan diam tak berkomentar dengan alasan Jeremi.

Ekah tahu resikonya berpacaran dengan seorang pria yang bekerja. Hanya hari libur atau malam hari saja mereka bertemu. Itu sudah cukup bagi Ekah. Tapi Jeremi makin rajin bolos menemuinya. Dan sudah satu bulan ini, sejak mengantarkannya ke toko elektronik itu, Jeremi absen menemuinya. Paling hanya lewat telpon.

Ketidakhadiran Jeremi membuatnya mulai bertanya-tanya, apakah Jeremi punya wanita lain? Wanita yang lebih dewasa dari dirinya? Atau teman kantornya atau kliennya atau……Ekah menjadi panik sendiri memikirkan semua itu. Dia menghirup nafas panjang, menenangkan dirinya.

“Tidak. Tidak mungkin dia selingkuh. Dia baik hati dan setia. Itu sudah terbukti selama setahun ini.”

“Tapi dia tampan, gagah dan ramah. Siapapun bakal jatuh hati padanya.”

Hati baik dan buruk bertengkar dalam diri Ekah. Ekah jadi sumpek dan memutuskan untuk keluar jalan-jalan. Cuci mata. Ekah memutuskan untuk ke mall saja sekalian belanja. Sudah lama dia tidak belanja dan iseng-iseng dia mampir ke counter elektronik yang tempo hari dia datangi.

“Siang, Mbak. Oh, mbak yang dulu pernah liat laptop merah limited edition ya?”

“Iya, kok masih inget?” Ekah kaget mengetahui dia masih dikenali pramuniaga toko itu.

“Masih dong, Mbak. Mbak sedih sekali sih kelihatannya. Tapi sayang sudah laku, Mbak.”

“Sudah laku?!?” Ekah yang rencananya mau cari kebahagiaan untuk melihat laptop idolanya mendadak lemas. Tapi dia harus sadar juga bahwa itu barang dagangan jadi pasti laku juga.

“Tenang, Mbak. Kalau kita berharap sesuatu dengan serius, pasti Tuhan akan mengabulkannya dengan berbagai cara.” Ekah hanya mengangguk lemas tak peduli omongan pramuniaga cantik tersebut. Dengan langkah gontai Ekah meninggalkan counter elektronik itu, meninggalkan mall untuk meratapi kesedihannya yang berlipat. Untung dia tidak menjumpai Jeremi yang sedang menggandeng cewek lain. Untung saja.

*********

“Kamu kemana saja? Sudah satu bulan kamu nggak ngapel? Kamu punya wanita lain ya?” amukan Ekah meledak ketika Jeremi telpon. Luapan kemarahan karena jengkel, karena bete dan kecewa laptop idamannya telah laku terjual.

“Aku kan sering begini kalau lagi banyak kerjaan. Kamu harusnya sudah paham dong.”

“Tapi jangan selama ini. Memangnya aku robot. Aku butuh perhatian, butuh dihibur, butuh dimanja. Apalagi kalau aku ada masalah seperti tadi.” Ekah menceritakan kejadian yang menimpanya tadi siang.

“Sabar, mungkin belum jodohmu. Zulaekah sayaaaang, aku akan menebus kesalahanku sebulan ini.”

“Dengan apa? “ Ekah mulai lembut. Dia sangat senang di panggil lengkap begitu.

“Maunya apa?”

“Nantangin nih? Oke, aku terima. Aku mau ditemenin belanja dan makan di resto tempat pertama kali kita jadian. Sudah lama kita tidak kesana.”

“Okeh. Bahkan aku akan menemanimu seharian. Tapi janji juga kamu harus ada seharian. Kesimpulannya kamu harus bolos kuliah besok. Esok akan banyak kejutan buatmu.” Ekah sedikit heran Jeremi memenuhi semua tuntutannya bahkan mau nemenin dia seharian. Tumben.

*******

Ekah terus mengumbar senyum manisnya seharian ini. Bagaimana tidak, dia sekarang berada di samping kekasihnya yang tampan dan gagah. Dan Jeremi tiada habis-habisnya memanjakannya. Jeremi memeluknya, mencubit pipinya dengan gemas, mencium keningnya dengan lembut dan memperlakukannya bak ratu. Sungguh dia merasa bahagia sekali hari ini.

“Sayang, makasih banget hari ini. Kamu benar-benar menembus keabsenanmu selama sebulan. Memangnya ada apa sih kamu kok sibuk banget. Lagi kejar target ya?” tanya Ekah saat mereka makan malam di resto tempat mereka jadian dulu.

“Maafin aku sayang. Aku memang bekerja lebih keras bulan ini. Ini karena aku pengen memberimu sesuatu yang spesial. Bahkan aku harus mencari kerjaan tambahan di tempat lain. Dari pagi sampai malam, aku bekerja keras untuk memberimu tanda sayang dariku.”

“Ah benaran. Kamu bekerja dobel untuk memberiku sesuatu? Memangnya kamu mau memberiku apa?” Ekah penasaran.

“Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun. Aku cinta kamu seperti Romeo mencintai Juliet. Dan aku merasa kamu memang pantas dihargai mahal karena kamu wanita tercantik di muka bumi ini.”

Ekah makin melayang tinggi mendengar cowoknya itu memujinya. Dia memang paling tak tahan dipuji. Tiba-tiba Jeremi menjentikkan jarinya, cara yang dipakai untuk memanggil pelayan. Dan jentikan ini sama seperti saat Jeremi “nembak” dia.

Seorang pelayan mendatangi mereka dengan dua buah benda. Satu besar dan satu kecil.

“Kekasihku, sayangku, bukalah benda yang besar itu.”

Ekah dengan penasaran membuka kado besar berbentuk segi panjang itu. Dan kagetlah ia ketika ia mendapati laptop merah yang ia idam-idamkan.

“Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk membelinya, maafkan aku. Dan karenanya aku jadi jarang bertemu denganmu.”

“Kamu tidak perlu kerja tambahan untuk membelikanku ini. Aku hanya butuh kamu untuk menemaniku setiap hari. Aku sayang kamu dan itu tidak perlu kamu buktikan. Tapi terima kasih untuk hadiah ini. Aku benar-benar menyukainya.” air mata Ekah akhirnya tak tahan juga untuk jatuh. Dia tidak menyangka cinta Jeremi sebesar itu hingga mengorbankan dirinya untuk bekerja lebih keras agar memperoleh tambahan penghasilan untuk membelikannya laptop.

“Dan ini, tolong bukalah.” Ekah membuka kado yang kecil dan sebuah cincin emas putih terdapat disana. Jeremi mengambilnya dan berjongkok di depan Ekah. Jeremi memegang tangan Ekah dengan lembut.

“Zulaekah sayangku, kekasihku, maukah kamu menjadi istriku, yang menemaniku disaat senang dan duka?”

Ekah menangis bahagia. Tiada kata lain yang bisa ia ucapkan selain satu kata ini.

“Iya, Jeremi cintaku.”

“Yah ceritanya cemen dan terlalu jatuh cinta. Maklum, kubuat kala sedang jatuh cinta kepada cewekku yang ke…??? Hehehe becanda, g ada cewek. Yang ada cewek dalam imajinasi. Dan hasilnya terlalu mendayu-dayu. Bosan ah, tapi upload aja ah, selera orang kan beda2 hehehe” Em En Rizal.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: