Kaktus Kecilku


“Ini cerita tentang penantian. My love, segera datang ya..” Em En Rizal

 

Kaktus Kecilku

By: Em En Rizal

 

Laksa memindahkan sebuah kaktus kecil ke serambi depan. Dia menyandingkan kaktus tersebut bersama dengan kaktus-kaktus yang lain, yang lebih besar dan tinggi. Kemudian Laksa berjalan menuju sebuah kursi malas yang terletak di serambi rumahnya.

Laksa memanjakan tubuhnya di kursi malas peninggalan eyangnya. Sembari menikmati kenyamanan kursi tua itu, Laksa memandangi beraneka ragam tanamannya yang tumbuh indah di taman kecil miliknya. Ada perasaan nyaman dan rileks yang keluar saat  memandangi taman kecil tersebut. Oleh karena itu Laksa sangat menyukai rutinitas yang satu ini.

Diantara semua tanaman itu, hanya kaktus kecil tadi yang benar –benar ia sayangi. Setiap pagi dia selalu mengeluarkan kaktus tersebut dan menjelang malam hari dia masukan lagi kaktus tersebut ke dalam kamarnya. Bukannya dia takut kehilangan kaktus kesayangannya itu namun dia takut akan kehilangan kenangan yang menancap erat dalam tubuh  kaktus kecil itu.

 

********

 

“Pagi dok? Mau ke Puskesmas ?” sapa Laksa ramah.

“Pagi juga, Mas Laksa. Iya, ini mau berangkat ke sana. Kewajiban, Mas.” jawab seorang gadis berparas ayu sambil tersenyum simpul ke arah Laksa. Laksa yang memang selalu menunggu Mala di depan rumah tidak melewatkan kesempatan ini.

“Mau  aku temenin, Dok?”

“Terima kasih, Mas Laksa, Saya jalan saja. Puskesmasnya  dekat kok.”

“Walau dekat kalau nggak ada temannya terasa lama, Dok. Aku nggak merasa direpoti. Malah sangat bersyukur banget menemani  seorang dokter yang cantik dan baik hati.” tanpa menunggu persetujuan Mala, Laksa langsung berjalan disamping dokter Mala sambil bertanya ini itu yang Laksa sendiri bingung dengan apa yang ia tanyakan. Yang pasti dia senang dekat dengan Kumala, dokter manis yang sedang PTT di daerahnya.

 

********

 

Laksa semakin gencar mendekati Kumala. Laksa menunjukkan keseriusannya  untuk mendapatkan Kumala. Dan tampaknya usahanya bak gayung bersambut. Kumala memberi lampu hijau pada usaha Laksa itu. Laksa sangat senang dengan hal itu.

Laksa semakin sering main ke rumah dinas Mala. Hampir tiap sore Laksa menemui Mala. Ada saja alasan atau kegiatan yang dikerjakan Laksa untuk selalu dekat dengan Mala. Namun sore ini Laksa benar-benar sudah nekat untuk menunjukkan ke semua orang kalau dia adalah pemburu sejati, jagoan dari daerahnya, sang kumbang desa.

“Sore Dok.. “ sapa Laksa. Mala yang sedang mengaduk tanah di sekeliling tanaman kaktus menoleh dan tersenyum. Ada kebahagian yang timbul setiap kali Laksa datang. Kebahagian yang sukar dilukiskan namun sangat kentara untuk dirasakan.

“Kamu tuh aneh, May. Banyak sekali cewek suka menanam bunga yang indah atau harum baunya, kamu malah menanam kaktus. Nggak ada indah-indahnya sama sekali.”

“Jangan salah, Sa. Kaktus ini punya lambang yang berarti. Lambang kesetiaan.”

“Kesetiaan? Baru kali ini aku tahu kalau kaktus melambangkan kesetiaan.  Kalau nggak salah lambang kesetiaan kan burung merpati. Merpati hanya berpasangan dengan satu burung sampai mati. Nah, kalau kaktus, gimana ceritanya?”

“Kaktus itu bisa hidup dimana mahluk lain sulit hidup seperti di tanah kering macam gurun sahara. Dia bisa bertahan karena dia mempunyai kemampuan survive yang lebih tinggi dari mahluk lainnya. Jadi dia termasuk mahluk yang hebat dan kuat. Kalau nggak kuat mana mungkin dia hidup disaat yang lainnya mati kepanasan.”

“Begitu pula aku” lanjut Mala. ”Aku ingin hidup seperti kaktus, yang bisa survive walau hidup penuh cobaan termasuk dalam hal percintaan. Aku akan berani menunggu lama untuk mendapatkan pangeran hatiku walaupun lama seperti kaktus menunggu hujan di padang pasir. Tapi satu yang jelas, dia tetap akan datang. Benar kan?”

“Wah wah hebat sekali falsafah kaktus ini. Memang kamu sudah menemukan cintamu?” tanya Laksa. Kontan pertanyaan ini membuat Mala kaget dan  membuat wajahnya bersemu merah. Dia segera membalikkan tubuhnya agar Laksa tidak melihatnya dan pura-pura mencari Bi Tin, pembantunya.

 

*******

 

“Bi Tin, Mala ada?” tanya Laksa kepada Bi Tin suatu sore. Bi Tin memandang Laksa dengan perasaan gundah.

“Kemana, Bi? Apa dia sedang pergi rapat dinas atau gantiin jaga dokter lain? “

“Nggak den Laksa. Non Mala balik ke Surabaya. Ada keperluan keluarga. Penting katanya.  Tadi siang Non Mala kelihatan buru-buru sekali.“ Laksa terlihat berfikir keras. Ada perasaan tidak enak dan mengganjal dalam hatinya. Tiba-tiba Laksa berlari dan mengendarai mobilnya keluar dari desanya menuju ke Surabaya. Tidak ada tujuan lain selain bertemu Mala. Ia merasa harus melakukannya.

 

*****

 

Laksa berusaha mencari jalan yang tertera di hapenya. Laksa agak sedikit kesulitan menemukan jalan yang dimaksud. Walaupun dia dulu pernah kuliah di Surabaya namun itu dua tahun yang lalu dan sekarang Surabaya telah banyak berubah.

“Sial!! Dimana sih rumahnya, padahal ini sudah malam.“ gerutu Laksa. Laksa pun berkali-kali turun mobil untuk bertanya kepada orang-orang letak rumah Mala. Setelah untuk kesekian kalinya dia bertanya, akhirnya dia menemukan rumah Mala.

Laksa menemukan sebuah rumah yang cukup besar. Sepertinya habis ada pesta di rumah tersebut. Terlihat dari terop dan hiasan warna warni di sekitar rumah itu. Laksa memarkir mobilnya tepat di depan rumah itu.

Dia pun mencari nomor telpon Mala dan menelponnya. Semenit kemudian keluarlah Mala. Laksa terlihat gembira, karena akhirnya bertemu dengan Mala. Dia ingin segera memeluknya namun niatnya urung melihat  pakaian yang dikenakan Mala. Pakaian kebaya lengkap dengan sanggul terpasang di kepala.

“Malam.” Ucap Laksa sedikit canggung. “Wah sepertinya kamu lagi punya gawe ya? Kok nggak bilang sih kalau mau pulang?” Laksa mencoba bercanda. Namun respon yang diharapkan tidak keluar. Mala tertunduk diam.

“Kenapa May? kok diam saja? Ada apa?”

“Aku…aku mau bicara sesuatu denganmu.” Mala menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.“Saat ini di rumah sedang ada acara pertunangan. Sory kalau nggak memberitahumu, karena memang mendadak banget.”

“Siapa yang mau menikah? Jangan-jangan kamu” goda Laksa.

Mala terdiam dan menatap sedih ke arah Laksa. Laksa mulai panik

“Jangan bilang kalau…kalau kamu yang bertunangan?” Laksa makin ketakutan

Mala mengangguk pelan dan anggukan tersebut membuyarkan seluruh semangat dan cinta yang membara pada hati Laksa. Laksa masih tidak percaya dengan kata-kata Mala. Dia memegang kepalanya tidak percaya.

“Jadi. Kamu sudah punya pacar dari dulu. Aduh bodohnya aku, kenapa tidak pernah berfikir tentang hal itu. Aku terlalu berharap rupanya.”

“Jadi…jadi kamu menyukaiku selama ini?” ganti Mala yang terkejut. Laksa dengan pelan mengangguk.

“Iya, aku sangat mencintaimu. Mana mungkin aku melakukan ini semua kalau aku tidak mencintaimu. Tapi sepertinya aku terlambat..” ada kesedihan yang dalam pada kalimat itu.

“Sa..aku..aku juga sayang dengan kamu..Tapi ada hal-hal yang tidak bisa kita selesaikan hanya dengan cinta. Aku juga sudah berusaha memberikan cintaku untuk sang pangeran hatiku tapi sepertinya tangan-tangan Illahi berkata lain. “

“Tapi bukankah kamu bilang akan selalu menunggu sang pangeranmu walaupun berbagai rintangan menghadang cinta sucimu?”

“Aku masih tetap menunggu…tapi apakah kamu jamin jika tunanganku yang sekarang bukanlah pangeranku? Hanya dengan menjalaninya kita akan tahu apakah dia belahan jiwa kita atau tidak.”

“Kamu terpenjara dengan prinsipmu sehingga kamu jadi ragu dan nggak konsisten. Jodoh kita memang ditentukan Allah tapi kita harus berusaha untuk mencarinya dan untuk itu diperlukan hati. Apakah kamu mau saat terbangun sepuluh tahun kemudian, kamu akan mendapati seorang laki-laki gemuk dengan dengkuran yang sangat jelek sedang tidur disebelahmu?? Saat itu kamu  baru sadar bahwa selama 10 tahun itu kamu tidak pernah mencintainya. Dan saat itu semua sudah terlambat !!”

Mala hanya terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa menangis dan dengan penuh kasih Laksa memberikan bahunya.

“Aku tahu betapa berat ini bagimu seperti berat juga bagiku. Aku hanya ingin kamu tahu, aku akan jadi kaktus untukmu, yang akan selalu menungggumu apapun yang terjadi dan akan terus menjaga cinta ini tumbuh dihatiku, selamanya. Tidak akan kubiarkan mati sampai kapanpun” kata-kata ini membuat air mata Mala jatuh tanpa sungkan.

 

*****

 

Kring…Kriingg

Bunyi telepon membuyarkan lamunan Laksa. Dengan malas Laksa menuju ruang tamu untuk mengangkat telpon.

“Halo..Siapa ini?”

“Haloo, Laksa. Masih ingat suaraku?” suara merdu itu terdengar lagi. Laksa mencubit lengannya dan sakit menjalar cepat di sekujur lengannya. Dia tidak bermimpi.

“Mala!? I..iya. mana..mana mungkin….aku lupa..”jawab Laksa terbata-bata. Dia tidak percaya Mala menghubunginya.

“Apakah kamu masih jadi kaktusku?” tanya Mala lembut.

“Tentu saja. Aku akan jadi kaktusmu sampai kapanpun. Kamu lagi dimana?”

“Aku ada di depan rumahmu dan sedang berjalan masuk ke dalam rumahmu.” Laksa segera membalikkan badannya dan melihat seorang gadis yang sama lima tahun yang lalu, yang selalu mengisi mimpi-mimpinya laksana embun membasahi bumi setiap pagi, bagai angin kencang yang selalu menyapa daun kecil kaktus di padang pasir.

Laksa berdiri dan melangkah mendekati Mala yang tampak semakin anggun dan matang. Dia memegang pundak Mala dengan gemetar.

”Benarkah ini kamu, May?”

“Iya, ini aku, Mala yang sama seperti yang kamu temui lima tahun lalu. Sa, apakah kamu masih jadi kaktusku?” tanya Mala menyakinkan diri dan hatinya.

“Selalu May, tidak akan pernah jadi tanaman yang lain. Aku adalah kaktusmu yang akan selalu menunggumu sampai kapanpun.”

“Sa, aku terus memikirkan kata-katamu saat kamu ke rumahku dulu. Setelah merenungkannya aku tahu bahwa aku ingin ketika sepuluh tahun nanti atau tiga puluh tahun nanti ketika kuterbangun, aku akan menemui seorang laki-laki yang penuh kasih sayang menyayangiku begitu sebaliknya. Itulah takdir yang ingin kuwujudkan bersama pangeranku dan selama lima tahun ini aku menyakinkan hatiku dan hari ini aku memastikan bahwa kamu adalah laki-laki yang harus mendampingiku ketika aku terbangun sepuluh atau berpuluh-puluh tahun kemudian.” ucap Mala mantap.

Laksa memeluk Mala dengan erat. Dia tahu bahwa hujan akan datang, membawa air kesejukan, mengakhiri penantian panjang kaktus yang setia.

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: