Pengusaha Muda: Memulai Bisnis Sekarang Atau Nanti, Sama Saja


“Menjadi seorang yang berdikari dan memulai usaha dengan semangat akan sukses dibelakang hari , dan itu mimpi yang wajar, mampu memacu energy positif dan semangat untuk meraih mimpi itu. “ Em En Rizal

Muda, mandiri, dan modern, hanya tiga dari segudang kesan yang bisa muncul kala berkenalan dengan anak muda ini. Nama lengkapnya, Aldy Rianto Indartono. Pendiri sekaligus owner – bersama tiga seniornya – Milestone Advertising & Communication, sebuah perusahaan periklanan dengan badan hukum PT. Batu Pijak Kreativitas.

Didirikan sejak 2003, Milestone kini mencatat billing iklan tak kurang dari Rp 25 miliar setahun. Dengan investasi awal tak lebih dari Rp 50 juta – hasil urunan dengan para partnernya – pada tiga bulan pertama perusahaan itu sempat hanya mencatat pendapatan Rp 10 juta. Tetapi angka itu melesat jadi Rp 25 miliar setahun hanya dalam tempo dua tahun. “Sebagian besar klien mengakui bahwa kekuatan kami ada pada ide-ide kreatif komunikasi pemasaran yang kami hasilkan,” tutur Aldy. Diantara klien utama mereka, tercatat Standard Chartered Bank, Sanex Telephone, Royal Brunei Airlines, Sylvia Men Body Wash, The Pakubuwono Residence, Indofood Fritolay Makmur (All Snacks Products), Toyota Rent A Car (TRAC) dan masih banyak lagi.

Aldy sebagai general manager bertanggung jawab menetapkan target usaha, membuat rencana bisnis, pemasaran, strategi dan penetapan anggaran perusahaan. Disamping itu juga menjadi inisiator pengembangan usaha dan memelihara hubungan dengan klien. “Saya dan partner lainnya memang sudah tergabung dalam satu tim ketika kami masih sama-sama bekerja di perusahaan terdahulu. Jadi sudah enak cara bagi-bagi tugasnya,” kata Aldy. Tiga partnernya mendirikan Milestone adalah Sam August Himawan, Unggul Kardjono, dan George Varghese. Aldy yang termuda dan disepakati menduduki jabatan presiden direktur.

Never Change The Winning Team. Selepas menuntaskan studi undergraduate-nya di Monash University, Australia dalam bidang Business and Economics (Marketing) pada 2001, Aldy kembali ke Indonesia dan memulai karir sebagai account executive di Publicis-Metro, sebuah perusahaan periklanan. Lalu ia beranjak ke PT Fortune Indonesia sebagai account manager. Di sini ia banyak berkecimpung dalam manajemen merek dan komunikasi pemasaran. Ia antara lain bertanggung-jawab mengembangkan program pemasaran dan periklanan dan juga kehumasan, promosi konsumen dan riset pengembangan produk baru.

Meskipun menikmati tantangan di dunia yang digelutinya ini, Aldy sudah merasakan godaan untuk memulai usaha sendiri sejak pertama kali berkarir. “Saya senang sekali bila ide-ide yang saya lontarkan dapat terwujud. Dan, yang seperti itu hanya bisa dengan cepat terjadi bila saya bekerja di perusahaan yang saya miliki,” ujar Aldy. Alasan lain yang membuatnya makin kencang ingin mendirikan usaha sendiri adalah karena ia merasa penghargaan terhadap orang yang berprestasi dan yang biasa-biasa saja kerap tak berbeda. Ini membuat dirinya makin terdorong untuk segera membuktikan dirinya mampu menjalankan perusahaan sendiri. “Banyak orang bilang, kalau mau jadi pengusaha, belajar dulu yang banyak sebagai karyawan, baru mulai. Tetapi menurut saya, sama saja. Memulai usaha sekarang atau nanti, apa bedanya? Toh, sambil saya mulai menjalankan usaha sendiri, saya juga tetap dapat belajar,” tutur Aldy.

Niat mendirikan usaha itu makin bulat ketika kawan-kawan seniornya ternyata punya pemikiran yang sama dengan dirinya. Kawan-kawan seniornya ini tak lain dari orang-orang yang sudah berulang kali tergabung dalam satu tim dengannya dalam menangani berbagai proyek. Tim ini lebih banyak berhasilnya daripada gagalnya. Karena sudah sering bersama-sama itu pula, Aldy sering curhat kepada mereka. Dari percakapan semacam itu, Aldy tahu bahwa mereka sudah pada taraf tidak ingin lagi dipisah sebagai tim. Ini ikut memotivasi mereka untuk mematangkan rencana mendirikan bisnis tersebut. Kerja sebagai tim yang telah mereka jalani selama ini mereka jadikan modal utama dalam memulai usaha baru.

Tidak Gajian di Enam Bulan Pertama. Urunan modal awal diantara mereka sebesar Rp50 juta itu, digunakan untuk menyewa sebuah ruang ukuran 5×10 meter, satu mesin faks dan dua meja. Karyawan hanya satu, yakni office boy yang bekerja all around. “Praktis, enam bulan pertama kami para pendiri tidak gajian,” tutur Aldy.

Untungnya, salah satu klien mereka di perusahaan lama tetap setia mendukung. Bahkan sang klien-lah yang memotivasi mereka agar tidak patah semangat dalam memulai bisnis ini. Klien itu rupanya sudah merasa cocok dengan hasil kerja Aldy dan timnya selama ini. “Dan sampai sekarang, klien tersebut masih tetap bersama kami,” kata Aldy. Klien dimaksud adalah sebuah perusahaan multinasional yang sudah lama beroperasi di Indonesia.

Aldy sempat terdemotivasi tatkala memulai perusahaan barunya. “Tidak jarang, ketika calon klien menerima telepon dan saya menyebutkan nama perusahaan kami, telepon langsung ditutup, karena mereka belum kenal. Wah, itu masa-masa paling sakit,” tutur Aldy. Ia dapat merasakan bagaimana sebelumnya ia bekerja pada perusahaan yang sudah dikenal dan gampang memperkenalkan diri kepada klien, kini harus memulai dari nol.
Enam bulan pertama itu dapat pula dikatakan masa belajar menembus kebuntuan. Setelah itu, dengan mengikuti pitching ke sana ke mari, akhirnya mereka dapat meraih klien satu demi satu. “Dari semua itu saya belajar bahwa hubungan dengan klien itu harus dibangun berdasarkan kepercayaan. Itu sebabnya, dalam hal ini saya sangat perfeksionis. Walau pun para staf sudah bekerja melayani klien, saya masih tetap ‘turun’ mengontak mau pun menemui mereka. Karena dengan mengenal dekat para klien-lah terbangun kepercayaan,” ujar Aldy.

Hal lain yang juga ia pelajari adalah sangat berartinya rekomendasi dari klien untuk mendapatkan klien baru. Di Indonesia, menurut dia, jejaring dunia bisnis tidak hanya dibangun oleh nilai-nilai profesionalisme tetapi juga nilai-nilai kekeluargaan. Seorang klien yang merasa puas akan pelayanan satu perusahaan, akan merekomendasikan perusahaan tersebut kepada perusahaan kawan-kawan dan saudara-saudaranya. “Tidak sedikit perusahaan yang memakai jasa kami karena rekomendasi semacam ini,” tutur Aldy sembari mengatakan salah satu billing terbesar yang pernah mereka dapatkan bernilai Rp5 miliar untuk sebuah proyek yang berlangsung selama tiga bulan.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: