Orang Ketigapuluh


Hahaha, aku bahkan lupa pernah membuat cerita ini. Cerita ini sedikit, hanya sedikit lo ya, sesuai dengan kehidupanku sekarang. Setelah dua tahun, ternyata imajinasiku begitu hebat. Aku mau tertawa lagi hahahaha…” Em En Rizal.

 

Orang Ketigapuluh

(Em En Rizal)

 

Aku mengetuk pintu rumah yang terbuat dari jati. Pintu itu kokoh dan berukiran unik khas Jepara. Aku tidak tahu tentang ukiran Jepara, tapi aku mendengarnya saat orang-orang membahas perihal pintu unik ini.

Masuk, Zak.” kata Danik. Dia teman kuliahku yang sekarang bekerja sebagai konsultan di perusahaan asing.

Aku duduk di kursi tua yang juga dipenuhi ukiran jepara. Danik merupakan penggemar barang-barang unik khas Indonesia. Dan dia sebisa mungkin memasukan semuanya ke dalam rumahnya. Kadang aku heran, aku sekarang masuk ke rumah temanku atau ke musium sih?

Jadi kamu butuh berapa?” Kata Danik to the point. Aku heran kenapa dia bisa jadi konsultan, kalau basa basi saja dia tidak bisa. Aku tersenyum kecut dengar pertanyaannya. Menyakitkan tapi itulah tujuanku datang ker rumahnya.

Sepuluh juta.” Jawabku lirih. Uang ini sebenarnya tidak terlalu banyak bagiku, dulu, dan juga bagi Danik. Aku terpaksa meminjam uang padanya karena aku sedang dililit utang yang besar.

Aku tertipu. Dalam dunia bisnis itu hal biasa, tapi penipuan kali ini membuatku kehilangan segalanya termasuk rumah yang kutepati sekarang. Dan ironisnya, orang yang menipuku adalah istriku sendiri. Sudah hal lumrah jika suami istri berbagi saham. Kesalahanku satu, aku tidak membagi profesionalku sebagai direktur utama dan seorang suami. Dan sekarang aku terjatuh dan “dibuang” istriku.

Aku tidak bisa meminjami kamu sebanyak itu? Aku hanya bisa meminjamimu tiga juta.”

Tiga? Ayolah, Dan. Uang sepuluh tidak ada artinya bagimu. Kalau nggak salah, total kamu beli kursi ini adalah dua puluh juta. Sepuluh Juta untuk temanmu, sahabatmu ini, masa kamu tidak berikan? Lukisan di dindingmu itu saja berharga lima belas juta. Aku hanya pinjam sepuluh juta, nggak lebih!!“

Bukan begitu maksudku, aku sedang dalam masalah keuangan juga. Aku harus berhemat. Kau tahu kan kondisi Indonesia saat Ini?”

Jadi tidak bisa sepuluh?”

Iya, aku bisanya tiga. Aku hanya mau…” Aku tidak mendengarkan alasan darinya. Aku keluar dan meninggalkan rumahnya. Aku memaki-maki Danik. Dulu saat dia butuh uang untuk bayar uang kuliah atau kos, dengan mudah kuberikan berapapun. Sekarang saat aku butuh bantuannya, dia pelitnya bukan main. Dasar manusia tak tahu balas budi!

 

*********

 

Aku harus dapat uang sepuluh juta hari ini atau aku kehilangan toko sekaligus rumahku sekarang. Sejak rumahku dikuasai istriku, aku pindah dan mengelola toko dari pinjaman salah satu tengkulak. Dan aku harus bayar sepuluh juta padanya hari ini. Sebenarnya aku sudah berusaha mencari kemana-mana tapi aku belum dapat juga.

Aku menuju rumah Zul. Dia temanku semasa SMU. Dia dulu pernah kubantu sampai dia menjadi pedagang sukses seperti ini. Ini rumah yang ke sepuluh kalinya kukunjungi hari ini, dan rumah yang ketigapuluh minggu ini.

Sebenarnya aku malu kalau pinjam uang darinya. Ini bukan masalah pinjamnya, tapi karena harga diri. Aku pernah tertawa saat dia bilang akan membantuku kalau aku butuh dia. Aku tertawa karena saat itu aku belum, bahkan bisa dikatakan tidak membutuhkan bantuannya. Karena saat itu aku tiga kali lebih kaya darinya.

Pak Zulnya ada? Aku Zaky, temannya. Kemarin sudah janji mau ketemu.” ucapku ketika seorang perempuan separuh baya membuka pintu.

Pak Zul sudah berangkat ke toko. Tadi beliau memang menunggu bapak tapi karena bapak belum datang-datang juga, Beliau meninggalkan bapak dan menunggu di toko, di lantai tiga…..” perempuan separuh baya itu menyebut salah satu mall tempat dimana toko Zull berada. aku mengucapkan terima kasih dan segera menuju ke sana.

 

********

 

Zak, jangan lupa, jam tujuh malam batas akhirnya. Jangan kau lupakan jam penting itu atau tokomu akan jadi milikku.”

Iya, aku akan dapat uangnya sebelum jam itu. Aku janji dan aku tidak sudi menyerahkan toko itu padamu.”

Bagus..bagus… aku suka jiwa optimis darimu. Dan segeralah pergi mencari uang sepuluh juta itu.” kalimat menjijikan itu diucapkan penuh intonasi mengejek, diakhiri tawa panjang mengerikan. Aku segera menutup telepon dan tak ingin gema kematian itu terdengar lebih lama.

Aku harus mencari pinjaman. Tapi aku sudah menghubungi dua puluh orang dan semuanya tidak bisa meminjami. Aku bahkan memohon-mohon pada mantan istriku.

Enak saja. Dulu semua aku yang ngurusin dan kamu enak-enakkan berdua dengan wanita lain. Ini adalah balasan yang setimpal bagimu.”

Sisil, aku tidak pernah selingkuh tapi kamu. Tapi sudahlah, aku tidak peduli. Aku hanya minta kamu ingat masa lalu kita. Kita pernah saling mencintai. Dan dari masa lalu itu, aku minta kamu pertimbangkan aku untuk kamu pinjami uang. Hanya sepuluh juta dan akan kukembalikan.”

Sepuluh juta. Uang yang kecil, bukan? Tidak, tidak akan kuberikan uang sepeser pun untukmu. Tidak akan kuberikan uang pada orang serakah, tamak dan tukang main sepertimu.”

Aku tertunduk lemas ketika telpon di putus diseberang. Bahkan aku sampai merendahkan harga diriku, aku masih tidak dapat pinjaman. Aku tidak boleh menyerah karena aku masih punya anak satu dan punya kewajiban untuk menghidupinya. Anakku ini tidak mau ikut ibunya karena dia tahu siapa yang benar. Dan dia percaya aku yang benar. Makasih anakku, aku akan membahagiakanmu. Aku janji.

 

**********

 

Aku menuju ke mall, dimana Zul berjualan. Zul berjualan minyak wangi dari berbagai negara dan tokonya lumayan terkenal di kota ini. Aku juga pernah mendatanginya untuk sekedar kangen-kangenan dan beli parfum banyak dari tokonya. Sekarang tokonya sudah bercabang banyak .

Aku menaiki lift menuju lantai tiga. Di lantai inilah toko Zul berada. Aku mencarinya dan ahh, itu dia tokonya. Aku bergegas kesana untuk menemui kesempatan terakhirku.

Selamat siang, Pak Zulnya ada?”

Aduh, baru saja keluar untuk menemui seseorang. Bapak siapa?”

Aku Zaky. Kata orang rumah, aku disuruh menemui bapak di sini.”

Pak Zaky? Ya ta tadi bapak berpesan agar bapak menunggunya. Bapak bilang sebentar aja kok. Silahkan tunggu disana saja.” Pelayan itu segera mempersilahkanku untuk menunggu Zul. Pelayan itu memperlakukanku dengan baik. Itu yang diajarkan Zul, memperlakukan siapapun dengan layak. Aku benar-benar kagum padanya.

Setengah jam sudah aku menunggu dia. Aku mulai cemas soalnya aku tahu, bank tutup pukul tiga dan sekarang sudah pukul dua empat puluh lima menit. Dan kalau Zul bisa meminjami aku, aku tidak tahu apakah aku bisa menarik uang pinjaman itu dari bank karena bank sudah tutup. Kalaupun transfer, apakah bank tempat Zul menyimpan uang bisa melakukannya tanpa harus ke bank.

Dan aku harus menunggu setengah jam lagi untuk bertemu Zul. Ketika Zul datang, dia kelihatan lelah sekali. Sepertinya dia juga sedang berjuang untuk meraih rezeki. Aku jadi semakin pesimis.

Maaf, Zak. Aku tadi menemui klein. Aku tertahan lama disana. Maaf banget.”

Tidak apa-apa. Yang penting kita akhirnya ketemu.”

Iya, Zak. Sepertinya kita tidak perlu basa-basi lagi karena kulihat kamu sudah mulai lelah menunggu. Jadi kamu akan meminjam uang padaku? Butuh berapa?” walau dia mengucapkannya dengan lembut, hatiku bagai tersayat-sayat. Ini bukan karena sakit seperti saat Danik mengucapkannya tapi ini perih karena rasa malu yang teramat sangat. Malu pad Zul.

Aku…aku butuh sepuluh juta.”

Sepuluh Juta!!!” mata Zul hampir keluar. Memang diantara tiga puluh orang yang aku datangi, Zul ini yang paling “miskin”. Mungkin jumlah ini terlalu besar untuknya. Aku mulai menghitung waktuku.

Kenapa kamu melakukan hal ini untuk sepuluh juta? Kamu minta lima puluh juta, aku akan berikan padamu, Zak. Ini kecil bagiku dan tak ada apa-apanya saat kamu membantuku dulu. Ini semua demi kamu temanku, penolongku.”

Aku mengangkat kepalaku, tidak percaya. Dia bilang ini sedikit dan akan meminjamiku.

Jadi….jadi kamu mau meminjamiku.”

Aku sebenarnya mau membantu saat kamu dikhianati mantan istrimu. Tapi aku susah sekali mencarimu. Nomor handphonemu ganti dan kamu pergi dari rumahmu entah kemana. Zak, kamu orang paling berperan atas usahaku sekarang. Aku akan meminjami kamu sepuluh juta dan…”

Aku janji akan mengembalikannya segera. Kamu tahu aku orangnya gigih berusaha hanya tengkulak ini membuatku terjerembab ke dalam masalah.”

Aku tidak peduli kamu mengembalikannya atau tidak . Aku tahu kamu malu melakukan hal ini. Seandainya kamu tidak terdesak seperti ini, kamu tidak akan melakukanya, bukan?”

Zul orang yang paham karakterku sejak dulu tapi aku selalu menyepelekannya. Satu-satunya kebaikanku padanya adalah selalu meminjamnya uang. Aku tidak peduli dia balikin atau tidak tapi aku selalu meminjaminya uang tanpa bertanya untuk apa uang itu dan ketika dia mengembalikannya, aku menolak. Dan sekarang, aku berada diposisinya.

Zak, aku meminjami kamu sepuluh juta seperti yang kamu minta dan juga sepuluh juta untuk usahamu. Aku memberikannya secara cuma-cuma. Jangan tersinggung. Ini sebagai bukti aku sahabatmu dan juga temanmu. Sekarang mari kita menuju ke mesin ATM. Kita transfer uang dari sana saja, Jangan khawatir, aku punya banyak kartu ATM jadi nggak perlu ke bank kalau mau transfer.”

Aku lega. Lega sekali. Masalah yang kuhadapi selama ini selesai di tangan orang yang kuanggap tidak bsa memebantuku dan kuberi nomor urut terakhir. Nomor urut ke tiga puluh. Tapi justru dialah temanku yang sebenarnya. Aku merasa malu.

Mana nomor rekening tengkulak itu?”

Aku memberikan nomor rekening tengkulak kejam itu dan juga nomor rekeningku saat Zul memintaku. Aku terlepas sementara dari beban hidupku.

Semua sudah beres sekarang, Zak. Kamu aman.”

Terima kasih, Zul. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu hari ini. Bukannya aku tidak sopan, tapi aku harus segera ke rumah, menemuai anakku. Kasihan dia kutinggal berhari-hari untuk menyelamatkan toko semata wayang itu.”

Ya sudah. Segeralah pulang. Dan ingat satu hal, kalau kamu butuh bantuan, aku akan datang. Kapanpun itu.”

Aku tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar mall. Aku sekali lagi melihatnya dan melambai padanya. Zul membalasnya dengan senyuman yang menenangkan hatiku. Terima kasih Tuhan, telah mempertemukanku pada orang yang baik hati ini.

Aku berlari menuju halte. Aku tidak memperhatikan lalu lalang lalu lintas di jalan kecil, jalur sepeda motor. Sebuah sepeda motor menubrukku dan membuatku terpental menuju ke pembatas jalan dan dengan sukses kepalaku pecah. Aku mati. (By: Em En Rizal, Januari 2008)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • rapi yanto  On Januari 5, 2011 at 11:43 am

    wow”….. luar biasa, sangat menyentuh, my best frend”..
    salut buat zul, yang mempunyai ketulusan hati…salut, salut, salut… semoga engkau menjadi penyelamat anak manusia yang serba kekurangan di indonesia ini.. aminn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: