Mental Bencong


Aku sedikit bingung, untuk momen apa aku menulis cerita ini. AKu selalu menulis dengan ide dari lingkungan atau sesuatu yang kutemui. Entah lihat tivi, lihat Koran, atau lingkungan sekitar. Sebentar…….oh iya, aku ingat!!! Aku menulis ini karena ada satu preman di lingkungan kosku. Dia preman yang masuk DPO Polisi karena dia itu germo PSK basuki rahmat (dulu Basuki rahmat gudangnya PSK, red)…” Em En Rizal

 

Mental Bencong

Em En Rizal

 

Sini, cepatan! Lambat banget sih? Bencong!” teriak Aji sambil melotot ke arahku. Tak mau menanggung amarah yang lebih besar, aku bergegas menuju ke arahnya.

Kamu tahu benda di atas meja satpam itu?” ucap Aji sambil menunjuk ke suatu tempat.

Aku mengangguk takut.

Kamu ambil dan segera bawa lari. Ini ujian terakhir untuk menunjukkan kesungguhan tekadmu. Kamu harus bisa. Ingat, harus bisa !!” ucapnya sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di mukaku.

Aku meringis ngeri. Aji adalah preman ganas bin gila yang sangat terkenal di kampungku. Sudah berulang kali dia keluar masuk penjara karena kasus kriminalitas. Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengannya. Apalagi menyempatkan diri bergaul dengannya. Tak pernah terpikirkan bahkan dalam mimpi sekalipun.

Aku mau bergaul dan bergabung dengan Aji karena aku sedang butuh pertolongannya untuk menghadapi orang menyebalkan di kampus. Jack namanya. Dia adalah preman kampusku. Dia selalu menggangguku. Terakhir dia mengancamku akan membunuhku jika tak mau menuruti kata-katanya. Aku tidak mau mati muda. Aku masih belum menikah, masih belum menikmati enaknya kawin.

Maka aku minta bantuan Aji. Tujuanku semula hanya memintanya melatihku menjadi seorang jagoan yang bisa menghajar Jack habis-habisan. Namun yang terjadi, aku malah makin masuk ke dalam pengaruh Aji. Pengaruh buruk seorang preman yang mengalami penyakit gila kronis!

Perlahan kumelangkah mendekati target yang diatas meja satpam. Ternyata benda itu adalah sebuah radio dual band. Aku menoleh kanan kiri. Tak ada siapa-siapa. Aku merasa senang karena kalau ini berhasil maka aku dinyatakan telah lulus dari pendidikan ala Aji. Pendidikan dasar kepremanan.

Cepetan bencong!! Tunggu apa lagi?” Aji berteriak dari jauh.

Dengan cepat aku mengambil radio itu dan segera berlari sekencang mungkin tanpa menoleh-noleh lagi. Kudengar sayup-sayup teriakan satpam yang mengejarku. Aku terus berlari sampai tak kudengar lagi “nyanyian” satpam itu. Aku berhasil. Sayang aku lupa dimana Aji saat itu.

 

***********

 

Kuhajar Jack sekuat tenaga. Dengan mata memelas ia memandangku. Darah bercucuran di wajahnya. Berulang kali ia meminta ampun.

Maaf, Ki. Aku hanya bercanda kemarin. Jangan pukuli aku lagi. Ampuuun…”

Kemana lagakmu yang sok jagoan tempo hari? Kemana wajah sangar dan sombongmu itu, Jack? Apakah hanya segini nyalimu? Bencong saja lebih hebat dari ini. Cuih!” kataku sambil meludah ke wajahnya.

Habisin saja. Biar dia kapok seumur hidup!” Aji memandang bengis ke arah Jack. Aku terhipnotis kata-kata Aji dan kembali memukuli Jack sampai Jack tak sadarkan diri. Aku memandangnya sambil nyengir. Bangga, marah dan sedih bercampur jadi satu. Tapi satu hal yang kudapatkan. Aku telah mengalahkannya! Dan itulah tujuan utamaku.

Hebat! Kamu telah berhasil menjadi jagoan. Biar lebih sip. Kamu ikutin aku terus. Aku jamin kamu pasti senang.” Ucap Aji dengan bangga.

Ternyata tidak sampai disini saja kontrakku. Aku tidak tahu harus bilang apa sama Aji. Tapi seperti pepatah kuno bilang, sekali masuk kubangan hitam, akan sulit keluar. Dan aku telah tercebur!!

Dan mengikuti Aji berarti aku harus berkali-kali berkelahi dan dipukuli. Tapi satu hal, kami tak pernah membunuh orang. Yah, paling membuatnya masuk rumah sakit dan menjadi cacat seumur hidup.

Bencong!! Hanya gini kekuatanmu?” umpat Aji suatu ketika saat menghabisi seorang preman pasar. Bodi preman itu lebih besar darinya dan lebih garang, tapi hanya dalam waktu 10 menit preman itu sudah bertekuk lutut. Aku semakin kagum dengannya. Perlahan tapi pasti aku mulai mengikuti jejaknya. Dan satu hal lagi, dia selalu memanggil orang bencong. Kecuali aku. Dia memanggilku Banci!

Semua orang diatas bumi ini penakut kecuali aku. Mungkin kamu. Makanya aku panggil kamu banci. Satu tingkat diatas mereka hahaha.”

Aku membuang muka. Sebal! Tapi mau diapakan lagi. Aku masih kalah dengannya. Saat uji tanding pun, aku selalu kalah dan pulang dengan badan penuh lebam. Dia memang laki-laki sejati. Aku selalu berfikir tentang kelemahannya. Dan setelah sekian lama akhirnya kutemukan.

Suatu sore dengan wajah yang sulit kulupakan sampai sekarang, dia menitipkan sesuatu padaku. Sesuatu yang sangat pribadi tentunya sampai ia secara khusus menyerahkannya padaku. Sebuah surat. Dia ingin surat itu diberikan pada seorang perempuan di ujung gang.

Aku sudah bisa menebak maksudnya. Aku juga sudah tahu siapa wanita itu. Aku tersenyum licik. Dasar bencong! Kamu memang jagoan, tapi menghadapi wanita, kamu bermental bencong. Bencong paling najis sedunia ini. Aku tersenyum dan mengangguk penuh arti di depannya. Dia memelukku erat berharap aku melaksanakan tugas dengan baik.

Hari pembalasan telah tiba, Bencong!! (Em En Rizal, Januari 2010)

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: