Kala Cinta Datang Berkunjung


“CInta itu indah saat dia datang. Cinta itu indah saat dia menyapa. Cinta juga indah saat dia mencium hatimu. Namun cinta juga sangat kejam saat meninggalkanmu, meninggalkanmu dalam keadaan penuh derita dan kesakitan yang luar biasa. Siapkah kamu, saudaraku?” Em En Rizal

Kala Cinta Datang Berkunjung

By Em En Rizal

Aku duduk terdiam di sudut ruangan. Ruangan yang tidak terlalu terang. Hanya diterangi sebuah lampu petromak kuno. Cahayanya hanya mampu menerangi sejauh sepuluh meter. Ini membuatku hanya bisa memandang kesamaran dan keredupan.

Namun aku tak peduli. Toh aku sudah terbiasa. Aku sudah terbiasa menikmati semua yang ada dalam kesamaran cahaya petromak ini. Jadi, kenapa aku harus mengeluh kali ini ? Ini juga sudah cukup bagiku. Aku tak bisa membayangkan betapa ruginya orang yang tak bisa menikmati cahaya, yang hidup hanya mengandalkan indra selain mata. Aku lebih beruntung walau tak terlalu beruntung.

Kurebahkan tubuhku yang mirip zombie setelah seharian bekerja pada kasur reotku. Pada seprai kotor yang sudah lama tak kucuci karena aku belum sempat, atau lebih tepatnya malas. Kucium aroma pesing dari kamar mandiku. Huhm sudah lama ingin kusingkirkan bau itu namun tangan dan waktuku melarangku.

Aku tidak buta. Aku bisa melihat sempurna. Aku juga bukan orang miskin. Aku bukan pula pengangguran. Aku hanya punya masalah dalam memandang semua hal. Bagiku, semua hal terlihat samar-samar dan cenderung gelap. Seperti suasana kamarku sekarang. Temaram oleh lampu petromak.

Gedung-gedung perkantoran, rumah-rumah besar terjajar rapi di pinggir jalan, mobil-mobil mewah yang berlalu lalang di sekitarku, semua berwarna sama, samar-samar. Aku nggak tahu sejak kapan aku menderita penyakit aneh ini. Mungkin sejak tamat SMU. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau waktu SMU aku masih bisa menikmati indahnya dunia dengan warna-warnanya.

“Mungkin kamu kurang dekat dengan Tuhan. Minta ampunlah padanya?” saran teman-temanku. Aku diam terpaku. Tuhan. Aku tak pernah lupa dengannya. Tak boleh lupa malahan. Aku hidup karena izinnya dan aku selalu ingat kepadanya dimanapun aku berada. Bahkan dalam dunia yang penuh kekejaman dan tipu muslihat ini. Dimana yang baik kelihatan menjadi buruk, dimana orang sholeh dimuseumkan orang kafir. Aku masih tetap mengingatnya. Tuhanku diatas segalanya.

Tapi aku rasa bukan itu penyebab penyakitku. Aku merasakan kehampaan sejak umurku beranjak dewasa. Aku tak tahu kenapa. Memang aku pernah berlari dan terus berlari untuk mengetahui apakah itu, namun semuanya nihil. Tak ada perubahan dalam pandangan mataku dan kehidupanku.

Sampai kemudian…

Datanglah Cinta dalam kehidupanku. Dia mengenakan pakaian putih bersih dan bercahaya. Sontak seluruh pandanganku berubah. Semua tampak berwarna dan indah. Gedung-gedung pencakar langit bak pohon beringin besar berumur ratusan tahun yang menjadi peneduh bagi orang yang kepanasan dibawahnya. Mobil-mobil laksana hewan yang patuh tunduk padaku, dan orang-orang tersenyum ramah padaku. Tanpa kepalsuan, tanpa topeng, hanya ketulusan terpancar di wajah mereka.

“Akulah yang kamu tunggu selama ini. Aku memang sudah lama menunggu pertemuan ini dan sekarang aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Jagalah aku dengan sekuat tenaga.” ucapnya penuh kelembutan. Laksana lagu dengan syair dan melodi yang sangat indah. Musik dan liriknya seolah digubah oleh sang maestro dunia musik.

Aku menuruti semua kata-katanya. Aku tak pernah berpisah dengannya walau hanya sedetik. Aku selalu menjaganya, membawanya kemanapun aku pergi dan selalu memanjakannya. Dia sempat marah karena menurutnya aku terlalu protektif kepadanya.

“Aku menjagamu dan membuatmu selalu aman bersamaku dan memastikan semua baik-baik saja. Aku tak ada maksud untuk menghalangimu.” jawabku.

Dia masih nggak mau. Dia ingin sebuah ruang untuk dirinya. Aku menurutinya walau agak berat. Aku selalu memantaunya. Mengawasi setiap pergerakannya. Aku tak mau kehilangan dia. Cinta telah memberi warna dalam hidupku dan aku tak mau kehilangan warna yang indah itu. Aku masih ingin menikmati semua ini. Pemandangan yang dengan jelas menunjukan warna-warni dunia, bukan warna suram cenderung gelap.

Aku terus menjaga dan memelihara Cinta sebaik mungkin. Segala permintaannya selalu kupenuhi walau kadang itu tak masuk akal. Tapi itu sudah wajar dan normal. Teman-temanku bilang begitu. Jadi aku tetap bersabar dengan segala keluhannya.

Sayang, Cinta mulai bosan denganku. Dia sudah tidak menemukan keindahan dan keunikan saat bersamaku. Dia sudah tak menemukan lagi kehidupan bersamaku. Dia mulai kesal dengan segala perhatianku. Dia mulai muak dengan segala tingkah konyolku. Dia sudah bosan dan jemu. Dan akhirnya dia pergi meninggalkanku.

Malaikat putih dengan cahaya kemilau itu telah pergi. Sesuatu yang telah menerangi hari-hariku telah hilang dan musnah. Dia pergi meninggalkan luka yang sebelumnya tak ada. Dia meninggalkan lubang dimana-mana. Dia merusak dan menghanguskan segala keindahan hidupku.

Dan sekarang aku kembali dalam temaram lampu petromak kamarku. Duduk sendiri memandangi nyala api yang bergoyang kesana kemari, menggodaku untuk mematikannya sehingga hanya gelap dan gelap saja yang ada di sekitarku.

Aku sekarang dalam suasana temaram cahaya lampu petromak. Tapi satu hal yang berbeda. Aku duduk dalam kondisi terluka dan tersayat oleh kibasan tangan Cinta. Namun aku tidak sedih. Aku justru bahagia. Bahagia karena sudah melihat keindahan dunia yang berwarna walau sebentar.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: