Selembar kemauan Keras


Ini berdasarkan kisah nyata. Kisah nyataku setelah lulus ujian skripsi yang tertunda terus karena berat memang. Aku pernah kehilangan data dan mengulang sample penelitian. Gagal karena data awal salah dan rintangan lain. Walau sadis, dokter darmawan, owner D-art, sangat membantu. Aku yakin beliau sudah lupa aku, tapi cerita ini kudedikasikan untuk mengenang beliau. Sesuai janji saya, dok… nanti kita akan bertemu dalam posisi sama. Sekarang masih belum, jadi saya tidak mau ketemu dulu ya dok hahahaha….” Em En Rizal

 

Selembar kemauan Keras

Em En Rizal

Ini kesempatan terakhirku. Aku harus bisa menyelesaikannya. Batinku menguatkan dan memotivasi diriku.

Jadi hubungan antar manusia ada berapa, Hector?” tanya Pak Ibrahim, dosen penguji skripsiku.

Hubungan antar manusia ada empat macam pak. Interpersonal, antarpersonal, kelompok dan publik. Tapi ada juga yang menambahkan dengan hubungan Massa. Tapi menurut saya itu sama dengan hubungan publik. Hanya beda ruang lingkup saja.”

Aku menjawab pertanyaan pertama dengan lancar. Aku berdoa semoga jawabanku terus lancar. Karena ini kesempatan terakhirku.

 

**********

 

Kemana saja kamu, Hector?” Pak Wawan memelototiku. Aku menunduk sambil meremas kedua tanganku. Aku tak berani menatap mata Pak Wawan yang lembut tapi membakar tubuhku.

Jawab pertanyaanku, Hector. Kamu sudah dua bulan tidak menghadapku. Aku mencoba menghubungimu tapi hapemu tidak pernah aktif. Kutanyakan pada teman-temanmu katanya kamu pergi entah kemana? Kalau kamu tidak lulus semester ini, aku tidak bisa membantumu lagi.”

Aku masih diam. Kugigit bibirku yang kering karena AC di ruangan Pak Wawan yang dinginnya minta ampun.

Pak Wawan adalah dosen pembimbing skripsiku yang baik dan penuh perhatian. Justru karena itulah aku jadi takut dan sungkan padanya. Dan benar katanya, sudah dua bulan ini aku tidak menghadapnya.

Maaf..Pak. Saya menghadapi masalah cukup berat.” Aku memutuskan untuk menceritakan semuanya.

Ceritakanlah, siapa tahu aku bisa membantu. Ingat waktumu tinggal satu bulan setengah atau kamu ganti dosen semester depan.”

Aku merinding mendengar kata-kata Pak Wawan. Mengulang lagi. Dari mana uang itu kudapat.

Bapak saya terkena musibah. Beliau meninggal dan saya harus meneruskan usaha beliau untuk menghidupi keluarga. Saya ingin terus mengurus usaha keluarga tapi ibu menyuruh saya meneruskan skripsi agar cepat membantunya di sana.”

Innalillahi Wa Innailahi Rojiun. Aku turut berduka cita.” ucap Pak Wawan menunjukkan simpati.

Terima kasih, Pak. Saya sebenarnya sudah tidak berniat untuk melanjutkan kuliah karena ini akan membebani ibu. Saya adalah putra tertua dan saya harus mengasuh kedua adik saya yang masih kecil. Namun almarhum ayah saya menginginkan saya terus kuliah untuk mengangkat derajat keluarga. Dan saya mohon bapak bisa membantu saya. Saya tidak tahu lagi harus minta bantuan siapa?”

Kamu harus kuat. Itu pesan pertama saya. Kamu tahu, amanat orang yang sudah meninggal harus dipenuhi. Dan kamu harus berjuang untuk itu. Bapak akan bantu kamu sebisa bapak. Bapak juga akan memberimu pekerjaan sampingan. Kamu pasti butuh uang kan sekarang?”

Saya sekarang bekerja sampingan menjadi penjaga rental VCD di malam hari. Tapi kalau bapak menawari saya, saya mau, Pak. Bekerja sebagai apa, Pak?”

Kamu bisa dapat tambahan dengan membantu bapak memberi pelajaran di kampung sebelah komplek rumah bapak. Bapak mendirikan sebuah sekolah untuk orang tidak mampu. Kamu mengajar mereka dan bapak menggajimu tapi jangan kamu lupakan skripsimu. Ini kesempatanmu karena semakin lama semakin jauh kamu mewujudkan wasiat almarhum bapakmu.”

Aku mengangguk terharu. Ternyata masih ada orang yang peduli dengan nasibku. Aku harus mewujudkan impian ayahku dan orang-orang yang menyayangiku.

Namun semua memang tidak mudah. Ada saja masalah yang mendera dan menguji nyaliku mewujudkan mimpiku. Mulai dari rusaknya fileku karena virus sialan dari rental komputer, kamudian revisi dari dosen kedua yang sangat tidak manusiawi dan responden yang sulitnya bukan main.

Memang untuk penilitian ini aku menggunakan sampel karyawan kantor dan pengusaha muda, tapi mereka sangat angkuh dan harus melalui prosedur yang rumit. Intinya birokratif dan jual mahal.

Aku menyerah, Pak, Ini terlalu berat bagiku.” ucapku saat sesi temu dengan Pak wawan.

Pak Wawan melihatku lama.

Kamu tahu cerita seorang laki-laki di suatu pedalaman Afrika?” tanya Pak Wawan sambil memandangku penuh wibawa. Aku menggelengkan kepala.

Dia mencari sebuah tumbuhan sakti untuk menyembuhkan penyakit ayahnya. Dia harus menyeberangi gunung, melintasi sungai-sungai besar dan menembus belantara hutan nan gelap demi tumbuhan itu. Walau berkali-kali jatuh, berkali-kali dihadapkan tembok terjal, dia tetap bertahan dan akhirnya mendapatkan tumbuhan ajaib itu. Cerita ini memang klasik tapi kamu coba contoh laki-laki itu yang percaya bahwa ayahnya akan sembuh dengan tumbuhan itu. Dia rela melakukan apa saja demi mendapatkannya. Intinya dia pergi dengan modal semangat, keberanian dan percaya bahwa dia bisa. Pahamkah maksudku, Hector?”

Aku tertunduk menahan air mataku. Aku ingat pesan terakhir ayahku dan aku harus bisa mewujudkannya karena aku punya bayangan bahwa aku akan bisa melakukan ini semua.

 

***********

 

Lulusan terbaik Fakultas Sipil tahun 2007 dengan IPK 3, 87, saudara Hector Budiman, Putra dari Bapak Subagyo.”

Tepuk tangan riuh memenuhi aula rektorat. Aku berdiri dan menuju ke panggung untuk menerima penghargaan dan ijazah sarjanaku. Sepanjang jalan kulihat mata orang-orang mengiringiku, seolah mengucapkan selamat untukku.

Selamat, Hector. Pertahankan prestasimu.” Pak Rektor memberiku selamat. Aku mengangguk dengan senyum tersungging di bibir. Kubalikan badan dan kuangkat tinggi-tinggi selembar ijazah itu.

Seusai acara aku segera mencari ibuku yang dengan susah payah datang ke kota metropolis ini sekeder menemuiku.

Bu, aku sudah jadi sarjana sekarang. Aku sudah memenuhi wasiat bapak.” Ucapku sambil merangkul ibu. Aku menangis.

Ibu tak berucap. Dia memeluk erat badanku seolah mengatakan bahwa ia bangga denganku. Aku tahu dia bilang begitu, aku tahu sifat ibuku bila beliau sedang bahagia. Beliau hanya diam dan menatap takjub padaku.

Hector….Ibu Bagyo..Maaf menganggu sebentar.” kami menoleh pada Pak Wawan yang sudah berdiri di belakang kami. Aku segera melepaskan pelukanku dan mengenalkan ibuku padanya.

Ibu, Hector merupakan satu-satunya mahasiswa bimbingan saya yang paling nurut dan pintar. Oleh karena itu diam-diam saya mau memberinya kejutan. Dan kejutan itu adalah, naskah skripsinya menjadi juara dua dalam penelitian ilmiah mahasiswa. Aku memang tidak bilang kalau mengikutkan naskahmu, Hector. Tapi aku yakin naskahmu layak di pertimbangkan. Dan juga sebuah perusahaan multi nasional menawarimu kerja. Aku yang merekomendasikanmu.”

Aku tidak percaya. Aku melihat ibu yang tidak kuasa menahan air matanya. Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Pak Wawan. Dosen sekaligus bapakku. Semua ini berkat motivasi beliau dan semangat dari keluargaku. (Em En Rizal, Desember 2006)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: