Mengunjungi Bromo yang mulai “Sepi”


Oleh: Em En Rizal

Nggak salah nih judul artikelnya? Yup, judul itu benar dan bukan mengada-ada. Mungkin tahun 90-an, Bromo menjadi primadona wisata domestik selain Bali dan Yogya. Berbagai hotel dan infrastruktur ditanamkan pemkab atau pemda setempat untuk menggenjot angka kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dan hasilnya, Bromo menjadi obyek wisata yang menonjol sendirian di jawa timur.

Melihat peluang pasar yang masih belum tergarap maksimal, tentu membuat para investor yang berfikir jauh kedepan melakukan investasi besar-besaran. Hotel dibangun, pemandian umum dengan air panasnya diperbanyak, restoran atau kafe yang menawarkan “alam”nya pun berkembang bak jamur dimusim hujan.

Sayang krisis ekonomi membuat para turis mancanegara, yang 50 % menghidupi para pelaku wisata di Bromo ini, mulai jarang datang. Mereka memilih untuk mengunjungi negara atau obyek wisata lainnya yang lebih murah. Pemerintah tak tinggal diam. Mereka menggalakan pameran dan demo wisata untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara tentunya. Hasilnya cukup lumayan, namun masih belum signifikan.

Belum pulih benar sektor wisata dari krisis, krisis kedua menerpa dunia. Hal ini makin memperburuk keadaan yang sebenarnya sudah berangsur pulih. Tapi pelaku usaha hospitaly ini sudah paham dan mengerti hal ini. Mereka pun mengandalkan pemasukan dari turis domestik. Sayangnya, turis domestik yang selama ini menjadi pasar yang menjanjikan sudah mulai jenuh dengan Bromo. Kalau dulu setiap anak muda dan orang dewasa selalu berkeinginan pergi ke Bromo untuk mengisi liburan atau waktu senggang mereka, saat ini tujuan mereka sudah berubah.

Dengan gencarnya promosi lewat internet, negara tujuan wisata seperti Singapura, Malaysia dan Thailand menggempur masuk dan menawarkan nilai “asianya” langsung ke end user Indonesia (dan ini yang masih belum bisa kita saingi). Cukup dengan harga 300ribuan, sudah bisa ke Malaysia, Thailand atau Singapura. Harga yang cukup terjangkau dan murah untuk masyarakat Indonesia saat ini. Akhirnya, saat ini lebih banyak orang berlibur ke luar negeri daripada bepergian ke obyek wisata domestik.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah harga hotel bintang tiga sampai lima di Bromo. Harganya bisa dua kali lipat harga hotel dengan bintang yang sama. Memang, suasana Bromo yang exsotik masih sangat menjual, namun melihat persaingan di bisnis Hospitaly yang makin ketat ini, tampaknya mereka harus mencari sisi unik hotelnya sehingga bisa bersaing dengan hotel lainnya. Persaingan ini bukan hanya persaingan dari sisi lokasi (satu wilayah, red) namun secara keseluruhan. Maksudnya pengelola harus memandang persaingan sudah melebar dalam wilayah regional wisata. Pelaku wisata JATIM harus memantau taktik dan strategi pelaku wisata di Bali dan Yogyakarta. Karena pasar mereka, terutama Surabaya, mempunyai banyak pilihan untuk memilih paket liburan yang tidak hanya di Jatim namun bisa juga ke Bali dan Yogya. Hal kecil semacam ini perlu diperhatikan dengan seksama. Dan tentu masih banyak hal lain yang bisa diperhatikan.

Bromo, sehancur apapun negara ini tetap mengandung potensi wisata yang kuat untuk terus berkembang. Pelaku wisata yang sudah invest milyaran rupiah disini jangan berputus asa karena potensi Bromo akan selalu mengundang turis dalam maupun luar negeri. Hanya strategi marketing saja yang perlu digalakkan untuk menggenjot angka kunjungan wisatawan dalam maupun luar negeri ini.

Sebenarnya startegi sudah dicanangkan pemerintah Jawa Timur dengan Visit East Java 2011. Startegi pemasaranpun sudah disusun dengan baik dari dinas pariwisata Jatim ini, namun keseriusan departemen ini menjadi diragukan menyusul anggaran promosi yang “terbatas”. Tidak sesuai dengan target yang diinginkan. Intinya pelaku wisata dibuat bekerja sendiri untuk mencapi Visit East Java 2011!.

Jadi, apakah Bromo akan semakin sepi karena wisatawan lebih suka ke Bali dan Yogya ataukah kedepannya Bromo menjadi central tourism masa depan? Semua tergantung keseriusan pelaku-pelaku usaha di dalamnya. Ini hanya sekedar tulisan yang tidak berguna, yang berfikir bisa sedikit memberi masukan saja.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • yogya tourism  On Februari 26, 2016 at 4:24 pm

    Excellent post. I used to be checking constantly this weblog and
    I’m inspired! Extremely useful information specially the final
    part🙂 I take care of such information a lot. I was seeking this particular info
    for a long time. Thanks and best of luck.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: