Falling In Love vs Love


“Alur ceritanya sih mudah ditebak dan tidak ada yang special. Makanya gak ada yang mau menerbitkannya. Namun bagiku ini yang paling istimewa karena menjadi suatu kenangan abadi akan salah satu cintaku yang menangis di sebuah kedai McD. Dan hatiku seperti salah satu tokoh ini sakit. Sakit karena telat untuk bilang cinta padanya. Dan sekarang dia sudah menjadi milik orang lain. Menyesal seumur idup deh. So, bagi yang nggak mau menyesal seumur idup, segera kawinin tuh pasanganmu. Jangan lama2 ntar jadi karatan dan bau busuk lo hahahah…..” Em En Rizal.

Falling In Love vs Love

By Em En Rizal


“Banyak sekali, Ton. Tak terhitung” jawab Weko bangga. Anton menggelengkan kepala, takjub, sekaligus heran. Takjub karena temannya itu dengan mudahnya menggaet perempuan manapun tapi herannya diantara sekian banyak itu, tak satupun Weko cintai.

“Diantara segitu banyak masa tidak ada satupun yang kamu cintai eh kamu sayangi setulus hati?” Anton meralat kata cinta yang ia gunakan. Maklum Weko tidak menyukai kata itu bahkan ia pernah bilang kalau dia tidak mengenal kata aneh itu.

“Aku nggak pernah menyayangi mereka. Kamu tahu, aku memacari mereka karena cantik, kaya, seksi, enak diajak dugem, dan…pokoknya banyak alasan deh. Dan diantara banyak alasan itu tak ada yang kujadikan pacar karena aku mencintai mereka atau apapun istilahmu itu. Tai kucing itu cinta!!

“Kalau begitu apa yang kamu rasakan saat kamu berdua dengan mereka?”

“Aku hanya merasakan kesenangan dan kebanggaan.”

“Jadi kamu anggap mereka hanya barang, yang bisa sesukamu kamu gunakan. Tak ada perasaan tertentu di hatimu?”

Weko menggeleng pelan sambil memandang ke arah foto keluarga yang terdapat di dinding kamar Anton.

“Kesimpulannya mereka tak ubahnya pelacur?”

“Nggak serendah itu. Pelacur menjual tubuh mereka. Aku masih menghormati mereka kok. Dan satu lagi, mereka tak meminta bayaran padaku saat aku menggauli mereka.”

“Apa?? Kamu sudah melakukan itu pada mereka semua?”

“Ton, ini zaman modern. Sudah hal lumrah. Jangan munafik deh.”

Anton menunduk pasrah. Dia memang salah berteman dengan Weko. Dia playboy, maniak seks, penjahat kelamin, dan beribu julukan jelek lainnya layak disematkan padanya. Tapi hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk memutuskan hubungan pertemanannya dengan Weko karena dia adalah satu-satunya orang yang mempercayainya.

Dan resiko berteman dengan orang brengsek ya seperti kejadian barusan. Dengan entengnya Weko mengatakan freesex adalah hal lumrah baginya. Anton bukan tipe penganut aliran sesat itu, tapi dia juga bukan penghujat abadi kaum itu, dia hanya tidak suka. Itu saja.

“Jadi gimana, Ton? Bisa ajari aku jatuh cinta?” tanya Weko sembari menghadapkan wajahnya ke Anton.

Anton melayangkan pandangannya ke jendela kamarnya. Dia begitu bingung menghadapi kunjungan Weko kali ini. Iya, Weko memang sering berkunjung ke rumahnya. Kadang sekedar main, kadang juga dia membutuhkan tempat untuk tidur karena rumahnya sudah terkunci atau lagi menghindari kejaran cewek-cewek yang meminta pertanggungjawabannya. Tapi baru kali ini Weko datang untuk menanyakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Hal yang sulit untuk dipenuhi.

“Aku nggak tahu bagaimana kasih jawaban ke kamu.”

“Nggak usah ribet-ribet deh. Aku butuh gamblangnya saja. Kamu kan punya Uwie. Kamu bisa menceritakan ketertarikanmu dengan Uwie padaku. “

“Ko, dari tadi kamu mendesakku terus tentang bagaimana jatuh cinta itu. Memangnya ada apa sih?”

“Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu rasanya saja.”

Anton menatap Weko penuh selidik. Kalau temannya satu ini sudah bertanya dengan penuh desakan berarti dia memang sedang terlibat suatu masalah besar. Diperhatikan terus menerus begitu membuat Weko menjadi gugup sendiri. Dia tahu Anton sedang mengetes kejujurannya.

“Baiklah….baiklah..ini semua berkaitan dengan salah satu cewekku.”

“Ceritakanlah kalau mau kubantu” Anton melipat kedua tangannya, siap mendengarkan keluhan Weko.

***********

Satu minggu yang lalu, di cafe Broccoli.

“Malam, Wulan. Sudah lama menungguku?” Weko menyapa seorang wanita keturunan cina. Wanita itu putih, cantik dan anggun, khas wanita keturunan Cina pada umumnya.

“Nggak juga, satu jam lah.” canda Wulan. Weko tertawa kecil. Dia lalu sibuk memesan makanan. Dia tak tahu sedari tadi mata Wulan mengamatinya. Wulan adalah seorang teman dekatnya selain Anton. Dan sampai sekarang Anton heran kenapa Weko tak memacarinya. Padahal hanya butuh 2 jam bagi Weko untuk menggaet wanita manapun. Ironisnya Weko sudah berteman 2 tahun dengan Wulan dan tidak terjadi apapun diantara keduanya.

“Jadi bagaimana hubunganmu dengan Gunawan? Baik-baik saja kan?” kata Anton sambil cengar-cengir.

“Kamu kemana saja selama ini. Aku tak tahu harus kemana saat butuh teman.” Ucap Wulan dingin. Anton kaget.

“Ada apa? Kamu nggak putus kan?” Weko memegang tangan Wulan penuh perhatian. Dia tahu Wulan wanita yang rapuh dalam hal percintaan.

“Aku tersiksa selama ini. Gunawan tidak seperti kelihatannya. Dia kejam, egois, posesif. Aku sudah tak tahan.”

“Kamu gimana sih? Dulu kamu bilang dia baik padamu. Aku mendukungmu karena kamu bilang dia baik. Kalau tahu begini aku tak akan merestuimu.” Weko kelihatan sedikit emosi.

“Memang posesif dan egosinya seperti apa ?” tanya weko penasaran.

“Dia melarangku berhubungan dengan cowok lain terutama kamu. Dia juga melarangku memakai pakaian yang kusukai karena menurutnya aku terlihat seperti pelacur. Dia juga melarangku keluar malam sendirian, padahal aku kan nggak bisa jadi tahanan rumah terus menerus.”

Weko kaget mendengar penjelasan Wulan. Dia tak habis pikir ada cowok kolot seperti itu. Dia tak menyangka Wulan terperangkap dengan cowok yang punya sifat aneh.

“Kan sudah aku bilang, pikirkan semua baik-baik. Aku bahagia bila kamu bahagia, Aku nggak nyangka malah seperti ini. Dulu kan sudah kubilang kalau laki-laki macam dia itu brengsek dan tak baik untukmu. Dia itu…” Weko tak meneruskan kata-kata “pujiannya” karena melihat Wulan mulai menangis.

Wulan menunduk dengan kedua tangan berada di wajahnya, menutupi isak tangisnya. Weko jadi panik. Dia tak ingin disangka menyakiti seorang wanita. Ketika menoleh ke kanan kiri dia dapati banyak pengunjung melihat ke arah mereka terutama ke dia!

“Wulan……jangan…menangis….cup…cup….” Weko berusaha menenangkan Wulan. Ketika wajah Wulan menghadap ke arah Weko, Weko merasakan perasaan lain.

Wajah yang penuh air mata, yang sedang menyembunyikan rasa sakitnya. Weko tiba-tiba merasakan rasa aneh luar biasa. Hatinya sakit dan sedih. Weko tak tahu mengapa bisa begitu. Dia hanya tidak mau Wulan berwajah sedih seperti itu.

“Wulan, kamu jangan menangis dong. Aku menjadi sedih melihatmu seperti ini. Aku tak mau melihatmu menangis. Tolong deh, berhentilah menangis.”

“Aku sudah tak kuat, Ko. Aku sudah tak tahan dengan sikapnya. Dia membuatku menjadi robot. Aku nggak tahu kenapa aku masih bertahan dengannya. Aku nggak tahu.”

Weko berdiri dan duduk dekat Wulan. Dipeluknya Wulan sepenuh hati. Dia hanya ingin membuat Wulan merasa nyaman. Weko tak tahu kenapa dia begitu sedih saat ini. Di pikirannya saat ini, ia hanya ingin Wulan bahagia dan tidak menangis lagi. Hanya itu.

*************

“Jadi hanya perasaan sedih dan sakit yang kamu rasakan?” tanya Anton setelah mendengar cerita Weko.

Weko mengangguk ragu. Dia sudah tak tahu harus kemana lagi dia minta saran. Sudah satu minggu dia mencari jawaban tentang perasaan ini.

“Kamu cinta pada Wulan.”

“Ini pertanyaan ya? Kalau pertanyaan, jawabannya tidak. Aku tidak jatuh cinta padanya. Dia sahabatku, tak lebih.”

“Dengar, Ko. Di hatimu telah tumbuh benih cinta pada Wulan sejak dulu, hanya kamu tidak menyadarinya dan sekarang benih itu sudah dewasa dan kamu berhak tahu akan keberadaannya.”

“Aku jatuh cinta pada Wulan? Mana mungkin? Kalau iya, kenapa tidak sejak dulu aku pacaran sama dia?”

“Aku nggak tahu apa yang terjadi pada hatimu dan masa lalumu dengan Wulan. Tapi aku bisa menyimpulkan kalau kamu cinta Wulan. Hanya kali ini kamu tidak melewati jatuh cinta melainkan sudah dalam tahap cinta.”

“Memang apa bedanya?” tanya Weko bingung.

“Jatuh cinta itu, suatu perasaan yang indah, membuat hati berdebar-debar kalau bertemu dengannya dan tak bisa seharipun memikirkan tentangnya. Yah, seperti yang terjadi di film-film itu loh. Intinya itu adalah api yang berkobar sangat besar di hatimu. Bergelora dan meletup-letup.”

Anton memperhatikan Weko yang dengan serius mendengarkannya.

“Tapi cinta beda. Bila api itu telah padam, yang tersisa adalah bara api. Letupan-letupan kecil. Perasaan berdebar-debar tadi sudah hilang, keinginan ingin ketemu setiap hari juga sudah mulai surut.”

“Terus kenapa banyak orang memuja cinta?”

“Kamu tahu kenapa banyak orang lebih suka menulis cinta daripada jatuh cinta? Kenapa banyak orang lebih senang menulis Love daripada falling in love?”

Weko menggeleng lagi.

“Karena cinta lebih abadi. Cinta lebih hidup dan membuat hidup lebih indah.”

“Nanti dulu deh. Aku masih belum mengerti. Jangan berfilosofi dalam-dalam dulu. Beri penjelasan yang mudah diterima otakku.”

Anton menghela nafas jengkel. Dia merasa sia-sia mengobral omongan sedari tadi.

“Cinta itu…” Anton menghentikan sebentar kalimatnya, supaya lebih masuk ke otak dungu Weko. ” Cinta itu selalu ada dalam hati. Perasaan ini akan muncul bila pasangan atau sesuatu yang berharga dalam hidup kita itu terancam. Misalnya dalam kasusmu, Wulan disakiti. Hatimu yang dipenuhi cinta pada Wulan membuatmu bersedih dan ingin menyelamatkan. Cinta juga bisa membuat orang melakukan apapun bahkan sampai bunuh diri. Cinta itu bisa sangat menyenangkan tapi bisa juga sangat menyakitkan.”

Weko terdiam. Merenungkan kata-kata Anton.

“Jadi apakah aku mencintai Wulan? Apa yang harus kulakukan?”

“Kamu yang tahu jawabannya sobatku. Kamu harus tanya sekali lagi apa yang kamu rasakan. Kalau menurutku, kamu mencintainya karena sepanjang kita berteman, kamu selalu antusias dan bahagia saat menceritakan Wulan. Ada perasaan memiliki saat kamu menceritakan dirinya. Dan tinggalkanlah petualanganmu selama ini.”

“Maksudmu?”

“Kamu berpindah-pindah dan bergonta-ganti pacar bukan karena kamu menyukai mereka melainkan kamu melarikan diri dari sesuatu. Dulu aku pikir masalah keluarga tapi malam ini aku baru tahu kalau ini berhubungan dengan Wulan.”

“Apakah sebaiknya aku ungkapkan isi hatiku pada Wulan?”

“Apakah kamu ingin kamu menangis di kemudian hari karena wanita yang kamu cintai pergi ke pelukan orang lain? Tak bisa kah kamu bayangkan bagaimana perasaanmu memandang orang yang kamu cintai tertawa bahagia dipelukanmu?”

Weko menatap Anton lama. Kemudian dengan cepat ia berlari keluar, menuju rumah Wulan.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: