Ilmuwan dengan Tikus Putih


“Tidak perlu berpanjang lebar, ini sebuah cerita yang menarik tentang kegigihan dalam mencapai sesuatu. Langsung baca ya, Gan..” Em En Rizal.


Seorang ilmuwan tengah menguji potensi dan kekuatan seekor tikus putih. Setiap pagi ia mengeluarkan seekor tikus putih pilihan dari kandang lalu memasukkannya kedalam suatu mesin kaca yang penuh dengan air. Ilmuwan itu memperhatikan bagaimana tikus itu berjuang untuk dapat tetap hidup.

Apabila tikus itu kelihatan sudah kehilangan tenaga dan mulai tenggelam ke dasar air, maka ia segera memberikan tangan kanannya lalu mengangkat tikus itu. Ia selalu mencatat secara lengkap semua perkembangan selama satu minggu. Dari catatan tersebut diketahui bahwa kekuatan dan ketahanan tikus di dalam air meningkat dari hari ke hari.

Pada hari ke delapan, ia kembali menguji coba kekuatan dan ketahanan tikus. Tetapi belum lama berselang ia mendengar telpon genggamnya berdering. Ia berbincang cukup lama dengan seseorang di seberang telpon yang tak lain adalah pacarnya sendiri. Sedangkan tikus yang tengah berjuang di dalam air sengaja tidak berupaya lebih keras karena mengira sang ilmuwan pasti menolongnya. Tetapi nahas, saat itu si tikus benar-benar mati tenggelam karena ilmuwan tersebut terlalu asyik berbincang dengan pacarnya.

Siapakah yang membunuh tikus itu? Jawabnya adalah pikiran tikus itu sendiri. Secara ilmiah berdasarkan catatan perkembangan ketahanan dan kemampuan si tikus, ilmuwan itu menilai seharusnya tikus itu mampu bertahan lebih lama. Tetapi karena tikus itu terlanjur hanya mengharapkan bantuan yang tak kunjung datang, maka ia pun mati.

Intisari:
Si tikus mati tenggelam bukan karena ia tidak mampu berenang. Telah disebutkan bahwasanya kemampuan dan ketahanan tikus sudah cukup baik bahkan meningkat dari hari ke hari. Persoalannya adalah ia tidak bersedia memperjuangkan hidupnya itu dan hanya mengandalkan bantuan orang lain yaitu sang ilmuwan.

Kisah tersebut menginspirasikan bahwa setiap tingkat kemajuan atau keberhasilan seseorang selalu didahului dengan tantangan. Bila kita sudah dapat menahklukkan tantangan tersebut, dengan sendirinya kekuatan dan prestasi kita setingkat lebih maju. Sehingga keberhasilan kita terletak pada seberapa besar kemauan kita untuk menahklukkan tantangan tersebut, karena Tuhan YME sudah memberi kita dua tangan agar kita bisa membantu diri kita sendiri. Tak ubahnya bila kita ingin sukses, maka kita harus bersedia memperbaiki diri dan gigih berusaha. “Kejayaan adalah milik mereka yang gigih,” kata Napoleon Bonaparte, mantan penguasa di Perancis yang hidup pada tahun 1769 sampai tahun 1821. Karena keadaan kita tidak akan pernah lebih baik bila hanya mengandalkan bantuan orang lain.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: