Aku Bukan Pengemis!


Hemm…cerita ini kubuat awal januari 2008. Lumayan lamalah. Inspirasinya saat aku naik bis kota, menuju kota asal, Pati. Disaat itulah aku melihat seorang anak kecil yang tanpa lelah dan bersemangat, menyanyi untuk seluruh penumpang bus. Aku melihat semangat pantang menyerah disana….” Em En Rizal

Aku Bukan Pengemis!

(Em En Rizal)

 

Mas….Mbak…” aku mengedarkan tangan mungilku pada penumpang. Aku berharap mereka memberiku uang seikhlasnya. Aku ingin mereka menghargai suaraku walau agak serak-serak basah. Tapi aku bukan pengemis!

Aku bekerja dengan mengamen. Kalau Bang Haji Rhoma mempunyai gitar tua, aku mempunyai gitar kecil. Gitar ini menemaniku sudah lama. Karena dialah sumber penghasilanku. Seperti sekarang, aku sedang mengamen di atas bus kota, berjalan menelusup disela-sela penumpang, sambil menikmati pandangan “manis” mereka. Tapi aku bukan pengemis!

Aku turun dari bus. Kudatangi sebuah angkot yang sedang ngetamp di salah satu sudut jalan. Dengan sigap, aku meraih pinggiran pintu angkot dan duduk di dekat pintu. Mulailah aku menunjukkan kemerduan suaraku. Dan sekali lagi kuedarkan tanganku mengambil sumbangan sukarela untukku sebagai bentuk penghargaan untuk suaraku. Itulah yang kulakukan sepanjang hari. Mengamen tapi aku bukan pengemis!

*********

 

Aku menangis sesenggukan di pojok terminal. Di depanku sekarang gitar kecilku hancur berkeping-keping karena kemarahan Bang Karto. Bang Karto, preman terminal, marah karena aku sering telat nyetor dan setoranku selalu di bawah setoran normal. Aku sudah menjelaskan padanya kalau akhir-akhir ini terminal lagi sepi. Tapi dia tak mau tahu dan tanpa memperdulikan nasibku, dibantingnya gitar kecilku hingga pecah berkeping-keping.

Aku menatap nanar gitar kecilku. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa karena gitar kecil inilah yang menghidupiku selama ini. Aku mulai dihinggapi perasaan putus asa. Kalau tidak dengan gitar kecil ini dengan apa aku makan. Aku tidak punya siapa-siapa untuk kumintai tolong memberiku makan. Aku sendirian di kota ini. Aku sendirian di dunia ini.

Apakah sudah saatnya aku mengemis? Sudahkah saatnya aku merendahkan diriku meminta uang dengan wajah memelas? Tidak! Walaupun aku tidak mempunyai apa-apa lagi, aku tetap harus bekerja. Walau hidupku sudah tak normal lagi karena aku harus bekerja sementara teman seusiaku bermain dan menikmati pelajaran di sekolah dasar, aku tak boleh menyerah. Tapi apa yang harus kulakukan?

Dik, kenapa menangis?”

Kudongakan kepalaku dan kuusap air mataku dengan kaos kotor yang menempel mesra di badanku. Lelaki yang menanyaiku tersenyum manis padaku. Tapi aku tidak terpancing. Aku sudah sering melihat orang-orang busuk macam mereka. Yang pura-pura kasihan pada gembel-gembel macam aku dan mengeksploitasi kami sesuka mereka. Dengan alasan penelitian lah, alasan kemanusiaan lah, atau beribu alasan lainya. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan sekarang hanyalah nasibku tanpa gitar kecil ini.

Kok nggak dijawab. Kenapa menangis? Kamu lapar? Kamu butuh uang untuk beli makan? Atau kamu dimarahain bosmu?”

Kenapa kamu peduli? Jangan sok berpura-pura baik padaku. Aku tahu orang macam apa kamu itu.”

Lelaki itu terhenyak mendengar kata-kataku yang pedas. Sesuatu yang sering kulakukan pada orang-orang munafik macam dia. Tapi aku salah. Lelaki di hadapanku ini beda. Dia tersenyum dan membelai kepalaku yang kotor karena tak pernah kucuci.

Dengan sabar dia menjelaskan maksudnya. Dia heran melihatku menangis sedari tadi. Sudah lama ia mengamatiku dari warung yang ada di sisi terminal, di sebelah kananku, saat ia istirahat sebelum menikmati perjalanan. Ia orang biasa, tanpa kepentingan dan maksud apapun di belakangnya. Ia hanya ingin tahu apa yang terjadi padaku dan ingin membantuku sebisanya.

Aku melunak. Kuceritakan perihal gitar kecil itu padanya. Kuceritakan juga bagaimana hidupku tanpa gitar itu dan tekadku untuk tidak mengemis. Dia menggigit bibirnya, seperti menahan sesuatu. Tapi aku tak tahu apa itu.

Dek, kamu tak harus menggunakan gitar kalau kamu mau ngamen. Menyanyilah yang bagus sambil kamu gerakan tubuhmu sebagus dan seunik mungkin.”

Maksud kakak, aku harus berjoget, tanpa musik?”

Musik itu tidak hanya dari alat musik. Suara juga adalah musik alami. Kalau kamu tidak bisa, kamu bisa cari alternatif pengganti gitar. Carilah kaleng bekas atau botol air mineral untuk dimodifikasi agar bisa jadi alat musik.”

Aku diam menatapnya. Berusaha memahami solusi yang ia tawarkan.

Barang hanya pelengkap. Otak lah sumber semuanya. Kamu harus kuat menghadapi hidup ini. Jangan pernah menyerah apalagi takluk pada dunia ini. Tuhan tahu yang terjadi pada mahluknya dan Dia tidak pernah menutup mata. Percayalah.”

Aku berdiri dan merasakan semangatku timbul kembali. Aku tidak boleh menyerah pada keadaan. Aku harus tetap mengamen atau mencari pekerjaan lainnya asal tidak mengemis karena aku bukan seorang pengemis!

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: