Di Sebuah Warung Kopi


“AKu selalu suka dengan inti cerita ini. Ini kutulis ketika aku sedang ngopi di pasar Mojo kidul. Aku bertemu beberapa orang yang unik, yang mungkin tak kan kita temukan saat kita “cangkruk” di warkop. Dari situlah lahir cerita ini. Selamat membaca.” Em En Rizal


Di Sebuah Warung Kopi

By: Em En RIzal

 

“Jib, es joshoa satu. Kopi susu hangat satu.” ucap Jarot setengah berteriak. Aku mengangguk pelan.  Jarot baru saja datang dengan Anton, teman kuliahnya. Kulirik sekilas, mereka mengambil tempat duduk di pojok kanan warung. Dengan cepat kubuatkan pesanan mereka. Prinsipku, pelayanan cepat memuaskan pelanggan.

Jarot memang sering membawa teman-teman kampusnya ke warungku. Aku suka dengan hal itu. Yang tidak aku suka, ia suka ngutang dan lama bayarnya.

“Aku pernah bertemu dengan seorang polisi yang lumayan aneh.” Kudengar di sebelah kiri, tepatnya di pojok ruangan kiri, Jarwo memulai ceritanya. Aku tersenyum. Jarwo selalu membuat pengunjung warungku betah duduk berlama-lama hanya untuk mendengar ceritanya walaupun aku yakin nggak semua yakin akan kebenaran ceritanya. Mereka hanya suka gaya bercerita Jarwo yang lucu. Kata mereka Jarwo itu perpaduan lawak Kelik pelipur lara dan Tukul Arwana.

Di warungku inilah hampir seluruh laki-laki di desa sini menghabiskan malamnya. Bukannya karena warungku terbaik diantara warung-warung yang ada di desa ini namun karena warungku adalah warung satu-satunya di desa ini. Hampir semua penghuni desa ini selalu mampir ke warungku. Baik untuk sekedar makan atau cuma iseng duduk-duduk mendengarkan Jarwo bercerita, seperti malam ini.

Jarwo termasuk penduduk baru desa ini. Dia baru datang sekitar sebulan yang lalu. Memang aku akui Jarwo memiliki kehebatan, kalau di tivi-tivi disebut kehebatan relathionship yaitu kehebatan mencari teman, bergaul dan mengumpulkan massa. Istilah waktu aku SMA dulu disebut orang supel.

Beda Jarwo beda pula Adis. Dia juga termasuk pendatang namun dia lebih pendiam. Walupun dia juga suka cangruk seperti penduduk yang lain, namun dia lebih memilih mendengarkan daripada bercerita layaknya Jarwo. Dan ketika kuedarkan pandanganku mencarinya, dia sedang duduk sendiri di seberang Jarwo, menikmati kopi kental plus rokok kretek kesukaannya. Setiap ada Jarwo pasti ada Adis. Tapi keduanya tidak pernah duduk berdekatan. Selalu berjauhan tapi selalu bersama-sama.

 

*********

 

“Pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, KKN, korupsi, apa tidak ada berita lain yang bagus. Wah ini, korban kedua dari si penjahat psikopat yang buron itu. Si kanibal yang memotong-motong korbannnya. Edan!.” kata Pak Sugeng dengan jengkel. Dia membolak-balik koran punyaku yang kusediakan bagi pengunjung warung. Aku hanya menoleh sekilas dan kembali sibuk dengan pesan orang lain.

“Memang seperti itulah dunia kita sekarang. Dan inilah yang membuat oplah koran meningkat tajam. Mereka tidak mungkin menulis keberhasilan-keberhasilan pemerintah kita. Sesuatu yang susah untuk ditulis.” Pak Darso menanggapi dingin.

“Aku lebih suka membaca mimpi indah daripada membaca berita-berita yang membuatku tambah semakin tidak betah hidup lebih lama di dunia ini. Kadang mimpi itu perlu, perlu untuk membantu memperpanjang hidup.”

“Aku tidak setuju. Lebih baik kita melihat realita sebenarnya. Kamu tahu, Soeharto memberi bangsa Indonesia ini mimpi Indah selama 32 tahun. Hasilnya? Sekarang ketika kita terbangun, kita dihadapkan dengan kondisi asli, kondisi sebenarnya yang sangat menjijikan. Semua orang menjadi kaget, muak dan malu sebagai bangsa Indonesia. Lebih baik kita diberitahu kebenaran walau pahit daripada kebohongan walau dibalut bahasa yang manis.”

Dan perdebatan siang itu akan berlangsung lama dan terus menerus dengan peserta yang makin membeludak. Aku tidak perduli. Asal mereka makan dan minum yang banyak dan bayar lunas, tidak utang. Itu sudah cukup bagiku. Aku tidak peduli dengan yang mereka bicarakan. Toh itu tidak mempengaruhiku. Aku hanya perlu meladeni pembeli dan melayaninya dengan baik. Itu cukup!! Aku sudah senang dengan itu.

 

***********

 

“Kamu tahu Jarwo? Dia tidak kesini malam ini?” tanya Jarot malam itu padaku. Aku hanya  menggelengkan kepala. Kemudian Jarot menanyakan kepada yang lain. Namun semuanya menggelengkan kepala. Tidak tahu.

“Memangnya kenapa kamu mencarinya?” tanyaku penasaran.

“Aku heran saja, kenapa dia mendadak hilang dan anehnya sejak menghilang itu, banyak orang mencarinya. Kamu tidak sadar banyak orang asing berkeliaran akhir-akhir ini?” ucap Jarot serius sambil mengedarkan pandangannya ke orang-orang, berharap mereka memfokuskan pandangan kepadanya. Dan tampaknya usahanya berhasil. Hampir seluruh pengunjung warungku menghentikan aktifitasnya dan fokus pada Jarot. Aku pun mengecilkan radioku yang sedang memutar lagu India, lagu kesukaanku.

“Sepertinya ada sesuatu tentang Jarwo yang tidak kita ketahui. Aku takut dia anggota jaringan teroris Al Qaedah atau Jemaah Islamiah atau yang lain. Namun semoga salah.  Aku juga sudah mendatangi rumahnya untuk konfirmasi namun rumahnya terkunci sejak dua hari yang lalu.”

“Kalau dia Jamaah Islamiah. Tamatlah desa kita. Kita memelihara teroris. Ayo kita ke rumahnya sekarang!” Pak Sugeng  berkata penuh emosi. Dia langsung berdirin diikuti beberapa orang lain. Aku mulai panik. Bukan masalah mereka yang mau menghakimi Jarwo melainkan mereka belum bayar.

“Tenang….tenang..tenang dulu semuanya. Ini baru spekulasi.  Baru dugaan. Aku belum memastikan. Lebih baik kita kesana sekarang dan menanyakannya secara baik-baik.” Jarot mencoba meredakan  emosi orang-orang yang membara karena ulahnya. Jarot pantas melakukan itu karena kalau dugaaannya salah, bisa-bisa dia di penjara dengan tuduhan menghasut masyarakat luas.

Semuanya kembali duduk. Aku menjadi sedikit tenang. Sebelum Jarot merencanakan sesuatu dengan orang-orang itu, tiba-tiba muncullah Adis. Kali ini dia sedikit berbeda. Kalau biasanya dia hanya mengenakan kaos oblong dan kain sarung yang dia ikatkan seenaknya. Malam ini dia mengenakan celana jeans dan jaket kulit hitam.

“Malam semuanya.” Sapanya. “Bapak-bapak tidak usah ke rumah Jarwo. Orangnya tidak ada. Sekarang dia sedang bermalam di tempat yang nyaman dan tenang.”

“Maksud kamu apa, Dis?” tanyaku bingung. Aku juga baru sadar  kalau Adis juga tidak kelihatan belakangan ini.

“Semua yang disini pernah baca atau nonton berita beberapa waktu yang lalu. Tepatnya dua bulan  yang lalu tentang pembunuh yang korbannya dipotong-potong. Dan semuanya wanita?”

Jarot dan yang lain mengangguk. Sedangkan aku mencoba mengingat-ingat karena aku tidak intens baca berita di koran atau nonton tivi, walau sering beli koran.

“Terakhir dua minggu yang lalu. Seorang wanita berumur 45 tahun. Tangan dan kakinya hilang dan ditemukan 100 meter dalam kondisi terpotong-potong.”

Beberapa orang kulihat sedikit bergidik. Jijik.

“Apa hubungannya dengan kami?” Jarot belum paham arah pembicaraan Adis.

“Dua pembunuhan ini dan lima pembunuhan lain mempunyai sifat yang sama. Dan kemungkinan pembunuhnya sama juga. Dan setelah mengejar dan mengikuti selama beberapa bulan kami baru bisa menangkapnya dua hari yang lalu.”

“Maksudmu pembunuhnya adalah Jarwo?” Jarot mencoba mengakhiri spekulasi semua orang. Adis mengangguk.

“Benar. Saya sudah lama mengikutinya. Segala gerak-geriknya selalu saya pantau dan dua hari yang lalu akhirnya kami dapat meringkusnya saat dia mau melakukan pembunuhan lagi. Dan kalian tahu siapa calon korbannya?”

Tanpa sadar semuanya menggelengkan kepala. Mereka benar-benar terbius oleh berita heboh dari Adis.

“Jarwo hampir menghabisi salah seorang warga sini. Dia adalah Bu Sugeng. Bu Sugeng secara tidak sengaja memergoki Jarwo membawa bungkusan plastik di belakang rumahnya. Dia..”

BRUK !!!!

Kulihat Pak Sugeng jatuh pingsan. Yang lain segera menolongnya. Aku dengan cepat membuatkan teh hangat untuknya. Aku mengurut dada. Lega. Aku mendapat pelajaran hari ini. Kita jangan tertipu oleh sikap luarnya saja. Kita harus lebih waspada terhadap orang karena siapa tahu dia pembunuh berdarah dingin seperti Jarwo.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: