Siapa Bilang Jomblo itu enak?


By: Em En RIzal

 

Mau bukti?

Ketika malam mingguan, ketika yang lain sedang asyik memadu kasih dengan pasangannya, aku, seorang jombloers,  duduk sendiri di depan televisi.  Melihat kilatan-kilatan acara yang aku tidak tahu. Kadang aku tidak berada disana karena otakku sedang mengembara ke negeri khayalanku. Di sana aku sedang menjemput putri impianku yang cantik dengan kereta kencana. Membawanya pergi berkeliling seantero jagat. Menikmati keindahan dunia. Hanya berdua. Alamak indahnya.

Bukti lainnya? Ketika aku sedang kesusahan atau lagi menghadapi masalah yang pelik, tiada orang yang mau menjadi “sampah”. Pun begitu kala aku lagi down karena banyak sebab, tiada manusia bernama wanita yang memotivasiku agar aku bangkit dan melupakan semuanya. Menyedihkan!

Masih kurang?

Semua pekerjaan kukerjakan sendiri. Makan sendirian, liburan sendirian, nonton tivi atau film sendirian. Memutuskan beli baju untuk ke kondangan sendirian. Ke kondangannya juga sendirian.

Saat yang lain bermesraan, memadu kasih, aku hanya bisa menelan ludah. Sesuatu yang sangat menyakitkan apalagi jika hal ini sudah menjadi penyakit menahun seperti diriku. Aku sudah menjomblo hampir 10 tahun. Bukan waktu yang sebentar bukan?

Aku harus bertindak. Aku harus mengakhiri kesepianku selama ini. Aku tidak mau masa mudaku habis di depan tivi menonton Tora dkk melucu di ekstravaganza. Aku ingin menghabiskan malam mingguku menonton dan membahas aksi Tora dalam Nagabonar jadi 2 dengan kekasih hatiku.

 

*********

 

Aku tertawa girang. Akhirnya aku sudah tak jomblo dan rasanya enaaaak sekali. Aku merasakan keindahan yang tak bisa kulukiskan. Kami menghabiskan malam minggu berdua, membahas film yang baru kami tonton, membahas gosip perceraian artis, dan hal-hal tak penting lainnya yang tiba-tiba menjadi penting dan wajib kami bahas. Perhatian penuh kasih dan rasa sayang yang tak terbatas menyelimutiku selama aku berada di sisinya. Namanya Camelia. Ia gadis cantik yang kutemui ketika aku jalan-jalan di konter hape. Dia salah satu SPG counter disana.

SPG??

“SPG itu sering jadi cewek panggilan? Sering menemani om-om?” kata Yudit kurang senang dengan pilihanku. Aku hanya tertawa geli. Mana mungkin aku menghiraukan kata-kata orang kesepian macam dia. Yudit hanya iri padaku karena dia belum menemukan kekasih. Jadi kubiarkan saja dia ngomel tak karuan yang penting aku sudah merasakan enaknya punya pacar.

Tapi ternyata omongan Yudit terbukti. Camelia terpergok lagi “membuat Film” di dalam gedung bioskop. Aku memergokinya karena kebetulan aku menonton film bersama teman-temanku. Hatiku hancur berkeping-keping.

Aku benar-benar sakit. Tapi aku tidak menyesal  karena gagalnya salah satu cerita cintaku. Kata orang, sukses itu harus bertahap dan kegagalan adalah salah satu tahap yang wajib dilalui. Jadi aku anggap ini merupakan salah satu tahap menuju kesuksesanku. Kesuksesan dalam bercinta.

Dan setelah berminggu-minggu hunting, akhirnya kutemukan juga gadis itu. Namanya Nita. Dia lembut dan pintar mengambil hatiku. Aku dengan cepat terlelap dalam pelukannya. Berbagai rayuan dan kemanjaannya membuatku tersedot dalam rengkuhan tangannya. Agar aku tidak terperosok ke lubang yang sama, aku menyelidiki latar belakangnya. Dia bukan SPG! Dia seorang mahasiswa ekonomi di PTN terkenal di kota ini.

Aku mengenalkan dengan Yudit. Kali ini ia menyukai pilihanku. Aku senang karena sahabatku tak mencelanya dan Nita juga dengan cepat menyesuaikan diri dengan Yudit. Kami bertiga sering jalan bareng dan menghabiskan hari-hari bersama.

“Bembii, aku mau ngomong sesuatu tapi kamu janji dulu sama aku kalau kamu nggak akan marah?” kata Nita suatu hari.

“Mau ngomong apa sih kok harus pakai janji segala?”

“Pokoknya kamu janji dulu untuk nggak marah. Janji?” ucapnya manja seperti biasa. Aku tahu kalu begini ia mau mengakui dosa yang ia lakukan. Dulu ia melakukan ini saat ia menghilangkan barang pemberianku, di saat yang lain karena ia lupa membelikanku barang yang aku pesankan jauh-jauh hari. Aku nggak tahu kesalahan apa yang ingin dia beritakan padaku.

“Oke, aku janji nggak akan marah padamu dan seperti yang kamu tahu, aku tidak pernah melanggar janjiku.”

Nita memandangku sambil mengernyitkan kedua alisnya. Aku memberi isyarat kalau aku serius dengan ucapanku. Dia menghela nafas, memulai pengakuan dosanya.

“Bem, aku mohon maaf sebelumnya karena ini akan menyakitimu. Aku selama ini sering jalan dengan yudit dan ternyata dia menyenangkan. Lama-kalamaan aku jadi suka dengannya dan kuputuskan jadian dengannya sejak seminggu yang lalu. Aku tidak ingin kamu mengetahuinya sendiri, jadi lebih baik aku katakan lebih dulu karena ini kesepakatan kami berdua. Dia telah menunggumu di rumahmu untuk menjelaskan semua.” Ucap Nita tanpa rasa bersalah.

Aku menatap Nita tak percaya. Aku benar-benar terkejut. Wanita yang kucintai lari kepelukan sahabatku. Aku yang menanam bayam, sahabatku yang memakannya. Dasar pengkhianat! Emosiku meluap ke permukaan. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku sudah berjanji untuk tidak marah dan aku lelaki yang memegang komitmen. Maka aku hanya bisa duduk diam di taman kota sambil merenungkan diri. Ternyata lebih enak jomblo daripada pacaran. Hati tidak terluka dan tidak pusing memikirkan berbagai kecerewatan wanita. Lebih bebas. Jadi siapa bilang pacaran enak?

 

**********

 

Tunggu dulu, Bro………..Tunggu!

Kisahku belum selesai. Aku memutuskan mencoba lagi karena pacaran itu seperti zat adiktif macam nikoton, heroin ataupun morfin. Enak, membuatku ketagihan dan tak bisa berhenti secepat itu. Tak ada kesenangan tanpa ada kesakitan terlebih dahulu. Aku terus mencoba mencari belahan hatiku walaupun aku tahu aku sering gagal. Aku bukan takut kesepian, kesendirian dan tak punya aktifitas di malam minggu. Aku hanya merasa tidak nyaman saat orang-orang memanggilku jomblo!!!

Jadi kuputuskan untuk menggaet Leni. Cewek cantik berbibir seksi berotak kotor. Yah sedari tadi mendapat cewek berpenampilan baik namun berotak durjana, sekarang aku memutuskan mencari cewek durjana berotak…durjana juga. Dan hari-hariku kembali ceria dan riang gembira. Bahkan lebih bahagia daripada saat berjalan dengan dua cewek sebelumnya.

Jadi, siapa bilang jomblo itu enak? Yang berani bilang enak, berarti jomlo selamanya hahahaha.

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: