Orang-Orang Munafik!!


Seingatku, ini kubuat karena temanku gagal lagi menyelesaikan skripsinya. Skripsi di FKG unair emang berat. Selain dosennya terkenal killer, satu dosen dengan dosen lainnya sering tidak sama. Kita harus ikut salah satunya. Makanya perlu deh dikasih rekor muri tentang hal ini hahaha…just kidding dok, jangan marah ya hehehe…” Em En Rizal

 

Orang-Orang Munafik!!

Em En Rizal

 

 

Aku membiarkan kakiku melangkah tanpa arah, tanpa tujuan. Aku tidak mau tahu kemanakah kakiku ini akan membawaku. Aku tidak mau tahu kemanakah kakiku tertuju. Aku hanya tahu saat ini aku sedang marah!!

Ya, aku sangat marah. Aku marah pada orang tuaku, marah pada dosen skripsiku. Aku juga marah pada Leni, pacarku. Marah pada teman dan sahabat-sahabatku. Aku marah pada kehidupanku. Aku marah pada semuanya.

Aku benci mereka semua. Aku benci dengan segala kemunafikan yang ada pada diri mereka. Aku marah dengan segala sikap manis mereka. Aku kecewa dengan perhatian palsu mereka. Aku lelah terhadap kelakuan mereka.

Aku menoleh ke samping, memandang sungai kotor yang membagi kota menjadi dua bagian. Airnya mengalir lambat terhambat, baunya busuk dan warnanya hitam pekat tercampur limbah pabrik. Aku berhenti sebentar, memandang kekotoran yang ada di hadapanku.

Munafik. Semuanya munafik!! Mereka semua bertopeng, tak ada yang benar-benar peduli padaku.” Umpatku kesal.

Aku masih ingat reaksi orang ketika aku sekali lagi gagal ujian skripsi, untuk ketiga kalinya.

Pak Dedi, dosen pembimbing skripsiku, mengatakan aku harus lebih giat belajar. Aku tersenyum kecut. Nasehat orang munafik!! Kenapa tidak dia katakan kalau aku goblok, dungu. Kenapa tidak ia katakan sekalian kalau aku ini pemalas, tidak serius dan mudah putus asa.

Keluar dari ruangan menyebalkan itu, teman-temanku menghiburku dengan senyum palsunya. Mereka memelukku. Senyum munafik!! Aku tahu mereka tertawa terpingkal-pingkal karena lagi-lagi aku gagal. Aku sangat tahu kalau mereka 100% yakin aku akan gagal lagi. Mereka tahu kalau aku pecundang. Mereka tahu itu.

Di rumah, kedua orang tuaku tidak perlu menanyaiku tentang hasil ujian. Dengan melihat mukaku yang bertekuk-tekuk, mereka tahu aku gagal lagi. Mereka tersenyum dan menyuruhku bersabar. Orang tua munafik!! Aku benar-benar yakin kalau mereka saat itu sangat kecewa. Kecewa luar biasa. Aku sangat yakin kalau mereka ingin menamparku dan memakiku. Aku sadar kalau mereka sering bertanya kenapa harus melahirkanku ke dunia ini. Aku sangat yakin akan hal itu.

Leni, pacarku pun tak jauh beda. Dia mencoba menghiburku dan membelaiku dengan mesra. Pacar munafik!! Aku tahu dia tidak mencintaiku sejak kupergoki berduaan dengan Tommy, sahabatku. Aku tahu dia bertahan denganku sekarang karena hartaku, karena kedunguanku. Aku tahu juga dia tidak berani mencampakkanku karena aku tahu dia sedang…mengandung anakku. Aku tidak yakin apakah itu benar-benar anakku. Karena Leni, pelacur bermuka putri yang mampu menghipnotis kedua orangtuaku.

Kusandarkan tubuhku pada tiang besi jembatan. Aku memandang langit. Aku benar-benar merasa kecil dan sendiri saat ini. Aku gagal. Ya hanya kata itu yang ada di kepalaku. Aku benar-benar gagal. aku tidak butuh hiburan dari orang-orang munafik itu. Aku tidak butuh simpati dari orang-orang munafik itu. Aku hanya butuh ketenangan. Ketenangan dan kekuasaan atas diriku. Hanya itu.

Tuhan. Ya, Tuhan. Hanya dengan-Nya aku belum bicara. Hanya dengan-Nya aku bisa protes sesukaku. Hanya dengan-Nya aku bisa marah dan memaki, aku harus secepatnya bertemu Tuhan.

Aku berlari kecil menuju kios kecil di pojok jembatan. Aku membeli sebuah cutter kecil. Harganya hanya Rp. 2.500,00. Ternyata murah sekali untuk bertemu Tuhan. Kucari tempat yang sepi. Kudapatkan tempat itu. Sebuah tempat dengan pohon beringin berukuran sedang di pinggiran kali. Sebuah tempat yang pas dan ideal untuk bertemu Tuhan.

Aku duduk di bawahnya. Memandang sekelilingku, memastikan keadaan sepi. Aku hanya ingin pertemuanku dengan Tuhan berjalan mulus tanpa gangguan siapapun. Aku ingin pertemuan ini khusuk dan penuh makna.

Tuhan, aku siap bertemu denganmu. Aku siap marah padamu. Aku siap berkeluh kesah denganmu. Tuhan, aku datang.

Crash….. (Em En Rizal, Januari 2010).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: