Orang Terakhir


“Baru sadar kalau aku pernah menulis cita-cita dalam pernikahanku di masa depan. Saat itu aku sering gagal dalam bercinta (sampai sekarang sih), namun ada sikap positif thingking yang coba kubangun. Semoga bisa menginspirasi yang lain.” Em En Rizal.


Orang Terakhir

By: Em En Rizal

 

Sue memandangi gelas bening berisi soft dring yang tinggal setengah gelas. Sambil lalu ia memandangi orang-orang yang lalu lalang di luar dinding mall yang terbuat dari kaca bening. Hanya kaca tipis namun itu cukup untuk membatasi perbedaan hati antara Sue dan mereka.

Mereka tertawa gembira seolah tidak ada masalah yang menimpa mereka. Tentu saja karena mereka sedang bersama pasangannya, yang dengan setia menemani mereka menjalani kepahitan hidup. Siap sedia berkorban apa saja demi membantu pasangannya gembira.

Pasangan pertama, seorang wanita muda, cantik, dengan blazer hitam berjalan dengan muka berseri-seri menggandeng seorang eksekutif muda yang kelihatannya mapan secara finansial. Kemudian menyusul di belakangnya, pasangan kedua, seorang ibu-ibu gemuk menenteng belanjaan sangat banyak, menggandeng seorang lelaki yang tak kalah gemuk, juga dengan belanjaan yang tak terhitung.

Sue tersenyum. Senyum yang dipaksakan karena iri melihat kemesraan itu. Yeyen diam-diam memperhatikan perubahan wajah sahabatnya itu.

“Kalau senyum, senyum yang ikhlas dong. Jadi yang lihat juga senang.”

Sue kembali jutek mendengar komentar Yeyen.

“Kenapa orang-orang itu bisa bahagia dan mempunyai kekasih yang mereka cintai dan sayangi sepenuh hati. Sedangkan aku tidak.”

“Hemm mulai lagi deh. Apa perlu aku buat rekap lagi tentang ketidakstabilan dirimu.”

“Tidak stabil?? Apakah aku separah itu hinggga kau juluki diriku tidak stabil??” Sue menatap tak percaya.

“Bagaimana bisa disebut stabil jika mendapat sedikit tekanan saja sudah oleng. Kamu harus kuat dan nerimo menjalani semua hubunganmu. Jangan pernah lari.”

Sue kembali diam mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia tidak menyangkal atau menerimanya. Memang dia tidak beruntung dalam percintaan. Setiap kali ia sudah merasa cocok dengan seseorang, entah karena dia atau pasangannya, mereka bubar.

Padahal diantaranya ada yang sampai lima tahun lebih bahkan sudah bertunangan. Semuanya buyar karena Sue kaget melihat sikap asli dari Brian, nama cowok itu.

“Aku hanya tidak ingin masuk dalam neraka yang dia ciptakan.”

“Brian maksudmu?? Oke, aku juga setuju denganmu. Namun dengan Rio? Dia anaknya baik dan juga pengertian. Lalu Yan dan siapalagi itu yang terakhir, Med. Mereka baik semua namun kamu tinggalkan tanpa alasan yang tidak jelas.”

“Bukan tidak jelas. Aku tidak menyukai mereka.  Aku nggak nyaman saja. “

“Apa semua harus dinilai dengan kenyamanan? Aku juga jalan sama Dewa asalnya nggak nyaman namun sekarang kami sudah menikah dan punya dua anak. Aku tidak perlu nyaman. Asal cocok, beres deh. Permasalahannya kamu bukan seperti cewek normal. Sebenarnya kamu mencari yang bagaimana sih?”

“Nggak tahu!!!” jawab Sue asal.

Sue kembali menatap ke luar. Kali ini dibuat kaget dengan seorang anak SD yang sudah berani menggandeng seorang cowok yang lebih gede darinya. Gila, dunia sudah gila!!

 

************

Lima bulan kemudian

 

“Kita makan dulu. Sue mau makan apa?”

“Makan yang ringan saja, Jo. Aku sudah kenyang.”

“Oke, kita ke warungnya Bu Karjo saja. Disana lengkap.”

Sue hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia melirik Jo yang dengan terampil mengemudikan mobil avanza barunya dengan hati-hati. Takut rusak. Maklum masih baru, baru kredit !!

Sue manatap keluar jendela. Ia merasa heran dengan sikapnya terhadap Jo. Sudah tak terhitung berapakali ia berganti pacar namun baru kali ini menjalaninya dengan santai dan tanpa tekanan. Dengan cowok-cowok sebelumnya, ia harus merubah penampilan dan dirinya, mengikuti gaya cowok yang ia kencani. Mungkin itu yang membuatnya tidak nyaman jalan sama mereka.

Namun tidak pada Jo. Jo bukanlah teman atau sahabatnya. Namun ia merasa Jo adalah teman sekaligus sahabatnya yang telah lama terpisah. Ia tidak pernah sungkan mengutarakan niatnya dan ia juga tak pernah canggung mengeluarkan sifat jeleknya. Ia merasa tidak perlu jaim di depan Jo.

Jo segera memesan makanan untuk mereka berdua setelah keduanya masuk ke Warung Bu Karjo. Sedangkan Sue segera mencari tempat duduk. Tanpa banyak bicara mereka membagi tugas masing-masing. Tidak ada yang perlu saling merepotkan walau kadang mereka saling bermanja ria. Kadang itu diperlukan, bukan?

“Kenapa wajahmu sepertinya sedang gelisah? Kamu ingin bicara sesuatu?”   tanya Jo ketika mereka sudah duduk berdua, menunggu pesanan diantar.

“Aku hanya heran dengan hubungan kita. Kenapa aku bisa langsung klop denganmu tanpa harus menunggu waktu lebih lama untuk mendapatkan feel ini?”

“Maksudmu?”

“Aku begitu menikmati kesederhanaan ini. Aku merasakan begitu mencintaimu apa adanya. Tak ada perasaan yang membara, menggebu-gebu lalu menghilang tak berbekas seperti ditelan angin seperti hubunganku sebelum-sebelumnya. Dari awal dan sampai sekarang perasaanku kepadamu tetap. Tak berubah bahkan semakin meningkat. Aku heran kenapa bisa begitu.”

“Memangnya kamu merasa sebesar apa cintamu padaku?”

“Pokoknya besar banget. Aku juga heran kenapa bisa begitu. Aku merasa sudah mengenalmu sejak lama dan tidak perlu adaptasi lagi denganmu. Aku hanya perlu meningkatkan rasa cintamu padaku sampai level tertinggi dan menahannya seperti itu terus.”

Jo tersenyum tipis. Dia mulai memahami apa yang dimaksud Soe.

“Kamu tahu sejarah percintaanku?”

“Nggak. Kan dari awal kita sudah komitmen untuk tidak membuka masa lalu. Walaupun aku menceritakan sebagian kisahku. Itu karena aku yang menginginkannya. Namun aku nggak pernah memaksa kamu untuk menceritakan masa lalumu.”

“Nah sekarang aku ingin berbagi sedikit dengamu. Aku ingi  menceritakan kepahitan cintaku sebelum bertemu denganmu.”

Sue terdiam. Walau ia senang Jo mau menceritakan masa lalunya namun ia juga takut karena ia akan dihampiri rasa cemburu yang bisa membuatnya panas dingin. Ia takut mendengar ada orang lain yang pernah bermesraan dengan Jo.

“Aku bukan lelaki beruntung dalam cinta. Aku berkali-kali gagal membina hubungan. Karena ditinggalkan, diselingkuhi atau ketidakcocokan sifat adalah salah satu sebab. Namun aku tidak pernah menyerah untuk mencoba dan terus mencoba membina hubungan.”

“Aku orang ke berapa yang kau coba?” Sue mulai panas.

“Sabar kekasihku. Masih banyak yang harus kau dengar. Aku pernah sampai putus asa ketika aku gagal terus. Aku merasa Tuhan begitu kejam padaku hingga harus menghukumku dengan kegagalan-kegagalan yang begitu pahit. Aku tahu kegagalan itu cambuk namun kegagalan dalam percintaan adalah kematian yang perlahan menggerogoti kepercayaan diri. Dan aku sepertinya sudah mengalaminjya saat itu.”

“Sampai suatu saat aku bertemu salah seorang kawan lamaku. Aku berkeluh kesah padanya. Dan jawabannya atas semua curhatku itu begitu hebat sehingga membuat diriku seolah lahir kembali.”

“Apa yang ia katakan?” Sue tak sabar mendengarkan kelanjutan cerita Jo. Jo tersenyum, meminta Sue bersabar.

“Dia hanya bilang agar aku bersabar dan terus mencoba. Semua kegagalan ini, semua wanita dalam hidupku sebelum ini adalah suatu pertanda bahwa calon pendamping hidupku nantinya dua kali lipat lebih baik bahkan bisa lebih. Seandainya wanita-wanita itu diumpamakan emas 10 karat, maka jodohku  nantinya berharga 20 karat atau tiga puluh karat lebih.”

“Masa begitu? Jadi kalau aku gagal berkali-kali itu dikarenakan jodohku lebih baik dari mereka semua.”

“Benar. Jangan kau artikan mereka jelek secera keseluruhan. Mereka tidak cocok untuk mendampingimu. Mereka baik tapi untuk jodoh mereka masing-masing. Dan perjalanan hidupmu bersama mereka untuk menggemblengmu supaya siap ketika bertemu dengan jodohmu nantinya. Paham?”

Sue diam dengan pikiran menerawang entah kemana. Dia perlu waktu untuk memahami semua perkataan Jo. Dia harus memahami persepsi baru dari kekasihnya itu.

“jadi, Jo…..apakah aku ini jodohmu?”

“Aku juga nggak tahu. Tapi aku akan berusaha dan terus berusaha agar kamu menjadi jodohku. Karena aku merasa kamu terbaik dari semua pendampingku. Aku merasa aku sudah siap menerima calon istriku.”

Sue tersipu malu.

“Kamu memang bukan orang pertama dalam hidupku tapi aku janji  kamu adalah orang terakhir dalam hidupku.”

Sue makin tersipu malu.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: