PMS


“Upload….nggaak…upload…nggaak…, itulah yang menderaku. Maklum, ceritanya lucu jadi pengennya diupload dan dibagi kesemuanya. Namun dari sisi inti cerita, terlalu sederhana. Udah deh, apapun komennya kuterima dengan iklas. Maklum, dutulis saaat belajar menulis. Monggo…” Em En Rizal

 

PMS

By: Em En Rizal

 

“Cin, bajuku bagus nggak? Aku baru membelinya sore tadi.” Dinta memutar-mutar tubuhnya dihadapan Lintang. Lintang meletakkan majalah angkasa yang dibacanya. Ia mengamati dengan serius seolah ia ahli mode.

“Bagus, mahal nggak?”

“Mahal sih tapi di badan nyaman dan pas kok.”

“Oh…” Lintang kembali mengamati majalah.

“Kok oh? Kamu nggak suka ya?” Dinta duduk disebelah Lintang dengan bibir manyun.

“Siapa yang bilang nggak suka. Aku hanya bilang oh. Nggak ada maknanya. Jangan terlalu peka dong.”

“Peka? Jadi selama ini kamu anggap aku terlalu peka? Jadi kamu bilang aku berlebihan menilai sesuatu?” Dinta menaikan suaranya.

“Sayaang, aku nggak bilang begitu. Sudahlah, jangan membahas yang nggak penting.”

“Nggak penting? Ini semua kamu bilang nggak penting? Aku beli baju agar aku terlihat cantik di depanmu, Cin. Kamu malah bilang aku terlalu peka dan suka membahas sesuatu yang nggak penting. Maumu apa sih?”

Lintang gelagapan. Dia enggak tahu kenapa pacarnya itu tiba-tiba marah hebat seperti sekarang.

“Say, kamu kenapa? Kamu ada masalah?”

“Kamu masalahnya. Pulang sana. Aku malas ngomong sama kamu.”

Lintang terpaksa meninggalkan Dinta. Dia memilih mengalah daripada dia melanjutkan pertengkaran nggak penting itu.

**********

 

Dan memang itu merupakan pertengkaran nggak penting. Ternyata saat itu Dinta sedang mengalami fase yang biasa dialami wanita dewasa.

“Sory, Cin. Aku saat itu menstruasi. Jadi aku peka dan gampang marah-marah. Aku kira kamu tahu. Tapi untung loh saat itu kamu segera pergi. Kalau nggak, bisa makin kacau.”

“Makin kacau? Maksudmu? “

“Bisa-bisa kulemparkan barang-barang ke wajahmu yang tampan ini. Biasanya kalau aku marah, aku dengan gampang membuang sesuatu. Aku juga nggak tahu kenapa aku dengan begitu mudah terpancing. Tapi dengan begitu kamu bisa makin mengenalku, bukan?.”

“Jadi begitu ya. Ternyata wanita itu makhluk yang susah di mengerti. Ada siklus menstruasi lah, siklus cerewet lah..”

“Siklus cerewet? Maksudnya?”

“Maksudnya, cewek itu suka cerewet tanpa sebab. Aku rasa bukan karena menstruasi tapi karena dari sononya memang mulutnya tipis jadi gampang sekali mengoceh.”

Dinta menghujani Lintang dengan seribu cubitan. Dalam kehidupan sehari-hari, Dinta merupakan wanita yang ramah dan menyenangkan. Hampir tidak pernah dia marah. Tapi sejak kejadian itu, Lintang jadi tahu suatu hal tentang wanita. Siklus menstruasi.

Dan setiap datang bulan. Lintang memilih mengalah dan melakukan apapun yang disuruh Dinta tanpa banyak komentar.

 

*********

 

“Kamu kenapa bohong padaku?” sambut Dinta saat Lintang mau masuk ke rumahnya. Sambutan yang tentunya sangat tidak diharapkan Lintang.

“Aduh, ada apa lagi nih?”

“Kamu bohong padaku. Kamu menikamku dari belakang?!?’ Suaranya sudah naik satu oktaf. Alarm Lintang berbunyi. Ceweknya lagi marah besar. Lintang pasang kuda-kuda, untuk lari!

“Say, ini kan belum saatnya mens. Betul khan?”

“Nggak ada hubungannya sama mens. Jawab dulu kenapa kamu bohong padaku? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu jalan sama Rini?”

“Rini? Bukankah kamu yang suruh? Kan kamu tahu kalau aku dan dia lagi jalanin proyek yang sama?”

“Proyek? Ini bukan tentang proyek. Ini tentang selingkuh. Kalau ngomongin proyek di kantor. Bukan di restoran mewah!”

“Tapi memang benar. Aku lagi ngomongin proyek dengan Rini. Lagipula aku sudah ngomong sama kamu. Rini sendiri malah telpon kamu. “

“Bohong! Aku tak pernah mengijinkan pacarku selingkuh. Pulang! Aku tidak mau melihatmu.”

BRUKK!!

Dinta menutup pintu rumahnya. Lintang menarik nafas cepat-cepat. Butuh releksasi untuk menyelamatkan emosinya. Dia segera menuju rumah Rini. Dia ingin mengklarifikasi secepatnya. Dia tidak mau dituduh selingkuh. Apalagi dengan Rini, sepupunya sendiri.

“Cowok..cowok…” Rini tertawa mendengarkan cerita Lintang.

“Kok ketawa. Aku serius nih. Aku benar-benar bingung dengan sikap Dinta. Masak kita dituduh selingkuh. Kamu kan sepupuku sendiri. Dia gila kali ya?”

“Sabar…jangan emosi dulu. Kalau boleh tahu, kapan dia mens?”

“Seharusnya 3 hari lagi.”

“Sampai hapal ya. Ck ck ck” Rini menggelengkan kepalanya. Kagum.

“Aku memang wajib tahu karena saat itulah, saat–saat yang paling menjengkelkan bersamanya. Aku kena marah terus.”

“Sekarang, kamu perlu tahu satu hal lagi. Sebelum mens, wanita menderita satu sindrom lagi. Sindrom ini lebih berbahaya dan ganas dari pada sindrom mens. Namanya PMS. Pre Menstruasi Sindrom. Sindrom sebelum mens. “

“Memangnya apa efeknya pada wanita?”

“Mereka sangat sensitif. Dan sepertinya Dinta sedang mengalami sindrom itu. Jadi bersikaplah seperti kamu menghadapinya saat mens.“ ucap Rini tersenyum geli. Lintang menghela nafas lega. Susah benar memahami wanita.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: