Kisah Raja dan Sekantong Emas Kehidupan


“Cerita singkat ini patut kita renungkan. Supaya bisa menjadi hikmah bagi kita semua.” Em En Rizal.

A lkisah, seorang raja membangun sebuah jalan raya yang megah untuk rakyatnya. Setelah jalan itu selesai, sang raja memutuskan untuk mengadakan kontes. Dia mengundang seluruh rakyatnya untuk ambil bagian. Tantangan bagi mereka adalah siapakah yang bisa melalui jalan raya itu dengan cara yang paling baik. Pada hari kontes, orangorang datang dengan kereta yang indah, dan ada sebagian yang datang mengenakan baju olah raga

Sepanjang hari orang-orang melintasi di jalan raya itu. Setiap orang yang tiba di penghujung jalan mengeluh pada sang raja bahwa ada tumpukan tinggi batu dan puing ditinggalkan di suatu tempat di jalan, dan tumpukan itu menghalangi dan menghambat perjalanan mereka.

Di akhir hari, seorang pria melalui garis finish dengan kelelahan menghampiri sang raja. Pria itu letih dan kotor, tetapi dia berbicara kepada raja dengan penuh hormat dan menyerahkan sekantung emas.

Dia menjelaskan, “Di jalan tadi aku berhenti untuk menyingkirkan tumpukan batu dan puing yang merintangi jalan. Aku menemukan kantung ini di bawah salah satu batu besar tadi, dan aku ingin Baginda mengembalikan kepada pemilik yang sah”. Sang raja menjawab, “Kaulah pemilik yang sah itu”.

Pria itu menjawab, “Oh, bukan, ini bukan milikku. Aku tidak pernah memiliki uang sebanyak ini”. “Oh, sebaliknya,” kata raja, “kau berhak atas emas ini, karena kau memenangkan kontesku. Orang yang melintasi jalan dengan cara yang paling baik adalah orang yang membuat jalan itu lebih lancar bagi orang-orang yang lewat berikutnya”.

Renungan:

Kisah di atas membuat kita berpikir. Sudahkah kita membuat jalan lebih lancar bagi orang lain? Sudahkah kita membantu menyingkirkan puing-puing yang menghalangi jalan orang lain?

Atau apakah kita berpura-pura tidak melihat puing itu?  Atau, yang lebih buruk, apakah kita hanya mengeluh tentang semua “puing” yang kita temukan di jalan dan tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi? Apakah kita melewatkan kantung emas itu karena kita tidak menyingkirkan “puing” untuk orang lain? Pernahkah kita ingin mengetahui berapa banyak kantung emas yang kita lewatkan karena tidak cukup peduli menyisihkan waktu untuk memindahkan atau menyingkirkan puing-puing di sepanjang jalan demi kenyamanan orang lain dan kemudahan orang lain ?

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: