Viral Marketing : Samudera Merah Atau Biru dalam Strategi Marketing


Oleh: Em En Rizal

 

Sebelumnya, mohon maaf dulu kepada bapak Ali Arifin , pengarang buku Viral Marketing On Strategi, kalau ulasan saya ini kurang berkenan. Ini hanya pendapat saya yang saya tuangkan sebagai bentuk urun rembug untuk memperkaya kasanah strategi marketing di Indonesia.

Saya sudah membeli buku beliau sejak pertengahan 2009, namun baru baca skerang secara mendalam (oktober 2010, red). Yah karena memang kelakuan jelek saya, setelah membeli buku adalah menaruhnya dengan rapi di rak buku. Dan membacanya setelah ada waktu senggang. Dan waktu senggang bagi saya adalah suatu yang sangat mahal dan susah.

Singkatnya, saya akan memberi sedikit masukan untuk buku ini, yang kedepannnya bisa menjadi refrensi buat marketing yang lain.

APa itu viral marketing?

Menurut Ali, viral bukan MLM, MGM, atau e-commerce. Ini adalah murni strategi marketing baru yang muncul dari keadaan sehari-hari. Ali mengatakan dengan strategi ini perusahaan akan bisa bersaing dan memenangkan kompetisi. Viral marketing bekerja dengan sistem bagi hasil antara perusahaan dan konsumen. Jadi daripada diskon yang bear lebih baik diskon itu diberikan kepada konsumen langsung sebagai bentuk pendapatan dengan cara lain. Intinya ini adalah belanja yang menyenangkan. Udah dapat harga murah karena terdaftar sebagai member, juga dapat cash back yang bisa digunakan untuk belanja juga.

Samudera Merah dan Biru, apakah itu?

Samudera merah adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan persaingan usaha yang berdarah-darah. Dalam suatu bisnis, persaingan harga, produk, kemasan dan yang lain akan semakin ketat dengan munculnya competitor di bisnis tersebut. Dan tentu akan berdarah-darah untuk menjadi pemenang. Nah, bapak W. Chan Kim dan Renee Mauborgne, menciptakan strategi baru yang diberi nama startegi samudera biru. Samudera biru adalah persaingan bisnis dimana, persaingan sudah tidak relevan karena kita berenang menjauhi kompetisi dari competitor. Intinya, persaingan harga, strategi marketing, atau yang lain sudah tidak relevan.

Kelebihan dan Kelemahan Viral Marketing

Strategi marketing sangat banyak. Setiap hari muncul strategi baru untuk menghadapi peperangan untuk mendapatkan customer yang selalu berubah keinginnanya. Dan viral marketing adalah salah satunya.

Ali mengatakan bahwa perusahaan yang tidak menggunakan Viral Marketing akan gulung tikar dan meninggalkan medan pertempuran. Ali mengatakan perusahaan besar yang tidak segera mengaplikasikan viral marketing ini tidak akan luput dari ajalnya. Tinggal tunggu waktunya. Saya senang dengan analisis Ali karena optimis disertai penjelasan yang gambling. Sekali lagi ini bukan menyerang Ali hanya memberikan masukan yang berguna buat dunia marketing.

Perusahaan itu hidup dan sudah sifat alamiah setiap makhluk untuk selalu survive. Kalau alas an yang dikemukakan oleh Ali bahwa tidak menggunakan strategi ini akan hancur. Namun jika menggunakan strategi viral ini apakah ada jaminan tidak hancur? Kalau perusahaan sejenis menggunakan strategi yang sama apakah ada jaminan kedua-duanya survive? Apakah malahan kedua-duanya hancur bersamaan karena bertarung dengan strategi yang sama persis?

Pertanyaaan inilah yang muncul saat saya membaca buku ini. Mungkin kekurang informasi tentang viral marketing yang membuat saya begini. Saya mencoba browsing dan mencari info tentang viral marketing ini. Dan Hasilnya saya menemukan beberapa kelebihan dan kelemahan viral marketing yang mungkin bisa dipelajari.

Kelebihan produk ini sebenarnya banyak, terbukti banyak perusahaan sudah mengaplikasikannya walau tidak sempurna. Kelebihan pertama adalah sistem refrensi. Kita tahu bersama bahwa dengan WOMM, produk akan cepat berkembang. Karena survey membuktikan hampir 60 % orang membeli masih dari refrensi teman. Dengan berkembangnya internet angka tersebut semakin melonjak.

Viral marketing yang sebagian besar kekuatannya dari internet sangat bisa berkembang dan menjalar seperti virus. Dengan bonus yang bisa digunakan untuk belanja kembali, siapa yang tidak senang. Sudah mendapat harga yang kompetitif, dapat bonus lagi. Beda dengan MLM, yang produknya dinaikkan, dan harga menajdi kurang kompetitif.

Kemudian kelebihan berikutnya adalah sudah tergarapnya segmen internal customer lebih baik dari external customer. Perusahaan manapun kalau ingin berkembang, pasti akan menggarap internal customernya. Daripada mencari pelanggan baru, lebih baik menggarap pelanggan lama yang sudah loyal dan terus member pemasukan kepada perusahaan, betul? Viral marketing mengharuskan perusahaan melakukan hal itu. Dengan sistem bonus, “memaksa” member (internal customer), untuk terus membeli produk perusahaan tersebut. Dan mereka akan mendapatkan bonus lebih besar daripada pelanggan baru. Pelanggan lama pun akan nada tingkatannya (yang ini mirip MLM bukan hehehe). Pelanggan lama pun akan dapat bonus lagi jika ada temannya yang bergabung untuk jadi member perusahaan itu (Makin mirip MLM bukan? Atau MGM? Anda yang jawab ya ).

Dengan hal inim dipastikan perusahaan akan makin mudah menjual produknya. Perusahaan makin berkembang dan penopang pendapatan mereka selalu ada dan terus naik. Inilah yang oleh cipto junaedi diistilahkan, hidup begitu indah, burung berkicau setiap hari. Namun apakah ini tidak ada cacatnya?

Viral marketing seperti strategi marketing lainnya. Tidak lepas dari kelemahan. Kelemahan pertama adalah tidak semua orang suka jualan. Ini merujuk kegagalan MLM di Indonesia. Beberapa temen saya merasa tidak hidup karena tidak punya teman. Itu karena semua temanya pergi sejak dia bergabung dengan MLM. Dia memang tipe ulet. Sebelumnya dia bergabung dnegan perusahaan konvensional yang besar dan punya jaringan networking yang besar. Karena iming-iming MLM, dia pun terjun kesana dan focus (resign) ke MLM. Memang dia mendapatkan posisi yang lumayan namun dia merasakan, teman-teman yang tidak jadi bergabung dengannya menjadi jauh dan selalu menghindar. Setelah ditanya, mereka malas setiap ketemu selalu di prospek dan diprospek. Manusia makhluk social, butuh interaksi dan privasi. Inilah yang kadang tidak diperhatikan.

Pun begitu dengan viral marketing ini. Memang bonus pasti dapat, namun bonus refrensi juga menggiurkan dan anda akan berusaha membujuk teman untuk jadi member perusahaan A misalnya. Dan anda akan melakukan terus menerus. Lama kelamaan anda akan terseret masuk ke bisnis MLM tanpa sadar.

Intinya, inilah yang terjadi dilapangan. Orang beli barang karena mereka suka, simple, tidak repot dan nyaman. Beberapa orang tidak ingin repot dengan prosedu tertentu. Apakah anda sering melihat beberapa orang menolak membuat kartu Aku alfamart? Yup, mereka bukannya tidak suka bonus atau harga lebih miring, namun mereka malas untuk selalu update harga terbaru toh yang penting mereka masih mampu beli. Realita lain, took tradisional yang diramalkan hancur dengan datangnya alfamart ini masih bertahan. Toko kelontong juga bertahan walau tidak sekuat dulu. Bahkan mereka sekerang bermetamorfosis menjadi kepanjangan tangan gerai modern. Inilah bentuk surfive mereka.

Kemudian, untuk perusahaan besar seperti telkomsel, Citi bank, Carrefure atau yang lain tentu tidak akan tinggal diam. Manajer mereka adalah orang pintar dan pilihan. Mereka punya departemen R&D, yang selalu meriset pasar dan kebutuhan pasar. Mereka akan berjuang sekuat tenaga supaya perusahaan mereka survive dan terus berkembang. Kalau perlu selalu jadi nomor satu di bidangnya. Dan beberapa perusahaan menggunakan strategi 20: 80. Strategi ini untuk menjawab kenapa perusahaan lebih focus kepada 20 % customernya yang menyumbang 80 % pendapatan perusahaan. Mereka inilah premium customer.

Kenapa BCA menaikkan uang pangkal untuk buka tabungan? Karena ini untuk menyaring tipe customer mereka. Banyak bank besar sudah tidak “melayani” customer kecil mereka. Kenapa? Karena pelangan middle low ini, yang jumlahnya 80 % dari total customer, hanya memberi pemasukan 20 %. Dan kalau focus kepada segmen ini, mereka bisa kolaps dan kehilangan margin profit mereka.

Jadi sebenarnya viral marketing ini strategi yang bagus, untuk diterapkan di middle customer dan produk yang friend user. Dan ramalan Ali yang mengatakan bahwa perusahaan yang tidak segera menggunakan strategi ini akan “mendarat di tanah” duluan alias gulung tikar, saya kurang setuju karena perusahaan akan selalu survive dengan berbagai cara.

Strategi ini cocok digabungkan dengan strategi marketing lain. Karena memang intenet sudah begitu mewabah dan mudah diterima oleh siapapun namun masih banyak yang belum paham dan menggunakannya. Internet adalah salah satu jalan untuk mempermudah proses interaksi dan suatu era baru untuk membuat manusia lebih simple.

Viral Marketing apakah samudera biru strategi marketing?

Samudera biru adalah solusi yang paling bagus untuk menghindari semua persaingan atau pertempuran terbuka dengan competitor. Lebih enak kita bermain di pasar sendiri tanpa competitor, tanpa persaingan namun marginnya tinggi, bukan? Itulah kelebihan utama samudera biru. Tanpa persaingan, tanpa competitor, namun marginnya bertambah besar bahkan berlipat-lipat.

Pertanyaannya apakah strategi viral marketing ini masuk samuder biru? TIdak. Karena startegi viral marketing ini adlaha strategi untuk bersaing dalam samudera merah. Dimana persaingan begitu ketat dan sesak.

DIsini Ali mencontohkan ketatnya persaingan di samudera merah hingga kita perlu menggunakan strategi Predatory Pricing dan Persaingan Ala poter. Keduanya menekankan kita untuk selalu memantau pesaing dan mempelajari strateginya. Disaat yang tepat, timing yang tepat, kita hancurkan mereka hingga babak belur.

Saya sedikit saja berkomentar disini, predatory pricing memang kejam dan saya setuju, untuk menghancurkan musuh harus kejam dan tak perlu belas kasihan. Namun disyaratkan bahwa butuh dana besar dan kosentrasi full untuk menggunakan strategi ini. Bahkan oleh Ali, strategi ini sudah dipatahkan dengan strategi viralnya. Sayangnya kenapa hanya 2 strategi ini yang dipatahkan. Padahal masih banyak strategi lain yang bisa Ali ulas.

Nah, di samudera biru, daripada menghabiskan biaya besar lebih baik dikosentrasikan menciptakan samudera biru permintaan. Jika anda sudah menurunkan harga sampai level dimana pesaing sudah tidak kuat (perusahaan krupuk dalam buku Ali) maka anda akan bisa leluasa memainkan harga anda. Namun apakah tidak menutup kemungkinan saat anda bersaing di harga ini, ada pemain ketiga. Dunia ini sellau berputar, orang kaya selalu baru selalu bermunculan dan diatas langit masih ada langit.

Kasus telkomsel dan IM3 yang bersaing ketat namun mereka kaget begitu XL diakusisi dan bertarung dengan mereka. Dan sudah berapa lama mereka bertarung? Sudah sekian lama dan belum ada satupun yang mati? Lippotelekom yang memang “mati” karena sudah sekian lama tertusuk dalam persaingan ini, kembali hadir untuk bertarung dengan investor baru. Dan mereka masih ada bukan semata-mata karena “hanya” menggunakan strategi viral marketing tapi seribu strategi yang berubah setiap hari bahkan jam. Karena persaingan saking begitu ketatnya.

Jadi apakah mereka perlu menggunakan strategi samudera biru? Wajib. Namun mereka harus selalu menciptakan dan menciptakan samudera biru terus menerus karena perenang lain (perusahaan competitor) akan terus mengejar dan mendekat.

Begitu pendapat saya, Jika salah mohon dikoreksi. Jangan diambil hati jika bebrapa ulasan saya kurang begitu berkenan, maklum masih baru dalam dunia marketing hehehe. Saya senang jika kita saling berbagi startegi marketing terbaru shingga tidak ketinggalan dalam menghadapi persaingan di tingkat global. AMieeen (Em En Rizal)

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: